Sabtu, 12 Januari 2013

Ketergantungan

tidak mengingat persis di laman mana gambar ini diunduh. ada kemungkinan di deviantart.com

aku mengenal kata itu di bangku SMP.
saat ada sosialisasi bahaya narkotika oleh kepolisian setempat dan mbak-mbak duta anti-narkotika.
beliau bersikeras menerangkan akan bahaya narkotika yang memiliki sifat ketergantungan bagi penggunanya, tentu dengan tujuan agar siswa-siswi ingusan ini tidak terjerumus di dalamnya.

dalam pikiran bodoh ala anak SMP,
kata ketergantungan itu hanya milik narkotika

hingga aku menemukan perpaduan dengan kata lain: ketergantungan dengan pasangan.

konteksnya adalah pacaran. weits, sensitip ya..
entah mau yang pacaran model apa dah. mau yang saban waktu ke masjid, yang profesional, yang satu organisasi kelembagaan, yang maksiat parah.
bikin ketergantungan, kan?
kemana-mana, dianter dia. dibeliin makanan ama dia. di kasih duit ama dia. wah kalo itu si parah -_-
well, kondisi yang sebenarnya mungkin, bagi beberapa kaum hawa, sangat menguntungkan.
mayoritas, memang menyukai girl-thing such as bunga mawar, boneka, dan bahkan barang mewah lain.
dan yang adam pun, tak ragu untuk membelikan.
entah itu uang pribadi, uang orang tua, atau bahkan ngutang.

tapi, disisi lain, yang macam itu, mengurangi kemandirian seorang perempuan kan?
padahal, perempuan itu harus kuat, tangguh, mandiri. karena apabila nanti berkeluarga, harus kuat jika ditinggal terlebih dahulu oleh suami sewaktu-waktu, harus mampu mengelola kerumahtanggaan, harus mampu mendidik titipan Allah dengan baik.
dan waktu yang tepat untuk melatih kemandirian, adalah sekarang.
saat hati belum teranugerahi rasa untuk mencintai si calon imam, atas namaNya.
dan ini, bukan persoalan mudah.

yang sudah pernah pacaran dan berusaha move on, akan mengalami pergulatan batin dengan sisi yang bertanduk merah. 
balik aja lah, tanpanya, kamu hanya butiran debu
yang sudah merasa alim, anti pacaran
sewaktu-waktu pun bisa saja terkena modus, semacam sms dari ikhwan ganteng tentang pengingat tausyiah di 2/3 malam menjelang tahajjud, smsan rutin yang diatasnamakan agama dan pertemanan,
namun sebenarnya terdustai oleh hati.
jadilah, ada ketergantungan dengan si ikhwan.
se alim apapun.

postingan ini tetiba terfikirkan lantaran seorang adik tingkat bercerita tentang teman perempuannya, yang sangat ketergantungan dengan si pacar.
nanti kalo udah putus gimana hayo?
apa iya, barang-barang yang udah dikasih bakal di balikin? atau dibakar?
adu nambah-nambahin waktu galau aja.
sedangkan perjalanan masih sangat panjang. sangat disayangkan jika terlampau larut dalam rasa semu, sangat disayangkan apabila keinginan untuk menyandarkan beban hidup kepada manusia yang sebenarnya belum muhrim, keinginan untuk sekedar diperhatikan tak dapat dikendalikan.
perhatian kecil seperti "sudah makan?"
iyuh ~

betapa, kawan, ambillah pelajaran dari yang pernah terjatuh lalu bangkit.
tinggalkan atau kau akan tenggelam.

bahwa, sudah jelas tiada penolong sebaik Dia
dan Dialah sebaik-baiknya tempat mengadu lagi bersandar.


*postingan ini sebagai koreksi pribadi, dan siapapun yang memerlukan. no offense :)*

2 komentar:

  1. wew, nabilla nulis soal gini2an juga ternyata -,- ahaha :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahah kenapa emg mir? absurd banget ya mir? --"

      Hapus