Sabtu, 15 Februari 2014

Hidup Bijak diatas Tanah Rawan Bencana

Judul diatas sengaja dikasih bau-bau tanah karena pertama konon manusia berasal dari tanah, dan kedua karena saya anak konsentrasi hukum agraria. ehem.

Semalam, saat saya sudah tertidur pulas, sekitar pukul 22.49 gunung Kelud meletus, dia erupsi. Gunung yang sempat diperebutkan oleh pemerintah daerah Blitar dan Kediri itu akhirnya meletus juga setelah sehari yang lalu status siaga-waspada-hingga menjadi awas dengan cepat dinaikkan. Gunung Kelud memiliki penampakan yang nggak terlalu indah layaknya gambar gunung anak SD yakni gunung dengan bentuk segitiga yang tumpul dibagian atas. Kata ayah dan ibu, saat kami sedang berjalan pagi di daerah wlingi dan melihat pemandangan Gunung Kelud dari jauh, bentuk yang jelek itu akibat dari konon dulu Gunung kelud sudah sering meletus. Terhitung kira-kira 5x sudah gunung kelud meletus sejak 1919 sampe sekarang. Letusan terakhir sebelum 2014 adalah tahun 2007.

Tanah Rawan Bencana
Sebelum kelud, pada september 2013 lalu dan bahkan belum berhenti hingga sekarang, Gunung Sinabung yang berada di sumatera utara juga masih mengeluarkan awan panas. Bisa jadi akibat letusan sinabung ini, memicu keaktifan gunung berapi di wilayah lempeng yang melingkar dari sumatera ke jawa yakni lempeng tektonik Indo-Australia yang mana di jawa juga ada beberapa gunung berapi. Katakanlah, di Jawa Timur saja setidaknya ada Kelud, Bromo, Semeru, Ijen, mana lagi ya? saya nggak hapal hehe. Banyaknya gunung berapi dan karena posisi Indonesia yang berada di lempeng strategis ini, kira-kira singkatnya begitu, menyebabkan Indonesia juga dijuluki sebagai negara ring of fire.

NatGeo menyebutkan bahwa ring of fire adalah:
The Ring of Fire is a string of volcanoes and sites of seismicactivity, or earthquakes, around the edges of the Pacific Ocean. The Ring of Fire isnt quite a circular ring. Its shaped more like a 40,000-kilometer (25,000-mile) horseshoe. A string of 452 volcanoes stretches from the southern tip of South America, up along the coast of North America, across theBering Strait, down through Japan, and into New Zealand.



ring of fire ini menunjukkan sebenarnya kita sedang tertidur di bumi yang siap kapan aja meledak. keterangan bahwa titik ring of fire ini yang ditandai dengan keberadaan 452 gunung berapi sepanjang amerika selatan, utara amerika, melewati asia, sampe ke new zealand. Ini sama saja kita sedang di kepung. Jepang yang telah menyadari potensi bencana, dengan pintar menyiapkan strategi berskala nasional dan mengedukasi warganya untuk tahan terhadap bencana alam. Hal yang sama dilakukan di berbagai negara pada kawasan ring of fire diatas untuk menerapkan early warning system. Misalnya saja ada jalan khusus yang bisa dilewati pengunjung pantai untuk menghindari tsunami. Strategi yang seperti ini yang harusnya kita tiru.


Di Indonesia sendiri, gunung berapi ada..berapa ya, coba googling sendiri hehe. Seorang teman dari exchange di china tahun 2012 lalu yang sempat ketemuan sama saya di Bromo, mengutarakan alasannya tertarik dengan bromo. pertama, karena bromo salah satu lokasi wisata yang terkenal. kedua, karena dia gunung berapi aktif yang mudah di daki. Dia bilang, di China dia nggak pernah liat gunung berapi. Kasian.. Dia kemudian takjub melihat asap panas yang mengepul dari kawah bromo.

natgeo nggak menyebutkan bahwa Indonesia juga berada dalam posisi ring of fire. tapi fakta di peta yang dapat dilihat digambar ini menunjukkan:
lempeng tektonik yang mengitari Indonesia

dari lempeng itu dapat dilihat, disebelah sumatera ke jawa, ada lempeng indo-australia yang kemudian menyebabkan lahirnya magma-magma subur dan membentuk pegunungan bukit barisan di sumatera yang juga ada beberapa gunung berapi disana. Begitupun di jawa. Karenanya, nggak heran saat terjadi pergeseran lempeng, daerah-daerah yang mepet lempeng yang sering kena. Sebut saja tsunami di aceh, mentawai, gempa di Jogja, dll. Penyebabnya ya karena itu memang daerah patahan lempeng tektonik.

Jadi seharusnya kita tidur nih nggak tenang karena dikepung ancaman bencana gunung meletus sewaktu-waktu. Apalagi karakter bencana alam kan selalu tiba-tiba, cepat, sehingga manusia juga butuh kesigapan. Bencana sinabung yang kemudian disusul bencana erupsinya gunung kelud ini, bisa saja memicu magma yang ada di gunung lain buat cari angin. Mungkin, coba tanya guru geografi.

Meletusnya Kelud mencuri perhatian banyak orang, bahkan sampe ke dunia internasional. Dahsyat ya. Diperparah oleh laju angin, gunung kelud yang berada di Jawa Timur, efeknya sampai ke Bandung. Ini karena arah anginnya ke barat, jadi materi erupsi kebawa ke arah barat. Paling parah ada di jogja dan solo yang jarak pandang hanya 4-5 km. bahkan seorang teman di bbm yang ada di solo, mengupload foto dimana jarak pandang hanya 0 cm. Abu vulkaning menyebabkan borobudur dan prambanan ditutup. Hal yang sama dilakukan oleh pihak di bandara Juanda, bandara di jogja, semarang, dan solo yang tidak melayani rute ke dan dari bandara tersebut. Tapi saya sendiri bingung, daerah utara seperti surabaya dan sidoarjo, juga terkena dampak abu. Ibu yang disidoarjo harus berkacamata dan bermasker untuk menghindari hujan abu tipis di daerah waru. Tapi subhanallah, Malang Kota nggak terkena dampak apapun selain mendung. Tapi hari ini, alhamdulillah cerah. Dalam hal ini, kelud punya karakter sendiri kali ya, berbeda dengan sinabung yang efeknya tidak ke provinsi tetangga, melainkan berlarut-larut mengeluarkan awan panas pada radius kilometer tertentu. Sehari setelah meletusnya gunung kelud, muncul berita hoax yang memberitakan semeru dan bromo pun berstatus siaga. entah nantinya bagaimana, tapi sejauh ini, beritanya masih hoax.

Sekalipun banyak hal mengerikan akibat gunung meletus, dulu ibu pernah bercerita kalau gunung meletus itu, material laharnya menyuburkan tanah. See? Tuhan akan selalu menitipkan kelebihan pada tiap kekurangan. Akibat dari lempeng tektonik Indo-Australia ini salah satunya adalah kandungan mineral , batubara, minyak gas, dan energi panas bumi yang melimpah di bawah tanah yang kita pijak.

Bencana lain juga terjadi di Pekanbaru, Riau yakni kebakaran lahan dan hutan yang menyebabkan polusi udara memasuki status tidak sehat, mendekati bahaya. Saya mencoba browsing dan ada indikasi pelakunya adalah beberapa pemangku kepentingan perusahaan perkebunan dan kehutanan.


Hidup Bijak
Mungkin akan sedikit klise, ya. Meletusnya gunung kelud pada pukul 22.49 kemudian di kait-kaitkan oleh berbagai pihak dengan Surat 22 (Al Hajj), ayat 49 yang memiliki arti: Katakanlah, "Hai manusia, sesungguhnya Aku adalah seorang pemberi peringatan yang nyata kepada kamu.
Mungkin menjadi karakternya orang Indonesia, ketika ada bencana baru mengingat Tuhannya. Saya sendiri masih bingung, inikah fitrah manusia? Tapi sebenarnya ada sisi positif dan negatifnya. Mari ambil positifnya aja, setidaknya secara berjamaah, kita kembali mengingat ada Yang Lebih Berkuasa atas alam ini.

Tapi bisa jadi memang Tuhan sedang memberikan peringatan.

2014 adalah tahun perpolitikan di beberapa negara. Pesta demokrasi nasional di gelar. Yang saya tahu ada di Thailand dan Indonesia. Uniknya, keduanya sama-sama sedang dilanda krisis menjelang pesta demokrasi. Di Indonesia, pada khususnya, hal ini berakibat pada hilangnya euforia pesta demokrasi itu sendiri. Segala sesuatu tentang pemilu mendatang terasa sangat flat, berbeda dengan yang terjadi pada pemilu periode tahun-tahun sebelumnya. Euforia hanya dilakukan dan mungkin dirasakan oleh akademisi, pemangku kepentingan, media yang ditunggangi, dan simpatisan2nya. Kini perhatian banyak pihak tertuju dan dipaksa untuk menujukan pandangannya pada perihal kemanusiaan ketimbang politik. Saya jadi kasian sama Pak SBY yang merupakan seorang presiden sekaligus ketua umum partai. Pasti dilematis banget ya Pak.... 

Mungkin kita memang sedang di ingatkan sama Tuhan. Arogansi kita yang luar biasa besar terhadap pengelolaan alam, kita yang nggak amanah, dan korupsi yang nggak ada indikasi menurun, kemudian dikait-kaitkan dengan mengapa di tanahku terjadi bencana.

Efek tektonik yang melingkari Indonesia mengakibatkan kita menjadi negara tambang dan pernah menjadi negara pengekspor minyak (anggota OPEC) saking kayaknya energi kita sampe isok di buak-buak ke negara lain. Era orde baru, ada kebingungan antara kita yang masih negara baru dan secara teknologi belum mumpuni, ketidak pedean pengelolaan, serta kongkalikong antara pejabat dengan perusahaan asing, menyebabkan salah kelola di sektor pertambangan. Kesalahan pada era orba ini memberikan efek domino hingga kini, soalnya nggak ada cerita perusahaan pertambangan di punya izin menambang cuman 1 atau 5 tahun. Adanya ya puluhan tahun dan masa itu bisa diperpanjang menurut UU dan diperpanjang plus plus kalo bisa lobi-lobi sama pejabat. Hal ini bisa diambil contoh mudah dan mainstream yakni pada  PT freeport yang bisa-bisanya kontrak dengan pemerintah di acc sebelum UU minerba tahun 1967 disahkan.

Akibatnya, kita nggak berdaulat atas energi yang ada di dalam tanah kita. Kita dieleminasi dari kategori negara pengekspor. Kita kini kesusahan memenuhi pasokan permintaan minyak dalam negeri dan memaksa negara ini menjadi pengimpor. Akibat lanjutannya adalah kesenjangan, disparitas di masyarakat, kesejahteraan yang nggak kunjung bisa tersentuh.

Belum lagi kelakuan pembakaran hutan dan lahan yang pelakunya adalah manusia. lahan perkebunan di sumatera dan kalimantan, itu sebagian besar juga bukan punya kita. Saya jadi berpikir bahwa fitrah lain dari manusia sama halnya seperti energi, dia dibutuhkan untuk menghidupi teknologi dan tuntutan globalisasi, menjadi pemimpin di muka bumi. tapi disisi lain, dia bersifat destruktif, merusak.

Kita yang masih bisa bermimpi di atas tanah yang bisa murka sewaktu-waktu, harusnya bisa lebih bijak ya, baik sekarang saat masih menjadi seorang penikmat kebijakan maupun nanti saat diamanahkan menjadi pembuat kebijakan. Terlebih apabila kita adalah seorang yang berpartisipasi dalam kerusakan alam.

Mari memperbaiki perilaku dan mengevaluasi diri.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar