Sabtu, 22 Maret 2014

Menjaminkan Hati

Detik ini, kembali saya merasa begitu bersyukur.

Keputusan saya 3,5 tahun lalu untuk kuliah di FHUB , bergabung di FKPH, dan berkesempatan mengikuti beberapa kompetisi bersama rekan seangkatan dan adik tingkat. Salah satu yang paling berkesan adalah LKTM Piala Mahkamah Agung Tahun 2012 di Unhas yang saya tuangkan disini.

Pada kesempatan itu, saya bertemu dengan Anggun dan Descha, tim dari UII yang sangat ramah. Apakah karena dari Jogja? entahlah, yang jelas mereka sangat bersahabat. Waktu itu saya teringat betul, kaki kanan ku masih tertatih jika dibuat jalan karena jempolnya habis terjepit pintu, berdarah, dan kuku jempol saya mengelupas separuh. Iyuuuuwwww ngeri banget deh sampe bikin meriang. Waktu presentasi pun saya batal pake high heels dan tetap ber sepatu kets. Mereka juga menyemangati saya, padahal statusnya adalah kompetitor lho. Selain itu, saya juga bertemu lagi dengan Mas Sandi, pendiri FKPH UII. Sebelumnya, akhir tahun 2011 saya sudah pernah bertemu beliau di UII, yakni saat acara Study Tour.

Perkenalan kami ternyata tidak berhenti sampai seusai kompetisi.

***

Selama 2 hari 1 malam tersisa saya di Jogja, saya tidak lagi ngerecokin temen-temen yang mau menikmati city tour dari panitia dan agenda lain. Saya juga punya agenda sendiri. Beruntung banget Anggun mau ngasih saya tumpangan buat bobok di kamar kosnya yang hanya seharga 400 ribu, luas, dan ada kamar mandi dalamnya. Mana ada nih di daerah kampus UB....

Anggun dan Descha sama-sama sudah lulus dan bekerja di kantor yang sama yakni di Pusdiklat UII. Descha akan wisuda akhir bulan ini, sementara Anggun melesat cepat, selain udah dapet pekerjaan, juga sudah mendaftar S2 di UII yang perkuliahan perdananya terlaksana hari ini. Kamis bada maghrib dan bersih-bersih diri di kos Anggun, kami bergegas menuju kantor, menjemput Descha. Kami berencana makan malam bareng. Asik bener deh di tour guide-in 2 orang sekaligus. uhuyyy

Saya dan Anggun tiba di kantor tepat saat adzan isya berkumandang. Descha mengajak kami untuk shalat Isya terlebih dahulu, aku menyepakati. Anggun sendiri kebetulan lagi haram buat shalat. Sehabis berwudhu, layaknya perempuan pada umumnya yang nggak jauh-jauh dari obrolan menye-menye. Anggun bertanya tentang kabar salah seorang senior perempuan saya, saya pun ngasih tauin kalau beliau udah nikah. Anggun jadi shock, pertama karena gak dapet kabar, kedua, karena beliau menikah dengan orang yang di luar dugaan.

"Nggun, sebenar-benarnya misteri..." saya berucap dengan nada yang sangat wajar, padahal saat pertama denger, temen-temen langsung gempar, nggak henti-hentinya kami berusaha mengambil hikmah, mendoakan, dan mengambil pelajaran yang baik-baik.

Anggun manggut-manggut imut, menyepakati. Dia kemudian mengantarku ke atas masjid FH UII. Shalat berjamaah baru saja di mulai, saya buru-buru memakai mukenah tanpa memerhatikan siapa imamnya. Saat shalat, saya diam-diam memuji bacaan imam yang enak didengar. Seusai melepas dzikir dan sepatah dua patah doa, Anggun menghampiri saya.
"Bil, itu imamnya mas Agus lho.."
"mas Agus..?" saya berusaha membuka kontak nama di memori otak saya. Agus siapa?
"Agus Fadhila Sandi.."
"Ooooh, mas Sandi! Ah yang bener?" saya kemudian kembali mencermati imam yang telah membalikkan badan ke arah makmum namun tetap khusuk berdzikir seraya menunduk. Ah iya, itu mas Sandi! Masya Allah, nggak nyangka!

***

Saya, Anggun, dan Descha menunggu kedatangan mas Sandi di pintu gerbang FH UII. Tidak lama beliau datang dengan jaket hitam yang bertuliskan, "Faculty of Law" FH UII, begitu lah kira-kira.
"Wee pak Udztad sudah datang.." Descha memberi salam. Mas Sandi juga memberi salam kepadaku sambil mengatupkan kedua telapak tangan di depan dadanya, saya membalas dengan gestur serupa dan menjawab salamnya.
"Mau makan nih ya, ayuk.." ujarnya bersahabat.
Kami pun menentukan lokasi, karena saya adalah turis, saya ngikut tour guide nya deh.

Bungong Jeumpa (dalam bahasa Aceh artinya Bunga Cempaka) pun dipilih. Salah satu warung makan khas aceh yang menyajikan berbagai kudapan khas privinsi paling barat di Indonesia ini, mulai dari Mie Aceh, Nasio Goreng Aceh, Roti Cane dan lain-lain. Nyam..saya mencium aroma kelezatan hehehe. Kami memilih bangku di lantai 2, dekat jendela.

"Kalau ada nabilla, saya sepertinya tahu pembicaraan ini mengarah kemana..." mas Sandi menanggapi Anggun yang sedari tadi mengasihani dan menggelitiknya dengan sindiran serta ungkapan keprihatinan. padahal yang di prihatini sebenarnya selow banget. Tidak lain, kami sedang membicarakan pernikahan salah seorang senior saya, yang dulunya pernah dekat dengan Mas Sandi di satu organisasi nasional.

"Momentumnya..." descha memotong kata-katanya, "saat mas ceramah di .... (sebagian teks lupa), itu ya?"
"iya, saya rasa, saya sedang diuji waktu itu.." mas Sandi menjawab.

ini ngomongin apa sih, saya jadi roaming sendiri.

***

"maka sebenarnya ada benarnya apa kata Gazhali, bahwa apabila bisa memilih, profesi yang ingin dijauihinya adalah menjadi seorang penceramah. karena penceramah akan diuji oleh Allah mengenai apa yang dikatakannya, dan nanti di akhirat akan diminta pertanggung jawaban dari apa yang kita ucapkan. Saat itu, saya sedang berbicara mengenai menjaminkan hati hanya kepadaNya...dan ternyata saya diuji setelahnya..." mas Sandi membiarkan kalimatnya menggantung.

Kami bertiga pun terdiam sesaat, mungkin sedang berdialog dengan hati dan akal masing-masing. Ada benarnya, setidak-tidaknya ambil contoh kecil saja, jika saya sedang memotivasi adik tingkat untuk berbuat ini dan itu, tidak berbuat ini dan itu, tetap bersemangat jangan bersedih, sesudahnya selalu diuji mengenai apa yang saya utarakan. Saya teringat banyak berbicara kepada adik tingkat mengenai ikhlas, sabar dan istiqamah, yang sebenarnya saya pun belum mendapat sertifikat lulus. Dan saya rasa ketiganya tidak untuk disertifikatkan, melainkan menjadi bagian dari perjalanan hidup. Maka saya menjadi maklum ketika beberapa anugrah maupun musibah yang terjadi, hulunya ada pada 3 nilai dasar tersebut.

"...jika tidak benar-benar tangguh dan enggan untuk diuji oleh Allah, sebaiknya menggali ilmunya terlebih dahulu. maka benar juga adanya pepatah yang mengatakan bahwa, barang siapa baik akal dan akhlaknya, sedikit bicaranya..." beliau melanjutkan.

kami sebagai adik-adik ini, jadi merasa dapet perkuliahan 2 sks, hanya dengan mendengar mas Sandi berpidato singkat yang bahkan tidak sampai 20 kalimat, namun diamnya kami yang mengantarkan untuk menyelami peristiwa yang sudah dan akan diambil.

Anggun yang pertama kali buka suara, "bener banget sih mas..."

"iya Anggun. itulah mengapa, saat saya sedang berbicara mengenai menjaminkan hati kepada Allah semata, saya langsung mendapat ujian seperti itu. ya karena memang seharusnya kita menyandarkan hal-hal perasaan ini hanya berserah pada Nya, tidak kepada pacar, teman, suami atau istri kelak sekalipun.."
Mas Sandi melanjutkan.

Giliran saya yang tertegun cukup lama. Saat itu, saya yang lebih banyak diam dan tersenyum saja, padahal dalam hati mikir berat. Buku yang saya baca beberapa hari belakangan, percakapan-percakapan dengan orang-orang terdekat seolah menjadi penguat. Orang di hadapanku ini, begitu ridha saat Allah memberikan ketetapan padanya, begitu tegar saat orang-orang yang lain dengan mudah terhempas, sangat berlapang hati melepas apa yang mungkin menjadi hal yang diinginkannya.

Kami bertiga sebenarnya sedang sama-sama sedang menyoal hati, saya sangat yakin. Descha, Anggun, maupun saya.. oleh karenanya, kultum mas Sandi ini layaknya air putih yang digerojokkan pada kami bertiga. Persoalan menjaminkan hati  ini agaknya frasa baru yang tidak jauh dari menyandarkan hati. yang jelas keduanya bernuansa ketaatan tertinggi pada Allah. Sekalipun kita mendaulat diri, mengultimatum diri bahwa kita adalah hamba yang menyandarkan hatinya pada Allah, pada suatu momen, pasti ada kecolongan yang kemudian memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru,

benarkah hati saya sudah bersandar dengan sebaik-baiknya posisi bersandar padaNya?
ridha kah saya dengan ketetapanNya nanti?
ridha kah Allah dengan langkah-langkah saya?

***

Akhir malam itu berakhir dengan bercandaan memojokkan mas Sandi, membicarakan organisasi, studi s2, pekerjaan, dan ditutup oleh makan buah durian di pinggir jalan sambil berteduh kehujanan.

Kudapan-kudapan lezat itu kemudian ditanggung oleh Descha dan Mas Sandi,
"sok cool dan gentle aja sih mereka.." begitu sindir Anggun.

Apapun itu, bersama mereka malam itu, membuatku menemukan keluarga baru...
di Yogyakarta :)



Jadi Penyusup di Jogja

Saya pengen liburan, tapi kayaknya harus puasa dulu, setidak-tidaknya sampe dapet kampus untuk melanjutkan S2.

Tapi kok...........

Akhirnya saya memutuskan untuk jalan saja, dan mengganti kata liburan dengan silaturahim. Hehe asik ya, segala sesuatu berawal dari niat. Seperti pada postingan-postingan sebelumnya, saya lagi diinapi oleh kegalauan yang saya sendiri masih berusaha nge-figure out kenapa gimana kapan mengapa ya pokoknya 5W 1H lah ya. Berhubung makin nggak tenang dan belum bisa pulang, mending main ke provinsi sebelah, Yogyakarta (Jogja).

Rencananya sih mau mampir akhir maret, sekalian nyari info untuk s2 dan silaturahim sama teman-teman di Jogja. Kebetulan, adik-adik tingkat di FKPH sejumlah 10 orang lolos di kompetisi LKTI Piala Moh. Natsir UII dan akan presentasi pada tanggal 20 Maret. Saya ngerayu Achmad, si Dirut FKPH yang baru, yang juga jadi delegasi, untuk turut ikut jadi official. Well sebenernya official nggak ditanggung oleh panitia, atau bahasa kasarnya bawa nggak bawa urusan anda. Saya merajuk dan menjanjikan untuk mendampingi mereka hingga presentasi selesai. Pokoknya saya mau ikut ke Jogja, tutik!

Saya nitip Achmad untuk beli tiket Malioboro Ekspres ekonomi seharga 110ribu, KA yang melayani perjalanan Malang-Jogja. Kami berdua rencana berangkat Rabu (19 Maret) pagi, sampe jogja sore. Sementara temen-temen lain, berangkat naik travel sehari sebelumnya. Achmad sendiri masih rempong benerin PPT dan ngurus internal organisasi.

Bahkan saat di dalam kereta, Achmad masih ngutek-utek presentasinya dan sesekali berdiskusi dengan saya mengenai peluang dan celah gagasannya itu. Selebihnya, saya membuat diri saya senyaman mungkin dengan buku dan camilan. nyam! Anyway, saya langsung mengkhatamkan buku ini:

haram..?

Sebuah buku yang menyebalkan sekaligus memotivasi lagi untuk mewujudkan mimpi yang similiar. Bagaimanapun juga kaki dengan ukuran sepatu 40 ini masih pengen menjejak di berbagai benua; mungkin tidak akan setangguh para umat Islam terdahulu, mungkin tidak untuk berdagang apalagi berperang. Namun pasti akan ada jutaan kisah dan hikmah yang sangat wajib untuk dibagi.

Malioboro Ekspres pagi itu betul betul jauh dari kata Ekspres. Jalannya lambat banget, kayak naik motor cuman kecepatan 20 km/jam, sudah 2 jam lebih dan kami baru sampai di Blitar. Tapi yang menyenangkan adalah penumpang tidak terlalu ramai. Achmad bisa menempati kursi di hadapanku yang nggak berpenumpang untuk umek dengan laptopnya, aku pun bisa membaca sambil sesekali melihat hamparan langit biru yang sempurna dengan semburat putih cerah. Tidak ada cumulonimbus, baguslah.

Duduk di pinggir jendela kendaraan saya rasa adalah posisi favorit setiap orang. Betul, nggak? Setidak-tidaknya bagi saya dan bapak-bapak tua di bangku deret sebelah yang sedari tadi hanya termangu menatap jendela sambil membetulkan posisi kacamatanya. Saya tidak tahu apa yang dipikirkan beliau , begitu pula sebaliknya. Beruntungnya Allah tidak menganugerahi setiap manusia untuk dapat melihat apa yang dipikirkannya.

Saya meletakkan buku yang baru seperempat halaman saya baca, dan kembali menatap langit yang berpadu dengan hamparan padi yang masih hijau segar. Pikiran saya beradu, lalu lintas kembali ramai, dan tiba-tiba saja muncul satu pertanyaan absurd, buah dari percakapan aneh dengan seseorang yang beberapa hari ini mendera dan mengucurkan puluhan kalimat tanya yang belum bisa serta merta terjawab.

di dunia yang begitu luas ini, bagaimana mungkin kita bisa bertemu..?

***

Sabtu, 15 Maret 2014

Unreasonable Fear; get away!

"...dan mari arungi dunia bareng.."

Bukan gelar SH yang menjadi target kelulusan 3,5 tahun ini.

Lulus 3,5 tahun juga dengan hal-hal lain yang mengikuti kelulusan, adalah seserahan untuk barter saya sama orang tua. Saya tuntaskan apa yang diharapkan keduanya, tapi tidak dengan terpaksa. Saya alhamdulillah sangat enjoy menjalani hidup 3,5 tahun di Malang sebagai mahasiswa hukum, 3,5 tahun berusaha memahami pola dan intrik politik kampus, 3,5 tahun pelan-pelan mengubah habits, 3,5 tahun bertemu orang-orang yang beberapa diantaranya bagai dejavu. Saya enjoy, tapi saya masih perlu menuntaskan mimpi-mimpi yang lain.

Dan itulah yang membuat saya ingin segera menuntaskan studi di Malang. Ada harga yang harus saya barter ke orang tua agar mendapatkan restu untuk menyelami mimpi saya yang lain.

Betapa impian itu penting bagi saya, kalo nggak punya impian, hidup serasa hambar dan menjemukan. Saya sudah merasakan keduanya; memiliki impian dan (hampir) menghentikan impian itu.

***

Rabu, 12 Maret 2014

Mari Saling Bercermin

sepasang penghuni di salah satu sudut Eco Green Park, Kota Batu

Ada satu kutipan dalam salah satu kisah di buku Rectoverso-nya Dee yang paling ku ingat.

"seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan ketakutannya akan sepi.."

Keutuhan tercermin itu seperti apa?
saya juga jadi teringat apa yang dituliskan Salim A Fillah bahwa saudara dalam iman itu layaknya cermin; ketika ada kesalahan pada mereka, saat itu juga kita pun memiliki kesalahan yang sama, bagaimana saudara sesama muslim bertindak, seperti itulah perangai kita. Maka ada konsep untuk saling mengingatkan sesama saudara dalam kebaikan

Keutuhan tercermin itu seperti apa?
saling melengkapi, saling mengingatkan...?

***

Saya lupa dimana tepatnya lagu ini menjadi familiar di telinga lantaran saya putar lebih dari lima kali. Yang jelas, saat itu saya sedang menempuh perjalanan ke Jerman untuk program Joint Summer Programme. Beberapa kali saya mendengar lagu ini dan lagunya memang enak didengar, nagih, mudah diingat, dan liriknya mengingatkan saya pada kutipan diatas.

"aren't you something to admire? 'cause ur shining is somethin like a mirror
and I can't help but notice, you reflect on this heart of mine
If you ever feel alone and your glare makes me hard to find 
just know that I'm always parallel on the other side.."

Parallel.
terangkai berderet, bergandengan, bersamaan. Lagu ini jelas berkisah mengenai percintaan lelaki dan perempuan, yang satu adalah cerminan bagi yang lain. saling menyinari, saling memberi pengaruh, saling menginspirasi. Jika Tuhan meridhai, Dia akan menggerakkan keduanya untuk saling bercermin, memberi petunjuk kepada hati-hati mereka sekalian.

Saat terlibat percakapan singkat di sudut taman di Berlin Timur, saya dan seorang teman saya berbagi cerita dan rencana, apa yang akan kami lakukan setelah kegiatan 10 hari di Jerman. Ternyata tidak ada satupun dari rencana kami yang dibumbui kata hubungan percintaan dengan lawan jenis. Apakah temanku ini ingin menjadi wanita karir? Bisa jadi. Apakah saya juga? Sebenernya enggak.

Kami ternyata sama-sama belum menemukan seseorang yang dengannya, keutuhan diri ini tercermin. "let it flow aja.." dia menutup percakapan, kami berdua meninggalkan taman dan kembali berjalan kaki ke flat.

"'cause I don't wanna loose you now, I'm lookin right at the other half of me
the vacancy that sat in my heart, is a space that now you hold
show me how to fight for now, and i'll tell you baby
it was easy coming back here to you once i figured it out
you were right here all along..."

saya juga jadi teringat teman saya yang lain, teman sekampus.
kira-kira bulan Agustus 2013, kami disibukkan dengan kegiatan lembaga kampus hingga larut malam. saya dan dia masuk ke ruang transit untuk merapikan perlengkapan dan materi yang akan dibagikan kepada peserta. entah apa yang menjadi pemantik, dia bercerita secara spontan mengapa dia sampai sekarang nggak tertarik untuk menjalin hubungan pacaran yang umumnya dilakukan temen-temen di kampus dan abege pada umumnya.

Sabtu, 08 Maret 2014

Karena (kita) Perempuan

"Dia memasak makananku, mencuci bajuku, dan merawat anak-anak ku; padahal semua bukan kewajiban atasnya. Sabarlah atas wanita.." - Umar Bin Khattab

Bulan Januari lalu, seorang teman dari kota sebelah main selama beberapa hari di Malang. Sudah sekitar 6 bulan dia "hijrah" dari Malang. Ia pun menyempatkan ketemuan dengan saya, menagih cerita, berbagi kisah. Kami kebetulan sama-sama berencana untuk mendaftar S2 di salah satu PTN tahun ini.

Temanku ini adalah seorang yang cukup saya percaya untuk berbagi cerita dan menjadi diri saya sendiri, begitu dia datang, dia pun nyeletukin, katanya saya lebih feminim. Ini antara bangga atau sakit hati, sudah berjilbab pake rok dari kemaren2 kurang feminim apa coba..

Anyway, ada salah satu celetukannya yang bikin mikir.
Saya bercerita tentang rencana studi. Dia hanya menunduk dan nyengir, kemudian bilang,
"tapi kon iku wedok lho nab..." (tapi kamu itu perempuan, nab)
saya jadi mikir bentar, trus ketawa. sudah tau ini bahasannya bakal mengarah kemana. dia pun melanjutkan, "bukannya aku seorang yang feodal dan menganggap cewek gak boleh sekolah tinggi-tinggi. Tapi lo itu nantinya punya kewajiban lain yang lebih utama dan woy nab, cowok bisa minder. Pantes sampe sekarang lo gak punya pacar.."

Untung saya sudah lebih feminim, kalo nggak pasti orang ini sudah saya gibeng.
saya pun menjelaskan panjang kali tinggi kali volume mengenai point of view saya, sebenarnya bukan kali pertama. Entah karena dianya gak paham-paham ataukah saya yang nggak enthos memahamkan. Dia akhirnya manggut-manggut. Pembicaraan kami break untuk shalat maghrib.

Seusai sholat saya teringat, ada yang pernah bilang ke saya melalui surat, bahwa rencana studi yang sempat saya utarakan sekilas pada suatu forum ternyata "menggetarkan hati". Dia, si penulis, tidak menyangka bahwa saya yang seperti ini, ternyata mengidamkan untuk menjadi wanita karier. Setelah membaca, buru-buru saya klarifikasi melalui sms ke penulis. Dear Sir, i'm not a career woman wanna be.

Jumat, 07 Maret 2014

Sepenggal Kisah Kompre

Seperti pada postingan sebelumnya, kali ini saya ingin berkisah mengenai momen. Salah satu momen di awal tahun yang sukses membuat saya seperti Sponge Bob yang kehilangan kemampuan membuat Krabby Patty karena ketidak percayaan dirinya. Saya sungguh pada beberapa hari setelahnya, masih merasa menjadi orang yang paling bodoh di dunia.

My mental was attacked.

Dan yang menyerang gak main-main; Profesor Man!

***

Begitu mendengar siapa saja majelis yang akan menguji di ujian komprehensif saya tanggal 19 Februari lalu, saya lemes sekaligus mencoba tegar. Saya akan diuji 5 dosen yang terdiri dari 2 dosen pembimbing, seorang Profesor, dan dua dosen lainnya. Biar enak dan layaknya ketentuan umum dalam Bab 1 Peraturan Perundang-Undangan, untuk selanjutnya para majelis disebut Pembimbing A, Pembimbing B, Profesor, Dosen 1, Dosen 2.

Bikin saya lemes karena saya tahu kelemahan dalam skripsi saya yang kira-kira pasti diidentifikasi ketiga dosen tersebut. Nah ini salah juga sih ya, belom perang udah mikir kalah. Jangan dicontoh ya.. Dengan Bapak profesor, beliau terkenal sebagai seorang dosen yang menurut teman-teman dan adik tingkat saya, “Duh..aku dapet C+” atau “Aku lho D+”. Dan hanya seorang yang ku dengar mendapat “A”. Kebetulan, aku tidak pernah diajar beliau, selama 7 semester. Kok ndilalah….ketemunya di ujian terakhir program Bachelor.