Jumat, 08 Agustus 2014

Cermin Nurani

Setitik embun di Gunung Sawur, beberapa kilometer dari Gunung Semeru

Mampukah kita menghitung dosa?
Terbatas jari-jari kita dan kubu-kubu jemari untuk menghisab dosa sendiri.
Sama terbatasnya pengetahuan kita untuk menyingkap apa makna tiap misteri yang dihadirkan olehNya. Misteri yang terserak di penjuru alam, maupun perihal yang dialami hamba-hambaNya yang seringkali datang diluar dugaan, kadang menimbulkan pertentangan nalar, namun satu-satunya hal yang dapat menjadi penyatu itu semua adalah kalimat: ya begitulah kuasaNya.

Lantas bagaimana saya mampu, kita mampu mengilhami, menerima, memaknai
bahwa poin-poin hidup yan dihadirkan adalah bagian dari kehendak,
termasuk barangkali ketika kita salah menentukan pilihan, salah jalan, salah memutuskan. wallahu a'lam.

Allah dengan kuasaNya, tidak akan serta merta menelantarkan. Sudah dipastikan Dia mengampuni, sudah dipastikan Dia memiliki wewenang penuh memberi petunjuk dan hidayah yang beragam bentuk dan rupanya kepada tiap hamba yang meminta, sekalipun hanya sebisik suara dari nurani yang bahkan barangkali seorang hamba pun telah lupa.

Sekali-kaliNya tidak,
tidak akan Dia menelantarkan
jika kita termasuk umatNya yang dengan penuh penghambaan, meminta maaf, meneruskan pantulan kebaikan sinarNya, dan melakukan perbaikan.

Sekali-kaliNya tidak,
tidak ada maksudNya untuk mencelakakan atau menghendaki kemudharatan pada tiap perkara yang terjadi, pada tiap pertemuan, pada tiap kejadian.

Semoga kita mampu menginsyafi tindak tanduk yang keliru,
mensegerakan kebaikan, dan memperbening cermin nurani.


Kamis, 07 Agustus 2014

Tentang Hamba Allah

ini nih

Aku sangat menyanjung nama hamba Allah, yang dulu semasa SD, banyak sekali frasa ini muncul di TV. Terutama saat abis bencana alam atau tragedi kemanusiaan, berbagai bank swasta berlomba-lomba memberikan fasilitas bagi para donatur untuk bersedekah, menyisihkan sebagian hartanya untuk para korban.

Bertanyalah aku pada Ibu,
“bu, kenapa mereka nulis hamba Allah, ga namanya aja? Seolah-olah yang lainnya bukan hamba Allah gitu”
“ya soalnya mereka ga mau disebut namanya kalau nyumbang,” begitu jawab ibu. Singkat.

Padahal kalau saya lihat waktu itu, pikiran kanak-kanak saya berkata ooh barangkali karena takut dianggap sombong lantaran duit yang dikeluarkan besar makanya mereka pake identitas Hamba Allah. Tapi ternyata, kebanyakan sumbangannya pun tidak terlalu besar. Ada yang 50.000, ada yang 100.000, ada yang diatasnya, ada juga yang juta’an. Beragam.

Ah, kemudian aku paham, riya’ tidaklah mengenal angka.
Begitu terserang, habislah kebaikan demi kebaikan yang menjadi investasi menuju perjumpaan dengan Rabbnya.

***

Adalah Dzawin, seorang comic yang hanya bertahan sampai babak 3 besar di suci 4 yang sukses membuatku tertawa mendengar kata hamba Allah. Bukan seharusnya frasa mulia itu menjadi bahan tertawaan. Tapi kalau memperhatikan dengan seksama, guyonan si dzawin ini sarat akan muatan nasihat2 yang baik, bisa jadi merupakan sentilan, yang jelas menurutku, comic lulusan pesanten ini cukup berani dan sukses membawakan materi agama tanpa terlihat mendiskreditkan yang lain ataupun agamanya sendiri. Coba cek tautan ini.

***

Dan adalah..benar-benar hamba Allah, yang aku tidak tau namanya.

Suatu sore di ruang tamu, saat aku sedang mumet nginstal ulang program-program di laptop yang ilang mendadak gara-gara blue screen, tiba-tiba ada pak pos datang. Dia berucap permisi, permisi, tanda minta diperhatikan. Kalau hanya surat, saya rasa tidak perlu dia memanggil seseorang untuk keluar.

Aku pun meminta tolong adik sepupuku untuk menemui si pak pos sementara aku intip-intip cantik dari balik jendela ruang tamu.

Jumat, 01 Agustus 2014

Barangkali Kamu




Lirik dan aransemen musiknya yang sederhana.

But well, sometimes we just need simple words and rhythm to describe
one of a meaningful process of life.

***

Dari kisah-kisah pada zaman Rasulullah dan para sahabat, terutama kisah mengenai rumah tangga dan keluarga, saya rasa ada satu benang merah yang mampu diteladani: saling memuliakan.

Perihal berkeluarga, tidak sesederhana prosesi dan kisah di FTV, tentu tidak, bagi yang bertujuan pertemuan akhir denganNya.

Saya meyakini bahwa belahan jiwa kita, bukan manusia. Agak absurd ya, dan cenderung keluar dari konteks. Pencipta jiwa, bahkan yang menggenggam, adalah Tuhan kita. Kalaupun ia terbelah, satu-satunya yang berhak menjadi pemilik adalah Dia. Jika pun ada segenggam anugerah yang Ia titipkan, letupan-letupan manusiawi atas interaksi dengan sesama makhluk, bukan berarti lawan interaksi adalah seorang yang lantas bisa disebut sebagai belahan jiwa.

Kita hanya saling bersua, saling menyapa
Dibumbui komitmen dan berjanji suci atas namaNya
Kemudian bersama meneruskan perjalanan, dengan rute searah,
dengan peta yang sama, kapal yang sama, tujuan yang sama.
Mengepalkan tangan sebagai satu tim, memiliki musuh yang sama,
bahu membahu memperbanyak amunisi dan persediaan bekal
Saling mengobati saat tersakiti, berdansa saat terwarna pelangi.

Dan persoalan memuliakan, tidak lagi sekedar membicarakan untung dan rugi materi dan keduniawian.

***

Barangkali kamu..