Rabu, 23 Januari 2013

Tentang Siti Aisyah

Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku - Al Baqarah: 152

Namanya begitu indah, Siti Aisyah.
Aku tidak sengaja duduk disebelahnya saat persiapan nonton bareng di balai desa dengan anak-anak kecil lainnya. Ia masih mengetik sms saat aku berniat menyapanya.

Namanya siapa?

“Siti Aisyah,” ia tersenyum manis. Rambutnya panjang berponi lurus. Ia tidak lebih tinggi dari anak SD kelas 6. Karena postur tubuhnya yang lebih besar daripada anak-anak kecil yang kala itu hadir (kami mengundang anak-anak SD, rata-rata), aku dengan sok tahunya bertanya kepada Aisyah,
“Pasti sudah SMP ya?”

“ehm, sudah kerja”

Aku nyaris ngowoh (melongo, dalam bahasa gaulnya), tapi berusaha ku sembunyikan. Aku tahu aku sangat lemah dalam menyembunyikan ekspresi muka dan perasaan, tapi bagaimanapun, aku tidak mau membuat gadis remaja tanggung di hadapanku ini tersinggung.

“ooh, umur berapa Aisyah?”
“limabelas..” dia menjawab lagi.

Seharusnya, dengan usia 15 tahun, dia masih sekolah. Saat seusianya, aku masih suka bolos pelajaran matematika dan lebih suka menghabiskan waktu di ruang OSIS. Aku penasaran ingin bertanya lagi. Tapi.., aduh maafkan aku aisyah kalau aku secara tidak langsung menyinggung,

“kerja dimana dek?” sengaja aku bertanya dimana, bukan apa. Aduh maaf ya Aisyah..

“Di..itu..” dia berusaha menyusun kata kata, “di rumah,” aku kira akan dia lanjutkan dengan kalimat membantu ibu membuat roti, tapi ternyata, “kalau tetangga butuh bantuan pekerjaan ringan, ya saya langsung diminta untuk membantu.”
“ooh..” aku kehabisan respon.

Sedini itu?
“ini adik saya,” ia melanjutkan kalimatnya, sambil menunjuk gadis yang berpostur pelajar SD, “namanya Tania. Dia masih SD,” jadi adiknya masih sekolah..aku bergumam. Mencoba mencari berbagai kemungkinan motif Aisyah untuk bekerja.

“ini adik sepupu saya,” ia menunjuk anak kecil yang juga masih SD. Bocah itu duduk disebelah kanan Tania. “Namanya Tito,”

“Kalau ini,” ia menunjuk anak kecil yang duduk di sebelah kiri Tania, “tetangga saya..”

Aku speechless. Baru beberapa hari disini, puluhan karakter anak aku temui. Salah satunya Aisyah, yang aku masih tidak tahu, dan mengurungkan niat untuk bertanya lebih dalam tentang mengapa dia memilih untuk bekerja, bukannya bersekolah. Dia ramah, tapi tidak terkesan genit. Dan aku anggap, kehadiran dia disini, bukti nyata akan rasa cintanya kepada saudaranya yang duduk di depan kami, yang sedang menghadap LCD dan terlihat tidak sabar menunggu film diputar.

Setelah mengenalkan secara singkat bocah-bocah yang datang bersamanya, ia kembali meraih hapenya, ngetik sms. Aku menghabiskan beberapa obrolan dengannya dan Tito, membahas dan memberi pengantar ringan singkat tentang film yang akan kami nikmati malam itu, film tanah air beta.

Dan di tanah air beta, di awal tahun 2013 ini, ternyata masih ada gadis belia yang sesungguhnya lebih berhak memperoleh pendidikan. Tetapi mungkin saja, ia tidak punya pilihan untuk memilih. Sedangkan, di bagian belahan bumi yang lain, entah berapa banyak, mereka yang masih memiliki beberapa opsi, ternyata lebih memilih untuk menghamburkan harta orang tua dan menuntut ilmu tidak maksimal.

Hm..semoga kita termasuk orang-orang yang mensyukuri dan memanfaatkan nikmatNya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar