Rabu, 21 Mei 2014

Ramadhan: Counting the Days

"setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri"- QS. Al Hadid 22-23

Ini sudah bulan Rajab. Bulan depan, Ramadhan.
Sangat menyenangkan, tentu saja. Ramadhan selalu membawa atmosfer baik, terbaik.
Kapan lagi selama sebulan, es sirup yang biasa-biasa saja, dijual seharga 500-an di depan gerbang sekolah dasar bisa begitu nikmat diseruput setelah mendengar alunan adzan maghrib?

Kapan lagi beramai-ramai manusia saling memeriahkannya dengan ngabuburit bareng atau sahur on the road? Terlepas yang demikian hanyalah bersifat ceremonial, esensi lainnya adalah terjalinnya silaturahim.

Hanya Ramadhan yang bisa.

Ramadhan selalu mengingatkanku pada momen di tahun 2009 – 2011, saya lupa tepatnya. Pada salah satu Ramadhan, saya sedang duduk diatas rumput di luar mushola tempat dilaksanakannya shalat terawih. Saya kehabisan shaf depan, mungkin saat itu euforia banyak makan sehingga telat ke masjid. Namun sekat pintu kaca mushola di kluster perumahan sebelah, tidak menjadi penghalang ketajaman telinga saya untuk menangkap apa yang diucapkan penceramah.

Beliau kala itu, berbicara mengenai konsep hidup seimbang.

Hidup seimbang itu, seperti apa? Yang 50-50?
Samar-samar suaranya demikian. Nabilla remaja ikutan berpikir. Kayaknya nggak gitu deh.

Atau menempatkan pada porsinya, dengan skala prioritas?
Beliau, sang penceramah kembali melempar tanya.

Ah, bisa jadi nih. Belakangan konsep yang senada saya temui di semester awal saat menempuh mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum, mengenai makna keadilan distributif dan komutatif yang dicetus oleh Aritoteles.

***

Hidup seimbang bagaikan ibu yang sedang membuat kopi untuk suaminya atau menyeduh susu untuk anak kita di pagi hari. Ada skala prioritas bagi komposisi susu atau kopi bubuk, air, dan gulanya. Misal saat membuat kopi, 2 sendok kopi dan satu sendok gula serta diseduh dengan air yang hampir mencapai mulut gelas akan terasa nikmat. Bandingkan dengan komposisi 1 sendok kopi, 1 sendok gula, dan 1 sendok air panas. Silahkan di minum.

Beberapa tawa jamaah pun pecah. Saya juga tersenyum simpul. Betul.

Ada skala prioritas, dunia dan akhirat. Sebagai seorang muslim, tentu akhirat menjadi skala prioritas yang paling besar porsinya.

Sebesar apa..?

***

Saya terkesima dengan frasa yang terdapat pada Al-A’raf: 56, yang pada saat itu belum saya ketahui betul maknanya, namun sok-sok an ngopy-paste di sticky note laptop toshiba hitam. Inginnya, bagian dari motivasi. Atau bahkan menjadi pekerjaan rumah yang harus terjawab. Saya biarkan ada disana selama berapa lama, hinga terpatri dalam alam bawah sadar. Anw, laptopnya sekarang udah cuil-cuil, jadi korban nemenin traveling huhu *abaikan*

Entahlah, saya yang masih sangat belia kala itu, hanya sebatas terpesona. Sekaligus membungkus tanya.

Bagaimana bisa, kita mengetengahkan perkara takut dan harap dalam satu aksi? Bagaimana menjelaskannya?

Bukan perkara mudah, tapi kunci terbesar yang membersamai doa, barangkali ada disana.
Mudah dijumpai eksplanasi dalam buku-buku, tetapi bagaimana cara menjelaskan pada seorang yang sedang berputus asa? Atau seorang yang terlalu tinggi rasa percaya dirinya? Hal-hal immateril yang demikian, andai bisa ditangkap, tentu akan saya ikatkan bersamaan dengan gelang yang melingkar di tangan kiri saya. Hingga saat pertanyaan itu datang, visualisasi yang jelas bisa dengan cepat terjewantahkan.

***

“Kayaknya gini deh,” seorang teman membetulkan posisi duduknya, bersiap memberi nasihat. “kamu tu harus menerima segalanya, dengan ikhlas. Jika kamu sudah ikhlas, berarti harus lebih ikhlas. Terima saja, insyaAllah kehendak dariNya.”

Saya hanya tertunduk.

Diskusi singkat malam ini kembali mengingatkan saya akan konsep takut dan harap. Alam bawah sadar kembali ngeprint dua kata dan di setor ke depan bola mata saya. Nih, baca lagi! Gitu deh seolah-olah.

Rasa takut (al-khawf) dan penuh harap (al-raja’) bagai dua sayap transparan yang sewaktu-waktu bisa menerbangkan seorang muslim menempuh perjalanan hidup, menuju ke tempat yang dituju. Bagai saat manusia sedang berjalan di darat, dan tiba-tiba dikepung oleh ratusan tikus yang menjijikkan melingkar dan tidak memberi secuil jalan untuk melarikan diri, saat itulah kedua sayap ini melebar, mengangkat tubuh berbobot sekian-sekian kilogram untuk menuju tempat yang lebih baik sesuai apa yang ditujunya, sesuai doanya.

Kedua sayap ini pula yang barangkali, menunjukkan kepada kita tentang satu doa yang paling sering diamalkan oleh Rasullah SAW. “Ya muqallib al-qulub tsabbit qalbi ‘ala dinik” (wahai Dzat yang Maha Membolak-balikkan Hati, teguhkanlah hatiku pada agama-Mu). Saking seringnya, Ummu Salamah menanyakan, “Wahai Rasulullah, betapa sering engkau berdoa Ya muqallib al-qulub tsabbit qalbi ‘ala dinik.” Rasulullah pun menjawab,
“Wahai Ummu Salamah, tak seorang pun anak keturunan Adam, kecuali hatinya berada diantara dua jari jemari Allah. Siapa yang dikehendaki akan Dia tegakkan dan siapa yang dikehendaki akan Dia selewengkan.” (HR. Al-Tirmidzi)

Rasulullah yang telah dijamin surga saja, begitu takut hatinya terbolak-balikkan, atau mungkin ingin agar umatnya menirukan amalan doa yang paling sering beliau lafalkan dalam tiap sujud shalatnya. Doa tersebut, begitu indahnya, menjadikan kita takut hati tergelincir, sekaligus berharap agar Allah menghendaki hati tetap pada Dien-Nya.

Paling nggak enak, dan naudzubillah, adalah kalo tergelincir di akhir. Karena semua amal, bernilai pada penutupnya/akhirnya. Pernah kan mendengar, “ada seorang yang sekian lama berbuat amal ahli surga, kemudian menutup perbuatannya dengan amal ahli neraka. Dan ada pula seseorang yang sekian lama berbuat amal ahli neraka, kemudian menutup perbuatannya dengan amal ahli surga.” (HR. Muslim)

Maka bagaimana berdoa dengan rasa takut dan penuh harap?

Nggak bisa semudah nyeduh segelas minum-makanan-bergizi dipagi hari, lalu berharap kenyang seharian. Harus ditambah menu makanan lain, atau mungkin harus dibiasakan. Persoalan posisi tengah antara takut dan penuh harap, sepertinya adalah persoalan keterampilan. Seperti jawaban al-Ghazali saat ditanya, mana yang lebih utama, takut atau penuh harap?

“sesuai kebutuhan masing-masing. Untuk yang terperdaya rasa aman dari azab dan murkaNya, khawf lebih utama. Tetapi jika khawf menguasai hati hingga membuat lemah dan putus asa, maka raja’ lebih utama baginya.”

Kembali lagi pada merendahkan diri. Kedua sayap indah tidak akan tumbuh di kepompong yang rusak, air tidak akan mengalir ke tempat yang lebih tinggi. Barangkali konsepnya sama seperti ilmu yang seperti air, mengalir ke tempat yang rendah. Maka seharusnya, kita menundukkan diri, membiasakan dan mengasahnya sebagai suatu keterampilan, untuk berdiri ditengah dan mempersilahkan kedua sayap khawf  dan raja’ tumbuh sempurna dibalik punggung kita.

Membawa terbang, menuju jalan pulang.

***

Lha kalo sudah pulang, yakinkah dosa-dosa terampuni, amal-amal diterima, kebaikan-kebaikan doa terijabah?

Hingga hari ini, saya teringat kembali akan paragraf ini:

“Jika kalian mau, akan kuberitahu yang Allah ucapkan pertama kali di ahri kiamat kepada orang-orang yang beriman. Juga yang pertama kali mereka ucapkan kepadaNya.” Para sahabat menjawab, “Ya, wahai Rasulullah.” Rasulullah SAW bersabda, “Allah SWT berfirman kepada orang-orang mukmin, ‘apakah kalian senang berjumpa denganKu?’ mereka menjawab, ‘Ya, wahai Tuhanku’, Allah SWT bertanya ‘Mengapa?’ mereka menjawab ‘Kami mengharap ampunanMu’. Dia berfirman, ‘wajiblah bagi kalian ampunan-Ku.”

Maka, yuk sama-sama berbahagia menyambut Ramadhan tahun ini.

Yang sudah taat semoga hati selalu teguh pada Dien-Nya, menjauhkan rayap-rayap kecil menggerogoti akar kuat dan menumbangkannya.
Yang belum taat, rahmat dan ampunanNya adalah lebih besar dari murkaNya.

Semoga menjadi Ramadhan yang makin bermanfaat dan menjadikan kita orang-orang yang nantinya mengakhiri waktu dengan amal ahli surga dan menjawab salam dari malaikatNya, serta diwajibkan atas ampunanNya.


***

Wallahu’alam, dengan segala keterbatasan, kumpulan kalimat diatas hanya sekedar tulisan untuk berbagi manfaat.

anyway, selamat 106 tahun Hari Kebangkitan Nasional *yang sudah lewat beberapa jam lalu* dan 21 Mei ya? Peringatan reformasi.
Nggak ada salahnya ngereformasi diri dan mimpi-mimpi ^^


Tidak ada komentar:

Posting Komentar