Jumat, 08 Agustus 2014

Cermin Nurani

Setitik embun di Gunung Sawur, beberapa kilometer dari Gunung Semeru

Mampukah kita menghitung dosa?
Terbatas jari-jari kita dan kubu-kubu jemari untuk menghisab dosa sendiri.
Sama terbatasnya pengetahuan kita untuk menyingkap apa makna tiap misteri yang dihadirkan olehNya. Misteri yang terserak di penjuru alam, maupun perihal yang dialami hamba-hambaNya yang seringkali datang diluar dugaan, kadang menimbulkan pertentangan nalar, namun satu-satunya hal yang dapat menjadi penyatu itu semua adalah kalimat: ya begitulah kuasaNya.

Lantas bagaimana saya mampu, kita mampu mengilhami, menerima, memaknai
bahwa poin-poin hidup yan dihadirkan adalah bagian dari kehendak,
termasuk barangkali ketika kita salah menentukan pilihan, salah jalan, salah memutuskan. wallahu a'lam.

Allah dengan kuasaNya, tidak akan serta merta menelantarkan. Sudah dipastikan Dia mengampuni, sudah dipastikan Dia memiliki wewenang penuh memberi petunjuk dan hidayah yang beragam bentuk dan rupanya kepada tiap hamba yang meminta, sekalipun hanya sebisik suara dari nurani yang bahkan barangkali seorang hamba pun telah lupa.

Sekali-kaliNya tidak,
tidak akan Dia menelantarkan
jika kita termasuk umatNya yang dengan penuh penghambaan, meminta maaf, meneruskan pantulan kebaikan sinarNya, dan melakukan perbaikan.

Sekali-kaliNya tidak,
tidak ada maksudNya untuk mencelakakan atau menghendaki kemudharatan pada tiap perkara yang terjadi, pada tiap pertemuan, pada tiap kejadian.

Semoga kita mampu menginsyafi tindak tanduk yang keliru,
mensegerakan kebaikan, dan memperbening cermin nurani.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar