Minggu, 24 Februari 2013

The Unforgettable Sichuan

a corner in Jinli

Berkesempatan mampir ke 4 provinsi di China, ZheJiang - Chengdu - Yunan - Guangzhou , membuat aku bisa mengkomparasikan ke empat provinsi tersebut dan melihat garis besar budaya China. Diantara keempatnya, aku sepertinya jatuh cinta dengan Chengdu, yang apabila dilafalkan bunyinya cheng tu.

Saat aku berkunjung kesana, bertepatan dengan musim panas, summer, yang mana jelas sangat panas dan matahari sedang terik-teriknya. tapi kondisi alami itu seolah ngga berlaku di Ibukota Chengdu, Sichuan dan kota kecil tempat summer camp pertama diadakan, Dujangyan.

Tata letak kota Chengdu mungkin tidak seindah Hangzhou, tidak se ramai Guangzhou. tapi  Chengdu menawarkan beragam atraksi lokal yang aku suka, Chengdu yang termasuk provinsi dekat perbatasan dengan kultur beragam dan penduduknya sangat ramah. Kawasan Chengdu East relatif lebih sepi daripada Chengdu di pusat kota, namun apartemen-apartemen yang berjajar menjulang tidak bisa tanggal karena memang apartemen adalah hunian yang paling murah. Di Chengdu juga hewan lucu imut gendut yahud dilestarikan: Panda. Waktu yang tepat buat lihat panda di lokasi riset panda terbesar sebenernya bukan Summer. Winter atau autumn kayaknya paling bagus, soalnya Panda ini ngga tahan panas, jadi kalo summer dia di kerangkeng. Ngga asik kan ngga bisa lihat dia megal megol di kandang tanpa teralis dan kaca.

(sepertinya) dibaca Jinli
Pedestrian Street juga sering aku temukan di Sichuan, yakni jalan (well, semacam kawasan lah) yang punya nilai sejarah dan dijadikan travel spot yang punya nilai ekonomis tinggi. ngga hanya bisa shopping tapi juga menawarkan keunikan lain, misalnya rumah-rumah adat yang dilestarikan, makanan khas Sichuan, dll. Setidaknya sudah dua aku menemukan kawasan semacam ini, satu di Dujangyan yakni di Gate Besar tempat aku nemu sushi di China (postingan sebelumnya) dan di pusat kota Chengdu. Walau tidak tahu persis bagaimana sejarah dari pedestrian street macam itu, anak aiesec pun ngga ada yang bisa menjelaskan karena mereka bukan orang lokal sedangkan kalo nanya orang lokal ngga bakal nyambung, akhirnya aku mencoba searching di Google dan menemukannya di Trip Advisor. Nama pedestrian street di Chengdu yang aku maksud ini adalah Jinli. Sejarah dan overviewnya, bisa dilihat disini.

Koko botak si Pelukis
gantungan kunci yang macam gini biasanya agak mahal. diatas 20  RMB
gulali china

suasana Jinli

a nice shop!
Another souvenir shop

cece jutek penyewa gaun khas china, bisa foto on the spot
Panda! salah satu souvenir shop yg menyediakan all about panda, tapi harganya mahhaaal
Masuk ke tempat semacam Jinli ini memang menggoda untuk membeli souvenir dan makanan, silahkan saja kalau memang punya duit heheh tapi harga juga tidak mahal, relatif saja namun lebih baik ngga menawar karena pada dasarnya tempat ini bukan pasar dan harga yang dipasangpun sudah fixed price. Salah satu hal yang menyenangkan di Jinli adalah ada yang jualan pasmina hehe! Kalaupun ngga membeli, menikmati suasana pedestrian sudah sangat mengenyangkan. Untuk lokal foodnya, no comment deh. Lidahku ngga pernah bisa akrab dengan makanan di Chengdu, entah kenapa. di Jinli aku sempat membeli makanan yang banyak di beli wisatawan lokal, mereka pun makan dengan sangat lahap. ketika aku nanya materialnya apa, ternyata dari bebek, tofu, mie, dll. aku pikir bakalan enak, bebek gitu ya. Harganya juga cuma 5 RMB. Detik selanjutnya, makanan yang aku beli berakhir di tong sampah. Sedangkan si Anisa, EP lain dari Indonesia, lebih beruntung karena bakmi yang dia beli rasanya lebih lezat. Shinta, juga beruntung. dia beli belut dan ikan-ikan bakar yang juga enak. aku aja yang ngga hoki nih.

is it delicious?
trust me, it's not as delicious as it seems. even you have to ask ur self first, is it delicious?

kalo ini sih enak
semacam ketan, seharga 10 RMB. ngga tau rasanya gimana, aku memilih untuk menghemat duit kala itu.
Salah satu yang menarik di Chengdu adalah kesenian khas ganti wajah dengan cepat, haduh agak susah juga menyebut istilahnya dalam bahasa china. lebih enak sebut aja, changing faces. Pertunjukan ini biasanya teatrikal, ada cerita dan iringan musik. Mereka, si face changer, bisa mengganti raut muka dan make up wajah dengan cepat hanya dengan melintaskan 5 telapak tangan di depan muka. slap!

penjaga changing faces show. ngeri bung

menyeringai -____-
Pertunjukan ini juga ada di Jinli, entah bayarnya berapa, karena di tunggu rombongan aku ngga sempet lihat deh. Gini nih ga enaknya kalo traveling ama rombongan. FYI, di sebrang Jinli ada ATM yang bisa tarik tunai pake ATM Mandiri lho! hehe

Switch to Dujangyan, salah satu kota kecil di Provinsi Sichuan yang juga menawarkan keramahan penduduk lokal, atmosfer alam yang sangat sejuk, dan suasana yang belum terlalu ramai oleh kebisingan kendaraan. Sekalipun jalan raya lebar-lebar (sekalipun jalan di desa) kendaraannya ngga terlalu banyak. sampe kewalahan sendiri kalo mau nyebrang, karena harus berlari dan cepet-cepetan dengan rentang waktu untuk menyeberang.

Letak Dujangyan ada di dataran tinggi, sehingga banyak bisa dilihat bukit-bukit dan arus sungai yang masih mengalir deras. Ada air terjun yang indah (kata salah satu EP ganteng dari Hungaria. aku ngga ikutan naik, ngga kuat -___-) setelah melewati pedestrian street macam Jinli. tapi namanya air terjun ya gitu-gitu aja kali ya. Indonesia punya banyak, jadi sekalipun aku ngga ke waterfall indah kata si bule-bule itu, ngga nyesel juga sih.

Atraksi lokal lainnya ada di sore hari. cari aja spot-spot umum yang minimal luasnya bisa untuk 50 orang joget-joget, dan bisa dipastikan banyak pasutri lansia yang menikmati dansa sore hari. lucu aja liatnya, mereka berdansa diiringi lagu china yang menurutku, jauh dari lagu anak gaul china (sekalipun aku ngga ngerti lagu gaul di china terdengar seperti apa), plus keramahannya itu lho! dengan ramahnya mereka bakal ngajak orang asing yang lewat untuk ikutan dansa, sekalipun saya berjilbab. Ngga biasanya aku menemukan penduduk yang ngga asing dengan orang berjilbab di China.

see the view behind! btw ini masih dalam suasana kehilangan koper.
Dan cuman di Chengdu, pengendara bermotornya kreatif banget. Motor di China, yang kebanyakan matic, memang sengaja di pakai untuk ngga kebut-kebutan dan berkendara pelan. Nah, di China ngga ada tuh yang pake helm. sebagai gantinya, kalo mereka kepanasan dan ogah pake topi, pengendara bermotornya pake payung dong. Yang kadang di sambung tepat di bawah setir motornya (antara setir motor dan tempat duduk pengendara) atau di samping dekat spion, atau malah di belakang sadel yang biasanya untuk pengendara belakang. Payungnya bisa single atau double. Yang aku maksud double ini adalah payung yang bisa dipake untuk dua orang sekaligus. Bukan payung super besar, dan juga bukan berarti mereka memasang 2 payung di motornya.

Payung double yang aku maksud adalah, payung panjang. Cuma di China.

kreatif ya ~

Ah, suatu saat harus balik ke Sichuan!

The corner of city
regards!

Jumat, 22 Februari 2013

One of my best traveling ever: Bromo Trip.


#jilbabtraveler goes to Bromo

aku bukan pendaki yang baik.
aku ga doyan trekking, alasannya klasik: ga kuat.
hampir di setiap trek, aku selalu berada di posisi paling belakang.

di cuban talun, trek pendek ke air terjun (FYI, memang cukup curam dan licin) aku dan atika berada di posisi paling belakang. sedangkan 4 orang temanku, irham, surya, dina, sista udah mendahului jauuh di depan.

di china, waktu yang lain pada semangat mendaki ke bukit untuk liat waterfall yang katanya super cantik dan dingin, aku sama anisa (another Indonesian) milih buat putar balik. alasan pertama, aku perlu fokus nelpon air asia china untuk mengkonfirmasi koper yang sempet ilang, alasan kedua, apalagi kalo bukan..ngga kuat ndaki.

di bandung, waktu main jalan-jalan ke gua belanda, gua jepang, dan tangkuban perahu. Dina, Sista, Arum udah jalan duluan. aku milih dibelakang dengan dalih ingin jalan santai. pret.

dan, di Bromo.
terhitung sudah 2 kali ini aku mampir ke vulcano cantik yang dekat dengan Malang, Probolinggo, dan Lumajang. bromo ngga begitu tinggi, tingginya hanya sekitar 2300an meter. Menggapai Bromo ngga terhitung sulit, karna Bromo ini salah satu travel spot mainstream yang ada di Jawa Timur. Selalu ada dalam brosur Visit East Java dengan view gunung Bromo, Batok, dan awan-awan yang menyelimuti. Kalau mau naik motor dari arah Malang, lewat pananjakan aja. Ideal buat lihat sunrise, karna rute Pananjakan akan membawa pengunjung langsung ke bukit sebrang Bromo, which is tempat ideal buat sunrise hunter. Dan memang di bukit Pananjakan ini lah yang ideal buat lihat sunrise. Ngga sulit kok, hanya saja melewati hutan dan beberapa bukit yang ngga ada penerangannya. kanan kiri jurang, gelap banget. jadi harus hati-hati. ideal buat pengendara motor, kalo pada pake mobil, nanti sebelum arah bukit pananjakan bakal ada information centre yang menyewakan jeep. mobil harus stay disitu, dan hanya jeep yang diperbolehkan menapak jalanan pananjakan.

Opsi lain, lewat jalan umum, jalan besar ke probolinggo arah bromo. Jalan ini mudah dan umum, ngga ada tanjakan-tanjakan curam. Mobil juga mudah lewat sini. tapi untuk dapet sunrise point yang keren, memang lebih baik di pananjakan.

Opsi lain kalo ngga bawa kendaraan pribadi, bisa ngebis aja dari arjosari ke terminal probolinggo. trus nanya-nanya deh bis mana yang bisa arah ke bromo. kurang lebih gitu kali ya, aku juga belom pernah nyoba jalur kendaraan umum.

Minggu, 10 Februari 2013

Aku Berbicara tentang Naluri


“Maka apakah mereka tidak berjalan di muka bumi, lalu mereka memiliki hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau memiliki telinga yang dengan itu mereka dapat mendengar? Karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada.” - Al Hajj ayat 46

Aku tidak tahu pasti, jiwa ini aku warisi dari siapa. Ayahku kah? Ibu ku kah? Keluarga ku yang lain kah?

Ibuku sejak kecil menunjukkan tipe-tipe orang rumahan. Ngga suka berpergian, ngga suka organisasi, sukanya masak. Sekarang, juga ngga jauh beda. Bagi ibuku, berpergian melihat ke dunia luar bukan hal yang esensial. Rasa ingin tahu ibuku sudah terjawab dengan satu benda kotak bernama televisi. Apalagi, sejak pertengahan 2009 di rumah mulai memakai layanan indovision, which is, segala jenis film, natgeo, dan segala gosip ada didalamnya cukup dengan menekan beberapa tombol.

Ayahku, yaa mungkin ada beberapa hal yang aku warisi. Beliau cerdas, fleksibel, paham kapan mengambil celah, penuh pertimbangan, aktivis sejati di masa mudanya, demokratis, terkadang cenderung politis (mungkin terbawa organisasi ekstra-nya semasa kuliah dan aktivitas salah satu parpol yg pernah digeluti), dan berani. Beliau memang sering berpergian, tetapi kebanyakan karena tuntutan profesi.

Sedangkan aku?

Sabtu, 09 Februari 2013

Ar-Rahmah


Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk. - Ali Imran 103

Pekan PPM (kala itu) sudah memasuki hari ke 20. Kurang sehari lagi aku menghabiskan waktu bersama 32 orang dengan karakter yang luar biasa beragam dan berbeda, dan di lingkungan perdesaan yang setengah hati (aku bilang setengah hati karena lokasi ku tidak se asri konotasi desa yang aku bayangkan)

Aku teringat kembali, tepat di hari keempat di posko, aku jenuh teramat sangat. Penyebabnya karena aku ngga bisa lepas jilbab, temen-temen cowok keluar masuk kamar sesuka hati which is, bagiku begitu mengganggu. Bagaimanapun juga, berjilbab maupun engga, wanita itu butuh privasi. Apalagi untuk aku yg berjilbab, yang aku pikir, malam hari itu cukup ideal dan waktu yg umum untuk bertindak lebih polite. ditambah lagi dengan asap rokok yang berlebihan sampe masuk kamar. Pusing jadinya.

Tapi syukurlah, setelahnya, ada kesepakatan bersama untuk bertindak lebih baik.

Dan betapa beruntungnya, aku tinggal di desa yang nuansa Islaminya cukup terasa. Mayoritas penduduknya adalah muslim, entah muslim KTP atau muslim tenanan. Entah islami yg aku rasakan hanya permukaan atau lebih-lebih terlah terserap dalam sendi-sendi kehidupan bermasyarakat. Tapi mushola dan amsjid begitu dekat. Paling dekat dengan kontrakan ya mushola.

Namanya mushola Ar-Rahmah,