Minggu, 08 Desember 2013

Home, Away from Home

baru kali ini nemu handwriting boarding pass, yakni dari Sby ke Taiwan. Dikarenakan sistemnya rusak, jadilah si petugas nulis tangan. Untung yang dibegituin masih mahasiswa, kalo orang pebisnis gitu, mana terima ya?

Home, away from home.

Aku mendengar frasa itu saat melihat tayangan mengenai Hiroshima di layar kecil yang disediakan oleh China Airlines. Tayangan tersebut menyajikan keindahan Hiroshima. Mulai dari tourist attractionnya seperti Miyajima, dan shopping corner. Layaknya video traveling pada umumnya, sudut pengambilan yang indah terlihat begitu menggiurkan. Tapi biasanya yang terpampang indah di layar kaca belum tentu seperti yang sebenarnya. Haha pikiran antisipatif mulai muncul, well, intinya aku hanya tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi.

Begitulah yang biasa ku lakukan dalam perjalanan. Debar, penuh tanya, meyakini akan menjadi perjalanan yang penuh kejutan, tapi tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi. Inginku, relung-relung jiwa ini terisi oleh sejuknya atmosfer yang memang aku alami sendiri tanpa campur tangan dari angan-angan yang berlebihan.

Sebentar, aku lagi ngomong apa ini ya?

***

Tidak ada satupun dari kami yang tidak excited. Kami, ya, aku akan memperkenalkan mereka di postingan selanjutnya. Tidak ada satupun dari kami yang sudah pernah menjejak Negeri Sakura.

Aku tetiba teringat saat ada yang menggerakkan untuk mengikuti seleksi AFS, semacam program pertukaran pelajar. Pasalnya, seorang kakak kelas berhasil studi di Jepang selama kira-kira 1 tahun. Dan ketika sudah pulang, ia disambut meriah oleh seisi Smanisda. Ngga ada yang ngga kenal dia. Eh, aku sendiri agak lupa namanya siapa. Kalau ngga salah mas Taufik namanya.

intinya, aku juga pengen break a leg. Pengen nyoba. Saat itu, niatku masih belum terlalu kuat mungkin ya, masih ngga jelas antara main-main doang atau serius. Akhirnya, ngga lulus deh hahaha. Tapi pengalaman yg oke sebagai batu loncatan.

Memori kedua yg aku ingat betul adalah, kejadian setahun yang lalu, saat aku di China dan koper raib. Aku dikhianati si Koper yang lebih dulu jalan-jalan ke Jepang. (postingan yang ini). Ayah dan Ibu yang membantu mengurus si koper dari Indonesia, juga kaget banget gimana bisa koper nyasar ke Jepang. Ibu akhirnya membesarkan hati dengan mengatakan, yaudah ngga papa kopernya duluan yang ke Jepang, siapa tahu nanti giliran kamu yang kesana.

Doamu, Ibu... :')

***
@ Taoyuan International Airport (Taiwan)

Lamunanku buyar saat temen-temen yang baru beberapa hari kenal, langsung ngajak foto-foto. Aku juga agak grogi setelah sekitar 2 bulan ngga pegang kamera. Menurut itinerary tiket yg kami dapat dari IO, penerbangan kami dengan China Airlines adalah dari Surabaya ke Taoyuan (Taiwan). Ngga ada penjelasan mengenai kami akan transit 1 jam di Singapore. Transit yang serupa saat aku ke Jerman bulan Juni-Juli lalu, hanya ngantri bentar buat masuk waiting list, nunggu 45 menit, trus masuk pesawat lagi. Bahkan Sensei aja ngga tau kalo bakalan transit di Singapore. Hm, mungkin keterbukaan informasinya kurang kali ya..

Dan transit di Chang I kali ini agak zonk.

Kami datang pertama dan disambut 2 petugas berdara India dan satu petugas berdarah China. Seorang petugas India yang tinggi ngotot mnta kami melepaskan jaket, sedangkan kami ngga mau, karena rempong banget ngelepas jaket apalagi buat yang berjilbab. Jaket yang diberi gratis dari IO ini nyaman di pakai, hanya saja bagian lehernya agak sempit. Kami juga telah diinstruksikan sehari sebelumnya untuk memakai jaket ini, sehingga ada beberapa teman yang berjilbab mengenakan kaos lengan pendek dan berjaket. Tapi si petugas ngga mau tahu,

"you take off your jacket laaa, you know how to it?"

beliau agak sewot berucap, lengkap dengan logat khas India. aku kala itu juga beralasan ngga mau melepas jaket karena berlengan pendek. Which is sebenarnya aku bohong, hehe. Petugas berdarah China pun mengizinkanku untuk pemeriksaan manual, tapi si Petugas India yang tinggi itu tetep kekeuh ngga mau. akhirnya aku melepas dan aku tekuk sedikit lengan panjangku hingga se sikut, maksudnya sebagai justifikasi kalau pake lengan pendek. hehe. trus si petugasnya ngomel dengan kata-kata yang ngga aku mengerti. Beberapa temen sampe bete maksimal gegara persoalan melepas jaket ini.

sebenernya capek tapi tetep senyum!

nungguin Muchlas yang berurusan masala tripod di taiwan
Interior keren di Taoyuan Int Airport
The trip just goes on, hingga akhirnya kami tiba di Taiwan. Sempat ada masalah karena Muchlas membawa tripod milik sensei yang ukurannya lebih dari 25 (atau 55) cm, aku agak lupa pastinya. Kecil amat yak? Taiwan tidak mengizinkan tripod panjang masuk kabin, harus masuk bagasi gitu deh. Transit di Taiwan juga ngga lama, setelahnya kami menempuh perjalanan yang agak mengguncang. Mungkin turbulent karena berada di atas lautan dan atau cuaca sedang nggak baik.

***

FUKUOKA!

Kami menutup hari dengan disambut suhu ala kulkas di Fukuoka. Aku yang ngga tahan, langsung mengeluarkan jaket coklat tebel. Aku terkesima dengan kerapihan, kebersihan, dan sopan santun petugas bandara di Jepang. Begitu kami nyampe, kami dipandu untuk mengisi form untuk keperluan imigrasi. Setelah semua selesai, tersadar kami selesai paling akhir, dan lucunya, koper-koper kami telah berdiri tegak disamping yellow line tempat pengambilan bagasi. Sudah rapii sekali, sebuah pemandangan yang jarang bisa dilihat di Bandara di Indonesia. Dari Bandara FUK (Fukuoka) kami masih harus menempuh 4 jam perjalanan ke Hiroshima. Si supir bis mengingatkan kepada kami untuk tidak berdiri saat melewati jalan tol. Bagus sekali, supir pun sadar hukum.

Kami makin sumringah saat nyampe hotel, dan mengetahui bahwa satu kamar diisi oleh satu orang (eksklusif banget!), kamar mandi canggih dan toilet bertombol ala Jepang (akan dibahas di postingan berikutnya), voucher spa untuk cewek, dan kuliah yang ngga jadi dimulai jam 9 melainkan jam 1 siang.

YIPPIE!

sushiiiiiiii

Tidak ada komentar:

Posting Komentar