Sabtu, 26 Oktober 2013

Komentar yang selalu "Ada-Ada Saja"

a traditional Street in Chengdu. So China!

"Gue habis nangis bil," katanya.
"Setelah setahunan ini ngga nangis, dan gue nangis gara-gara diomongin ama senior gue." dia sambil menyiapkan jilbab yang akan dikenakan. lalu dia bercerita.
"lah dipikir gue bersikap karna hanya alasan yang se-picik itu? sakit hati aja gitu lho, buat gue ngga seharusnya dia menyimpulkan seperti itu ke gue.."

aku tersenyum.
"aku paham,"

ya, begitulah manusia.
semuanya memiliki bakat untuk menyimpulkan singkat atas suatu hal. beberapa diantara manusia menggali fakta dan membicarakannya terlebih dahulu, beberapa tidak.

bakat yang demikian, yang menjadi pembeda antara manusia satu dengan lainnya adalah kadar, serta pengelolaannya.

***

Kamis, 03 Oktober 2013

Bukan Mesin

stranger is in da town

Aku sempat terpaku bingung, ketika melihat puluhan bahkan ratusan orang berjalan dengan cepat menuruni - menaiki eskalator ataupun tangga manual, keluar-masuk MTR di salah satu Stasiun di Guangzhou. Aku baru saja sampai di Guangzhou, sendirian, capek setelah menempuh 24 jam lebih di atas hard seat kereta, dan baterai BB yg merah dan menyulitkan komunikasi dengan Raista, adik tingkat di kampus dan kebetulan lagi ada project di Guangzhou.

Ngga lama Raista dateng. Kita harus cepet kak, ini rush hour, katanya.
ooooh pantes! orang-orang ini berjalan cepat layaknya robot, sesekali melihat jam dan terlihat terburu. yang terlihat berusia muda sibuk dengan gadget di tangan dan headset yang nempel di telinganya. jarang ada yang bercakap-cakap, hanya derap kaki mereka yang terdengar sangat dominan. 

Asing.
Kesan pertamaku, orang-orang ini tak ubahnya seperti mesin.

Sepulang dari tanah tirai bambu aku menyesali yang ku katakan. dalam kacamata seorang perempuan yang memeluk agama, tidak mengherankan aku mengibaratkan penduduk lokal sebagai mesin. seolah satu hal yang dikerjakan sudah tuntas, selesai, kembali. apalagi aku tahu, mayoritas dari mereka tidak beragama dan tidak berkeyakinan. seorang pengacara di Guangzhou pun sangat menyayangkan sikap anak muda yang memilih untuk tidak lagi belajar dan memeluk keyakinan tertentu yang telah diajarkan oleh keluarga dan lingkungannya.

aku menyesalinya, aku merasa begitu bego.
mereka manusia, tentu saja. mereka bahkan jauh lebih smart, fast, menyenangkan, dan hal-hal menarik lainnya. mereka dikaruniai sebongkah, segumpal darah yang apabila kotor, kotor pula seluruh tubuh dan nuraninya. dan apabila bersih, bersih pula tubuh dan perangai pemiliknya.

aku sekali lagi memperbaiki first impressionku.

mereka bukan mesin.

***