Sabtu, 09 Februari 2013

Ar-Rahmah


Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. - Ali Imran 103

Pekan PPM (kala itu) sudah memasuki hari ke 20. Kurang sehari lagi aku menghabiskan waktu bersama 32 orang dengan karakter yang luar biasa beragam dan berbeda, dan di lingkungan perdesaan yang setengah hati (aku bilang setengah hati karena lokasi ku tidak se asri konotasi desa yang aku bayangkan)

Aku teringat kembali, tepat di hari keempat di posko, aku jenuh teramat sangat. Penyebabnya karena aku ngga bisa lepas jilbab, temen-temen cowok keluar masuk kamar sesuka hati which is, bagiku begitu mengganggu. Bagaimanapun juga, berjilbab maupun engga, wanita itu butuh privasi. Apalagi untuk aku yg berjilbab, yang aku pikir, malam hari itu cukup ideal dan waktu yg umum untuk bertindak lebih polite. ditambah lagi dengan asap rokok yang berlebihan sampe masuk kamar. Pusing jadinya.

Tapi syukurlah, setelahnya, ada kesepakatan bersama untuk bertindak lebih baik.

Dan betapa beruntungnya, aku tinggal di desa yang nuansa Islaminya cukup terasa. Mayoritas penduduknya adalah muslim, entah muslim KTP atau muslim tenanan. Entah islami yg aku rasakan hanya permukaan atau lebih-lebih terlah terserap dalam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Tapi mushola dan amsjid begitu dekat. Paling dekat dengan kontrakan ya mushola.

Namanya mushola Ar-Rahmah,

Aku sering menghabiskan waktu disana, setidaknya untuk sholat saja , ngaji, ngelamun, lebih-lebih cerita” sama atika. Disana sejuk dan bikin betah. Musholanya ada hijab antara yg akhwat dan ikhwan, oke juga lah. Walaupun sebenarnya jamaahnya tidak terlalu banyak, mungkin mayoritas penduduk lebih memilih sholat di rumah atau di masjid. Sampai-sampai di akhir acara, waktu tumpengan, mbah Toyib, berucap: “salah satu hal yang membuat saya bersyukur atas kehadiran adik-adik disini adalah bertambahnya jamaah,”

Seorang mantan ketua RW 1 yang juga tinggal tepat di samping mushola. Hampir selalu dalam sholat berjamaah di mushola (subuh, maghrib, dan isya) beliau menjadi imam. Kadang muadzin. Beliau juga cukup update hal-hal dan istilah berbau hukum, sehingga cukup mengapresiasi beberapa kegiatan penyuluhan hukum dan pengajaran yang kami lakukan.

Walau lebih sepuh, tidak ada kesan menggurui sama sekali. Tatapan ramah selalu ditujukan kepada kami. Aku pun terkesan, termasuk ketika beliau memergoki aku yang sering menghabiskan 30 setelah sholat di fardhu mushola.

Ada seorang teman yg lebih terkesan, dia lebih dekat dengan orang sepuh-sepuh di sekitar kontrakan. Sehingga, ketika memasuki hari-hari terakhir di desa, dia sempat cerita kesedihannya kalau ngelihat mbah Toyib.

“sedih rasanya kalau ngelihat beliau,” mukanya datar, “ngga tau kenapa, mungkin karena abis gini pisah.

Aneh rasanya, temanku ini orang yg jenaka walau lebih pendiam dari teman-teman cowok yg lain. Kata-katanya tak terduga, rajin, dan seorang yg mau bekerja dan bertanggung jawab atas apa yg diamanahkan, ia juga cukup menghormati wanita dengan berani menegur dan menanyakan alasan teman” yg melepas jilbab. Aneh, ketika ia bisa se-mellow ini.
Temanku ini, juga cukup rutin berjamaah dan sholat fardhu di mushola. Well, mengingat kontrakan kami memang sangat tidak memungkinkan untuk ditempati sholat. Terlalu banyak barang dan orang.

Puncaknya, adalah tanggal 21 Subuh.

Sebelumnya, aku meminta dibangunkan oleh kedua temanku di waktu subuh, untuk sholat subuh berjamaah di Ar-Rahmah. Mayoritas subuh-subuh sebelumnya, aku hanya sholat di kamar. Telat berjamaah. Mohon untuk tidak ditiru.

Aku, seperti biasa, membawa Mushaf ke mushola. Karena siangnya, aku sudah balik ke kota, dan aku ngga ingin menyia-nyiakan sisa waktu untuk mengaji disana.

Setelah berjamaah, seperti biasa pula, aku baru akan memulai mengaji ketika sudah ngga ada jamaah laki-laki. Kebetulan tiba-tiba mbah Toyib melintas shaf wanita dan kami saling sapa. Aku menghampiri, menyalami beliau tanpa bersentuhan. Sembari berucap beberapa kata, untuk berpamitan.

Beliau kagok. Aku juga kagok. Matanya juga berkaca-kaca. Aku menahan.

Disela-sela ngobrol, temanku, yang selesai menuntaskan dzikir subuhnya, menghampiri kami. Mencoba terlibat dalam obrolan. Ia menyalami mbah Yib terlebih dahulu. Mbah Yib melanjutkan wejangan beliau untuk kami berdua.

Kata maaf dan terima kasih banyak dilontarkan, baik oleh aku, temanku, maupun Mbah Yib.

Mbah Yib lalu mengusap matanya. Mulai menangis, sepertinya.
Temanku, juga tidak dapat membendung kesedihan yang sudah di tahan lebih dari 3 hari yang lalu. Ia juga menangis, mencopot kacamatanya dan meminta maaf ke mbah. Mbah yg menyadari perubahan sikap temanku, langsung mempersilahkan kami berdua untuk lanjut beribadah. Beliau pamitan. Mungkin beliau pun tidak ingin terlibat lebih jauh dalam kesenduan.

Ditinggal keluar masjid oleh Mbah Yib, temanku pun terduduk. Kacamatanya ia letakkan diatas kotak amal, ia duduk disampingnya. Bersandar di jendela luar mushola, di dalam barisan paling belakang shaf laki-laki. Aku akhirnya memilih untuk mengaji sejenak, dengan suara yg jauh lebih pelan dari biasanya.

Sesekali isaknya terdengar.

Aku mendendangkan Ar-Rahman dan beberapa ayat Al An’am. Tapi temanku belum juga beranjak dan tetap terisak.

Sekali lagi, sungguh lucu rasanya. Walau terasa sangat mengharukan.
Ia menyelesaikan tangisannya lebih cepat daripada bacaanku. Aku mendengar derap langkah pelan keluar mushola dan menutup pintu dengan perlahan. Aku tenang, artinya aku bisa kembali ngaji. Dan aku memang, lebih suka sendirian disana atau ditemani teman sesama cewek saja.

Selang beberapa menit, aku keluar mushola dan mendapati ia masih diluar. Ia memberi isyarat lampu luar mushola tolong dimatikan. Well, memang sepertinya ia lebih tau mushola ini luar dalam. Bahkan ia hafal kapan Mbah Yib keluar rumah dan kembali, dan teknis-teknis mushola lainnya.

Aku menggoda, “kenapa mbah Yib ngga dipeluk aja sekalian? Pelukan perpisahan gitu,”
Ia menjawab sambil bermuka dan bersuara datar, “nanti girimoyo banjir.”

-____________-“
#sekian!


Untung di siang harinya, temanku udah pulang duluan dan ngga ngelihat mbah Ngadiran (pemilik kontrakan) nangis tersedu-sedu. Untung juga aku udah pulang duluan. Well, kerugiannya memang kita kehilangan moment. Tapi mungkin lebih baik seperti itu, agar hati kita terjaga dari kesedihan yang berlebihan. Allah tidak menyukai hal-hal yang berlebihan, bukan? :)

acara tumpengan, perpisahan resmi dengan perangkat RT dan mbah Yib

Tidak ada komentar:

Posting Komentar