Kamis, 03 Oktober 2013

Bukan Mesin

stranger is in da town

Aku sempat terpaku bingung, ketika melihat puluhan bahkan ratusan orang berjalan dengan cepat menuruni - menaiki eskalator ataupun tangga manual, keluar-masuk MTR di salah satu Stasiun di Guangzhou. Aku baru saja sampai di Guangzhou, sendirian, capek setelah menempuh 24 jam lebih di atas hard seat kereta, dan baterai BB yg merah dan menyulitkan komunikasi dengan Raista, adik tingkat di kampus dan kebetulan lagi ada project di Guangzhou.

Ngga lama Raista dateng. Kita harus cepet kak, ini rush hour, katanya.
ooooh pantes! orang-orang ini berjalan cepat layaknya robot, sesekali melihat jam dan terlihat terburu. yang terlihat berusia muda sibuk dengan gadget di tangan dan headset yang nempel di telinganya. jarang ada yang bercakap-cakap, hanya derap kaki mereka yang terdengar sangat dominan. 

Asing.
Kesan pertamaku, orang-orang ini tak ubahnya seperti mesin.

Sepulang dari tanah tirai bambu aku menyesali yang ku katakan. dalam kacamata seorang perempuan yang memeluk agama, tidak mengherankan aku mengibaratkan penduduk lokal sebagai mesin. seolah satu hal yang dikerjakan sudah tuntas, selesai, kembali. apalagi aku tahu, mayoritas dari mereka tidak beragama dan tidak berkeyakinan. seorang pengacara di Guangzhou pun sangat menyayangkan sikap anak muda yang memilih untuk tidak lagi belajar dan memeluk keyakinan tertentu yang telah diajarkan oleh keluarga dan lingkungannya.

aku menyesalinya, aku merasa begitu bego.
mereka manusia, tentu saja. mereka bahkan jauh lebih smart, fast, menyenangkan, dan hal-hal menarik lainnya. mereka dikaruniai sebongkah, segumpal darah yang apabila kotor, kotor pula seluruh tubuh dan nuraninya. dan apabila bersih, bersih pula tubuh dan perangai pemiliknya.

aku sekali lagi memperbaiki first impressionku.

mereka bukan mesin.

***

Mesin.

Bukan satu kata yang asing, tentu saja. Kata Ranchodas Chanchad dalam 3 idiots bahkan mengibaratkan resleting celana yang bisa naik turun, adalah mesin. Segala sesuatu buatan manusia, yang membantu manusia dalam menjalankan hidupnya adalah mesin.

Kali kedua yang ku ingat, yang bahkan hampir selalu ku ingat dalam momen-momen tertentu: gerakkan mesinnya!

manusia mana yg akan kita bantu? tunggu, apakah aku bagian dari mesin?
aku masih manusia. sebenar-benarnya ciptaan Tuhan.
memaksa diri untuk memahami dan memberi interpretasi sendiri, bergerak apa adanya
dengan landasan kecintaan dalam hubungan horizontal dan vertikal
layaknya manusia pada umumnya. tapi tunggu, mengapa harus menyebutnya sebagai mesin?

pun tidak heran ketika luapan amarah dimana-mana
tangis kelelahan membanjiri rumah kita
sumpah serapah digumamkan, untuk kita
ya..bagaimanapun juga, manusia-manusia itu punya hati, nurani
tidak sebatas digerakkan oleh besi-besi tua yang hanya sekedar menjalankan suatu misi
selesai, tuntas.

kepada yang begitu ku sayangi,
aku hanya tidak berkenan menyebut jiwa-jiwa penggerak sebagai mesin.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar