Kamis, 07 Agustus 2014

Tentang Hamba Allah

ini nih

Aku sangat menyanjung nama hamba Allah, yang dulu semasa SD, banyak sekali frasa ini muncul di TV. Terutama saat abis bencana alam atau tragedi kemanusiaan, berbagai bank swasta berlomba-lomba memberikan fasilitas bagi para donatur untuk bersedekah, menyisihkan sebagian hartanya untuk para korban.

Bertanyalah aku pada Ibu,
“bu, kenapa mereka nulis hamba Allah, ga namanya aja? Seolah-olah yang lainnya bukan hamba Allah gitu”
“ya soalnya mereka ga mau disebut namanya kalau nyumbang,” begitu jawab ibu. Singkat.

Padahal kalau saya lihat waktu itu, pikiran kanak-kanak saya berkata ooh barangkali karena takut dianggap sombong lantaran duit yang dikeluarkan besar makanya mereka pake identitas Hamba Allah. Tapi ternyata, kebanyakan sumbangannya pun tidak terlalu besar. Ada yang 50.000, ada yang 100.000, ada yang diatasnya, ada juga yang juta’an. Beragam.

Ah, kemudian aku paham, riya’ tidaklah mengenal angka.
Begitu terserang, habislah kebaikan demi kebaikan yang menjadi investasi menuju perjumpaan dengan Rabbnya.

***

Adalah Dzawin, seorang comic yang hanya bertahan sampai babak 3 besar di suci 4 yang sukses membuatku tertawa mendengar kata hamba Allah. Bukan seharusnya frasa mulia itu menjadi bahan tertawaan. Tapi kalau memperhatikan dengan seksama, guyonan si dzawin ini sarat akan muatan nasihat2 yang baik, bisa jadi merupakan sentilan, yang jelas menurutku, comic lulusan pesanten ini cukup berani dan sukses membawakan materi agama tanpa terlihat mendiskreditkan yang lain ataupun agamanya sendiri. Coba cek tautan ini.

***

Dan adalah..benar-benar hamba Allah, yang aku tidak tau namanya.

Suatu sore di ruang tamu, saat aku sedang mumet nginstal ulang program-program di laptop yang ilang mendadak gara-gara blue screen, tiba-tiba ada pak pos datang. Dia berucap permisi, permisi, tanda minta diperhatikan. Kalau hanya surat, saya rasa tidak perlu dia memanggil seseorang untuk keluar.

Aku pun meminta tolong adik sepupuku untuk menemui si pak pos sementara aku intip-intip cantik dari balik jendela ruang tamu.

Ayu kembali sambil membawa bungkusan berwarna ungu muda di kedua tangannya, cara membawanya persis seperti seorang petugas upacara yang membawa bendera merah putih untuk dikibarkan. Ayu memandangi paketan itu lekat-lekat. Aku juga nggak kalah terheran, paketan apa ya?

“buat sampeyan,” kata ayu sambil menyodorkan kresek ungu muda itu dengan logo yang aku kenal, biasa nongol di twitter untuk promosi gamis, khimar, dan twit-twit religi.

Hijab Alila. Sebentar, nggak salah nih?
aku nggak merasa lagi pesen jilbab dari online shop, dan lagipula, hijab alilaaa...

buru-buru aku cek nama pengirim dan penerima. Namaku, alamat, dan nomor hape xl ku jelas. Pengrimnya pun si pemilik toko hijab alila distributor dari sidoarjo. Sambil tertawa, aku buka saja bungkusannya. Kerjaan siapa ini ya, kesekian kalinya dapet barang dari anonim gini...barangkali di dalam ada kode-kode yang bisa aku pecahkan. Weits kayak detektif conan aja euy.

Ternyata nggak ada sodara-sodara.. di dalam bungkusan hanya ada khimar syar’i dua warna (tosca-fanta) yang cantik dan ucapan selamat hari raya idul fitri. Tapi ada nomor hape plus pin bbm si pengirim. Segera aku ambil hape dan sms si ukhti. Smsku cukup panjang, si ukhti menjawab lamaa sekali, sekitar ba’da maghrib baru di jawab,

“afwan ukh...itu dari hamba Allah buat ukh Nabilla semoga suka ya. Afwan tidak bisa menyebut namanya karena sudah amanah..”
“ehm, iya ukh syukran,” kataku.
“ikhwan atau akhwat ya ukh? Saya ingin berucap terima kasih aja nih ukh..hehe” aku kembali merayu. Ah bukan bermaksud membuat si ukhti tidak amanah, tapi barangkali si ukhti bisa menyampaikan kepada si hamba Allah, “men, gue di desak nih, gimana ngomong gak?!”

Oke ini khayal.

“iya ukh nanti saya yang menyampaikan terima kasihnya.”

Aduh.

“Baik ukh terima kasih.. ikhwan atau akhwat ya ukh,?” aku mengulang pertanyaan yang belum terjawab. Masa iya sih sekedar menyebut perempuan atau laki aja ga boleh.. toh kan aku nggak tau juga siapa ya.

Di read doang. Oke, percakapan selesai.

***

Akhirnya aku menanyai beberapa orang yang aku duga, salah satunya adalah saudara ku sendiri yang tinggal di Jakarta (Nia, jujur deh......). Agak malu juga sih ya, kok kayak kege’eran gitu euy. *tutup muka* 

Akhirnya aku nggak berani nanya lagi karena sungkan, dan memilih membiarkan si hamba Allah ini menyembunyikan identitasnya.


Melalui ukhti distributor, saya yakin ucapan terima kasih saya telah tersampaikan.
Dan melalui tulisan ini,
sekali lagi terima kasih, udah ngasih sumbangan khimar syar'i dua warna yang pas di pake di awal bulan syawal. Semoga Allah yang membalas segala kebaikan yaaa

^^
arigatou gozaimasu!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar