Jumat, 15 Maret 2013

Untitled


Dengan menyebut namaNya, Yang Maha Pengasih, lagi Maha Penyayang

aku memulai postingan ini dengan mengutip salah satu puisi, dari buku yang aku baca selama kegiatan KKN di Akhir Januari - awal Februari 2013 lalu. Buku ini berjudul Dalam Dekapan Ukhuwah. Buku ini, seharusnya, menjadi buku wajib semua muslim. Agar mampu dan mau menundukkan hati walau sejenak, di sela-sela arogansi duniawi. Notifikasi yang sama juga berlaku untuk aku, tentu saja.

Judul puisi ini,

Pernah Ada Masa-Masa.

pernah ada masa-masa dalam cinta kita
kita lekat bagai api dan kayu
bersama menyala, saling menghangatkan rasanya
hingga terlambat untuk menginsyafi bahwa
tak tersisa dari diri-diri selain debu dan abu

pernah ada waktu-waktu dalam ukhuwah ini
kita terlalu akrab bagai awan dan hujan
merasa menghias langit, menyuburkan bumi, dan melukis pelangi
namun tak sadar, hakikatnya kita saling meniadai

di satu titik lalu sejenak kita berhenti, menyadari
mungkin hati kita telah terkecualikan dari ikatan di atas iman
bahkan saling nasehat pun tak lain bagai dua lilin
saling mencahayai, tapi masing-masing habis dimakan api

kini saatnya kembali pada iman yang menerangi hati
pada amal shalih yang menjulang bercabang-cabang
pada akhlak yang manis, lembut, dan wangi
hingga ukhuwah kita menggabungkan huruf-huruf menjadi kata
yang dengannya kebenaran terbaca dan bercahaya

Dalam Dekapan Ukhuwah..

ketika dalam satu titik, tidak ada lagi yang perlu diterangkan, dijelaskan,
ketika gumpalan darah ini tidak lagi mampu menggerakkan raga untuk sekedar berbicara,
dan jika mungkin akan ada satu masa, ada hati yang merasa kehilangan,

dengarkan sebuah keinginan,
ikhlaskan lah hatimu dan tundukkan lah sejenak,
untuk kiranya sudi memaafkan jiwa yang rapuh.

Minggu, 03 Maret 2013

Cinta yang Di Atas Segala-galanya, Semoga.

insya Allah, soon.

"itu jenenge godaan. tinggal sampean ikhlas opo gak?" Ibu mengawali balasan bbm ku sore ini.
"mulo bismillah nduk.." lanjut beliau,
"niatkan untuk urusan ibadah, kita tinggal kabeh urusan dunia yg gak ada habisnya, akan diberikan lagi gantinya yang insya Allah lebih baik"

di akhir bbm beliau menutup dengan kata aamiin 3x, aku pun demikian.

BBM Ibu adalah respon atas berita yang aku sampaikan sore ini,
yang aku sendiri tidak tahu apakah ini berita menggembirakan atau sebaliknya.

Paper yang aku kirim beberapa hari lalu, well, sebenarnya aku tidak sendiri. seorang temannya teman, beserta satu temannya yang lain, mengajak ku untuk bikin paper. in English. tema dan sudut pandangnya, adalah dari perspektif ilmu studi mereka, jadi aku yang belajar pasal-pasal ini hanya mengikuti alur berfikirnya saja. aku membantu membetulkan pemilihan kata pada abstrak yang akan di seleksi, dengan segala keterbatasan kemampuan tentu saja.

sore ini, BB mati setelah seharian digunakan ngontak sana sini selama nemenin adek-adek maba lomba PKM MaBa. Begitu sampe kos, aliran energi kembali aku berikan ke benda hitam yg baru berusia setahun itu. tiba-tiba ada email masuk, dari Dr. Zia Haqq. siapa coba? aku pikir orang iseng. setelah aku buka, isinya dalam bahasa inggris. aku membaca sekenanya dan terus ngescrool ke bawah. hingga aku menemukan keywords berupa: Bangkok, research, international conference.

Subhanallah, aku sampe lupa kalo aku diikutkan ke seleksi internasional ini.

ngga lama, temanku itu sms. paper (Thailand) has been accepted. ujarnya. aku dengan bahagia juga membalas dengan hamdalah. Setelah aku baca email dengan seksama, ada sebuah ganjalan. Konferensi akan diadakan 1-2 April yang tentu saja, aku insya Allah belum pulang dari perjalanan-yang-aku-idamkan. aku sudah bisa dipastikan ngga akan berangkat ke Thailand. padahal kalo bakal kesana, dulu aku sudah merencanakan untuk backpackeran beberapa hari setelah conference plus ke phi-phi island, tempat syuting film The Beach yg terkenal luar cantik (ini jangan ditiru ya..). Juga, aku ngga enak sama kedua orang temanku, yang besar kemungkinan hanya akan berangkat berdua saja. duh aduh dipersorry ya..

aku pada awalnya memang menyayangkan, tapi tentu saja aku lebih memberatkan perjalanan-yang-aku-idamkan itu. dan disela-sela texting with friend, aku teringat bahwa, minggu lalu aku sempat menolak tawaran seorang teman yang menawariku acara Kemenlu di Santiago, Chili acara diskusi ttg keagamaan (aku lupa tema pastinya) di pertengahan maret. Akomodasi ditanggung, hotel makan terjamin. Problemnya adalah tiket pesawat ditanggung pemenang. Setelah aku searching, tiket PP seharga 30an jutaan sodara-sodari.. langsung aku cancel. alasan terbesar adalah tanggal terlalu mepet dengan keberangkatan perjalanan-yang-aku-idamkan , aku yg memilih utk stay di amanah di fakultas, dan alasan yg paling rasional adalah duitnya yang ngga ada. walaupun sebenarnya bisa aku proses di dekanat atau rektorat dan aku yakin pasti dikasih. ini awal tahun gitu ya, temanku yang MUN di Havard aja dikasih 173 juta. Acara ini juga tidak diseleksi, melainkan siapa saja mereka yang siap secara bahasa, substansi, serta finansial. Makanya sifatnya lebih ke rekomendasi.

Dan beberapa hari lalu, Ibu ngeBBM kalo tanggal keberangkatan kami diundur. But well, it's okay. sama sekali ngga ada penyesalan.

Tapi kalau diingat-ingat lagi, aku benar-benar menolak 2 tawaran ke Luar Negeri yang sudah jelas-jelas di depan mata. ini jarang lho. juarang buanget malah, setidaknya untuk anak macam aku yang ngga terlalu pintar  mengambil kesempatan abroad. Tahun 2012 menjadi tahun dimana aku menargetkan diri untuk ke luar negeri. terseok-seok nyari event di LN yang gratis dan yg levelnya ngga tinggi-tinggi amat. akhinya toh aku memutuskan untuk ikut internship nya AIESEC yang diluar dari perkiraan.

I mean, huah..
sejujurnya sama sekali tidak ada penyesalan menolak 2 kesempatan ganteng di awal tahun untuk sesuatu yang bagiku amat worthy. Benar kata Ibu, bahwa selalu ada kesempatan bagi kita untuk memilih, urusan dunia kah atau kebahagiaan akhirat yang diinginkan, yang nantinya juga menjadi tujuan hidup. Aku juga teringat ketika kehilangan koper di negeri antah berantah bernama China selama 10 hari, dan beberapa saat ketika masih berputar-putar di atas kota Hangzhou, aku membaca buku yang sedang membicarakan tentang keikhlasan. Tentang seberapa cinta kita kepadaNya, apabila dibandingkan dengan hal-hal dunia yang kita miliki yang sebenarnya, hanya sekedar titipan yang sama sekali tidak permanen. Kehilangan pakaian dan makanan yang aku simpan di koper, di negeri antah berantah dengan muslim minoritas, aku yang berjilbab, dan sendirian.  Kala itu, aku benar-benar praktik empiris. mahal memang, but it's deeply worth it.

tapi mungkin Yang Maha Kuasa memang ingin kembali memberikan kejutan yang tentu saja, tidak ada sehelaipun dari kita yang tahu. Hanya keterbatasan nurani untuk menerka-nerka.

Lagipula, perjalanan akhir Maret nanti insya Allah akan menjadi perjalanan yang paling jauh mil-nya, setidaknya dalam kurun waktu 20 tahun aku di bumiNya ini. Aku sebenarnya diminta untuk berangkat sendiri saja, dan aku tentu saja mengiyakan. Tapi toh pada akhirnya, karena beberapa hal yang menjadi pertimbangan, Ibu dan Ayah turut serta. Seorang rekan dekat Ibu yang diberi amanah untuk mengintip sesuatu dimasa depan, menitipkan beberapa pesan. Yakin ku dan memang harusnya begitu, adalah hanya Allah sebaik-baiknya pelindung dan penolong. Ini asas kuat #jilbabteaveler nih.

Dan juga, tidak ada satupun dari kita yang tahu, apa yang akan terjadi. Bahkan dalam jangka waktu satu detik ke depan. Harapan pasti, semoga aku kembali dgn membawa "makam Ibrahim" di dada (mengutip kata Komaruddin Hidayat dalam bukunya yg berjudul Psikologi Kematian), yaitu prestasi spiritual dan iman untuk mencintai Allah di atas segala-galanya.

Ilaahy anta maqshudy wa ridhaaka mathluby - Ya Allah, hanya Engkau yang menjadi tujuan akhir perjalanan hidup kami, dan hanya ridhaMu yang menjadi dambaan kami