Sabtu, 26 Oktober 2013

Komentar yang selalu "Ada-Ada Saja"

a traditional Street in Chengdu. So China!

"Gue habis nangis bil," katanya.
"Setelah setahunan ini ngga nangis, dan gue nangis gara-gara diomongin ama senior gue." dia sambil menyiapkan jilbab yang akan dikenakan. lalu dia bercerita.
"lah dipikir gue bersikap karna hanya alasan yang se-picik itu? sakit hati aja gitu lho, buat gue ngga seharusnya dia menyimpulkan seperti itu ke gue.."

aku tersenyum.
"aku paham,"

ya, begitulah manusia.
semuanya memiliki bakat untuk menyimpulkan singkat atas suatu hal. beberapa diantara manusia menggali fakta dan membicarakannya terlebih dahulu, beberapa tidak.

bakat yang demikian, yang menjadi pembeda antara manusia satu dengan lainnya adalah kadar, serta pengelolaannya.

***

aku, tetiba teringat seorang Suhaila.
teman dari Oman. Kami bertemu dalam project Dare to Dream, sebuah acara summer camp yg diadakan AIESEC ZJU China. Pertama kali bertemu Suhaila di stasiun. Dia datang lebih awal, sedangkan aku baru datang sehari sebelum keberangkatan Hangzhou - Chengdu. Ngelihat wajah arab tersenyum, aku ikutan sumringah. Ditengah balada koper hilang, yang secara otomatis seluruh pakaian dan jilbab juga ikutan hilang sementara, senyum Suhaila memberikan secercah harapan. Hiks terharu, ada temen sesama muslimah yg juga berjilbab.
Suhaila bagi'in sovenir dari Oman

makanan di Chengdu. Halalnya diragukan, sungguh serba salah.

halal food di Kunming. Auwenak!!

Begitu nyampe Chengdu, mulailah aku PDKT-in. Bahasa Inggrisnya faseh, namun seperti wanita arab kebanyakan, dia cukup rempong, so branded, doyan belanja, dan lain-lain. Kopernya aja dua, man! Aku ngeliat aja udah ribet. Sementara aku sendiri bebas melengang dengan satu carier bag. Aku mulai cerita kalo koperku hilang dan lain-lain. Dengan harapan, mau lah dia minjemin jilbab gitu ya.. dan jawabannya hanya, well, really sorry to know that. Augh belagu bin pelit amat, sesama muslimah juga...

Belakangan aku tersadar, kala itu dia lagi capek berat. perjalanan 33 jam di kereta memang cukup melelahkan, apalagi di Oman ngga ada kereta. Jadi Suhaila sama sekali ngga kebiasa naik kereta. Selama di Chengdu, aku dan Suhaila hanya bertemu dalam hal "profesi". Kami mengasuh kelas yang sama, jadi kami lebih banyak berdiskusi materi apa yang akan disajikan di kelas. Selebihnya, kami hanya beberapa kali sempet makan bareng di kantin. Suhaila sendiri sangat berhati-hati dengan makanan di Chengdu, yg sudah jelas kebanyakan pake minyak babi dan tidak disembelih dengan Asma Allah. Dia lebih sering makan dengan nasi dan sayur saja, kalo sesekali lauknya pas enak macam daging, kelinci, dan bebek, dia baru makan lahap. Sedangkan aku? Sungguh bagiku, Annisa, dan Shinta, abon plus sambel terasi ABC tetep yg paling kece!

Kami baru akrab saat perjalanan Chengdu-Kunming. Kunming termasuk daerah yg agak ndeso. Suhaila bahkan ngga simpati sama sekali dengan penduduk lokal yang berpakaian kumuh. Sehingga, aku yang kala itu bersebelahan dengannya, sering mendapati Suhaila duduk mepet-mepet ke aku. Perjalanan Chengdu-Kunming ditempuh dalam waktu 24 jam dengan hard seat. It was really hard.... Aku duduk dengan Suhaila, di hadapanku ada duo Russian Girls, Baiana dan Natalya. Mereka sungguh rekan gosip yg oke. Kami berempat, kebetulan, bete banget sama si team leader yang semena-mena, ngga peduli masalah EP nya, dan malah ganjen ama si EP ganteng asal Holland; Danis. Suhaila pun ikut berapi-api.

Selama project di Kunming, aku se kamar sama Suhaila, Aleena Chan, dan Annisa. Karena kami sekamar, kami jadi lebih deket, sering jalan berdua. Bahkan sebenernya, Suhaila cukup berani buat jalan sendiri. Dari situ juga, aku jadi lebih mengenal karekternya yang strict, manja, branded banget, doyan dandan, namun memegang teguh prinsip-prinsip agamanya. aku banyak sharing mengenai agama, budayanya, dan caranya dia shalat yang agak berbeda. Saat di Kunming, sudah memasuki Ramadhan, dan diantara 4 orang EP muslim hanya aku yang berpuasa. Aku agak mengernyitkan dahi, nih bule arab kaga puasa? Sekalipun traveler dapet keringanan untuk nyaur puasa dikemudian hari, masa iya siih ni bule arab gamau ngerasain sensasinya puasa di negara minoritas muslim? Kemudian aku ngerti alasannya: Suhaila mudah sekali capek dan sebagai penanggung jawab beberapa acara aktifitas summer camp, ia memang membutuhkan stamina yg tinggi.

With my Kuning-Roomate: Aleena Chan and Suhaila.
Ternyata di awal perkenalan dan kesan buruk ku terhadap Suhaila, aku jadi malu sendiri. Suhaila, adalah sosok muslimah muda yang bersahabat, ramah, dan supel. Dia dipercaya oleh EP-EP lain untuk memberi pidato di awal launching project Dare to Dream di Kunming (dimana kami dibayar oleh kepala sekolahnya untuk bikin unforgettable summer camp dan pada akhirnya kami kerja keras dan lebih serius ngerjakan project). Redaksional kata yang dipilih bagus banget, ia betul-betul membakar semangat anak-anak SMP-SMA. And she's wearing hijab. Mereka pasti penasaran, mbak itu pake apaan sih di kepala? kenapa dia pake itu? karena pertanyaan serupa juga diajukan kepadaku di kelas-kelas yang aku asuh, juga saat aku makan di kantin. Suhaila, melalui karakter dan attitude nya kepada sesama, secara ngga langsung juga mengenalkan Islam pada anak-anak yang kebanyakan kurang memahami betul agama apa ini. Suhaila bahkan terlihat gembira ketika Danis mengutarakan niatnya untuk memilih Bahasa Arab sebagai mata kuliah pilihan untuk studi di semester selanjutnya. Dia juga ngga segan mengajarkan huruf Hija'iyah ke mahasiswa" China.

The Speaker
Aku kebetulan adalah satu-satunya EP yang meninggalkan project lebih awal. Salah team leadernya sendiri ngasih jadwal mencla-mencle, berhubung visa udah mau expired dan harus perpanjang dengan pergi ke Hongkong, aku minta ijin ke Kepala Sekolah dan si TL untuk balik duluan. Pagi-pagi buta aku sudah dibangunkan si TL dan dia memberitahuku bahwa kepala sekolah akan mengantar aku sampe halte terdekat untuk naik bis. Waktu itu deg-deg.an banget, karena akan memulai perjalanan sendirian, menghadapi penduduk lokal yg ngga bisa berbahasa inggris sendirian, dan pagi itu bagiku terlalu ndadak. Aku bahkan belom sempet pamit sama Buddy ku, EP terkonyol dari Vietnam, Si Bighos dari Rusia, dan EP-EP lainnya. Yang dengan sigap segera bangun hanya teman-teman sekamar. Aleena hanya duduk di kasurnya yg berada diatas, menatap kepulanganku dengan mata sendu banget. Wajah Aleena ini udah kayak barbie, kalo sedih makin membarbie-buta saja. Yang memelukku sambil menangis adalah Suhaila. Dia masih mengenakan babydoll, turun dari kasurnya, memeluk dan mencium kedua pipiku sambil berkaca-kaca. Be careful, Dear, katanya. Aku jadi ikutan kaget dan terharu. Hanya sedikit orang, tapi betul-betul merasakan sedihnya perpisahan. Suhaila ngga ikut nganterin aku ke depan gerbang sekolah, karna dia masih pake babydoll dan belom berjilbab. Waktu aku dadah-dadah di depan pintu kamar, Suhaila masih menyingkap kedua tangannya di hidung seolah menahan tangis dan Aleena sendiri melepas dengan senyum sendu. Yang kemudian mengantarkan aku sampe gerbang adalah Annisa. Eh dia yang koplak ternyata ikutan nangis juga. Lebih konyol lagi, saat si Team Leader nganterin aku naik bis, kami pun berpelukan. Well, aku ternyata bisa memeluk team leader yg super duper nyebelin ini ya. Epic dan mengharukan sekali....

Perempuan yg baru saja lulus dan udah memulai kerja di Abu Dhabi itu mengingatkanku akan pentingnya merawat hubungan vertikal dengan Allah, dan hubungan horizontal dengan sesama manusia.

Betapa penilaian pertama yang buruk, yang bahkan tanpa aku ketahui betul bagaimana karakter orang tersebut, mengantarkan aku pada penyesalan. Beruntung aku punya waktu lebih untuk lebih mengenal Suhaila dan menyesali prasangka buruk ku.

Trus gimana nasibnya jika terlanjur berprasangka buruk,
dan tidak memiliki kesempatan, serta waktu untuk menyadarinya?

***

Aku sebenarnya lelah.
Adalah kata klise; siapapun sekarang ini sedang lelah. Agaknya kurang pantas untuk berteriak dengan capslock AKU LELAH saat mengetahui rekan-rekan sepertinya jauh lebih lelah. Dan yang paling ngga aku suka saat semua orang menjadi lelah adalah meluapnya amarah.

Teringat komentar-komentar bernada ngga sedap atas beberapa kejadian belakangan. Aku tertegun heran, bagaimana bisa? Sementara kita adalah saudara, yang setidak-tidaknya cukup dekat untuk mengkomunikasikan berbagai prahara.

Kadang komentar orang-orang terdengar ada-ada saja. Beberapa cenderung menyakitkan. Namun sungguh akan lebih sakit dan melelahkan untuk menggambarkan bagaimana kondisinya kepada yg enggan membuka hati dan telinga untuk mendengarkan. Dalam keadaan yang demikian, kadang sebuah senyuman, diam, dan mengalah adalah sebuah kemenangan hati. Pengambilan sikap yang menjadi jawaban.

Dalam diam aku sungguh berharap, kita masih mempertahankan esensi saudara dalam iman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar