Kamis, 15 Agustus 2013

Nothing Worth Having Comes Easy.

educate a woman, u'll educate a better generation

Postingan ini ternyata, mengalahkan keinginanku untuk melanjutkan beberapa cerita perjalanan di Jerman kemarin dan kekecewaan di awal bulan Syawal kemarin.

Habis, gemes rasanya.

***

Bermula dari kultwit sensitif dari Udz. Felix Siauw tentang Wanita.
Sebenarnya, aku ngga terlalu kaget dengan bahasa yang dipilih beliau dalam berdakwah. Karakter to the point, nyentil, dan memberikan fakta yang mampu menyadarkan pembaca dengan apa adanya. Beliau sendiri adalah seorang Mu'alaf yang kemudian memilih jalan sebagai pendakwah. Dalam beberapa kultwitnya yang pernah aku simak, beliau ngga segan memaparkan bagaimana kehidupan beliau sebelum jadi mualaf. Beliau juga termasuk udztad yg sangat rajin ngetwit, udah dua buku yg diterbitkan. Bahkan saking dianggap garis keras, beberapa teman sempat membicarakan buku itu dengan nada sebel (karena apa yang diungkap benar adanya) sekaligus mencari pembenaran dengan mengatakan ini mah opininya orang islam garis keras.

Well intinya, beliau cukup famous lah dalam dunia maya dan nyata.

Resiko penyampaian dakwah yg demikian, pun dengan latar belakang beliau, bisa jadi akan membawa dua konsekuensi. Peningkatan pemahaman target dakwah dengan drastis, atau penurunan yang juga drastis. Tapi aku lihat trennya, sepertinya naik, sih. anggep aja ini riset bego-begoan hasil dari nge-stalk mentionan yg masuk dari beberapa kultwit beliau.

Tapi, kultwit beberapa hari yg lalu, betul-betul bikin gemes.

Sebetulnya, aku sependapat banget tentang peran perempuan yg sangat strategis dalam keluarga. Perempuan jelas menjadi madrasah pertama untuk anak. Bahkan ketika calon bayi masih berada di kandungan, asupan rohani jika diridhaiNya, akan memengaruhi si calon bayi. Juga sangat sependapat, bahwa kemudian perempuan setidaknya punya kemampuan khas perempuan seperti masak, bersihin rumah, jahit, gendong bayi, cuci baju setrika, bla bla bla. Juga perempuan lah yg harus amanah menjaga harta suami nya, menjadi seorang peneduh dan berkarakter lembut, dan lain-lain, yg intinya akan sangat erat dengan hal-hal kerumah tanggaan dan fitrah perempuan yang disebutkan dalam Al Qur'an dan yang dapat kita teladani dari keseharian rumah tangga Rasulullah.

Bagiku pun, amanah tertinggi seorang perempuan adalah menjadi seorang istri dan ibu.

Tapi yang kemudian bikin rameee banget di twitter, bahkan ada seorang yg menghina beliau dengan visualisasi minion, lantaran salah satu twit berikut:

"wanita itu harus kuat, mandiri, nggak bergantung yang lain" | ya udah, itu pilihanmu, jarang lelaki yang mau wanita seserem itu hehe.. :D

langsung deeeh, banyak yg merasa tersinggung. Bisa jadi memang, yg tersinggung tidak membaca kultwit secara keseluruhan. Tapi aku sendiri berpendapat bahwa, di twit yg satu ini memang pemilihan katanya bikin target dakwah dengan karakter tertentu jadi tersinggung. Aku pun beranggapan bahwa, wah becandaan beliau yg satu ini adalah opini pribadi. 3 kata diatas maknanya luas. Kuat apa? kuat hati atau kuat fisik atau kuat apa? Mandiri yg bagaimana? Ketergantungan seperti apa? Kebenaran hakiki yg disampaikan dgn penafsiran atau opini manusia, akan selalu bikin pro-kontra. sehingga dengan jalan pintasnya saja, langsung menyalahkan kebenaran tersebut. So we have to #thinkagain.

Secara pribadi, saya juga tersinggung, tapi dibarengi tersenyum. Simpel saja, tanpa bermaksud arogan sungguh deh enggak maksud, beberapa cletukan teman bilang bahwa aku cukup mandiri, kuat, dan tidak terlalu bergantung ke orang lain. Itu pendapat teman-teman saja, toh sebenarnya perempuan manapun itu rapuh, fragile. Hanya kadarnya dan pilihan untuk memvisualisasikannya saja yang berbeda.

Pernah sesekali self talk untuk menanggapi komentar temen-temen. Flashback lagi, dari kecil aku memang terbiasa jauh dari orang tua. Masih balita, ditinggal orang tua nyari nafkah. Ibu kemana, ayah kemana. Gedean dikit, sekitar kelas 2-3 SD gitu lah, sudah diijinkan untuk liburan bareng keluarga tetangga. Sendiri. Alasannya, karena Ibu tipe orang yg kurang suka berpergian, dan ayah kala itu masih sibuk-sibuknya sebagai wartawan. Berangkat deh, namanya aja jalan-jalan. Makin berkembang, aku mulai memahami gimana ortu ku mendidik. Aku kebetulan adalah anak tunggal. Rasanya, ketika melihat orang tua ku sekarang, sangat kecil kemungkinan aku bisa gendong adik bayi yg akan menjadi adik kandungku. Dan aku, seorang perempuan. Kebanyakan akan beranggapan, enak banget pasti dimanja, atau wah apa-apa dituruti atau wah pasti gak boleh kemana-mana.

Kenyataannya adalah sebaliknya.

Dan apa saja yang aku dapat 20 tahun ini, memang mengarahkan aku untuk menjadi seorang perempuan dengan kepribadian yang disebutkan dalam twit beliau tadi. Ibuku pun mengajarkan, untuk jangan terlalu bergantung dengan orang lain, sekalipun ia adalah suami sendiri. Bikin contoh misalnya, menjadi hal penting bagi perempuan untuk punya tabungan sendiri. Memang betul, nafkah adalah tanggung jawab suami, tapi perempuan tetep harus tetep punya pegangan. Misalnya, suatu ketika pekerjaan suami ada halangan besar sehingga ngga bisa lagi menafkahi sepenuhnya maka ada uang tabungan yg bisa diandalkan untuk keluarga, atau bahkan hal terburuk seperti perceraian. Tabungan dan penghasilan si istri ini, tidak dimaksudkan untuk seolah-olah 'melebihi' suami, atau menganggap 'suami' ngga mampu menghidupi istrinya. Atas dasar itu, komunikasi baik pun harus terjalin. Bentuk pekerjaan seperti apakah, transparansi keuangan, dan lain-lain. Sekalipun perempuan ngga bekerja, juga ngga masalah, toh itu pilihan. Asal pengelolaan keluar masuk uang harus jelas. Kebanyakan, istri akan berperan sebagai 'pemegang uang'. Lah kalo ngga kuat mengelola yg demikian, jadi gimana rumah tangganya?

Ayah juga berulang kali nge gembleng aku biar bisa naik kendaraan sendiri. hukumnya wajib, bisa nyetir motor manual, matic dan mobil. Aku sebenernya masih males-malesan buat belajar nyetir mobil, sekalipun tujuannya ayah baik, sangat baik: agar aku mandiri dan ngga bergantung ke orang lain. Yuk ngambil contoh yg masih dalam satu tema di kultwit beliau, tentang perempuan dalam keluarga dan rumah tangga. Semisal, si suami lagi dinas di luar kota. Istri hanya sendiri di rumah, dengan 3 orang anaknya. Tetiba, ba'da isya, si bungsu sakit keras, harus dibawa kedokter. Kalo istri bisa nyetir mobil, kan bisa langsung nganter anaknya ke dokter. Sekalipun ngga bisa, kalo si istri bukan perempuan yg strong dan mandiri, ngga akan berani manggil taksi buat ke dokter sendirian. Percayalah, insya Allah kita akan diuji dimana kita dihadapkan masalah baik secara fisik maupun mental dengan kondisi SENDIRIAN. Tanpa adanya karakter mandiri dalam diri perempuan, gak kuat perang nantinya.

Aku juga pernah membaca di satu buku, lupa tepatnya karangan siapa yg jelas juga seorang penulis pengemban dakwah, bahwa perempuan harus lebih siap mental dan materi karena salah satu karakter umum perempuan yg melankolis. Terutama, ketika nantinya suami lebih dahulu di panggil Allah.

Dan juga.. bagaimana jadinya dakwah Rasulullah, terutama di awal kenabian Beliau, tanpa Khadijah yang seorang pedagang kaya dan mandiri. Dan bagaimana kuatnya Khadijah, untuk menenangkan Rasulullah saat ketakutaan ketika menerima wahyu pertama. Khadijah memilih untuk tidak bertanya apa yg terjadi, tapi hanya menyelimuti beliau, sesuai pintanya. 

Memang patut di amini bahwa, perempuan yg lembut, penyayang, adalah idola. Setidaknya potret yg umumnya penjadi panutan bagi perempuan. Tapi bukan berarti, karakter kuat dan mandiri, tidak bisa disatukan dengan kelembutan, penyayang, dan fitrah keibuan seorang perempuan, kan?

Yang seharusnya digarisbawahi adalah PORSI nya. Akan menjadi masalah memang, ketika istri yg bekerja dan penghasilan diatas suami lalu bersikap seolah suaminya lebih rendah. Yang kayak gini terjadi lho, dan menurutku kemandirian yg seperti itu sudah ngga baik. Ketika kemandirian, kuatnya perempuan, ketidak-bergantungan perempuan adalah pada porsi yg tepat dan tetap menjunjung syar'i dan kewajiban-kewajiban perempuan dalam Al-Qur'an dan Sunnah, mengapa tidak? Karakter-karakter seperti itu, jika dalam porsi yg tepat, bisa jadi memberikan peran ideal dalam keluarga: nahkoda dan navigator dalam bahtera. Eaaa, aku ngomong apaan sik? Menurut ku, hal itu justru menunjukkan kualitas dari perempuan itu sendiri. Perempuan jadi lebih worthy

Nothing worth having, comes easy.
And who have it, must be a special one.

***

Jika kemudian sang Udztad lebih menyukai wanita yg demikian, ya ngga masalah aja, ini kan tentang pilihan dan selera. Yg jadi masalah adalah ketika pilihan dan opini ini seolah diseragamkan. Ada banyak lelaki dengan karakter berbeda, juga perempuan dgn karakter yg tentu saja berbeda-beda. Aku anggap, perbedaan yg demikian itu adalah fitrah. Kalo diseragamkan..gimana ya, jadinya ngga kece gitu. Pribadi ini akan terperangkap dalam pribadi itu. Kebebasan mengembangkan karakter itu perlu bahkan harus, asal tetap dalam bingkai tata cara yg dikehendakiNya.

aku tentu saja, ngga bermaksud menentang kultwit pak Udztad, sama sekali engga. Beliau jg salah seorang guru virtual di twitter, twitnya sering aku retweet, dan aku kagum dengan ketegasannya. Juga seperti dalam klarifikasi atas kontroversial twitnya yg disampaikan dengan tenang, perbedaan pendapat itu wajar. Take it or leave it. Kalo mau di take, ya di take yg mana, kalo mau leave ya leave yg bagian mana. It is definitely a choice. *peace sign nempel pipi*

Wallahu A'lam
tulisan acakadut ini adalah opini saya pribadi, mohon maaf jika kemudian menyinggung perasaan berbangsa dan bernegara manteman sekalian :)

2 komentar: