Senin, 04 November 2013

Selamat datang di kampus

tembok berlin, bagian yg menghadap Jerman Timur

Hari ini aku nyetalking facebook salah satu adik tingkat di SMA. Yang dulu jilbabnya pendek, sekarang jadi lebar di dobel. Juga salah seorang teman SMA, yang pergerakannya semasa sekolah menjadikan ia memiliki karakter dan dapat diprediksikan akan juga bergerak di organisasi yang ia tekuni sekarang.

Well..

Selamat datang di kampus,
sebenar-benarnya tempat mematangkan diri.
Yang dulunya ngga ngerokok, sekarang menghabiskan 2 bungkus sehari.
Yang dulunya ngga berjilbab, sekarang berjilbab.
Yang dulunya pendiam, sekarang ahli orasi.

Selamat datang di kampus,
tempat dimana amanah terasa begitu berat
amanah menjadi hal yang dapat dirasakan betul fitrahnya;
ia adalah beban yang paling berat, namun bisa mengantarkan menjadi harta yang paling indah;
ia betul-betul ada digenggaman, akan seperti apa rupanya, tergantung si pengemban.

Selamat datang di kampus,
tempat dimana mimpi-mimpi bisa saja disepelekan,
yang awalnya dirangkul lalu bisa saja ditinggalkan,
yang kemarin teman, sekarang menjadi lawan,
yang dari mahasiswa hingga pendidik, terkadang memiliki berbagai hal yg menarik untuk ditelisik
yang goyah, akan mudah untuk dikendalikan orang lain,
yang tidak berpegang pada pedoman hidup, akan mudah dilahap maut kasat mata,
semuanya serba bisa jadi, terkadang ini membuat kita begitu berburuk sangka, di luar kendali kita
sungguh piciknya, semoga termaafkan.

semuanya hampir serba terkotak-kotak, terbenteng, penuh tembok
tapi adanya ruangan-ruangan, adalah wajar. ia merupakan tempat aktualisasi diri,
dan kita bebas memilih.
sekali lagi, semuanya serba bisa jadi, beberapa diantaranya sangat bergantung akan kepentingan.

Selamat datang di kampus,
tempat dimana kita ditempa. layak-kah untuk menatap jenjang selanjutnya?

***

2 tahun terakhir saya merasakan sempat menjadi seorang yang picik, berpikiran sempit, tanpa terasa hati disergapi keangkuhan. begitu menyakitkan, memalukan, dan menjatuhkan.
sesudahnya saya belajar, untuk mebuka mata, hati, dan telinga lebih lebar. namun tetap menjaga ketiganya.
betapa sulit, tapi ini memang hakikatnya,
hakikat sebuah amanah.

Sabtu, 02 November 2013

Saudara

Kembali dihadapkan dalam situasi demikian, membuatku kembali mengagumi sosok yang selalu disebut-sebut dalam Al-Qur'an, yang senantiasa ada dalam untaian shalawat dalam shalat dan doa, sang Nabi dengan mukjizat Al Qur'an. Aku kembali terkagum akan kemampuan Beliau menjaga hubungan dengan Allah (Habluminallah) dan hubungan dengan sesama manusia (Habluminannas). Mengelola keduanya dengan seimbang.

Betapa sulitnya..

Kembali pula teringat, bahwa dalam salah satu ayat di Surat Al Baqarah, manusia diamanahkan sebagai umat penengah; selalu ada himbauan untuk tidak berlebih-lebihan. Sekalipun begitu abstrak, sulit sekali mengukur kadar, apakah aku berbuat berlebihan?

Aku memang bukan seorang yang berkecimpung dalam dakwah, juga tidak lihai dalam menyanyikan untaian kata-kata indah dengan nuansa islami. sama sekali bukan..
yang bahkan kini meraba-raba, kembali bertanya,
bagaimana konsep ukhuwah yang sesungguhnya?

bagiku, ini lebih dari sekedar siapa paham apa
siapa membantu siapa
siapa yang paling lelah
siapa yang paling banyak masalah
siapa yang seharusnya dimengerti dan seolah mendapat hak imun 

adalah tanggung jawab;
adalah kita bersama-sama saling membantu
saling memahami, saling berkomunikasi

kalau saja bisa diam, lebih baik diam. diam saja, membiarkan yang terjadi.
layaknya membiarkan air mengalir, tanpa dibendung oleh benteng-benteng untuk mengarahkan aliran air.
biarkan saja mengalir, entah kemana ia akan bermuara.

***

bukankah kita bersaudara?