Rabu, 11 Desember 2013

Mengenai MUM

Ckckck ini apa coba, planning menghias halaman blog dengan cerita perjalanan bermakna kemarin harus diselingi postingan mengenai kampus. Musyawarah Umum Mahasiswa (MUM) Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. MUM yang ku liat tadi (10 Desember 2013) adalah Part 2. Part 1 nya, aku kurang tau kapan, yang jelas saat aku di Jepang.

MUM memang harus aku posting, ia termasuk agenda yang mewarnai hidup. hehe.

***

MUM diselenggarakan oleh DSM, dijalankan sesuai tata tertib dan konstitusi FH UB. Keren ya, fakultas ku punya konstitusi hehe, mengenai BPM RDM (Badan Pemerintahan Mahasiswa, Republik Demokrasi Mahasiswa), begitu kalau ngga salah. Setelahnya, setauku karena edaran dan titah rektorat, lembaga eksekutif ini berganti nama jadi BEM. Setidak-tidaknya ada 2 kelompok yang ngga setuju, sehingga pembahasan nama lembaga eksekutif menjadi agenda di MUM tahun 2011.

2011 ya, bukan 2010 seperti yang banyak di twitkan teman-teman. Seingat saya, waktu itu presiden dan wapresnya Mas Faris dan Mbak Suci. Saya masih semester 2, dan waktu itu, saya menjadi staff muda dari 3 organisasi intra kampus. Saya tidak tergabung dalam lembaga ekstra kampus, hingga sekarang.

MUM 2011 berjalan seingat saya hingga 2-3 hari. Hari terakhir yang paling parah. Pembahasannya, menurutku, kadang ngga penting. Beberapa kelompok sengaja bersuara keras, bahkan berteriak. Huih. Dan yang paling parah, asap rokok mengepul di ruang ber AC, sungguh menyesakkan. AC di ruangan itu sampe berair parah dan rusak. Perdebatan kala itu, yang masih tersisa dalam ingatan, adalah mengenai kalimat majemuk bertingkat (ini sungguhan -___-), persoalan shalat di pending atau tidak, persoalan mengetok palu, persoalan memerdekakan diri dari rektorat.

Saking parahnya forum, Mba Icha, direktur FKPH kala itu sampai walk out. Masih membekas bagaimana mba Icha berteriak lantang mengutuki forum yang tidak sehat, serta keluar ruangan sembari berkata "WALK OUT" sambil menyilangkan tangan keluar tanda emosi. Kita yang masih mini-mini gini jadi ngikut, selain memang harus walk out lantaran sudah malam dan forum makin ngga sehat. Saat itu sudah larut malam, kami yang cewek-cewek pulangnya di kawal. MUM ini memakan korban, ada 2 rekan salah seorang senior saya, terpaksa rawat inap di rumah sakit.

Yang jelas, MUM 2011 adalah pelajaran besar. Mengungkap siapa dia, dio, die sesungguhnya (dalam arti jamak).

Tahun 2012, saya kebetulan diamanahkan di BEM sebagai salah satu BPH. Satu yang ada di benak adalah mempersiapkan MUM. BEM jelas menjadi sasaran hujatan banyak orang, tak peduli seberapa besar maupun kecil kontribusi yang diberikan, BEM akan tetap dihujat, dijatuhkan. Tahun kemarin, saya sudah siap-siap akan dibantai oleh golongan ini , itu, ine, tapi ternyata ngga ada MUM. eyalah yowes. hehe.

Tahun 2013 ini, MUM kembali diadakan, sangat ndadak. Aku bahkan baru denger akan ada MUM, saat berada di Jepang.

***

Secara attitude, MUM part 2 ini lebih baik dari yang saya alami pada tahun 2011. Denger-denger, di hari pertama ada yang merokok di dalam ruangan, lalu di tegur. di MUM part 2 ini saya mencoba duduk di belakang, ingin mengamati. Dan hasilnya, saya tertawa ngikik-ngikik sama seorang adik kelas dari Makassar. Dari belakang, saya juga bisa melihat tingkah laku si inu, itu, ine. Ada seorang teman saya, seangkatan, menyuruh adik tingkatnya, masih maba dan cantik, untuk duduk di sebelah salah seorang menteri di BEM. Padahal si adik cantik ini sudah duduk manis bersama teman-temannya. Awalnya dia ragu, si temanku ini meyakinkan. Akhirnya dia pindah ke depan. Duh adik cantik, kok mau disuruh-suruh atas suatu hal yang tidak dimengerti jelas tujuannya apa.

Forumnya juga lucu.

Pertama, problem notulensi. Ada seorang jajaran BEM yang bertanya mengenai jalannnya sidang sebelumnya. Wajar dia bertanya karena dia ngga hadir sebelumnya, dan bertanya dari orang kedua (teman) tentu tidak akurat. Maka seharusnya tempat bertanya memang orang pertama yang mencatat notulensi, yakni presidium. Namun pada akhirnya, forum mbulet, yang ditanyakan tidak segera di jawab. Masuk informasi, order, question, dan lain-lain. Ada yang mengusulkan untuk memanggil notulen atau di tampilkan di LCD saja. Presidium berdalih bahwa sang notulen sedang kuliah, dan notulensi di MUM part 1 di tulis tangan. Wow, bagaimana bisa, forum sepenting itu, notulensinya tulis tangan. Ini niat apa ngga penyelenggara MUM nya?

Selanjutnya, saya order untuk memanfaatkan fasilitas ruangan, ada LCD, laptop. dan saya meminta untuk diketik saja notulensi kemarin agar ngga mbulet. Presidium kembali berdalih, itu akan membuang waktu. Justru perdebatan ngga penting mempersoalkan notulensi yang ngga jelas ini lah yang membuang waktu. Menjadi notulen memang ngga mudah, ketika dia hanya menulis tangan, wajib hukumnya untuk di ketik yang rapi dan dijadikan arsip. Kalo presidium ngga mau ngetik notulensi (yang mana sudah merupakan kewajibannya), ya ngga usah jadi presidium. Ngga usah MUM aja sekalian, ngga siap begitu.

Kedua, ketika melanjutkan agenda LPJ-an dari Kementerian Kepemudaan, ada seorang yang bertanya mengenai agenda kepemudaan yang mana dia merasa tidak puas, pertama karena persoalan transparansi dana dan nilai, kedua, soal dosen pembimbing. Sang penanya menyalahkan BEM yang tidak bisa memberikan fasilitas untuk menyediakan dosen pembimbing yang baik dan berkompeten sesuai mosi kompetisi. Kebetulan saya kenal si penanya, dan saya sedikit tahu cerita dari apa yang ditanyakan. Akhirnya saya tergelitik untuk bertanya, mengapa dosen pembimbing baru sekarang dipermasalahkan? ketika timnya si penanya telah meraih juara 1 dalam kompetisi tersebut. Saya rasa itu pertanyaan simpel dan harusnya dapat dijawab. Namun si penanya malah mengalihkan kepada seseorang di depan forum. Mbulet, kan. Dan memang terlihat bahwa agendanya adalah menjatuhkan.

Ketiga, masalah shalat. lagi-lagi ini, di tahun 2011, permasalahan waktu yang di pending 15 menit untuk shalat juga di permasalahkan.  Ada yang meminta untuk di pending karena ingin shalat, dan memang sudah waktunya shalat. Namun sisa nya tidak mau. Meminta untuk di teruskan saja, dengan alasan, yang ingin shalat silahkan privileged. Saya kemudian mendengar komentar-komentar, beberapa diantaranya:

"kita tidak bisa memending, karena tidak semua dari kita adalah muslim. ya yang mau sholat, sholat aja tinggal izin."
"sikap kita terhadap sholat adalah mengingatkan orang lain, bukan memaksa,"
"ini hari HAM, maka biarkan kami menunaikan hak kami"

akhirnya saya ada pertanyaan menggelitik, di tengah perdebatan sana sini, justifikasi, dan presidium yang ikut-ikutan melotot. saya mengangkat tangan, mengajukan pertanyaan. lama sekali ngga di tunjuk-tunjuk. question saya kalah dengan informasi, order, usul, dan lain-lain. akhirnya ketika semua mulai lebih tenang, baru saya diizinkan bertanya.

"jika waktu tidak di pending untuk shalat, setau saya setidak-tidaknya ada 2 presidium yang muslim. lalu bagaimana presidium akan beribadah?"

forum langsung rame. yang ditanyain cuman senyum-senyum kecut. forum kanan dan kiri mulai kembali mengajukan argumen.

"agama itu privasi," ujar salah seorang dengan lantang, ia berbicara menghadap saya, dengan bahasa tubuh yang ofensif.
"jika presidium ngga sholat, yasudah itu dosanya presidium." ujar salah seorang lagi. setau saya, kedua mahasiswa ini berada di dalam satu organisasi ekstra kampus dengan si presidium. kok jahat amat, membiarkan temannya tenggelam dalam dosa. 

Kemudian, salah seorang meminta izin untuk shalat. Dia ditepuk-tanganin oleh rekan-rekannya. Namanya di elu-elu kan. Perdebatan terus bergulir dan jawaban dari pertanyaan sederhana saya, tidak juga di jawab oleh presidium. saya hanya tertawa sendiri sama seorang teman disebelah kanan dan kiri saya. ini lucu banget.

Tepat pukul 15.05, saya keluar ruangan karena ada janji dengan dosen di lantai 5. Kagetnya saya, di luar saya menemukan seseorang yang baru saja dengan lantang meminta izin untuk shalat, malah merokok ngepul-ngepul sama rekannya. Saya celetukin,

"katanya shalat, kok rokok'an?"
setelah nyembur asap rokok, ia menjawab "ngerokok dulu bil, baru shalat."

If I were you, I would be so ashamed.

Tadinya pamer di forum, mau shalat. Rekan-rekannya mengelu-elukan jabatannya di organisasi. Apalah artinya jabatan mulia mu kawan, jika esensi daripadanya saja enggan dilakukan.

***
Saya memang bukan seorang yang ahli agama. Namun setidak-tidaknya, jangan meniru gaya hidup masyarakat di luar yang mengutarakan agama itu privasi. titik.

Prinsip yang demkian, pada dasarnya merapuhkan. Beralasan privasi, tidak ingin urusannya dengan Tuhan dicampuri oleh manusia, namun sebenarnya beribadah saja enggan dilakukan. pada akhirnya, ngga jadi ibadah deh. Kuat diluar, rapuh di dalam. Akibatnya panjang, bisa sampai anak cucu entar.

Betul memang, apabila yang di maksud privasi adalah doa yang dipanjatkan, dan munajat mesra antara hamba dan Tuhannya. Biasanya memang dilakukan secara privat, sehingga kerap orang-orang menyebutnya agama itu privasi.

Tapi tidak bisa selamanya diartikan privasi, agama juga memiki sisi publik. Semua agama, aku rasa. Bagian penyebaran agama misalnya, apakah bisa dikatakan sisi privat? Entah dalam agama lain, namun dalam yang ku anut, Islam, diajarkan sebuah konsep saling mengingatkan dalam kebaikan. Ada adzan shalat wajib yang berkumandang 5x dalam sehari sebagai seruan memanggil umat untuk mendapatkan jeda barang maksimal 15 menit meninggalkan rutinitas.

Apa beratnya, hanya meninggalkan maksimal 15 menit saja, ditengah kesibukan dan rutinitas. Tujuannya adalah menghadap ke Sang Pemberi Waktu. Lagi pula, anggaplah ibadah adalah jeda dari rutinitas. Bukankah tiap kata menjadi bermakna dengan jeda (spasi)? Hidup pun juga makin bermakna dengan beribadah. Apalagi persoalan sholat, yang merupakan tiang agama. Betapa ternyata tiang itu dirubuhkan sendiri oleh si pemilik tiang, mungkin tanpa sadar. Shalat adalah hal esensial dalam Islam. Yang shalat saja masih bisa berdosa, apalagi yang ngga shalat.

***

"Demi Masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dala kerugian. Kecuali orang yang beriman dan orang-orang yang mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya menaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran" - Al Asr ayat 1-3.

***

Tulisan ini dibuat tidak untuk tujuan ofensif. Tidak pula mengindikasikan si penulis adalah yang paling benar. Hanya ingin berbagi pengalaman, semoga menjadi pelajaran berharga bagi yang membaca. Lagipula, ini mungkin akan menjadi terakhir kalinya aku menjadi seorang mahasiswa yang hadir dalam MUM. Insya Allah,, Wallahu a'lam.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar