Sabtu, 28 September 2013

Bahasa

bluish-sky

Sejatinya, manusia memang harus melakukan perjalanan.
Setidaknya untuk membuka mata, bahwa jutaan manusia yang hidup di luar tanah tempatnya berpijak, menggunakan bahasa yang berbeda.

Misalnya saja,
saya bisa saja jengkel sama orang Mainland China lokal yang tidak fasih berbahasa Inggris dasar. Namun sebetulnya, saya pula yang salah. Mana mungkin kita memaksa orang China berbicara bahasa yang bukan bahasa tanahnya? Apa mereka mau? Dan posisinya adalah, saya sedang berpijak di China, di tanah penduduk China.


Berarti saya yang bodoh. Saya yang ngga kreatif. Sekalipun mungkin dengan ketidakmampuan mayoritas penduduk China lokal untuk berbicara bahasa Inggris menunjukkan bahwa mereka agak kudet dan bisa jadi dianggap gak gaul, tapi rasanya lebih bego lagi, saya, yang merupakan seorang pendatang, ngga paham bahasa mandarin, dan ngga menggunakan cara kreatif untuk berkomunikasi dengan mereka. Akhirnya saya menggunakan bahasa tubuh, mengeluarkan kamus, dan menggunakan cara lain untuk mempermudah komunikasi selama saya banyak berinteraksi dengan penduduk lokal, sendirian.

Tujuannya adalah: agar saya diterima sebagai seorang pendatang, seorang yang bukan penduduk asli.

seketika saya pun teringat, petuah seorang senior saya:
bahasakan lah bahasa sesuai dengan kaumnya

***

begitu pula dengan kita, teman
kita tidak mungkin kan, berbicara mengenai manajemen keuangan pada seorang balita?
atau berbicara mengenai etos kerja pada seorang bocah kelas 5 SD?

dewasakanlah lingkunganmu dengan cara yang dewasa pula.
kenali lah lingkunganmu, lalu buatlah perubahan.
kiranya seperti itu.


Selasa, 03 September 2013

Pertengahan tahun yang seperti biasanya

Pertengahan tahun yang dinamis, seperti biasa.
Yang kemudian tidak biasa adalah efek domino yang akan kita hadapi di depan. Percayalah.

Tapi sepenuhnya aku yakin, engkau, yang aku hormati, dikelilingi orang-orang yang insya Allah sengaja diutusNya, untuk memudahkan urusan-urusan.
Saling membantu dalam kebaikan.
Niatkan, katamu. Tidak akan ada yang sia-sia, selama bertujuan mengharap ridhaNya.
Seperti yakin ku, bahwa kita mampu.
Seperti janjiNya, yang biasanya engkau lantunkan dalam surat pilihan saat shalat berjamaah.

Untuk kita yang sedang melihat awan sempurna yang kini terberai
Untuk kita yang saling menyayangi atas namaNya

Mari saling menguatkan