Minggu, 10 Februari 2013

Aku Berbicara tentang Naluri


“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka memiliki hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau memiliki telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” - Al Hajj ayat 46

Aku tidak tahu pasti, jiwa ini aku warisi dari siapa. Ayahku kah? Ibu ku kah? Keluarga ku yang lain kah?

Ibuku sejak kecil menunjukkan tipe-tipe orang rumahan. Ngga suka berpergian, ngga suka organisasi, sukanya masak. Sekarang, juga ngga jauh beda. Bagi ibuku, berpergian melihat ke dunia luar bukan hal yang esensial. Rasa ingin tahu ibuku sudah terjawab dengan satu benda kotak bernama televisi. Apalagi, sejak pertengahan 2009 di rumah mulai memakai layanan indovision, which is, segala jenis film, natgeo, dan segala gosip ada didalamnya cukup dengan menekan beberapa tombol.

Ayahku, yaa mungkin ada beberapa hal yang aku warisi. Beliau cerdas, fleksibel, paham kapan mengambil celah, penuh pertimbangan, aktivis sejati di masa mudanya, demokratis, terkadang cenderung politis (mungkin terbawa organisasi ekstra-nya semasa kuliah dan aktivitas salah satu parpol yg pernah digeluti), dan berani. Beliau memang sering berpergian, tetapi kebanyakan karena tuntutan profesi.

Sedangkan aku?

Otakku liar dengan gagasan ingin kesana dan kemari, ingin mewujudkan ini itu disana dan disini. naluriku bergejolak ketika aku melihat hamparan gunung hijau untuk di daki (walau gunung yg aku daki sejauh ini hanya Bromo. Itupun ngga terhitung mendaki, tapi MANJAT), permainan ekstrim, olahraga ekstrim, apalagi liat pantai dengan ombaknya yang menderu-deru.

Aku merasa, setiap menempuh perjalanan terlebih lagi apabila bertemu alam, membuatku menjadi sepenuhnya aku.

Well, terdengar rada alay dan menjijikkan ya. Tapi memang begitu adanya. Karakterku terbina dari orang tua, yang banyak juga dipengaruhi oleh lingkungan. Artinya, aku, dapat dikatakan, lebih banyak tumbuh dari pengalaman di luar rumah. Aku cenderung tidak akan banyak bercerita tentang masalah-masalah yg aku hadapi kepada ortu. Ngga kayak anak-anak cewek kebanyakan. Aku memilih untuk mencari jalan keluarnya sendiri, semampuku, dari luar. Dari pengalaman, dari jalan, dari alam.

Sehingga, aku akan selalu mencari celah untuk memenuhi keinginan itu. menerobos izin dari ortu, mencari sisa-sisa waktu dari hiruk pikuk dunia kampus, dan menabung.

Beberapa orang, mencemooh, mencibir. Tindakanku hanya hura-hura.
Tindakanku, tidak lebih dari untaian nafsu duniawi semata.

Benarkah? Tentu saja aku akan membela diri. Tapi toh, sesungguhnya aku tidak terlalu peduli.

Yang menjalani itu semua, tidak lain tentu saja aku. Berbagai faedah dan resiko yang datang, juga aku sendiri yang menikmati. Apabila bermanfaat, insyaAllah akan aku bagikan kepada mereka yang mau ku bagi.

Perjalanan, bagiku, sesingkat dan seberapapun jaraknya, tetaplah perjalanan. Dan dalam perjalanan, aku selalu menemukan kedekatan tersendiri dengan Nya, waktu yang lebih untuk bercakap-cakap dengan diri dan bermuhasabah.

Semacam sebuah pengembaraan untuk mengenali dimensi batin diri. Bagiku, merugilah seseorang dengan predikat dan karya yang luar biasa, mampu menjelajah kemana-mana, tapi begitu singkat dalam menyelami batin. Padahal sesungguhnya, perjalanan secara fisik, juga menjadi asupan gizi untuk menyertakan spirit baru dalam relung jiwa.

Sungguh beda halnya ketika aku disibukkan dengan urusan dunia. Walaupun, selalu beribadah disela-sela waktunya, keintiman aku rasakan paling besar ketika aku menempuh perjalanan dan/atau berada di daerah lain , di luar domisili.

Mungkin ini yang namanya berhijrah ya?

Entahlah. Rasulullah pun banyak berhijrah bukan? Membaca buku Psikologi Kematiannya Komaruddin Hidayat, beliau mengartikan kata Hijrah sebagai proses metamorfosis untuk meraih kualitas hidup lebih tinggi. Dan berbagai proses perjalanan hidup, jatuh berlari tertawa dan lain sebagainya, membuat aku mengiyakan bahwa memang hijrah berlangsung setiap saat. Hijrah dari yang belum berjilbab ke berjilbab, dan lain-lain.

Hanya saja memang peristiwa hijrah yang paling kentara adalah hijrahnya Rasulullah ke Yastrib (Madinah) yang didampingi oleh para Sahabatnya. Beliau juga kembali menulis, bahwa setiap peristiwa hijrah menjanjikan kemenangan asalkan tulus dan ikhlas menjalaninya.

Asalkan lilahita’ala.

Dan naluriku inipun, sebisa mungkin dan semoga selalu istiqomah, lilahita’ala. Karena bagiku, setiap perjalanan adalah yang seharusnya mendekatkan kita kepadaNya.

1 komentar: