Kamis, 20 Februari 2014

The Vow: Menyoal Momen dan Pilihan

Life's all about moments, of impact and how they changes our lives forever. But what if one day you could no longer remember any of them? - The Vow

Saya menyimpan film ini, hmm..kira-kira pertengahan tahun kemarin. Bermula saat saya mengikuti LKTM Piala Mahkamah Agung di UNS bersama dua adik tingkat saya, Emil dan Cintya, kami menginap di hotel yang kece banget. Amarelo Hotel, worthy dah hotelnya, apalagi gratis (dibayarin kampus) ehehe.

Salah satu fasilitasnya adalah channel dari indovision, dan begitu selesai presentasi, kami masih mempunyai 2 hari disana dan fixed kami habiskan sisa malam untuk nonton acara tv dari indovision. Ini semacam norak, balada anak kost Malang. Kami seringnya nonton 3 jenis tv program. Film, acara musik, dan kartun. Saat ditengah nonton film, ada iklannya the Vow. Sebelumnya saya sudah baca resensi filmnya. Genrenya sudah ketebak, drama. Lebih tepatnya romantic drama. Tentang kesetiaan seorang suami untuk menepati Vow-nya dan memberikan apa yang terbaik untuk istrinya, sekalipun bukan hal yang dia inginkan. What makes me interested is Channing Tatum! hehe dan ceritanya kan taken from a true story. Saya suka film, apapun kecuali horor, yang diangkat dari kisah nyata. Sepulang dari UNS, saya cari filmnya dan saya simpan di laptop sampe beberapa bulan.

Dan baru saya lihat malam ini, setelah tragedi kompre yang akan saya ceritakan mungkin beberapa hari ke depan, berhubung masih dalam tahap menata hati. Lebay tapi nyata.

Beberapa adegan di film The Vow harus saya percepat berhubung saya belum berumur 25 tahun, belum cukup umur buat lihat *tutup mata*. Secara singkat, Leo dan Paige adalah sepasang suami istri yang baru menikah dan mereka mengalami kecelakaan mobil. Leo nya sembuh, Paigenya lupa ingatan. Otaknya tidak mampu merekam ingatan sejak dua tahun terakhir. Dia bahkan lupa kalau Leo adalah suaminya. Perubahan memorinya membuat personality nya pun ikut berubah, jadi seperti Paige sebelum 2 tahun terakhir. Singkat cerita, Leo berusaha keras membantu Paige untuk mengingat lagi sisa-sisa memorinya pada 2 tahun terakhir tapi sia-sia saja. Klimaksnya adalah saat mereka pada akhirnya bercerai; Leo kewalahan untuk membuat istrinya mencintainya lagi. Tapi pada akhirnya, Paige berterima kasih sama Leo karena Paige pun menemukan dirinya lagi, tidak melalui kembalinya ingatan, tapi melalui dia yang berusaha menjadi dirinya sendiri. 

Penggemar film action maupun film yang mementingkan klimaks dalam jalan cerita mungkin bakal ngantuk lihat filmnya. Apalagi kalau hanya membaca satu paragraf singkat-padat-nggak jelas diatas yang dengan sangat singkat menyebutkan apa poin-poin pada filmnya.

Saya memang nggak ingin meresensi, karena udah banyak resensinya, salah satu kisah nyatanya diberitakan di sini. Film ini mencoba mengisahkan tentang esensialnya titik-titik memori dan dengan siapa kita melewatinya. Kita yang sekarang dikaruniai kesenangan dan masa-masa sulit, apa pernah berfikir ya gimana kalo suatu saat kita kehilangan memori berharga itu? Dan yang awalnya begitu mencintai seseorang, bisa kemudian sangat asing dan ditatap pun risih. Berhubung filmnya based on true story, dan singkat ceritanyya bisa di klik di link diatas, ini menunjukkan bahwa Tuhan telah berkehendak. Saat Tuhan berkata, jadilah, maka jadilah. Sepotong memori hilang dan nggak pernah lagi kembali, hati pun dapat terbolak-balikkan dengan mudah. Sekalipun berusaha keras untuk setidaknya merasakan apa yang kita rasakan saat dulu pernah mengalaminya. 


Kemarin, saya baru mengalami one of an impactful moment of my life. Kompre.

Seusai ujian kompre yang betul-betul di uji oleh majelis, yang mana untuk ujian saya terdiri dari 5 orang dosen sedangkan ujian teman-teman yang lain hanya 3-4 orang, keluar ruangan saya menangis. Sebenarnya biasa saja sih ujiannya, tapi impact-nya yang membekas. Saya langsung memeluk erat sahabat saya sejak 6 tahun yang lalu dan menangis singkat. Saya berbisik, aku nggak yakin..

Satu jam yang berhasil menarik saya untuk mundur ke belakang dan memaki diri sendiri lantaran nggak maksimal. Diperparah dengan pertanyaan2 lainnya yang menarik diri ke belakang untuk flash back dan sekaligus memunculkan kemungkinan-kemungkinan yang akan saya ambil ke depan. Tidak hanya mengenai pendidikan, tetapi hal-hal lain sesudah ini semua. Akhirnya saya berada pada posisi ini lagi, kebimbangan antara tuntutan dan impian. Saya pada akhirnya harus kembali memilih, untuk bercerita atau tidak, untuk mengiyakan atau menolak.

Pada beberapa titik, ada momen yang memberi energi positif untuk tubuh secara fisik dan mental untuk melakukan atau tidak melakukan sesuatu. Momen memiliki kecenderungan dan kemampuan untuk memprediksikan kemungkinan dan perubahan apa yang kita ingin lakukan. Pada akhirnya, kita akan selalu memiliki pilihan.

Beberapa bulan belakangan, saya dihantui beberapa momen dan kemungkinan2 yang mengerikan, yang saya sendiri tidak tahu harus dengan apa membunuhnya. Seorang saudara saya benar, lalu lintas yang paling tidak bisa diatur ada pada pikiran. Jika saja tidak ada Tuhan tempat bersandar dan nurani sebagai suara yang berbisik lembut pada setiap tindak tanduk dan pengambilan keputusan, mungkin kita semua sudah salah arah dan menjadi seorang yang hancur jiwanya. Takut sekali rasanya, tapi kadang bayangan lebih mengerikan daripada fakta itu sendiri. Saya bisa saja berlari menghindar, tapi nggak cute dan bukan opsi yang bijak. Saya harus menghadapi.

Dan ya, semoga Tuhan mengarahkan,
semoga Tuhan mempertemukan
semoga Tuhan mengizinkan..

Dan mengenai hari kemarin dan pertanyaan-pertanyaan yang mengikuti, entah apakah anugerah atau musibah, semoga ini adalah titik yang tetap membuat seorang hamba istiqamah berkhusnudzan padaNya.



Tidak ada komentar:

Posting Komentar