Minggu, 12 Mei 2013

sepenggal ingatan



ia menerawang ke langit-langit kamar
terlihat matanya mulai berair
sesukar apapun ia menahan
dan aku canggung harus bersikap bagaimana
aku masih begitu muda
sesudahnya, kedua bola matanya menatap lurus
tepat di kertas yang berukuran tidak lebih dari 15x10 cm
yang tertempel di sisi lemari yang dengan jelas bisa selalu terlihat
baik saat sebelum tidur
dan ketika dibangunkan kembali olehNya dari lelap sesaat

"bagaimana pun juga," ujarnya
"tidak akan tergantikan."

nada penyesalan dan keikhlasan beradu lewat kata-kata yang ia keluarkan
menyimpan cerita yang tidak akan sanggup ia simpan sendiri
pada akhirnya waktu berjalan dan kepahaman mulai datang
ia pun berbagi
yang membuat pendengarnya pun turut tersakiti

setelahnya aku menggumamkan sepenggal keinginan dalam hati,
aku sungguh tidak ingin yang seperti itu terjadi

Senin, 06 Mei 2013

Aku mencintaimu, Nabawi

Satu kali shalat di masjidku ini lebih baik dari seribu shalat di masjid lain, kecuali Masjidil Haram - HR. Al-Bukhari dan Muslim

This part is about my very first impression of Nabawi.
The special one.

***

Setibanya kami di Madinah, malam itu juga, udztad Zainuri membimbing kami ke Nabawi. Tidak untuk shalat isya, karena jamaah sudah usai dan kami juga sudah isyaan di hotel. Melainkan karena satu alasan mahapenting: biar ngga nyasar. lho kenapa?

Kebanyakan dari peserta Umrah adalah kakek dan nenek yang sepengalamannya Udz. Zaenuri, di usia-usia seperti ini rawan hilang. atau bahasa gaulnya, nyasar. Jadi kami dibimbing betul, dari hotel jalan lewat mana, bla bla bla. tapi sebenernya tidak rumit, karena tinggal lurus aja, alhamdulillah hotel kami ngga jauh dari Nabawi. Aku yang dapat di kamar lantai 14, bisa dengan jelas melihat Nabawi dari kamar. Sontak aku bilang ke Ibu, "aku apal Mi, tenang aja kalo Ibu keluar-keluar mah ama aku aja"

"astaghfirullah, istighfar, ini di tanah haram!" kata Ibu tegas dengan raut muka takut dan khawatir.
aku langsung tutup mulut, istighfar sebanyak-banyaknya dalam hati dan berdoa agar ngga kemakan omongan sendiri. betapa kami harus menjaga sikap dan sekecil-kecilnya prasangka. demi tercapainya ibadah yang menenangkan jiwa.

***

Aku shalat di Nabawi Subuh keesokan harinya. Adzan dari Nabawi yang luar biasa merdu, terdengar hingga kamar. Kami sudah bersiap bahkan sebelum adzan pengingat pertama, adzan tahajjud. Kami bergegas satu jam sebelum subuh, mencoba mencari sisa-sisa sepertiga malamNya.

Ternyata, di dalam penuh sesak. Penuh puoool.. buseet ni orang-orang dateng jam berapaaa coba. Aku sama Ibu mencari tempat selempitan, pokoknya duduk dulu biar ngga dihardik laskar masjid. siapa itu laskar masjid? aku sama ibu menyebut mereka laskar -orang-orang yang mengatur shaf sholat dan memeriksa barang bawaan kami di pintu masuk. Some of them are so scary. Sukanya teriak-teriak dan agak kasar. well, tujuannya insyaAllah baik lah.

Aku dan Ibu dapet shaf disebelah orang Turki. Dengan mudah aku mengenali postur tubuh wanita Turki. Kalo muda, mereka cantik banget daaah suwer. Kulitnya putih, pipinya memerah kalo kena panas matahari, bibirnya merah, matanya besar, badannya langsing-langsung, dan ada kesan eropa. macam blesteran arab-eropa gitu. Lha kalo sudah sepuh, eh ngga jauh-jauh deh seumuran Ibuku aja atau mungkin takarannya adalah kalo mereka sudah punya anak seusia SMA, badannya jadi lebih besar. Ibuku menyebutnya kotak. Yang selanjutnya, Ibu kapok bener menyebut mereka dengan sebutan itu. hehe i'll tell this part later.

Aku, jujur, canggung banget menunaikan sholat pertama di Nabawi.
Ibu lebih luwes, karena beliau sudah haji.

Kami sholat tahiyatul masjid dahulu,
dan diikuti beberapa rakaat shalat tahajjud.

Setelahnya, kami berdua larut dalam keindahan Nabawi dan atmosfernya yang menenangkan. Sepertinya, semua orang menangis, semua orang memohon kepadaNya. Entah sambil duduk, maupun berdiri sambil bertasbih. Tiap jengkal kulit dan ruas tulang jamaah, senantiasa merindu Rasulnya, dan ridha Rabbnya. Setiap detik dari waktu para jamaah, hanya untuk beribadah.

Tangisan pertamaku di Nabawi mengoyak hati untuk selanjutnya bergumam,
aku jatuh cinta pada Masjid yang dibangun Rasulullah SAW ini.

Setelahnya, aku semakin memahami mengapa Nabawi begitu memesona.

Minggu, 05 Mei 2013

Monumen yang diwarnai sejarah dan tak kalah indah di Madinah

I heart this Mosque, so do its gradation of blue

Madinah memang kota indah bersejarah. Beruntungnya Madinah sebagai kota kecil yang di doakan Rasulullah SAW:
Rasulullah s.a.w pernah bersabda: Sesungguhnya Nabi Ibrahim a.s telah memuliakan yaitu mengharamkan Kota Mekah dan mendoakan keberkatan terhadap penduduknya. Maka sesungguhnya aku pun memuliakan yaitu mengharamkan Kota Madinah sebagaimana Nabi Ibrahim a.s telah memuliakan iaitu mengharamkan Kota Mekah. Dan sesungguhnya aku juga telah mendoakan keberkatan makanan di Kota Madinah, sebagaimana yang pernah didoakan oleh Nabi Ibrahim a.s kepada penduduk Mekah. (Hadis Abdullah bin Zaid bin Aasim r.a)
Kota yang mulia dengan kaumnya, kaum Muhajjirin, dan aku pribadi lebih suka dan nyaman tinggal di Madinah daripada Makkah. satu hal yang aku paling suka di Makkah adalah Masjidil Haram, selebihnya, Madinah is the best one!

Salah satu karuniaNya, adalah masjid-masjid indah di dekat Masjid Nabawi. Beberapa masjid masih difungsikan layaknya masjid pada umumnya. Beberapa juga tidak difungsikan. Hanya dijadikan sebagai monumen, sebagai saksi sejarah bahwa disitu Rasulullah SAW bersama sahabatnya pernah menunaikan shalat. Di Arab, banyak masjid yang tidak difungsikan atau hanya sekedar dijadikan monumen. Kalo di Indonesia, monumennya hampir selalu berupa tugu. Itu bedanya..

1. Masjid Ali Bin Abi Thalib
gagah
Sesuai namanya, Rasulullah SAW pernah menunaikan Shalat Ied bersama Ali bin Abi Thalib di tempat tersebut. lokasinya deket sekali sama Nabawi, kurang lebih 400 meter jalan kaki dari gang Ath-Thayyar. Mungkin juga, Beliau pernah beberapa kali mengimami shalat, sehingga didirikan monumen masjid ini.

terkunci rapat. entah di dalamnya ada apa..

Diantara masjid sahabat-sahabat Rasul, hanya masjid Ali bin Abi Thalib yang penuh coretan. rata-rata, ada tanda  " ❤ "  ditiap coretannya. Yaah, mungkin alsannya ngga jauh beda dengan mengapa di Jabal Rahmah menjadi lokasi yang diidam-idamkan bagi mereka yang menanti pasangan. Fathimah az-Zahra dan Ali bin Abi Thalib, yang keduanya menyimpan isi hati mereka rapat-rapat, penuh harap dan kekhawatiran, hanya memberitahukan rahasia hati mereka kepada Rabbnya. Dan pada akhirnya, Allah memperkenankan atas keduanya. 

Semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya, memberkati mereka berdua,  dan kiranya Allah meningkatkan kualitas keturunan mereka.  Menjadikan pembuka pintu-pintu rahmat, sumber ilmu, dan hikmah serta memberikan rasa aman bagi umat. (Doa Rasulullah pada pernikahan Fatimah Azzahra dengan Ali bin Abi Tholib)

do not try this at public mosque

2. Masjid Abu Bakar Ash-Shiddiq

kokoh
Sama halnya seperti masjid Ali bin Abi Thalib. Masjid ini didirikan karena Rasulullah SAW pernah menunaikan shalat bersama sahabat Beliau yang paling loyal. pintu masjid tertutup rapat, tidak dipagari. di muka pintu, banyak sekali tikar-tikar pengemis sekitar. coretan-coretan juga ternyata, mengihasi pintu masjid ini.

3. Masjid Quba
the pure Quba
adalah masjid yang pertama kali dibangun Rasulullah SAW ketika sampai di Madinah. Eksteriornya cantik, putih bersih, menyimpan misteri sejarah. Disempurnakan dengan pohon kurma yang rapi mengelilingi. Interiornya juga bersahaja namun sederhana. Lebih baik sebelum ke masjid Quba, juga masjid-masjid yang lain, berwudhu dulu di hotel dan dijaga wudhunya. Lokasi wudhu sangat sempit dan antrinya itu yang ngga nguati..

Sesungguhnya masjid itu yang didirikan atas dasar takwa (Masjid Quba) sejak hari pertama adalah lebih patut bagimu (Hai Muhammad) bersembahyang di dalamnya. Di dalamnya terdapat orang-orang yang ingin membersihkan diri - At Taubah, 108

bukan keluarga cemara :)

other pics!

Madinah di pagi hari. it was around 8 a.m.

beli apa aja adaaaa...

I forgot, whether it's Ali bin Abi Thalib Mosque from other point of view of Umar bin Khattab Mosque.

Masjid Mega Mendung. Konon dikenal oleh orang Indonesia sebagai mega mendung, karena waktu Rasulullah SAW mengimami shalat dan memberi khutbah, kaum muslimin sangat menginginkan keteduhan dan mendung. Rasulullah SAW pun berdoa kepada Allah dan saat itu juga, diperkenankan olehNya.



Rabu, 01 Mei 2013

Nice Welcoming from Madinah Al-Munawarah

greeting light from Madinah
aku pernah ngetwit yang kurang lebih bunyinya seperti ini:
jangan pernah meremehkan niat :')
sebagai respon kilat, atas ingatan yang tiba-tiba kembali pada beberapa bulan lalu di tahun 2012 yang aku sendiri lupa kapan persisnya. yang pada kala itu, aku bergumam dalam hati saja, berdoa dalam hati saja. Ya Allah, aku ingin ke tanah suci..
alhamdulillah, Allah Maha Mendengar.

keberangkatan yang seharusnya bulan Februari, jadi mundur tanggal 21 Maret, yang secara otomatis aku harus rela ngga kuliah (rela banget sebenernya haha). 2 minggu sebelum hari H, dikabari lagi sama ibu kalo keberangkatan mundur lagi, jadi tanggal 27 Maret dan balik tanah air diperkirakan tanggal 8 April. Dan ibadah akan makan waktu 12 hari. sedangkan, tanggal 1 - 12 April adalah minggu UTS.

means that...

***

Sempat risau, tapi sekali lagi ibu menyarankan aku mengikhlaskan dan urusan dunia ngga usah dipikirkan dahulu. Di postingan sebelumnya, aku juga udah cerita gimana aku menolak 2 peluang ke luar negri yang udah berdiri dadah-dadah di depan mata.

Ya sudah, ikhlas..

Resikonya adalah, aku harus menuntaskan tugas-tugas yang dikumpulkan sebelum UTS + paper JSP 2013. Bahkan malam sebelum keberangkatan, aku masih berkutat dengan UU Nomor 30 Tahun 1999 tentang Arbitrase dan APS plus bercengkrama dengan sahabat lama, sebut saja google translate yang sangat membantu dalam proses trranslating paper JSP ku. Aku ngetranslate per paragraf dan aku edit per kata. itu aja setelah aku pulang dari umrah, aku masih ngelihat banyak kesalahan grammar sana-sini. hem payah memang *sandaran tembok* tapi alhamdulillah, sahabat lama ku ini cukup berjasa. Aku dinyatakan qualified untuk ke Jerman dan mengikuti proses JSP 2013. I'll tell this thing in the next post.

Malam itu, 26 Maret dini hari aku akhiri dengan finishing packing dan berdoa, semoga perjalanan ini menjadi perjalanan yang berkah dan aku bisa pulang membawa makam ibrahim. Dan mengingat ini adalah perjalanan yang memerlukan transit, aku juga menyelipkan nasib koper dalam doaku. Ya, semoga koper ngga nyasar lagi ke Jepang atau ke negara lain.

***