Jumat, 04 Januari 2013

a Family Time

al-Jâthiyah ayat 12 “Allah menundukkan lautan untukmu, supaya kapal-kapal dapat berlayar padanya dengan seidzin-Nya dan supaya kamu dapat mencari sebagian karunia-Nya, dan mudah-mudahan kamu bersyukur”.

makin gede anaknya, makin ngga rela ortu ngelepas
makin manis anaknya, makin ngga mudah ayah menerima permintaan khitbah
*apa sih*

yak beberapa hari lalu......
sebenernya beberapa minggu lalu, alhamdulillah kelar dari kegiatan utama bulan Desember dan bisa menghabiskan waktu di rumah. alasan terbesar untuk pulang, ya tentu saja ketemu ayah ibu ayu okky mba nurul, ikan dan burung depan rumah. alasan terbesar kedua, aku pulang untuk membicarakan janji ayah,
tentang Big N dan rencana di bulan Maret.

banyak cerita, keluar masuk dua toko yang bertetangga, akhirnya Big N ada di tangan
 setelahnya, ayah tetiba mencetuskan ide brilian: ke pantai Kenjeran.
what?!
aku pun ngga ngerti kenapa ayah begitu bernapsu ngajak anaknya plus keponakannya yg masih SD ke Kenjeran. di kalangan masyarakat Surabaya, kenjeran itu konotasinya negatif. disana, katanya, biasa dipake muda-mudi remaja tanggung pacaran di pojok sana sini,
di bawah kegelapan malam, di balik tembok dan semak-semak kalo siang.
bahkan pernah masuk salah satu acara investigasi jalanan stasiun TV swasta: John Pantau!
keren ngga sih?
engga lah, absolutely.
yah walaupun ada kenjeran lama dan kenjeran baru, entah aku lupa kenjeran mana yg sering dipake pacaran mesum, tapi salah satu dari keduanya , yang paling dekat dengan pasar ikan pinggir jalan itulah yang menyajikan hiburan rakyat dan memang di desain untuk anak-anak kecil biar ngga di rumah aja kerjaannya nonton sinetron remaja tanggung.

aku pada akhirnya mengiyakan aja,
biar judulnya pantai sekalipun, tetep aja kenjeran bukan pantai yang bisa mengalihkan perhatianku
*duh Bu Risma nyuwun ngapuro*
ayah aja sampe nyeletuk:
ah jangan gitu nduk, Kenjeran ini pantai kebanggaannya orang Surabaya lho
sesekali perlu lah kita ke tempat hiburan rakyat.
dan akhirnya setelah kita ke kenjeran, aku bergumam dalam hati, ini ceritanya nganterin Ayu dan Ayah.

setelah shalat, menikmati mie pangsit dan bakso
ayah menawari naik perahu. dan kebetulan, tarifnya lagi ngga mahal-mahal amat.
jarak dari tepi pantai ke pulau pasir aja 30-50ribu PP.
ya itu terhitung ngga mahal, apabila diisi oleh orang banyak
mengingat muatan kapal nelayannya pun bisa hingga 10 orang
ayah mengiyakan.

btw, yang disebut nelayan pulau pasir adalah gundukan pasir di tengah laut,
bahkan kalo airnya sedang pasang, gundukannya ngga terlihat sehingga sangat janggal kalau disebut pulau. padahal juga ngga ada apa-apanya. aku menduga itu titik foto-foto dan titik dimana nelayan suka ngaso di tengah aktifitas nyari ikannya. karena pada titik ini, ngga terlalu dalam.

di pulau pasir pun, kami menyempatkan foto-foto.
ayu kegirangan main air. kata bapak nelayan disekitar, banyak orang yang pegel-pegel trus datang ke tempat ini..mainan air, biar pegelnya hilang.
ini bukan mitos, pun sebenarnya, kebenarannya pun patut dipertanyakan. hehe..

setelah balik kapal, ayah melihat jembatan suramadu dari kejauhan dan langsung request untuk dibawa kesana. aku mulai merasa, oke ini menarik.
ternyata, dari titik pulau pasir menuju suramadu itu, ngga dekat.
setidaknya dengan sarana transportasi kapal nelayan.
kala itu, kapalnya pun melawan arus, sehingga airnya yang bergelombang menyebabkan kapal bergoyang, air yang juga masuk ke dalam kapal. akibatnya, kami semua basah.

semakin bergoyangnya kapal, aku makin suka, makin enjoy.
aku yang duduk di depan dekat jangkar, ngga pegangan. hanya bersandar pada tiang bambu kecil dan
berusaha menikmati alunan arus air kecoklatan yang menggoyang kapal
burung-burung yang menunggu ikan-ikan kecil ke permukaan, dan angin laut yang......
mengingatkanku pada perjalanan sebulan dengan kapal laut selama September-Oktober 2011: Sail Belitung.

ternyata aku merindukan alam.

entah kenapa, di lautan aku tidak pernah memiliki ketakutan berlebih
selain kepadaNya.
entah kenapa pula, di lautan, aku merasa lebih dekat denganNya
dan merasakan betapa bersahabatnya alam kepada manusia.
betapa alam menaati tiap titahNya dan bertasbih hanya kepadaNya
perasaanku ini ngga salah kan?

aku pun membiarkan Ayu, adek sepupuku kelas 5 SD untuk duduk di sebelahku.
dia basah kuyub lagi kumus-kumus.
dia juga terlihat tenang, ngga histeria dengan mainan arus laut kenjeran yang notabene, memang bukan daerah pantai yang berombak besar.
aku biarkan dia larut dalam pikirannya.
ketika sesekali menoleh ke Ayah dan Ibu yang duduk di tengah
mereka sesekali berteriak histeris karena kapal bergoyang.
ayah dengan tegang berpegangan sisi kapal dan berkata, ayah khawatir kapalnya njungkir!
oke..aku memahami betul kekhawatiran ayah.
alasannya sama seperti ketika aku masih SD dan naik kereta gantung di TMII Jakarta sama Ibu, sedangkan ayah hanya di bawah, dadah-dadah.
aku bertanya sama Ibu, bu ayah kok ngga ikut naik?
dengan jujur Ibu menjawab, ayah badannya kegendutan. lha nek ayah naik,
nanti kereta gantungnya jatuh.

puncak dari itu semua adalah, ayah meminta kapal putar balik, hanya jarak beberapa meter dari suramadu. artinya sudah cukup dekat, setelah kami menghabiskan 20 menit di goyang arus kenjeran. ayah gupuh, plus khawatir, plus takut tak tertahan.
aku ketawa-ketawa aja dan bilang, keputusan ada pada bos besar
akhirnya, benar saja, kapal putar balik. dan kami hanya foto-foto berlatar jembatan suramadu. dari jauh.

setelah putar balik,
kapal mengikuti arus. airnya tenang. kapal juga ikutan tenang.
akupun, bisa tiduran di dek depan kapal sambil menutup wajah agar tidak kepanasan.

well,
ternyata, boleh juga :)

***

berikut beberapa momen yang berhasil dibekukan:

ini yang kata ayah, mainan rakyat

ubin kapal

mirip?

bahagia, kan?

ini lebay, padahal tangganya pendek

kapal take off

sluurrps

ini namanya pasar rakyat

yak, di titik ini lah kami putar balik. bayangkan...

lihat apa ya?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar