Jumat, 25 April 2014

Susu bayi itu mahal

matanya lho *__*
Apa yang membuat wanita suka sekali bercakap-cakap ya?
Padahal percakapan-percakapan yang terjadi sebenernya banyak nggak pentingnya dan membuat wanita kerap kali tergelincir pada omongan-omongan yang dilontarkan.
Dan sayangnya, terkadang saya pun demikian huehehe... istighfar yang buanyakkkk...
Tapi dalam obrolan-obrolan ringan, saya selalu menyimpulkan dan menilai.
Selalu ada hikmah dalam obyek yang menjadi bahan obrolan.. eh diskusi.

karena kita mengambil pelajaran tidak hanya dari hidup kita sendiri, kan?
pelajaran itu banyak dari sekitar, andai mau membuka mata hati telinga
lebih lebar.

Beberapa hari terakhir, setiap ketemu temen SMA, kami hampir selalu membahas how our future will be disela-sela tema guyonan lainnya. Mungkin faktor usia, beberapa dari kami sudah ada yang lulus, dan memang sudah waktunya merancang masa depan. Ingin dibawa kemana, ingin seperti apa.

***

"ini..." seorang wanita mengulurkan tangannya, digenggamannya berisi beberapa lembar duit yang warnanya merah, gambarnya Ir. Soekarno.
"buat beli susu si kecil.." lanjutnya.

saya yang disebelahnya hanya diam, mesem-mesem.
untung yang dikasih sangu punya si kecil, lha kalo enggak, apa ya alasan lain yang kira-kira oke untuk memperhalus pemberian?
saya rasa "untuk beli susu si kecil" itu hanya kalimat basa-basi. Masa iya harga susu segitu mahalnya, atau masa iya duit segitu cuman buat beli susu.

Itu yang saya pikirkan dulu.

Terlahir sebagai anak semata wayang, membuat saya nggak punya pengalaman yang memadai dalam hal mengurus bayi, gimana menggendong biar bayinya comfy, gimana memandikan bayi, berapa kali dalam sehari si bayi minum susu, pup, apa makna tangisan bayi, dan seputar perbayian lainnya.

Pengalaman saya hanya sebatas beberapa hari bersama si kecil, adik-adik sepupu saya yang jumlahnya belasan, gimana saat menggendong mereka dan hingga akhirnya si kecil pun nempel dan nggak rewel di pangkuan saya. tapi ya, hanya beberapa hari euy. kalo diibaratkan, jadi semacam short course begitu.

Plus saya juga nggak nyangka kalo harga susu bayi itu ada yang sampe ratusan ribu rupiah.

Kalo aja si bayi mengkonsumsi susu yang mahal, katakanlah seharga 200 ribu rupiah, dan habis untuk seminggu saja. Artinya, sebulan si orang tua harus menghabiskan 800 ribu untuk konsumsi susu si baby selama sebulan (4 minggu). Ngalah-ngalahi pengeluaran per bulannya anak kost -_____-"

Selain itu pendidikan anak, untuk PAUD dan TK saja, pendaftarannya bisa sekian juta, belum uang yang lain-lain. Ngalah-ngalahi SPP nya mahasiswa yang bisa dapet murah hehe.

Well, saya memahami mengapa pendidikan untuk anak kecil, yang masih imut-imut ini terbilang mahal dan mungkin beberapa orang awam beranggapan angka yang tertera cukup lebay dengan pola pikir, si balita atau batita masih kecil, sehingga harusnya pengeluaran yang di anggarkan pun tidak besar. 

Padahal, usia emas atau golden age si anak ini terjadi pada usia 0-6 tahun, ada penelitian yang menyatakan bahwa perkembangan otak anak bisa sampai 80 persen. Bagaikan kaset kosong yang siap direkam kali ya.. sehingga pendidikan di usia strategis tersebut adalah yang utama, gimana karakter yang mau ditanamkan ke anak, mungkin anak masuk ke alam bawah sadar anak dan jadi memori yang akan terpatri selama berpuluh-puluh tahun ke depan. Seorang anak yang selalu dalam asuhan orang tuanya, dan yang berada dalam asuhan orang lain pun tentu akan meninggalkan kesan yang berbeda. Saya, yang sempat diasuh oleh eyang dan disusui oleh tante, pada akhirnya memiliki keterikatan tersendiri yang saya juga tidak tahu bagaimana bisa. Padahal karakter kami berbeda dan pola pikir yang beberapa kali berseberangan.

Maha Besar Allah, itulah kenapa dalam Islam pun pendidikan adalah pilar yang menentukan hidup seseorang, bahkan hingga bagaimana perkembangan agama ini.

***

Mungkin karena "susu buat bayi mahal" lah yang membuat beberapa teman saya memilih untuk mapan dalam artian punya banyak uang untuk dapat mencukupi hidup keluarga dan memberikan yang terbaik untuk anaknya. Karena pemberian butuh biaya.

Entahlah, namun bagiku kadang yang demikian seolah mereduksi kesiapan-kesiapan yang lain, seperti mental, pola pikir, kemantapan hati, hingga agama. Seolah kesiapan finansial yang menjadi syarat utama untuk berkeluarga, yang apabila telah terpenuhi, baru bisa membina keluarga.

Hm.. bukankah perlu juga menanamkan pada anak mengenai daya juang, kemauan untuk berjuang? Jika anak-anak terlahir dalam keadaan yang baik-baik saja, serba tercukupi, dari mana atmosfer perjuangan dan pengharapan kepada Tuhan bisa menyentuh kulit hingga nadinya?

Barangkali terlalu ideal, abstrak, muluk-muluk, atau terlihat, ah lo kan belom pernah berkeluarga. ya kaliiii..

Tapi bukankah sebaiknya kita merancang proposal dengan konsep yang bukan sempurna, bukan juga biasa saja; perkara yang ada ditengah namun tetap identik dengan kebaikan dan terlihat menarik. persoalan bagaimana nanti acaranya, dana yang turun berapa, adalah tergantung selama proses berlangsung. disitu tantangannya. dan dalam menghadapi tantangan dan cobaan itulah, peluang yang sangat besar untuk ikhtiar, tawakkal, berserah diri padaNya amat sangat ada. artinya, peluang untuk mendekatkan diri dan ibadah juga lebih besar. wallahu a'lam..

Sekuat dan setangguh apa kita; para calon pendidik muda.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar