Selasa, 20 Agustus 2013

musibah, kah?

bisakah menjelaskan?
tentang tawamu yang kian suram
tentang bicaramu yang tak lagi menderu
tentang tatapanmu yang penuh keengganan
tentang sikapmu yang mengisyaratkan ketidak-inginan

percayalah, aku berulang kali membuang yang demikian
percayalah, aku tak percaya
percayalah, aku memahami kau tidak akan mengaku salah
karena mungkin memang tidak. aku, lah..
percayalah, aku hanya ingin raga di hadapanku
bersenandung kejujuran

***

Beliau marah besar. Gemetar tubuhnya jelas terlihat. Dahinya berkeringat bahkan di ruangan dengan mesin pendingin. Wajahnya memerah.
"aku merinding hebat," ujarnya
ia lantas menghentikan aktifitas lalu lintas dalam pikirannya, dan lincah jemari di depan benda kotak hitam berlayar. "ada apa?"
Beliau berkisah.

jantungnya berdegup tanpa ia ketahui temponya. ini kebohongan lama. kebohongan konyol yang tersimpan dengan rapi bertahun-tahun. ia sekarang dihadapkan dengan kebohongan yang pernah ia endus baunya. bagaimana bisa? dusta macam apa ini? 

mengapa dia berbohong?
ia bertanya.

aku tidak peduli, beliau mengisyaratkan kebencian mendalam. aku hanya berfikir, apa yang harus ku katakan padanya?

ia, tentu saja bisa menerka. orang itu bisa murka, dengan amarah yang seumur hidup, tidak pernah ia lihat.

kebusukan dan kebohongan macam apapun, akan terungkap. jika Allah menghendakinya, jika Allah menginginkan kita berbenah, jika Allah menginginkan kita hijrah. beliau kembali bertutur.

ia, kemudian mengamini dalam hati. benar adanya, musibah adalah sebaik-baiknya ujian bagi Allah untuk menaikkan level hidup hambaNya, untuk kemudian menguatkan pundaknya, dan memantapkan hatinya. musibah adalah pendewasaan, sebenar-benarnya pendewasaan. atau bisa jadi, musibah adalah teguran. atas yang pernah dilakukan, yang tanpa pernah terevaluasi, dan tuntunan agar kemudian mengambil alur yang lebih baik di masa depan.

tapi ia tidak memahami, mengapa begitu balasannya?

ah tapi memang, seharusnya hanya kepada Allah lah manusia menaruh harap.

***

menggerutu nya aku,
tidak sepantasnya ditiru. pembelaan pribadiku, adalah wajar.
aku wajar menggerutu.
aku wajar kecewa.
kau pun, sangat wajar menaruh kekecewaan.

yang kemudian tidak aku pahami
susahkah beritikad baik meluruskan? sedemikian beratkah ucapan jujur kau haturkan?
apa yang kau sembunyikan?

hanya ingin bersama, dalam kebaikan dan kebermanfaatan.
yang mengenalkanku pada jutaan hiasan warna ukhuwah,
mengapa kemudian memberiku suguhan kudapan yang pahitnya begitu lama?

mengapa, kamu?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar