Selasa, 30 Juli 2013

Bea, dan sedikit tentang jilbab kece dan syar'i

Hellooo!! Ki-Ka (nickita, nying-nying, mba desi, max, lutfy, moritz, inaya, wibke, maria, christian, patrick, bu Ika, aku, laura, bu dhiana)
Di Leipzig kemarin, aku sempet cukup deket dengan salah satu mahasiswi Univ Leipzig. Aku biasa panggil dia Bea. Bea saja, ngga usah ditambahin cukai. Kesan pertama ketemu Bea sebenernya agak ngilfilin. Hari pertama, setelah welcoming breakfast, kami langsung memulai presentasi. Kebetulan, presentator pertama dari FH UB adalah Bu Dhiana yang mengangkat mengenai property tentang kelautan. Selanjutnya, beberapa mahasiswa Leipzig yang dapat jadwal hari pertama. Untungnya, aku kebagian presentasi hari ketiga. FYI, tema besar JSP tahun ini adalah Freedom, Property, and Property Rights. Jatah presentasi dosen adalah 1 jam, sedangkan mahasiswa 45 menit. Lama oy.

Kesan ngilfilin sama Bea ini aku rasa bukan cuma aku yg merasakan, tapi juga semua delegasi FH UB. Kebetulan, Bea lagi flu selama acara JSP berlangsung, dari hari pertama sampe terakhir. Mungkin karena faktor hidung orang-orang bule yg mancung dan gede, dan mungkin juga waktu itu flu nya Bea cukup parah. Kami dikejutkan dengan suara "Srooooottttt..!!" di tengah-tengah presentasi. Aku sendiri kaget banget, kok bisa-bisanya sisi sekeras itu. Biasanya orang Indonesia kan pelan-pelan, apalagi kalo lagi di tengah acara formal dan hening, pasti milih untuk keluar saja agar ngga mengganggu. Nah ini, di los ae. Tapi aku berusaha menahan diri untuk ngga langsung noleh ke sumber suara. Aku mencoba tetep stay cool dan ngelihat sekitar. Ngga ada satupun mahasiswa Leipzig dan dosen-dosennya yang kaget dan mencoba mengingatkan si pembuat suara. Mungkin, suara sisi yang macam itu sudah wajar. Beda cerita sama ekspresi delegasi mahasiswa FHUB yg berusaha menahan tawa, ada yg nunduk-nunduk gigit bibir, ada yg ngikik, macem-macem. Salah satu dosenku aja langsung ngomongin kalo yg demikian jorok banget. hehehe.

Bea ini, adalah presentator yang juga kedapetan waktu presentasi di hari pertama. Menurutku, presentasi hari pertama totally boring dan ngantuk, mungkin karena masih terbiasa sama jam Indonesia. Tapi dari segi teknik presentasi saja, hanya satu mahasiswa Leipzig yg mempresentasikan papernya dengan bagus. Gagasannya yg bagus dan cenderung filosofis, dan setidaknya dia menggunakan visualisasi (powerpoint). Sisanya, ada mahasiswa Leipzig tinggi ganteng dan menurutku cool banget hehehe namanya Patrick, tapi kalo presentasi grogi banget. Tangannya gemeteran dan juga visualisasinya old way banget, pake OHP. Jadi dia nyiapin outline yang di fotocopy di mika gitu. Patrickpun menjelaskan tentang Property Right dalam Konstitusi Jerman. Dan memang kebanyakan mahasiswa Jerman yg presentasi di hari pertama, pembahasannya normatif. Akhirnya diskusipun lebih mengarah pada perbandingan dan bagaimana implementasi di lapangan.

Nickita sampe berbisik ke aku dan Lutfy, kalo begini aja mah ngga bakal lolos seleksi, bu Afifah pasti minta dia untuk ngasih contoh. Aku sama lutfy manggut-manggut imut.

Giliran Bea presentasi, dia tidak membawa sehelai kertaspun, apalagi visualisasi. Dia bahkan meminjam outline milik Patrick. Sebenernya presentasi Bea bakal menarik, karena akan mengungkap public goods yang ada di konstitusi Jerman. Bea ini pernah tinggal di Irlandia, jadi bahasa Inggrisnya faseh dan cenderung agak beraksen British. Means, buat aku, agak sulit untuk di cerna. Karna aku mulai boring, aku mengalihkan perhatian ke Mbak Desi ama Nying-Nying yang daritadi ketawa cekikikan karena alasan ngga jelas. Ngeliat nying-nying yg ketawa sampe mukanya merah, aku jadi geli sendiri dan ikut senyam senyum. Aku kira dia ngetawain salah satu dosen kami, ternyata dia ngetawain susu coklat yg rasanya aneh. Bz ngga penting. Aku kembali mengalihkan fokus ke diskusi.

Kira-kira masih seperempat materi, Bea agak kebingungan untuk melanjutkan. Aku sendiri daritadi bingung ni anak ngomong apaa, soalnya banyak "ehem" "mmm" nya. Anna, dosen mereka yang juga seorang person in charge dari pihak tuan rumah, request agar Bea segera menyampaikan apa yg menjadi fokus diskusinya. Nah, tiba-tiba Bea ngeblank entah kenapa. Dia nunduk, dan menjawab "I don't know.."

Mendengar jawaban seperti itupun, Anna mencoba menyemangati dengan memaparkan secara singkat kalimat dan kasus yg berkaitan dengan materinya yang kemudian meminta kepada Bea untuk melanjutkan analisis, agar Bea bisa presentasi dengan baik. Trus tiba-tiba hening sebentar. Dan tetap dengan menunduk, Bea kembali bilang, "I don't know, I just didn't prepare my presentation well.." dengan suara gemetar.

Langsung bisa ketebak, Bea mulai mewek. Resmi nangis.

Anna pun gupuh, dan meminta Bea untuk duduk dan ngga usah khawatir. Seisi ruangan ikut bingung, Bu Afifah kemudian mengambil alih dengan bertanya ke Prof. Enders (dosen tata negara Univ Leipzig) mengenai public goods dalam konstitusi jerman itu sendiri dan Bu Afifah memberikan gambaran bagaimana di Indonesia. Sementara, Bea duduk di depan dan mulai sesenggukan.

Aku berinisiatif untuk memberikan tissue, karena tempat duduk ku cukup dekat dengan tempat presentasi. Toh sebelumnya di welcoming breakfast, kami sudah berkenalan dan ngobrol ringan. Sambil ngasih tissue, aku berbisik "Don't worry, don't be sad, everything's okay". Dia berterima kasih dengan lirih. Sebagai presentator, Bea diminta untuk tetep duduk di depan sampe waktu diskusi selesai.

Ngga lama setelah aku kembali duduk, tiba-tiba, "SROOOOTTT..!!"

Fiuh, maneh.

***

Sabtu, 27 Juli 2013

Scappa per Amore, Am I?

Aku nge-touch icon bintang di tweetcaster untuk penanda favorit, untuk tweetnya @NouraBooks yang isinya singkat padat jelas: promosi buku sambil ngabuburit, foto dan judul buku, tempat ngabuburit, plus dengan nama authornya yang menggelitik tangan untuk segera ngefollow.

Adalah Scappa per Amore, judul buku dari mbak Dini Fitria, presenter acara traveling bernuansa islami yg sudah beberapa kali ku lihat sejak tahun sebelumnya. Acaranya di salah satu stasiun tv swasta yang ngga perlu aku sebutin, soalnya udah pasti tau, dan ditayangin setelah adzan subuh Jakarta. Kebetulan, sepulang dari Jerman, aku jetlag berhari-hari dan parah banget. Lebih parah dibanding jetlag sepulang umrah. Jam tidurku kacau balau, aku tidur sehabis subuh, bangun siang. Dan beberapa waktu, aku masih membayangkan aktifitas rutin di Jerman, padahal aku di Jerman cuman 10 hari loh. Akibatnya, daya tahan tubuh ku pun menurun, aku jadi mudah banget sakit. Apalagi waktu balik ke Malang, aku disambut dengan cuaca dingin-gak sehat. Langsung bikin sesek.

Keuntungannya, aku bisa nonton tv dulu abis subuhan dan rutinitas setelah shalat subuh. Bagiku, acara jalan-jalan selalu menarik. Nilai plusnya nih, latar nya Eropa dan mengupas kehidupan masyarakat muslim di Eropa. Hal yang selalu ingin aku lakukan waktu kemarin di China dan Jerman tapi sulit, mengingat aku pergi bersama rombongan. Bakal lebih yahud kalo aku berkesempatan jalan-jalan sendiri.

Ngga lama setelah baca twit nourabooks, aku ngefollow mbak Dini. Dan dari linimasa kedua akun tersebut, aku tau bahwa buku ini baru terbit, dan pasti butuh waktu beberapa hari untuk sampe di togamas malang. aku memang langganan beli di togamas, apa coba alasannya kalo ngga lebih murah, toh kualitasnya juga sama ama di toko buku satunya hehe. Kemarin malam, aku meluncur ke togamas. Awalnya cuman mau beli note, tapi akhirnya beli 6 buku. haduh.

and, this is it:

biar makin unyu, masuk Line Camera duyu

Aku suka baca buku-buku travel, beberapa yang menurutku bagus, akan aku beli. Naluri ingin tahu ku menguat pada buku ini lantaran membaca judul dan beberapa testimoni tentang kontennya. Prediksi kasar sebelum membeli buku, kisah-kisah di dalamnya akan menggabungkan traveling, Islam, Eropa, dan Cinta.


I'm pretty curious.

***

Rabu, 24 Juli 2013

Bittersweet Trip

a sunset in Kunming

Somewhere near Zhejiang Province, China, 2012

Salah satu waktu yang paling aku suka di perjalanan, adalah menempuh perjalanan itu sendiri. duduk di pesawat, menikmati film dan lagu, atau baca-baca buku.
menikmati perjalanan malam di bis, dan menjadi seorang yang terasing di kereta.
bagai menikmati obat batuk jenis sirup yang manis; dipaksa diam untuk beristirahat bagai anak kecil meminum obat, namun disatu sisi sangat menyenangkan.

Adalah perjalanan Guangzhou - Hangzhou, perjalanan menuju kembali ke tanah air, yang aku tempuh menggunakan kereta hard seat selama 24 jam lebih dan kembali menjadi perempuan asing yang berjilbab dan diliatin penduduk lokal China. Aku sendiri, betul-betul sendiri karena ngga ada yang bisa diajak ngobrol pake bahasa inggris. Beli makanan untuk buka puasa (waktu itu bertepatan bulan Ramadhan tahun 2012) aku harus ngeluarin kamus, beli mie seduh yang non-pork. Sekalipun merasa asing dengan kehadiranku dan kadang-kadang kelakuannya ngga sopan, misalnya nunjuk-nujuk aku seenaknya, keramahan penduduk lokal China ngga aku pungkiri. Misalnya, nawarin aku timun, kuaci, dan berbagi meja untuk bersandar tidur.

Dan Mainland China, menawarkan pemandangan yang indah, hamparan rumput dan bebatuan, jarang rumah penduduk, so greeny. menyenangkan dipandang.

Pagi itu di kereta, sebelum subuh aku terbangun, dengan earphone yang masih nancep di telinga kanan dan mata yang masih menerka-nerka pemandangan di luar jendela, samar-samar terdengar salah satu lagu kesukaan yang dinyanyikan Adele. Dalam keadaan setengah sadar aku bergumam, ah, kenapa masih se nyeri ini rasanya.

Bait lagu yang tidak sengaja terdengar itu, seolah mem-pause momen pagi itu, membiarkan mata untuk menikmati matahari terbit, dan memaksa memori untuk memutar ulang yang tersisa dari beberapa tahun sebelumnya. Aku terheran-heran, kenapa masih tersisa sakit yang semacam ini? padahal aku sudah lama melalui momen, yes gue udah lupa! 

yang menyebalkan,
perjalanan kadang memaksa untuk mengingat-ingat memori yang demikian.
namun yang menyenangkan,
pelan-pelan ia akan terlepas, menyatu bersama alam.

butuh waktu yang tidak singkat,
dan terpisah jarak puluhan kilometer untuk membuat tali silaturahim ini kembali normal.
sekalipun diam mu meninggalkan banyak ketidak jelasan
namun hari ini aku mengamini satu hal, bukan tanpa alasan kita pernah dipertemukan

***
Malang, 2013

Aku gemes, kamu sama sekali ngga mau menjawab apa yang aku tanyakan.
ketahuilah, diam dan senyum mu itu sama sekali ngga menjawab.
kenapa kamu biarkan aku larut dalam berbagai perkiraan?

ataukah memang kamu ngga ingin aku mengetahuinya?
karena perkara ini, inginmu, hanya kamu dan Allah yang tau.

benarkah demikian?

***

Malang dan beberapa sudut di Mekkah, 2013

sesungguhnya aku sama sekali tidak mengizinkanmu masuk
tapi kau memaksa tetap mengetuk
aku peringatkan, kembali saja pulang
jika tujuanmu datang masih kau sembunyikan

karena sesungguhnya aku akan sangat malu padaNya
jika mendapati yang ku pinta dibawah naunganNya
tidak memiliki tujuan pulang yang sama

***

bukan lupa yang mampu mengobati,
tapi ketaatan pada agama inilah yang akan memilah
mana yang harus dibuang dan mana yang tetap disimpan sebagai pelajaran
- Kalila, salah satu tokoh perempuan dalam serial PPT 7.


Sabtu, 13 Juli 2013

..and the story goes

from Berlin

"Perjalanan pulang ini juga akan terasa indah jika kita menemukan teman seperjalanan yang baik, saling menolong untuk memperbanyak bekal, serta teman berbincang sepanjang jalan kehidupan." - sepenggal kalimat dalam buku Psikologi Kematian 2.


***


"Ketahuilah," kata seorang.

"Kamu yang pergi, kamu yang nggak disini," kami terdiam sejenak.
"kamu yang selalu entah kemana. Kamu jelas ngga ngerti, karena kamu ngga pernah disini." ia menutup pembicaraan.

Jelas sudah, akar permasalahan ada pada hal yang saya butuhkan.
Jelas sudah, bahwa saya yang salah.

***


Dari Ibnu Umar radhiallohu ‘anhuma beliau berkata: Rosululloh shollallohu ‘alaihi wa sallam pernah memegang kedua pundakku seraya bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau musafir.” Ibnu Umar berkata: “Jika engkau berada di sore hari jangan menunggu datangnya pagi dan jika engkau berada pada waktu pagi hari jangan menunggu datangnya sore. Pergunakanlah masa sehatmu sebelum sakit dan masa hidupmu sebelum mati.” (HR. Bukhori)



Aku mengiyakan apa yang dipaparkan oleh Prof. Komaruddin Hidayat dalam Bukunya Psikologi Kematian 1 dan 2, bahwasanya hidup dapat dimaknai sebagai persinggahan sementara. Dan masing-masing dari kita, tanpa disadari, telah memegang tiket penerbangan terakhir. Kita cuman traveling, di salah satu planetNya. Kita cuman traveling, yang sifatnya hanya sementara.


Dengan memaknai sifat fana yang ada di dunia, sangat make sense ketika Rasulullah SAW mengamanahkan untuk menjadi manusia yang bermanfaat. Karena perjalanan akan menjadi indah, jika kita mau berbagi seat dengan para pengguna bis dan angkot, berbagi makanan dan hal-hal lain yang disunahkan untuk disedekahkan. Suatu ketika di masjid persinggahan perjalanan Madinah-Mekah, dikunjungi puluhan jamaah berpakaian ihram untuk menunaikan sholat Maghrib dan Isya. Kesemuanya telah mengambil Miqat di Bir Ali Madinah, dan akan menunaikan tawaf dan sa'i di Masjidil Haram. Sayangnya, kondisi masjid sangat kecil. 3/4 bagian masjid telah penuh diisi oleh shaf pria, dan 1/4nya diisi shaf wanita. Sisanya, ngemper, beralaskan koran, tas, atau sama sekali ga punya alas untuk sujud.


Aku dan Ibu, juga ngga bawa sajadah. Ibu memilih sholat lebih dulu tanpa alas. aku celingak celinguk dan melihat seorang wanita dibelakangku ribet ngeluarin koran. Dengan sopan, aku meminta 1 lembar koran untuk alas sujud Ibu. Alhamdulillah, dia memberi 1 lembar. Sebenernya ngga cukup untuk berdua, jadi aku kasih porsi yang lebih banyak ke Ibu. Aku kemudian menyusul sholat. Saat aku memasuki rakaat ketiga, Ibu sudah selesai sholat. Dan sekilas terlihat ada selembar koran yang terbang disebelahku.

Tiba-tiba seorang wanita paruh baya, entah dari mana ia berjalan, mengambil koran itu dan meletakkannya di hadapanku untuk menjadi alas sujud dan mengganjalnya dengan tasku agar koran itu tidak terbang. Ibu buru-buru berterima kasih kepadanya.
Aku terharu, karena tidak sempat mengucap terima kasih secara langsung.

Tapi beliau mengajarkan, sekecil apapun, kita harus bermanfaat.

Terutama dalam perjalanan, terutama ketika kita adalah saudara dalam iman, ketika dilanda kesusahan, dan memiliki tujuan 'pulang' yang sama.

Dengan menjadi seorang pejalan, aku menemukan banyak hal yang tidak bisa aku dapatkan ketika aku jalan di tempat. Dengan berjalan, mereka akan melihatku sebagai muslimah. Memaksaku pula untuk bertindak selayaknya seorang muslimah, karena identitas yang aku bawa adalah Islam. Tanpa bergantung padaNya, tentu tiap langkah perjalanan akan menjadi salah, tiap ucapan tidak lagi berkah. 
Berjalan membawa kedekatan dan kemesraan kala bercakap-cakap dengan Yang Memiliki Bumi. Karena ikatan dengan Allah, adalah ikatan yang tidak mengenal waktu dan tempat. Begitu pula ikatan saudara dalam iman, bagiku, waktu dan tempat tidak seharusnya menjadi permasalahan utama. Atau yang lebih parah, menjadi alasan perubahan sikap.

Menyalahkan perjalanan ini, sama saja menggunjing caraku berdialog denganNya.

Sehingga mungkin wajar adanya, ketika diri ini menjadi tersinggung dan menutup muka.
Kamu pernah dengan jelas berucap, aku adalah yang terkuat.
Sebaiknya aku koreksi, bahwa kamu kurang tepat.
Dengan berjalan, bagiku tidak ubahnya obat.
Terapi ini adalah yang aku butuhkan.
Bagiku, perjalanan singkat menuju pulang ini adalah penyembuh.
Karena aku tidak mau, ketika nanti kembali pulang masih dalam keadaan yang sangat rapuh.

Aku paham, pada suatu titik, aku harus berhenti. Untuk bercakap-cakap, berinteraksi lebih lama, singgah lebih lama, atau bahkan menetap dan menemukan teman seperjalanan.

Aku mengira, ini lah titik itu.

Namun ternyata karenamu, jiwa ini memilih untuk kembali berkorban.

dan berkeinginan untuk segera mengakhiri persinggahan.

Pesaing

Aku tidak hadir sebagai pesaing
Jangan anggap aku sebagai pesaing
Sosok yang kau lihat dihadapanmu, bahkan tidak memiliki sebutir amunisi
untuk menyaingimu

Aku tidak hadir sebagai pesaing
Jangan jauhi aku
Aku tidak membawa belati
atau bahkan meminta wasit untuk menembakkan pistol tanda perlombaan dimulai

Aku tidak hadir sebagai pesaing
Jangan membuatku kemudian memutar arah
atau memilih jalan lain hanya untuk menghindarimu
atau berfikiran bahwa jalan yang ku tempuh adalah salah

Kita bertemu dalam keadaan asing
Tapi sejenak aku ingin kembali ingatkan

Aku tidak hadir sebagai pesaing
Karena aku terlalu rapuh untuk menjadi pesaingmu

Kamis, 11 Juli 2013

Leipzig, a lovely one

old building
Leipzig, aku nobatkan sebagai salah satu kota yang ingin kembali aku kunjungi, setelah Madinah dan Chengdu.


I do fall in for the first time.



Leipzig, kota tua kecil yang khas dengan arsitektur bangunan Eropa. Bangunan-bangunannya seolah mengisyaratkan bahwa Leipzig pernah menjadi gerbong komunis di Eropa, di bawah pendudukan Rusia. Jalanan di Leipzig ramai dengan sepeda ontel, beberapa menggunakan mobil dan motor, sisanya memanfaatkan tram untuk jarak yg agak jauh.



1. Tenang

Apa yang didambakan untuk hidup selain tempat yang tenang?
Leipzig punya! tiap hari pemandangannya adalah orang naik sepeda. saking tenangnya, ngga ada polusi (kecuali kalo berdiri di deket mobil), anak-anak kecil bebas berlarian di jalan dan ngontel.

gowes!
sepeda dimance-mance


2. Banyak cafe dan banyak taman

salah satu kebiasaan orang lokal yang aku lihat adalah nongkrong di cafe. sama sih kayak di malang, bedanya, tongkrongannya keren dan jarang yang nongkrong sambil bawa laptop dan wifian berjam-jam. rata-rata, mereka nongkrong ama pacarnya, atau temen-temen sekedar untuk becandaan, untuk ngerjain tugas, baca buku, atau ngobrol ama temen bisnis. di leipzig, cafe bakal rame jam 8 ke atas. berbanding terbalik, toko-toko bakal tutup jam 8 malam, padahal, jam 8 itu udah layaknya jam 4 sore. bahkan supermarket pun ikutan tutup jam 8. aku nyeletuk, bukannya orang eropa itu 'makhluk malam' ya (dalam arti suasana kota lebih hidup kalo malam). temenku jawab, iya kehidupan malamnya itu party bil, bukan shopping. oke, make sense. salah satu perbedaan jika dibandingkan ama Indonesia. Aku sempet ngerasain enaknya nongkrong di cafe leipzig, yaitu maem kebab istanbul dan maem kentang di pinggir jalan. berasa kayak anak gaul leipzig. Juga sempet jalan-jalan sendiri di sekitar hostel. Such a fun thing! ngerasa safe banget.

salah satu taman

First Impression of Europe

stasiun yg megah! aku membacanya: hufbahno

"safe trip ya.."
rata-rata itu yang diutarakan temen-temen menjelang keberangkatan.
atau, "oleh-oleh nya jangan lupa ya.."


Rute keberangkatan cukup panjang.

SUB-DPS
DPS-SIN
SIN-AMS
AMS-TXL


aku dianter ayah-ibu ke Juanda. So sweet yak hehe, dan untungnya Ibu kali ini ngga nangis, ngga kayak waktu aku mau ke China tahun lalu. Tapi wajar sih nangis, ke China kemaren emang agak ekstrim. Sudah sendiri, pertama kalinya ke luar negri, 5 minggu, duit pas-pasan, koper nyasar pula. Mantab!



Kami naik pesawat KLM dong, kata ayah pesawatnya bagus. Emang beneran bagus. sayangnya, KLM ga berangkat dari SUB, tapi dari DPS. Jadi kami terbang dulu ke DPS. Dari DPS, transit bentar ke Changi Airport, baru dini hari lanjut perjalanan kurang lebih tujuhbelas jam ke Amsterdam. Syukurlah, pesawatnya beneran bagus, seingetku dapet maem 3 atau 4 kali dan makanannya lumayan enak. AC lumayan adem, moviesnya juga uptodate. well, norak dikit gapapa.



Sampe Schipol International Airport di Amsterdam, ngga kalah excited. apa-apa di fotoin [kecuali ngelihat orang ciuman di depan umum]. Ngelihat barang bagus, udah pengen belanja. Harga di bandara juga ngga mahal, gak kayak di bandara Indonesia apa-apa di naikin bahkan hampir 3x lipat. Baru kali ini aku tau di bandara ada librarynya, dan ada foodcourt dengan masakan Indonesia. uasiiikkkkk.. salah satu corner yg paling aku suka di schipol adalah toko I Am Sterdam. Barangnya bagus bagus dengan harga rasional. Holland banget gitu deeh.. Kalo mau beli bunga atau bibit, juga bisa beli di bandara.



Last flight, adalah dari Amsterdam ke Berlin Tegel. Pramugari KLM dengan senyum mengucapkan, "good bye!" aku gak kalah sumringah ngebales "thcus!"

Keluar pintu pesawat, langsung disambut suhu 14 derajat celcius! What a summerrrrrrr!
Angin dan suhu udara dingin banget, baru kalo ada matahari kerasa lebih hangat tapi anginnya tetep dingin. What a killing weather. Pak Marco ama John bilang, emang beberapa minggu ini di Jerman 'agak' dingin, ramalan cuaca bilang beberapa hari kedepan sudah normal. Normalnya loh..20 derajat celcius. Sama aja bo'oong. Aku langsung bisa membayangkan gimana dinginnya hostel kami, dan teringat betul pas Bu Afifah nge email dan bilang kalo suhu di Flat bisa lebih dingin dari suhu di luar. Hiks! Mana baju yang aku bawa, ngga ada yang tebel.


Dari luar pintu kedatangan, kami udah bisa ngelihat bu Afifah dadah-dadah ditemenin Pak Marco, suami beliau. Menyusul, Anna Mrozek dan John dateng buat ngejemput kami, nganterin sampe stasiun dan cus ke Leipzig. Perjalanan dari Berlin ke Leipzig makan waktu 1,5 jam. Kereta di Jerman, bener-bener mengingatkan aku ama kereta di China. Terutama teknologi dan stasiun keretanya. Secara interior kereta, bagusan di Jerman. Tapi at least, mereka sudah sama-sama maju. Dan tarif nya pun, agak mahal. Berlin leipzig aja sekitar 23 Euro. Kalikan aja 13 ribu. Kalo di Indonesia, di AC-in aja banyak yg protes. Memang sih, perkembangan suatu negara ngga bisa stuktur atau substansi dulu, kulturnya juga penting. Di kereta juga, aku membiasakan diri untuk biasa aja ngeliatin anak-anak punk ngerokok dan minum bir di luar gerbong kereta, atau orang ciuman di depan mata, atau orang cuek baca koran baca buku di kereta, dan hal-hal lain yang ngga biasa di temui di Indonesia.


saking banyaknya toko, belanja juga bisa di stasiun. udah kayak mall bonus stasiun.

somewhere in Leipzig

Rabu, 10 Juli 2013

Kenapa bisa ke Jerman?

Mawar Pink di Leipzig. Saat summer, orang-orang lokal suka bercocok tanam. Bahkan, warna warni bunga lebih banyak dari pada daunnya.


"mbak bawa dikit, dibagi yah hehe.." mbak Rahma, pimred LPM ManifesT saat aku maba, membuka bungkusan coklat lezat. Dari Jerman. Aku sama Atika yg waktu itu nongkrong di Mfest, ngga sabar pengen ngelahap coklat khas eropa.

Mbak Icha, Direktur Utama FKPH saat aku semester 2, sempat 'perpisahan' pake makan-makan di bakso bakar pahlawan trip bersama semua bph fkph periode itu, dan maba ingusan yang dikasih amanah sebagai PJ [penanggung jawab] tiap bidang. Aku termasuk salah seorang PJ. Makan-makan gratisan itu dalam rangka perpisahan mbak Icha yang beberapa hari setelahnya terbang ke Jerman.


Mereka berdua, salah seorang peserta Joint Summer Programme tahun pertama.

Buah nota kesepakatan antara FH UB dan FH Univ Leipzig.
Dan memori singkat di atas, menjadi pengantar dalam doa yang tergumam singkat, yang kemudian aku tuliskan dalam kertas kecil di acara training lokal.
Semoga suatu saat aku juga bisa kesana.


***


Dugaan

"Sudah ku kira, pasti ada alasan kenapa tiba-tiba ngajakin ngobrol"
"mungkin pengen ada obrolan serius, tidak sekedar saling sapa"
"tapi untung itu semua segera aku netralkan sebelum dia mengutarakan maksud"

***

benarkah demikian?
benarkah dugaan-dugaan itu?
aku semakin merasa bersalah..
andai diam mu mampu menjawab.