Jumat, 26 Desember 2014

Oase ditengah Ladang Gundah





Adalah kesekian kalinya, aku bertanya, mengapa kita?

Jika rahasia dari alasan ini adalah bagian dari kehendak dan rencana Tuhan, sungguh Dialah yang paling tahu, apa yang paling rahasia dan sebanyak apa dosa-dosa...begitu pun sebaliknya, yang terjadi padamu.

Aku tidak tau menau, begitupun kamu.

Dalam kacamataku, ya kacamataku... adilkah bagimu?
Ikhlaskah kamu?

Bahwa, walau ini adalah fitrah, kita berbeda.

Barangkali perbedaan ini bisa molor layaknya karet gelang; kadang menjauhkan, tetapi justru berjauhanlah yang menjadi satu-satunya alasan untuk mendekatkan.

Aku tidak pernah bisa memahami perbedaan dengan baik, dengan sempurna.

Setahuku, ia adalah fitrah. Perihal yang normal.
Tetapi dengan naifnya, argumentasi itu bagai melompat diatas pegas.
Memantul, tidak akan bisa mengenai sasaran, ketika diarahkan balik kepadaku.

Aku berbeda, ku harap kamu memahaminya dengan baik; saat membulatkan keputusan. Perihal untuk kini, dan nanti di akhirat, ujarmu beberapa kali.
Aku berbeda, barangkali tidak lebih baik dari yang terbaik yang pernah kau kenal. Ah sungguh, kau lihat kalimat perbandingan diatas, apple to apple. Kadang dihadirkan, sebagai batu uji, bukan untuk melemahkan diri.  
Aku berbeda. Dan rumit, katamu.
Apa kamu tetap baik-baik saja?

Bukan perbedaan ini yang aku tanyakan padaNya, sama sekali bukan.
Tetapi apakah perbedaan ini dapat menjadi sebenar-benarnya fitrah, sebaik-baiknya berkah. karena perihal memuliakan, adalah sumber ketentraman terindah.
Seperti oase ditengah ladang gundah.

Andai aku mendapatkan jawabnya dariMu, Tuhan, tentu aku bisa lebih tenang.

Tapi barangkali, ketidaktenangan ini adalah lebih baik bagiku; menjadikannya amunisi abadi untuk selalu terhubung denganMu.

Jumat, 08 Agustus 2014

Cermin Nurani

Setitik embun di Gunung Sawur, beberapa kilometer dari Gunung Semeru

Mampukah kita menghitung dosa?
Terbatas jari-jari kita dan kubu-kubu jemari untuk menghisab dosa sendiri.
Sama terbatasnya pengetahuan kita untuk menyingkap apa makna tiap misteri yang dihadirkan olehNya. Misteri yang terserak di penjuru alam, maupun perihal yang dialami hamba-hambaNya yang seringkali datang diluar dugaan, kadang menimbulkan pertentangan nalar, namun satu-satunya hal yang dapat menjadi penyatu itu semua adalah kalimat: ya begitulah kuasaNya.

Lantas bagaimana saya mampu, kita mampu mengilhami, menerima, memaknai
bahwa poin-poin hidup yan dihadirkan adalah bagian dari kehendak,
termasuk barangkali ketika kita salah menentukan pilihan, salah jalan, salah memutuskan. wallahu a'lam.

Allah dengan kuasaNya, tidak akan serta merta menelantarkan. Sudah dipastikan Dia mengampuni, sudah dipastikan Dia memiliki wewenang penuh memberi petunjuk dan hidayah yang beragam bentuk dan rupanya kepada tiap hamba yang meminta, sekalipun hanya sebisik suara dari nurani yang bahkan barangkali seorang hamba pun telah lupa.

Sekali-kaliNya tidak,
tidak akan Dia menelantarkan
jika kita termasuk umatNya yang dengan penuh penghambaan, meminta maaf, meneruskan pantulan kebaikan sinarNya, dan melakukan perbaikan.

Sekali-kaliNya tidak,
tidak ada maksudNya untuk mencelakakan atau menghendaki kemudharatan pada tiap perkara yang terjadi, pada tiap pertemuan, pada tiap kejadian.

Semoga kita mampu menginsyafi tindak tanduk yang keliru,
mensegerakan kebaikan, dan memperbening cermin nurani.


Kamis, 07 Agustus 2014

Tentang Hamba Allah

ini nih

Aku sangat menyanjung nama hamba Allah, yang dulu semasa SD, banyak sekali frasa ini muncul di TV. Terutama saat abis bencana alam atau tragedi kemanusiaan, berbagai bank swasta berlomba-lomba memberikan fasilitas bagi para donatur untuk bersedekah, menyisihkan sebagian hartanya untuk para korban.

Bertanyalah aku pada Ibu,
“bu, kenapa mereka nulis hamba Allah, ga namanya aja? Seolah-olah yang lainnya bukan hamba Allah gitu”
“ya soalnya mereka ga mau disebut namanya kalau nyumbang,” begitu jawab ibu. Singkat.

Padahal kalau saya lihat waktu itu, pikiran kanak-kanak saya berkata ooh barangkali karena takut dianggap sombong lantaran duit yang dikeluarkan besar makanya mereka pake identitas Hamba Allah. Tapi ternyata, kebanyakan sumbangannya pun tidak terlalu besar. Ada yang 50.000, ada yang 100.000, ada yang diatasnya, ada juga yang juta’an. Beragam.

Ah, kemudian aku paham, riya’ tidaklah mengenal angka.
Begitu terserang, habislah kebaikan demi kebaikan yang menjadi investasi menuju perjumpaan dengan Rabbnya.

***

Adalah Dzawin, seorang comic yang hanya bertahan sampai babak 3 besar di suci 4 yang sukses membuatku tertawa mendengar kata hamba Allah. Bukan seharusnya frasa mulia itu menjadi bahan tertawaan. Tapi kalau memperhatikan dengan seksama, guyonan si dzawin ini sarat akan muatan nasihat2 yang baik, bisa jadi merupakan sentilan, yang jelas menurutku, comic lulusan pesanten ini cukup berani dan sukses membawakan materi agama tanpa terlihat mendiskreditkan yang lain ataupun agamanya sendiri. Coba cek tautan ini.

***

Dan adalah..benar-benar hamba Allah, yang aku tidak tau namanya.

Suatu sore di ruang tamu, saat aku sedang mumet nginstal ulang program-program di laptop yang ilang mendadak gara-gara blue screen, tiba-tiba ada pak pos datang. Dia berucap permisi, permisi, tanda minta diperhatikan. Kalau hanya surat, saya rasa tidak perlu dia memanggil seseorang untuk keluar.

Aku pun meminta tolong adik sepupuku untuk menemui si pak pos sementara aku intip-intip cantik dari balik jendela ruang tamu.

Jumat, 01 Agustus 2014

Barangkali Kamu




Lirik dan aransemen musiknya yang sederhana.

But well, sometimes we just need simple words and rhythm to describe
one of a meaningful process of life.

***

Dari kisah-kisah pada zaman Rasulullah dan para sahabat, terutama kisah mengenai rumah tangga dan keluarga, saya rasa ada satu benang merah yang mampu diteladani: saling memuliakan.

Perihal berkeluarga, tidak sesederhana prosesi dan kisah di FTV, tentu tidak, bagi yang bertujuan pertemuan akhir denganNya.

Saya meyakini bahwa belahan jiwa kita, bukan manusia. Agak absurd ya, dan cenderung keluar dari konteks. Pencipta jiwa, bahkan yang menggenggam, adalah Tuhan kita. Kalaupun ia terbelah, satu-satunya yang berhak menjadi pemilik adalah Dia. Jika pun ada segenggam anugerah yang Ia titipkan, letupan-letupan manusiawi atas interaksi dengan sesama makhluk, bukan berarti lawan interaksi adalah seorang yang lantas bisa disebut sebagai belahan jiwa.

Kita hanya saling bersua, saling menyapa
Dibumbui komitmen dan berjanji suci atas namaNya
Kemudian bersama meneruskan perjalanan, dengan rute searah,
dengan peta yang sama, kapal yang sama, tujuan yang sama.
Mengepalkan tangan sebagai satu tim, memiliki musuh yang sama,
bahu membahu memperbanyak amunisi dan persediaan bekal
Saling mengobati saat tersakiti, berdansa saat terwarna pelangi.

Dan persoalan memuliakan, tidak lagi sekedar membicarakan untung dan rugi materi dan keduniawian.

***

Barangkali kamu..


Senin, 07 Juli 2014

Tersebab Perkara

kita tidak akan pernah tahu, melalui perantara perkara apa, derajat kita ditinggikan.
kita tidak akan pernah tahu, apakah harus mengutuki rasa gembira,
atau mengakrabi sedih dan kecewa?

aku tidak peduli akan keduanya, ujar Umar ibn Khattab.
karena aku tidak tau, mana yang baik bagiku, yang telah menjadi pilihanNya.
lanjutnya.

namun kita tahu satu hal,
seberapapun terjal, sesulit apapun jalan dimulai, sehina dan seburuk apapun dimata manusia dan barangkali dihadapanNya

Allah selalu ada, kita yang menentukan, akan dibawa kemana perjalanan akhir kita.

tesebab apa kita dimuliakan?
tersebab siapa kita dimuliakan?
pada perihal yang bagaimana, kita termuliakan?

***

semoga kita ridha

dan Allah berkenan meridhai


Rabu, 25 Juni 2014

LPDP: Sebuah Indikator Gaul

kumus-kumus

Tahun 2014 ini sungguh nano-nano, rasa jeruk.
Berbeda dengan unpredictable things di tahun-tahun sebelumnya yang masih seputar kampus, tahun ini, dominasi life after campus sangat menguat.

Kenapa rasa jeruk?
Karena ia menyegarkan, kadang masam, manis, warnanya oranye cerah, mencerahkan dan menyehatkan.

Dan ya.. begitulah adanya.

***

Seleksi Administrasi

Saya mendaftar beasiswa LPDP untuk periode kuliah yg dimulai bulan September. LPDP nggak menerima calon mahasiswa yang on going, atau sudah memulai kuliah. Artinya harus apply dan mengikuti seluruh proses sebelum perkuliahan dimulai. Awalnya, duh aras-arasen banget buat daftar bulan Mei, pengennya daftar september aja, lantaran masih berkutat pada proses pendaftaran wisuda di kampus yang cukup belibet. Salah satu keribetannya adalah saya belum tau bisa wisuda kapan, antara akhir mei atau awal juni, berarti ijazah pun masih terombang-ambing di lautan waktu, kapan bisa keluar. Sementara, daftar LPDP harus pake Ijazah dan transkrip asli, nggak seperti pendaftaran S2 UI dan UGM yang bisa pake SKL aja. Oh men..

well, anyway, LPDP adalah.... buka link ini , yang ngaku anak muda gaul harus tau LPDP ya! Boleh banget nih kalo LPDP juga jadi indikator ke-gaulan anak muda dan para pembelajar seluruh Indonesa. tentang LPDP, silahkan googling dan buka website diatas, saya hanya sharing pengalaman aja, yang barangkali ceritanya, berbeda dengan blog-blog lain yang ada di gugel ^^ 

oke lanjut

Kamis, 05 Juni 2014

Wis Sudah, saatnya Jabat Tangan sama Rektor

gifts, thank you :)
Wisuda tidak lebih dari proses seremoni belaka, selebrasi heboh pertanda resminya mahasiswa menjadi seorang alumni.

Karena saya meyakini demikian, inginnya nyantai saja. Saya nggak ngejarkom temen-temen dan adik-adik untuk hadir, hanya yang kebetulan bertemu saja saya beri pemberitahuan, ehm lebih tepatnya ultimatum bernada guyonan. Orang tua pun, H-1 wisuda sebenarnya ayah masih berada di luar kota, baru sorenya tiba di Malang. Betul-betul Long Distance Family..hehe. urusan salon, baju, dan lain-lain pun saya siapkan dengan cepat.

Persiapan yang cepat dan tepat, dikarenakan saya paham betul betapa rempongnya hari ini nanti. Mulai dari dandan, foto-foto, dan karakter orang tua saya yang nggak bisa nunggu anaknya lama-lama. Apalagi sore itu, setelah wisuda, rencananya bakal langsung ke Blitar. Dan bagaikan Peter, si transporter di film X-Men, semua bisa teratasi dengan cepat.

- Pukul 04.00 udah ready di salon, subuhan di salon dan ngantri untuk di make up-in. ada sekitar 15 antrian dan polesan wajah saya dan ibu pun baru kelar jam 06.15
- Nah sebenarnya udah booking studio foto jam 05.30, lantaran telat di make up, langsung cus studio foto. Enaknya kalo foto sih pagi aja ya, selain masih fresh, yang paling penting adalah nggak ngantri. Pinjem aja case ijazahnya temen buat foto-foto, beres kan!
- 06.35, sesi foto berakhir. Buru-buru tancap gas ke Samantha Krida masih dalam keadaan belum sarapan. Yakaliii.. gak keburu kalo sarapan dulu.
- 06.50, nyampe samantha krida. Para wisudawan masih banyak (banget) yang keliaran di luar gedung, padahal MC udah koar-koar ngasih pemberitahuan agar wisudawan plus tamu undangan segera masuk. Saya termasuk yang bandel, masih di luar. Sembari nungguin ayah yang parkir di dekat fakultas hukum juga sih.
- 07.30, prosesi wisuda belum juga dimulai, temanku, Lusy, yang akan membacakan janji wisudawan karena IPK nya tertinggi di wisuda periode itu, belum juga datang. Saya bersyukur dapet tempat duduk depan, jadi bisa dengan leluasa melihat podium, uniknya mahasiswa paduan suara, plus ngelihat bakal rektor Pak Bisri (salah fokus).
- 09.00 udah bosen.
- 10.00 bosen banget.
- 10.30 akhirnya prosesi wisuda selesai. Saya keluar ngikutin temen-temen saya yang bertoga garis merah pertanda dari Fakultas Hukum. Ternyata diluar Sakri, ruammee banget, penuh dengan sanak keluarga yang mencari anak-anaknya. Persis seperti penjemputan timnas (kalo pas menang) di bandara. Jadi berasa diluar gedung banyak fans gitu, bedanya adalah, nggak bisa dadah-dadah. Yaiyalah, siapa jugaaa.. nah saya juga kebingungan nyari orang tua saya. Ternyata beliau-beliau keasikan minum dawet, saya lega. Harusnya, di Sakri adalah prosesi foto-foto part 1, yakni sama temen-temen UBHU. Ternyata krik-krik banget, temen-temen UBHU belum keliatan batang hidungnya. Karena saya pun sendirian dan nggak tau arah jalan pulang, saya nyamperin Abang dan keluarganya, dan ngikut jalan sama mereka. 
“loh bil, orang tua mu mana?” abang nanya, disela-sela kami jalan dan celingukan nyari temen-temen UBHU.
“nggak tau bang, ilang…”
Huhu betul-betul kayak anak ilang.
Abang ketawa. Alhamdulillah orang tuanya abang ramah dan sesekali kami ngobrol.
- 10.50 , ayah nelpon. Alhamdulillah, nggak perlu masuk realiti show buat mempertemukan ortu dan anak. Ayah ternyata nungguin di bunderan, padahal saya udah jalan nyampe widya loka which is udah deket FH. Akhirnya saya pun balik, menjemput mereka. Jalan sekitar 100 meter pake heels 7 cm dan rok span itu……….. saya nggak heran kalo malemnya jari kaki kiri saya jadi lecet.
- 11.10 , ketemu temen-temen UBHU di widlok, sesi foto-foto berlangsung. Nah, sebetulnya yang wisuda pada hari itu hanya aku dan Abang. Tapi, ada wisudawan yang rela banget selebrasi 2x. Angga, salah seorang member UBHU yang udah wisuda akhir Februari lalu, bela-belain bawa toga buat foto-foto bareng temen-temennya plus kami. Pledoinya adalah karena dulu dia sendirian, ga ada temennya. Kejadian epic nya adalah pas kami lagi foto bertiga pake toga, ada temennya Angga sefakultas yang lewat dan ngasih ucapan selamat.
“Weits bro…selamat yo, moga sukses!” si teman nyamperin Angga dan nyalamin dengan mantab.
Barisan foto pun buyar, Abang dan aku nggak kuat nahan tawa.
Angga pun ngejawab, “oiyo bro, sama-sama…lah aku kan wes wisuda biyen!”
Temennya kebingungan, mungkin muter ingatan sejenak. “oiyo se, lali!”

Nah, inilah betapa selebrasi atau ekspresi terlalu gembira bisa melalaikan seseorang. Ckckck, makanya kita kudu banyak istighfar ya kalo lagi bahagia….. *jadi ceramah*

- 11.20, mulai was-was. Wisudawan FH yang keliaran di lapangan rektorat mulai menipis. Takutnya kalo acara di FH udah di mulai, sementara sesi foto sama temen2 UBHU belum berakhir. Masalahnyaaaa, saya diminta ngasih sambutan sebagai perwakilan wisudawan S-1. Nah kalo telat kan malu euy.
- 11.30, pamitan sama temen-temen. Setengah lari, dengan heels 7cm, lantaran udah nggak ada lagi wisudawan dengan toga bergaris merah. Curiga banget nih mereka udah duduk anteng di dalem Gedung B untuk prosesi pelepasan wisudawan. Ini pertanda saya telat. Duh duh duh..
- 11.35, alhamdulillah belum telat. Walaupun pak Dekan dan jajaran udah bersiap diluar. Hehe. Namun efek lari-lari pake heels bikin saya dag-dig-dug, takut-takut kalo nanti saat bicara belepotan dan malu-maluin. Untung dikasih air mineral gelas, dan cukup membantu untuk menenangkan diri. Alhamdulillah pidato pun singkat padat dan katanya yang dengerin sih, bagus hehe. Sebelumnya sudah di wanti-wanti sama orang-orang kemahasiswaan agar pidatonya nggak kepanjangan. Siap komandan!
- 12.30 proses pelepasan wisudawan di FH selesai!

Saya langsung mempersilahkan ayah, ibu, nia, dan ayu untuk makan terlebih dahulu, sementara saya ngacir keluar untuk menemui temen-temen yang udah stand by di luar. Sesi foto-foto kayaknya bakalan lama, dan bener aja.. baru kelar sekitar jam 2.

Well, euforia.

***

Begitulah lini masa wisuda yang saya ringkas sedemikian rupa. Agar ada gambaran, buat temen-temen yang belum wisuda, gimana rempongnyaaaa wisuda yang sebetulnya hanya sekedar selebrasi.

Tapi betulkan, selebrasi belaka?

***

Barangkali ini sama sedihnya seperti 3,5 tahun lalu saat Purnawidya Smanisda. Perasaan setengah hati, antara ingin tetap tinggal, namun disisi lain dengan jelas menyadari bahwa ada langkah di depan yang harus dijejak.

Selalu demikian, saat ingin menutup jendela di saat maghrib, udara mendadak sejuk. Sinar matahari yang tenggelam pun menyusup kaca, mengetuk kembali agar dibuka saja.

Segala sesuatunya selalu nampak indah sebelum ditinggalkan.

Kesalahan, kebaikan, apapun yang telah terlampaui dan dijalankan…semoga mampu menjadi penghias jalan di depan. Dan tiap kekhilafan mampu termaafkan.

Karena ini tidak lain adalah sebuah perjalanan, pemberhentian kali ini sudah habis masa berlakunya.

Tidak ada pilihan lain selain terus berjalan, bergerak, membawa perubahan dan kemanfaatan, serta menuju pemberhentian selanjutnya.

Sebelum kembali pulang, padaNya.


Terima kasih almamaterku, Brawijaya.

Kiky, Popo, dan Dian yang sempetin dateng ke FH dan bawa kura-kura sarjana. Makasih banyaak :)

tim hore, makasih yg sudah datang

UBHUSX 2013, makasih yaaa :)

Surya, Achmad, Enis, dan dek Una. di depan rumah :)

sama dia setan plus tince :)

teriak FKPH!

FKPH dan BEM :D



Rabu, 21 Mei 2014

Ramadhan: Counting the Days

"setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam Kitab (Lauh Mahfudz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu dan jangan pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikanNya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri"- QS. Al Hadid 22-23

Ini sudah bulan Rajab. Bulan depan, Ramadhan.
Sangat menyenangkan, tentu saja. Ramadhan selalu membawa atmosfer baik, terbaik.
Kapan lagi selama sebulan, es sirup yang biasa-biasa saja, dijual seharga 500-an di depan gerbang sekolah dasar bisa begitu nikmat diseruput setelah mendengar alunan adzan maghrib?

Kapan lagi beramai-ramai manusia saling memeriahkannya dengan ngabuburit bareng atau sahur on the road? Terlepas yang demikian hanyalah bersifat ceremonial, esensi lainnya adalah terjalinnya silaturahim.

Hanya Ramadhan yang bisa.

Ramadhan selalu mengingatkanku pada momen di tahun 2009 – 2011, saya lupa tepatnya. Pada salah satu Ramadhan, saya sedang duduk diatas rumput di luar mushola tempat dilaksanakannya shalat terawih. Saya kehabisan shaf depan, mungkin saat itu euforia banyak makan sehingga telat ke masjid. Namun sekat pintu kaca mushola di kluster perumahan sebelah, tidak menjadi penghalang ketajaman telinga saya untuk menangkap apa yang diucapkan penceramah.

Beliau kala itu, berbicara mengenai konsep hidup seimbang.

Hidup seimbang itu, seperti apa? Yang 50-50?
Samar-samar suaranya demikian. Nabilla remaja ikutan berpikir. Kayaknya nggak gitu deh.

Atau menempatkan pada porsinya, dengan skala prioritas?
Beliau, sang penceramah kembali melempar tanya.

Ah, bisa jadi nih. Belakangan konsep yang senada saya temui di semester awal saat menempuh mata kuliah Pengantar Ilmu Hukum, mengenai makna keadilan distributif dan komutatif yang dicetus oleh Aritoteles.

***

Hidup seimbang bagaikan ibu yang sedang membuat kopi untuk suaminya atau menyeduh susu untuk anak kita di pagi hari. Ada skala prioritas bagi komposisi susu atau kopi bubuk, air, dan gulanya. Misal saat membuat kopi, 2 sendok kopi dan satu sendok gula serta diseduh dengan air yang hampir mencapai mulut gelas akan terasa nikmat. Bandingkan dengan komposisi 1 sendok kopi, 1 sendok gula, dan 1 sendok air panas. Silahkan di minum.

Beberapa tawa jamaah pun pecah. Saya juga tersenyum simpul. Betul.

Ada skala prioritas, dunia dan akhirat. Sebagai seorang muslim, tentu akhirat menjadi skala prioritas yang paling besar porsinya.

Sebesar apa..?

***

Minggu, 04 Mei 2014

Kupu-Kupu di Perut

Malam ini saya kembali mengkonsumsi satu botol minuman yang bikin geli tenggorokan, berwarna merah. ah sebut saja Fanta. *glegek'an* *tutup mulut*

Well, perut saya pun dibikin geli dua hari belakangan. Saya sempat beberapa kali membayangkan gimana sih rasa yang dirasakan orang-orang yang nulis "seolah ada ribuan kupu-kupu yang terbang di perut"?

tetap saja tidak bisa dibayangkan.

tapi atas izin-Nya, kupu-kupu terbang yang bahkan tidak bisa saya lihat ternyata menghinggapi saya, dua hari pertama di awal bulan Mei.

Mau saya usir juga nggak bisa.
Katanya, "izinkan kami selamanya hinggap di perutmu, Nabilla."
eh ternyata kupu-kupu ini punya keahlian lain: menjadikan syaraf-syaraf di kaki melemah, lunglai, lemas.

hahahah, ngemeng epee..

***

Why so worry
What to worry?
Who to worry?

Nggak biasanya, sangat nggak biasanya.
Kekhawatiran yang hingga hampir memperdaya diri, untuk apa, untuk siapa, akan kemana hati ini berlabuh dan kembali pulang. Lillah, Lillahi ta'ala.

Hingga akhirnya teringat kembali bahwasanya segumpal daging di dalam jasad saya ini bukan saya pemiliknya, bahwa saya hanya bertugas untuk menjaga, membersihkan, dan membiarkan resonansinya mengomando saya untuk melakukan segala hal yang dicintaiNya dan meninggalkan yang dibenciNya. Bukan berarti tanpa cacat.

Khawatir yang demikian ternyata menghadirkan banyak pertanyaan, sesekali membersamai dalam sedih dan kebimbangan. Dan satu yang paling dominan: Mengapa, Ya Tuhan..?

Begitulah manusia, entah pertanyaan yang memburu apakah bentuk dari ketidak-syukuran ataukah bentuk dari penggalian kuasaNya. Saya bahkan sulit sekali membedakan. Takut banget kan, kalo-kalo yang saya tanyakan adalah cerminan dari ketidaksyukuran saya...

Saya pun berusaha mencari jawabannya. Dalam usaha manusia, proses ikhtiarnya, saya yakin Allah tidak akan membiarkan makhluknya terus terbelenggu dalam tanya. Beberapa buku yang tidak sengaja secara asal saya buka, kajian yang saya dengarkan, serta nasihat dan cerita dan lingkungan sekitar, mengarahkan saya pada jawaban. Insya Allah jawaban.

Mungkin Allah sedang ingin membuat saya bahagia, dengan cara yang berbeda.

***

kupu-kupu yang masih betah hinggap, gimana kabarmu hari ini..?


Jumat, 25 April 2014

Susu bayi itu mahal

matanya lho *__*
Apa yang membuat wanita suka sekali bercakap-cakap ya?
Padahal percakapan-percakapan yang terjadi sebenernya banyak nggak pentingnya dan membuat wanita kerap kali tergelincir pada omongan-omongan yang dilontarkan.
Dan sayangnya, terkadang saya pun demikian huehehe... istighfar yang buanyakkkk...
Tapi dalam obrolan-obrolan ringan, saya selalu menyimpulkan dan menilai.
Selalu ada hikmah dalam obyek yang menjadi bahan obrolan.. eh diskusi.

karena kita mengambil pelajaran tidak hanya dari hidup kita sendiri, kan?
pelajaran itu banyak dari sekitar, andai mau membuka mata hati telinga
lebih lebar.

Beberapa hari terakhir, setiap ketemu temen SMA, kami hampir selalu membahas how our future will be disela-sela tema guyonan lainnya. Mungkin faktor usia, beberapa dari kami sudah ada yang lulus, dan memang sudah waktunya merancang masa depan. Ingin dibawa kemana, ingin seperti apa.

***

"ini..." seorang wanita mengulurkan tangannya, digenggamannya berisi beberapa lembar duit yang warnanya merah, gambarnya Ir. Soekarno.
"buat beli susu si kecil.." lanjutnya.

saya yang disebelahnya hanya diam, mesem-mesem.
untung yang dikasih sangu punya si kecil, lha kalo enggak, apa ya alasan lain yang kira-kira oke untuk memperhalus pemberian?
saya rasa "untuk beli susu si kecil" itu hanya kalimat basa-basi. Masa iya harga susu segitu mahalnya, atau masa iya duit segitu cuman buat beli susu.

Itu yang saya pikirkan dulu.

Terlahir sebagai anak semata wayang, membuat saya nggak punya pengalaman yang memadai dalam hal mengurus bayi, gimana menggendong biar bayinya comfy, gimana memandikan bayi, berapa kali dalam sehari si bayi minum susu, pup, apa makna tangisan bayi, dan seputar perbayian lainnya.

Pengalaman saya hanya sebatas beberapa hari bersama si kecil, adik-adik sepupu saya yang jumlahnya belasan, gimana saat menggendong mereka dan hingga akhirnya si kecil pun nempel dan nggak rewel di pangkuan saya. tapi ya, hanya beberapa hari euy. kalo diibaratkan, jadi semacam short course begitu.

Plus saya juga nggak nyangka kalo harga susu bayi itu ada yang sampe ratusan ribu rupiah.

Kalo aja si bayi mengkonsumsi susu yang mahal, katakanlah seharga 200 ribu rupiah, dan habis untuk seminggu saja. Artinya, sebulan si orang tua harus menghabiskan 800 ribu untuk konsumsi susu si baby selama sebulan (4 minggu). Ngalah-ngalahi pengeluaran per bulannya anak kost -_____-"

Selain itu pendidikan anak, untuk PAUD dan TK saja, pendaftarannya bisa sekian juta, belum uang yang lain-lain. Ngalah-ngalahi SPP nya mahasiswa yang bisa dapet murah hehe.

Well, saya memahami mengapa pendidikan untuk anak kecil, yang masih imut-imut ini terbilang mahal dan mungkin beberapa orang awam beranggapan angka yang tertera cukup lebay dengan pola pikir, si balita atau batita masih kecil, sehingga harusnya pengeluaran yang di anggarkan pun tidak besar. 

Padahal, usia emas atau golden age si anak ini terjadi pada usia 0-6 tahun, ada penelitian yang menyatakan bahwa perkembangan otak anak bisa sampai 80 persen. Bagaikan kaset kosong yang siap direkam kali ya.. sehingga pendidikan di usia strategis tersebut adalah yang utama, gimana karakter yang mau ditanamkan ke anak, mungkin anak masuk ke alam bawah sadar anak dan jadi memori yang akan terpatri selama berpuluh-puluh tahun ke depan. Seorang anak yang selalu dalam asuhan orang tuanya, dan yang berada dalam asuhan orang lain pun tentu akan meninggalkan kesan yang berbeda. Saya, yang sempat diasuh oleh eyang dan disusui oleh tante, pada akhirnya memiliki keterikatan tersendiri yang saya juga tidak tahu bagaimana bisa. Padahal karakter kami berbeda dan pola pikir yang beberapa kali berseberangan.

Maha Besar Allah, itulah kenapa dalam Islam pun pendidikan adalah pilar yang menentukan hidup seseorang, bahkan hingga bagaimana perkembangan agama ini.

***

Mungkin karena "susu buat bayi mahal" lah yang membuat beberapa teman saya memilih untuk mapan dalam artian punya banyak uang untuk dapat mencukupi hidup keluarga dan memberikan yang terbaik untuk anaknya. Karena pemberian butuh biaya.

Entahlah, namun bagiku kadang yang demikian seolah mereduksi kesiapan-kesiapan yang lain, seperti mental, pola pikir, kemantapan hati, hingga agama. Seolah kesiapan finansial yang menjadi syarat utama untuk berkeluarga, yang apabila telah terpenuhi, baru bisa membina keluarga.

Hm.. bukankah perlu juga menanamkan pada anak mengenai daya juang, kemauan untuk berjuang? Jika anak-anak terlahir dalam keadaan yang baik-baik saja, serba tercukupi, dari mana atmosfer perjuangan dan pengharapan kepada Tuhan bisa menyentuh kulit hingga nadinya?

Barangkali terlalu ideal, abstrak, muluk-muluk, atau terlihat, ah lo kan belom pernah berkeluarga. ya kaliiii..

Tapi bukankah sebaiknya kita merancang proposal dengan konsep yang bukan sempurna, bukan juga biasa saja; perkara yang ada ditengah namun tetap identik dengan kebaikan dan terlihat menarik. persoalan bagaimana nanti acaranya, dana yang turun berapa, adalah tergantung selama proses berlangsung. disitu tantangannya. dan dalam menghadapi tantangan dan cobaan itulah, peluang yang sangat besar untuk ikhtiar, tawakkal, berserah diri padaNya amat sangat ada. artinya, peluang untuk mendekatkan diri dan ibadah juga lebih besar. wallahu a'lam..

Sekuat dan setangguh apa kita; para calon pendidik muda.


Selasa, 22 April 2014

Dalam Dekapan Luka

Hap!

Kaki kanan saya mengakhiri upaya menapaki anak tangga jembatan penyeberangan. Karena ke sok-tahuan saya, dan ditambah dengan arahan yang kurang jelas, kami harus mengulangi naik-turun jembatan penyeberangan setidak-tidaknya dua kali.

Saya sih enteng-enteng saja, paling-paling hanya keberatan lemak disana disini yang belum menunjukkan adanya tanda-tanda ingin pergi. Sementara orang dibelakang saya, bersusah payah mengangkat koper dan menggendong tas karier setinggi kepala. Peluh terlihat sangat jelas menyelimutinya.

"ganbatte!!"

saya berteriak dari atas, dengan jarak hanya 5 anak tangga darinya. mencoba berlaga layaknya bintang model di iklat pocari sweat yang joget-joget di pinggir pantai, saya berteriak sambil mengepalkan kedua tangan tepat dibawah dagu. pose imut yang jelas gagal. yang diteriakin hanya nyengir.

"Nab, aku jadi pengen nanya sesuatu deh," ia mengutarakan maksud sambil menaruh koper, sudah sampai di atas jembatan rupanya, sementara saya berjalan beberapa langkah didepannya.

"nanya aja,"

"kamu pernah sakit hati nggak?" ia bertanya to the point, seperti anak panah yang melesat langsung mengenai lingkaran terkecil yang berada di tengah papan.

alis saya secara otomatis mengernyit, saya berbalik badan dan ketawa.

"ngapain nanya kayak gitu?"

"nggak papa nanya ajaa.."

"ya pernah lah, sewajarnya manusia pasti pernah sakit hati. kamu juga kan?"

"iya sih," ia mempercepat langkahnya, tepat disebelahku. "dalam persoalan 'itu' maksudnya..."

"hahaha itu apa ya..." enaknya dijawab apa ya? saya kebetulan sedang tidak ingin menjawab, semata-mata karena menurut saya sangat membuang-buang waktu untuk mengingat kapan dan bagaimana rasanya sakit hati atas perihal yang sudah-sudah.

"menurutmu?" saya kembali mendahuluinya, menuruni anak tangga. saya menoleh ke belakang, ia terlihat menghentikan langkah, mempersiapkan jawaban.

"mm..sering."

saya hanya tertawa ngasal.

***

"semua orang yang ada dalam hidup kita masing-masingnya,
bahkan yang paling menyakiti kita
diminta untuk ada disana
agar cahaya kita dapat menerangi jalan mereka.." - Salim A Fillah.


Depok, hari kesebelas di bulan April, 2014.

Krisis, Sangat Krisis.

Self-confident.
Kepercayaan diri.
Frasa ini aku serap di kelas 1 SMP melalui Guru Bahasa Inggris SMP yang sangat mensupport kemauan saya untuk aktif di kelas sekalipun dengan bahasa Inggris yang sangat belepotan. Terima kasih, Bapak Hartoyo.

***

Tidak bisa disebut manusia, apabila tidak berbuat salah.
Mungkin memang fitrahnya manusia, yang dibekali otak, akal, dan budi pekerti yang secara otomatis akan bekerja untuk memilih dan memilah, melakukan apa yang dilihat, atau sebaliknya, tidak melakukan apa yang dilihat. Seperti fitrahnya seorang anak, children see, children do. Anak akan melakukan apa yang mereka lihat, dengar, rasakan.

***

Bisakah kita meminta,
untuk nantinya kembali padaNya dalam kondisi yang fitrah melalui jalan yang baik-baik saja, baik yang akan maupun yang sudah-sudah?

Jika bisa, maafkan Tuhan, jika kami menyesali.
Jika tidak, bantulah kami Tuhan, untuk menambahkan sesendok gula pada kudapan pahit yang tersaji di sepanjang jalan.

Namun biarkan jalan ini Tuhan,
jika yang demikian yang Engkau ridhai dari berbagai pilihan,
yang membawa kebermanfaatan,
yang dapat memberi setitik asa untuk cita-cita akhir zaman.



Kamis, 03 April 2014

Demi Lovato - Let It Go

Saya seneng banget ngumpul, ngobrol-ngobrol ringan, diskusi, lintas usia.
Temen seangkatan, oke. Karena biasanya punya pola berpikir yang cenderung hampir sama, berargumen pun bisa sesukanya, kadang merasa pandangan kita paling bener nih, anak muda!

Temen yang lebih tua, juga asik. Karena jadi punya wawasan tambahan, sebagai yang lebih muda, bisa lebih banyak bertanya dan itu akan selalu dimaklumi. Hanya rawan kalo ngobrol sama yang lebih tua, wanita, dan single. Nggak akan jauh-jauh dari nikah. Ngomongin politik, ehh ujung-ujungnya nikah. Ngomongin hukum, eehh ujung-ujungnya kawin. Jadi berasa ada doktrin terselubung. Ngobrol sama dosen-dosen juga asik, apalagi beliau-beliau yang lebih bijak dalam menyelami hidupnya yang berjarak puluhan tahun dari saya.

Temen yang lebih muda, juga kece. Karena tiap kata yang keluar selalu dipikir, ini contoh yang baik nggak buat si adek..? Dan anak yang lebih muda itu juga banyak punya gagasan-gagasan yang fresh, raut muka yang lucu, manja, dan menyenangkan.

***

Sore hari kemarin, saya kembali menyempatkan ngobrol-ngobrol ringan dengan 2 orang senior saya (yang sudah saya anggap kakak sendiri) yang belum juga dapat sekolah untuk melanjutkan studinya, juga belum ada rencana ke jenjang pernikahan. Nganggur banget lah, nggak ada pemasukan materi yang cukup berarti, tapi waktunya tetap diisi untuk kegiatan bermanfaat. Diskusi kami pun nggak jauh dari nikah, studi, dan cita-cita ke depan. Sesekali kami bertukar kisah, entah hal yang menyenangkan, mengecewakan, konyol, maupun sedih, ujung-ujungnya pasti ditertawakan.

You know,,
justru ketika kita telah bisa menertawakan sesuatu, menjadi salah satu pertanda bahwa kita telah ikhlas dan bisa menerima hal tersebut dengan hati yang lebih lapang.

Kebetulan saya dan salah seorang senior, memiliki kisah yang rumit tapi lucu. Sebut saja kak A, yang beberapa bulan lalu, sama sekali nggak bisa disenggol, diajak guyon lepas. Galau akut, semacam kehilangan motivasi (bahkan sampe sekarang), dan nggak bisa fokus. Penyebabnya...? Ewwww...

Namun 2 minggu belakangan ini, syukur beliau bisa tertawa lebih lepas, terutama saat beliau melihat saya yang linglung bulan lalu. Agaknya perihal menye-menye yang menghambat tawanya pelan-pelan telah memudar, ia mungkin tersadar bahwa harus segera mengambil langkah ke depan, walaupun masih dengan semangat yang fluktuaktif dan motivasi yang koret-koret.

Beliau meminjam tab-ku dan meminta ijin untuk browsing. Entah apa yang dilakukannya, namun beberapa menit saat saya kembali ke kampus, ada notifikasi di tab bahwa download udah komplit.

Ternyata beliau mengunduhkan lagunya Demi Lovato yang berjudul Let It Go. Famous banget, karena jadi soundtrack nya film Frozen, best movie di Grammy Awards 2014 lalu. Saya sendiri belum lihat filmnya, tapi dari liriknya, saya jadi teringat film kartun Brave, seorang putri pemberontak. Well meski demikian, kebanyakan kisah princess-princess yang ditayangkan Walt Disney selalu ada pesan moral, ada kemandirian, keberanian, kecerdasan sekaligus kelembutan yang tertanam di karakter ciwi-ciwi di serial berbau putri dan kerajaan. Terlihat terlalu fairy tale dan jarang ada di dunia nyata sekarang ini, dengan versi princes-princess begitu sih. Saya curiga jangan-jangan pengarang ceritanya terinspirasi dari kisah Maryam, Khadijah, Fathimah Az-zahra, Aisyah, Asyiyah, Shafiyah, dan wanita-wanita pejuang di masa Rasulullah SAW. hehe...

Beberapa menit setelahnya, saya segera nge-whatsapp beliau dan berterima kasih dalam bahasa Belanda, sebagai kode lantaran beliau ingin melanjutkan studi kesana. Dank u wel!

***

Here it is, Demi Lovato Let it go..



Segenggam Kisah


Tempat ini mulai ramai, hampir 50 orang memenuhi halaman yang tidak sampai seperempat lapangan sepak bola. “biasanya lebih ramai, lihat saja nanti makin malam..” ujarnya. Beliau terlihat menikmati persiapan penabuh ketipung, penggebuk drum, peniup suling dan pemain alat musik lain. Mereka kompak memakai kaus warna kuning menyala dan tersablon nama  grup orkes dangdut di bagian punggung kaus. Untung saja bukan nama partai.

Dekorasi panggung yang hanya 3x1 meter dibuat semenarik mungkin. Backdrop, lampu warna warni yang tiap detik bergantian hijau, ungu, dan biru, serta beberapa potong gabus sebagai penghias tambahan. Beberapa pengunjung memberanikan diri untuk menyumbangkan lagu, sebelum mulai on air. Biduan-biduan muda menunggu giliran menjajal pita suaranya, khas dengan tatapan dan senyum genitnya, goyangan, dan rambut panjang yang meliuk ke kiri-kanan mengikuti irama musik dan senandung badan.

Aku nggak betah.

Terlebih karena asap rokok yang sudah melekat di jilbab yang aku kenakan, hingga aku kehabisan ruang bersih di jilbab bagian depan untuk menutupi hidungku dari sengatan nikotin dan komponen racun lainnya. Aku menjepret sekenanya dari sisi kiri panggung dan memilih untuk tidak berada di tengah-tengah penonton, dan kembali duduk di balik jendela, bersebelahan dengan adik. Akal ku main, aku menawari adik untuk belajar motret. Hanya teknik dasar memegang kamera, zooming, jepret dan atur fokus. Tak sampai 10 menit, adik ku sudah bisa membidik, menyaringkan nada “cekrik!” dan pelan-pelan mengatur zoom. Aku mempersilahkannya menggantikan posisiku, dia girang. Aku juga nggak kalah girang, karena bisa bersantai duduk di dalam ruangan sambil baca buku, ketimbang harus menunggu momen untuk diabadikan di luar.

Kaca di depanku dilapisi kaca film, yang membuatnya menjadi lebih gelap, namun hanya 70 persen. Dari dalam, aku masih dapat melihat mimik muka pengunjung yang mencari hiburan di malam minggu ini. Tak banyak memang, hiburan di desa. Acara orkes dangdut yang di sponsori oleh Dinas Pertanian setempat bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi penduduk sekitar, khususnya yang mayoritas bekerja di sektor pertanian.

Interaksi dua orang yang saling mencinta di hadapanku, juga tak luput dari pandangan. Keduanya berbagi tawa, saling berdialog sambil menunggu acara dimulai. Padahal tidak sampai satu jam yang lalu, keduanya berdebat dan saling sindir namun mengemasnya dalam guyonan khas yang biasa aku jumpai.

Guyonan yang hingga kini aku pertanyakan.

***

Sabtu, 22 Maret 2014

Menjaminkan Hati

Detik ini, kembali saya merasa begitu bersyukur.

Keputusan saya 3,5 tahun lalu untuk kuliah di FHUB , bergabung di FKPH, dan berkesempatan mengikuti beberapa kompetisi bersama rekan seangkatan dan adik tingkat. Salah satu yang paling berkesan adalah LKTM Piala Mahkamah Agung Tahun 2012 di Unhas yang saya tuangkan disini.

Pada kesempatan itu, saya bertemu dengan Anggun dan Descha, tim dari UII yang sangat ramah. Apakah karena dari Jogja? entahlah, yang jelas mereka sangat bersahabat. Waktu itu saya teringat betul, kaki kanan ku masih tertatih jika dibuat jalan karena jempolnya habis terjepit pintu, berdarah, dan kuku jempol saya mengelupas separuh. Iyuuuuwwww ngeri banget deh sampe bikin meriang. Waktu presentasi pun saya batal pake high heels dan tetap ber sepatu kets. Mereka juga menyemangati saya, padahal statusnya adalah kompetitor lho. Selain itu, saya juga bertemu lagi dengan Mas Sandi, pendiri FKPH UII. Sebelumnya, akhir tahun 2011 saya sudah pernah bertemu beliau di UII, yakni saat acara Study Tour.

Perkenalan kami ternyata tidak berhenti sampai seusai kompetisi.

***

Selama 2 hari 1 malam tersisa saya di Jogja, saya tidak lagi ngerecokin temen-temen yang mau menikmati city tour dari panitia dan agenda lain. Saya juga punya agenda sendiri. Beruntung banget Anggun mau ngasih saya tumpangan buat bobok di kamar kosnya yang hanya seharga 400 ribu, luas, dan ada kamar mandi dalamnya. Mana ada nih di daerah kampus UB....

Anggun dan Descha sama-sama sudah lulus dan bekerja di kantor yang sama yakni di Pusdiklat UII. Descha akan wisuda akhir bulan ini, sementara Anggun melesat cepat, selain udah dapet pekerjaan, juga sudah mendaftar S2 di UII yang perkuliahan perdananya terlaksana hari ini. Kamis bada maghrib dan bersih-bersih diri di kos Anggun, kami bergegas menuju kantor, menjemput Descha. Kami berencana makan malam bareng. Asik bener deh di tour guide-in 2 orang sekaligus. uhuyyy

Saya dan Anggun tiba di kantor tepat saat adzan isya berkumandang. Descha mengajak kami untuk shalat Isya terlebih dahulu, aku menyepakati. Anggun sendiri kebetulan lagi haram buat shalat. Sehabis berwudhu, layaknya perempuan pada umumnya yang nggak jauh-jauh dari obrolan menye-menye. Anggun bertanya tentang kabar salah seorang senior perempuan saya, saya pun ngasih tauin kalau beliau udah nikah. Anggun jadi shock, pertama karena gak dapet kabar, kedua, karena beliau menikah dengan orang yang di luar dugaan.

"Nggun, sebenar-benarnya misteri..." saya berucap dengan nada yang sangat wajar, padahal saat pertama denger, temen-temen langsung gempar, nggak henti-hentinya kami berusaha mengambil hikmah, mendoakan, dan mengambil pelajaran yang baik-baik.

Anggun manggut-manggut imut, menyepakati. Dia kemudian mengantarku ke atas masjid FH UII. Shalat berjamaah baru saja di mulai, saya buru-buru memakai mukenah tanpa memerhatikan siapa imamnya. Saat shalat, saya diam-diam memuji bacaan imam yang enak didengar. Seusai melepas dzikir dan sepatah dua patah doa, Anggun menghampiri saya.
"Bil, itu imamnya mas Agus lho.."
"mas Agus..?" saya berusaha membuka kontak nama di memori otak saya. Agus siapa?
"Agus Fadhila Sandi.."
"Ooooh, mas Sandi! Ah yang bener?" saya kemudian kembali mencermati imam yang telah membalikkan badan ke arah makmum namun tetap khusuk berdzikir seraya menunduk. Ah iya, itu mas Sandi! Masya Allah, nggak nyangka!

***

Saya, Anggun, dan Descha menunggu kedatangan mas Sandi di pintu gerbang FH UII. Tidak lama beliau datang dengan jaket hitam yang bertuliskan, "Faculty of Law" FH UII, begitu lah kira-kira.
"Wee pak Udztad sudah datang.." Descha memberi salam. Mas Sandi juga memberi salam kepadaku sambil mengatupkan kedua telapak tangan di depan dadanya, saya membalas dengan gestur serupa dan menjawab salamnya.
"Mau makan nih ya, ayuk.." ujarnya bersahabat.
Kami pun menentukan lokasi, karena saya adalah turis, saya ngikut tour guide nya deh.

Bungong Jeumpa (dalam bahasa Aceh artinya Bunga Cempaka) pun dipilih. Salah satu warung makan khas aceh yang menyajikan berbagai kudapan khas privinsi paling barat di Indonesia ini, mulai dari Mie Aceh, Nasio Goreng Aceh, Roti Cane dan lain-lain. Nyam..saya mencium aroma kelezatan hehehe. Kami memilih bangku di lantai 2, dekat jendela.

"Kalau ada nabilla, saya sepertinya tahu pembicaraan ini mengarah kemana..." mas Sandi menanggapi Anggun yang sedari tadi mengasihani dan menggelitiknya dengan sindiran serta ungkapan keprihatinan. padahal yang di prihatini sebenarnya selow banget. Tidak lain, kami sedang membicarakan pernikahan salah seorang senior saya, yang dulunya pernah dekat dengan Mas Sandi di satu organisasi nasional.

"Momentumnya..." descha memotong kata-katanya, "saat mas ceramah di .... (sebagian teks lupa), itu ya?"
"iya, saya rasa, saya sedang diuji waktu itu.." mas Sandi menjawab.

ini ngomongin apa sih, saya jadi roaming sendiri.

***

"maka sebenarnya ada benarnya apa kata Gazhali, bahwa apabila bisa memilih, profesi yang ingin dijauihinya adalah menjadi seorang penceramah. karena penceramah akan diuji oleh Allah mengenai apa yang dikatakannya, dan nanti di akhirat akan diminta pertanggung jawaban dari apa yang kita ucapkan. Saat itu, saya sedang berbicara mengenai menjaminkan hati hanya kepadaNya...dan ternyata saya diuji setelahnya..." mas Sandi membiarkan kalimatnya menggantung.

Kami bertiga pun terdiam sesaat, mungkin sedang berdialog dengan hati dan akal masing-masing. Ada benarnya, setidak-tidaknya ambil contoh kecil saja, jika saya sedang memotivasi adik tingkat untuk berbuat ini dan itu, tidak berbuat ini dan itu, tetap bersemangat jangan bersedih, sesudahnya selalu diuji mengenai apa yang saya utarakan. Saya teringat banyak berbicara kepada adik tingkat mengenai ikhlas, sabar dan istiqamah, yang sebenarnya saya pun belum mendapat sertifikat lulus. Dan saya rasa ketiganya tidak untuk disertifikatkan, melainkan menjadi bagian dari perjalanan hidup. Maka saya menjadi maklum ketika beberapa anugrah maupun musibah yang terjadi, hulunya ada pada 3 nilai dasar tersebut.

"...jika tidak benar-benar tangguh dan enggan untuk diuji oleh Allah, sebaiknya menggali ilmunya terlebih dahulu. maka benar juga adanya pepatah yang mengatakan bahwa, barang siapa baik akal dan akhlaknya, sedikit bicaranya..." beliau melanjutkan.

kami sebagai adik-adik ini, jadi merasa dapet perkuliahan 2 sks, hanya dengan mendengar mas Sandi berpidato singkat yang bahkan tidak sampai 20 kalimat, namun diamnya kami yang mengantarkan untuk menyelami peristiwa yang sudah dan akan diambil.

Anggun yang pertama kali buka suara, "bener banget sih mas..."

"iya Anggun. itulah mengapa, saat saya sedang berbicara mengenai menjaminkan hati kepada Allah semata, saya langsung mendapat ujian seperti itu. ya karena memang seharusnya kita menyandarkan hal-hal perasaan ini hanya berserah pada Nya, tidak kepada pacar, teman, suami atau istri kelak sekalipun.."
Mas Sandi melanjutkan.

Giliran saya yang tertegun cukup lama. Saat itu, saya yang lebih banyak diam dan tersenyum saja, padahal dalam hati mikir berat. Buku yang saya baca beberapa hari belakangan, percakapan-percakapan dengan orang-orang terdekat seolah menjadi penguat. Orang di hadapanku ini, begitu ridha saat Allah memberikan ketetapan padanya, begitu tegar saat orang-orang yang lain dengan mudah terhempas, sangat berlapang hati melepas apa yang mungkin menjadi hal yang diinginkannya.

Kami bertiga sebenarnya sedang sama-sama sedang menyoal hati, saya sangat yakin. Descha, Anggun, maupun saya.. oleh karenanya, kultum mas Sandi ini layaknya air putih yang digerojokkan pada kami bertiga. Persoalan menjaminkan hati  ini agaknya frasa baru yang tidak jauh dari menyandarkan hati. yang jelas keduanya bernuansa ketaatan tertinggi pada Allah. Sekalipun kita mendaulat diri, mengultimatum diri bahwa kita adalah hamba yang menyandarkan hatinya pada Allah, pada suatu momen, pasti ada kecolongan yang kemudian memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru,

benarkah hati saya sudah bersandar dengan sebaik-baiknya posisi bersandar padaNya?
ridha kah saya dengan ketetapanNya nanti?
ridha kah Allah dengan langkah-langkah saya?

***

Akhir malam itu berakhir dengan bercandaan memojokkan mas Sandi, membicarakan organisasi, studi s2, pekerjaan, dan ditutup oleh makan buah durian di pinggir jalan sambil berteduh kehujanan.

Kudapan-kudapan lezat itu kemudian ditanggung oleh Descha dan Mas Sandi,
"sok cool dan gentle aja sih mereka.." begitu sindir Anggun.

Apapun itu, bersama mereka malam itu, membuatku menemukan keluarga baru...
di Yogyakarta :)