Jumat, 26 Desember 2014

Oase ditengah Ladang Gundah





Adalah kesekian kalinya, aku bertanya, mengapa kita?

Jika rahasia dari alasan ini adalah bagian dari kehendak dan rencana Tuhan, sungguh Dialah yang paling tahu, apa yang paling rahasia dan sebanyak apa dosa-dosa...begitu pun sebaliknya, yang terjadi padamu.

Aku tidak tau menau, begitupun kamu.

Dalam kacamataku, ya kacamataku... adilkah bagimu?
Ikhlaskah kamu?

Bahwa, walau ini adalah fitrah, kita berbeda.

Barangkali perbedaan ini bisa molor layaknya karet gelang; kadang menjauhkan, tetapi justru berjauhanlah yang menjadi satu-satunya alasan untuk mendekatkan.

Aku tidak pernah bisa memahami perbedaan dengan baik, dengan sempurna.

Setahuku, ia adalah fitrah. Perihal yang normal.
Tetapi dengan naifnya, argumentasi itu bagai melompat diatas pegas.
Memantul, tidak akan bisa mengenai sasaran, ketika diarahkan balik kepadaku.

Aku berbeda, ku harap kamu memahaminya dengan baik; saat membulatkan keputusan. Perihal untuk kini, dan nanti di akhirat, ujarmu beberapa kali.
Aku berbeda, barangkali tidak lebih baik dari yang terbaik yang pernah kau kenal. Ah sungguh, kau lihat kalimat perbandingan diatas, apple to apple. Kadang dihadirkan, sebagai batu uji, bukan untuk melemahkan diri.  
Aku berbeda. Dan rumit, katamu.
Apa kamu tetap baik-baik saja?

Bukan perbedaan ini yang aku tanyakan padaNya, sama sekali bukan.
Tetapi apakah perbedaan ini dapat menjadi sebenar-benarnya fitrah, sebaik-baiknya berkah. karena perihal memuliakan, adalah sumber ketentraman terindah.
Seperti oase ditengah ladang gundah.

Andai aku mendapatkan jawabnya dariMu, Tuhan, tentu aku bisa lebih tenang.

Tapi barangkali, ketidaktenangan ini adalah lebih baik bagiku; menjadikannya amunisi abadi untuk selalu terhubung denganMu.

2 komentar: