Selasa, 31 Desember 2013

Sunset. It was one unexpected happiness.

Aku sangat menyukai sunset; momen senja dengan gradasi warna oranye-merah-kuning yang kadang disertai birunya langit yang luar biasa indah. Momen pergantian dari siang ke malam; masa transisi yang berlangsung setiap harinya. Sama seperti sunrise; matahari terbit di pagi hari sebagai penanda habisnya malam. Aku juga menyukainya, hanya saja karena alasan yang sangat subyektif, aku lebih suka berlama-lama menikmati sunset.

Setidak-tidaknya, 5-6 tahun yang lalu.
Seorang teman lama selalu sumringah bercerita tentang kekagumannya atas keindahanNya yang setiap hari dihadirkan. Hampir setiap hari dia meluangkan waktu senja untuk berhenti sejenak (apabila ia sedang berada di kendaraan) untuk melihat matahari yang seolah terlihat membesar dan menghilang dibalik di horizon. Kemudian ia melanjutkan perjalanan lagi. Begitupula keindahan setelah sunset: munculnya bulan dan satu bintang yang terlihat sangat cerah, paling dekat dengan bulan, namun kedipnya sendiri hampir tidak ada. Aku pernah membaca ada riset yang mengatakan bahwa itu adalah planet Venus, entahlah. Teman lamaku, setiap melihat ada momen indah itu, selalu mengirim satu pesan singkat untukku yang isinya mengingatkan untuk sejenak menikmati suasana senja.

Sejak itu, aku mulai memperhatikan. Memangnya, apa yang menarik dari senja?

***

Di Malang, aku pernah melalui satu sore yang sangat oranye. Cantik sekali. Kampusku memerah terhujani warna oranye yang dominan. Aku suka melihat senja dari Lantai 6 Gedung A Fakultas Hukum. Karena kaca transparannya menghadap langsung ke barat dengan pemandangan Gunung dan beberapa gedung, masjid, serta rumah-rumah warga.

Salah satu momen yang selalu aku targetkan untuk ku abadikan dalam kamera adalah sunset! Itu momen wajib dalam setiap perjalanan. Setidaknya sejak 2 tahun lalu, aku menjadi sunset hunter di tiap tanah yang aku jejaki.

Berikut adalah sunset yang pernah aku jepret secara amatiran di beberapa negara yang telah aku kunjungi. Indonesia tidak aku masukkan ya, kebetulan sunset terindah yang pernah aku nikmati ada saat aku menempuh perjalanan 3 minggu dari Jakarta-Natuna-Batam-Dumai-Bangka-Belitung (Sail Belitung) dan Bali dan sudah aku posting lama banget hehe. Kebetulan  juga, selama 2 tahun terakhir belum dapet kesempatan dan waktu luang untuk traveling lagi ke beberapa destinasi yang telah menjadi target. Semoga 2014 nanti ya!!

Pertimbangan - Pertimbangan

Maka sungguh seseorang terbang dengan cita sucinya, sebagaimana burung terbang dengan 2 sayapnya - Salim A Fillah

Dalam beberapa kesempatan, aku cukup sering mengutip untaian kata dari Udztad Salim A Fillah / @salimafillah. Buku beliau juga bagus-bagus, beliau lihai sekali memainkan kata, top banget lah. Kutipan diatas aku ambil dari twit beliau, mengingatkan ku pada mimpi-mimpi dan tujuan hidup yang harus terus dibenahi agar senantiasa lillahita'ala.


***

Akhir tahun 2013 ini aku tutup dengan agenda YERT nya @YOUTH_ESN, sebuah komunitas nasional yang bergerak di bidang pendidikan. Lumayan berkesan, agenda ini sudah ingin aku ikuti sejak tahun lalu dan sempat tertunda karena berbagai skala prioritas. Aku belajar dari teman-teman lain yang sudah lebih berpengalaman dalam dunia pendidikan. 


Setelahnya, adalah saat yang aku tunggu-tunggu: ngobrol sama ortu. Karena ada beberapa agenda yang aku siapkan, setidak-tidaknya ada dua. Yang satu, rahasia. Yang satu lagi adalah S2.

Keduanya, pada akhirnya, agak mengecewakan. Sekalipun argumentasi beliau-beliau dapat aku pertimbangkan. Tersadar bahwa dalam banyak hal, sejak kecil aku sering sekali berseberangan, tapi toh pada akhirnya aku yang juga mengikuti apa yang dikehendaki beliau. Alasan yang sangat kuat yang selalu mendasarinya adalah: anak perempuan tunggal.

Siang tadi aku tertidur dengan samar-samar mendengar percakapan keduanya yang hanya berjarak beberapa langkah dari tempat aku memejamkan mata. Tema obrolan adalah S2 dan beberapa elemen yang mengikuti setelahnya. Mereka sedang membicarakan jalan hidup anaknya kelak. Sorenya seusai aku bangun dan mandi, ayah membuka obrolan kembali.

"Ayah khawatir, Ibu juga memiliki beberapa pertimbangan..."
Lalu obrolan mengalir. Siapa sangka obrolan singkat itu membuatku menangis, aku tidak ingin menangis, sejujurnya. Pantang bagiku menangis dihadapan beliau dan adik2 tingkatku. Sama sekali tidak ada dalam tujuan bahwa tangisan ini dapat mengubah pendapat beliau. Aku menghargai segala keputusan dan izin yang diberikan atau yang tidak diberikan, hanya saja mungkin beberapa alasan yang dikemukakan terdengar begitu menyakitkan.

Pada akhirnya, senja terakhir di 2013 ini harus dihiasi uraian air mata.

***

Maka benarlah, hanya kepada Allah saja hendaknya kamu ceritakan tentang mimpi-mimpi, cita-cita. Agar Dia lah yang menjadi satu-satunya perengkuh mimpi, Pemberi skenario terbaik.

Pegang teguh DienMu dan percaya; rencanaMu akan jauh lebih indah.


Sabtu, 28 Desember 2013

Tarian Jemari

Japan, 29 November 2013


Menulis itu butuh alasan, bukan?
Sekalipun wahyu pertama yang sampai ke Rasulullah SAW adalah perintah untuk membaca dan menulis, tetap bagi umatnya, setidak-tidaknya bagi sebagian orang, menulis butuh alasan.

Sebagai pembuktian, untuk nyari duit, mencari pengalaman, mengasah kemampuan; adalah alasan mainstream yang diutarakan seputar alasan kuat mengapa menulis ilmiah. Bagai marijuana, menulis pun menimbulkan candu. Namun alasan-alasan klise yang demikian, ternyata bisa memberikan akibat lanjutan yang lebih besar efek dan manfaatnya. Bagi seorang penulis karya ilmiah, khususnya mahasiswa Strata-1, gagasan harus didapat dengan waktu yang singkat, gagasan padat, namun solutif. Tidak mudah, tapi goal nya bukan sekedar gagasan mu aplikatif ga? melainkan juga,
seberapa cintanya kamu dengan kegiatan tarian jemari ini?

Apa yang ditulis, siapa yang menulis, akan selalu menginspirasi yang lain untuk bertindak dan terlebih juga turut menulis. It inspires other to do more, action more. Sehingga tidak berlebihan jika saya katakan bahwa seorang penulis adalah pemimpin.

Dan saya meyakini bahwa para pemimpin ini juga memiliki inspirator-inspirator hebat. 

***

Rabu, 25 Desember 2013

Please Welcome, SEHATI (Student Exchange in Hirodai, Twenty and Thirteen)

Ki-ka: Angga, Abang, I'in, Dyah, Kiki, Aulia, Aku, Prapti, Bella, Popo, Anis, Dian, Didin, Muchlas.


Sebelum melanjutkan cerita yang told dan untold selama di Jepang, ada baiknya kalau saya perkenalkan dulu teman-teman seperjalanan kali ini. Berjumlah 14 orang, which is banyak bangeet untuk sebuah perjalanan singkat (10 hari). Menurutku maksimal teman perjalanan adalah 4 orang. Dua orang lah ya, yang paling sip. Uniknya, sekalipun kami berjumlah banyak orang, dengan perbedaan masing-masing, namun tetep saling pengertian dan dengan tulus mau saling mewarnai dan berbagi.

Kami bertemu ber tiga belas (saat itu Didin behalangan hadir) di ruang IO untuk perkenalan pertama. Seperti pada postingan sebelumnya bahwa satu-satunya orang yang sudah aku kenal adalah Angga, dari FEB. Kebetulan aku datang agak telat, aku duduk diantara Dian (Peternakan, yang kemudian aku ketahui adalah teman baiknya temen kosnya Nining, well emang agak mbulet), dan Kiky (PKH, yang kemudian jadi maskot kami). 

Dari perkenalan singkat, kami memiliki banyak perbedaan, tapi juga ada kesamaan secara garis besar. Pertama, mayoritas memiliki prestasi masing-masing. Kebanyakan di bidang pengalaman organisasi, karya tulis dan nari. Kedua, masing-masing punya potensi yang menonjol, sehingga Pak Heri nggak kesulitan untuk mem-PJ-kan siapa bagian desain, siapa bagian motret, siapa bagian ngabisin makanan, dan lain-lain. Ketiga, kami sama-sama belum pernah ke Jepang dan jelas SANGAT EXCITED. Pada pertemuan selanjutnya, untuk latihan tari indang, kami makin kompak dan ngerasa klop satu sama lain.

Dalam tulisan kali ini, aku berusaha meringkas hal2 apa saja yang paling dominan ada di ingatan. Karena jemari ini membutuhkan waktu berhari hari untuk menceritakan secara detail mengenai apa, siapa, dan bagaimana mereka, serta momen apa saja yang telah kami lalui bersama.

So, here they are..

Selasa, 24 Desember 2013

Sedikit tentang Doa Rabithah

"my time is running out"

"Ya Allah,
Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta padaMu
telah berjumpa dalam taat padaMu,
telah bersatu dalam dakwah padaMu,
telah berpadu dalam membela syariatMu,
Kukuhkanlah, ya Allah, ikatannya,
Kekalkanlah cintanya,
tunjukilah jalan-jalannya.."

Begitulah tulisan dalam gambar yang menjadi DP BBM ku hari ini, kutipan dari doa rabithah. Tidak sampai 5 menit setelah aku mengganti Display Picture (DP) BBM, Renata, seorang teman seangkatan langsung BBM.

“billaaaaaaa.. aku shock baca DPmu! Matiih!”

Aku dengan singkat menjawab, “emang kenapee?” sebenernya pengen tau juga, ada apa renata sampe shock baca DP ini. Apa yang salah? Ternyata jawabannya di luar dugaan,

“Billaa falling in loveee.. gapapa seneng liatnya” ia membubuhi emot-emot unyu setelahnya.

Aku hanya bisa menjawab dengan emot andalan -__________________-“

Akhirnya obrolan kami mengalir, mulai dari bahasan nikah-love-love-an, sampe liburan dan oleh-oleh. Hingga obrolan pun normal dan aku tidak kembali dipojokkan dengan tuduhan sedang jatuh cinta.

Renata, bukan orang pertama yang mengatakan hal demikian. Beberapa rekan memojokkanku dengan tuduhan sama, hanya karena memergoki ku beberapa kali terlihat sumringah.

Siangnya, aku menyempatkan memberi selamat kepada Faisol, teman seangkatan yang sempro hari ini. Aku nggak bisa memenuhi undangan ke sempronya karena harus menyetor laporan PHK-C dosen, sebagai gantinya, aku cuman ngasih ucapan selamat hehe. Disana, aku ketemu Dina, Atika, Sista, Lita, dan Catur. Kami ngobrol-ngobrol ringan hingga entah apa yang merasukinya, Lita tetiba menanyakan pertanyaan pancingan, "Bil, jare atene rabi?"

"HAH?!"

Belum sempat menjawab, Catur buru - buru menambahi,
"Iya niiih Billa kayaknya lagi falling in love yaa? Path ama twitter nya beda banget sekarang, aneh-aneh gitu postingannya hihihi"

Ini lagi, ngaco abiiiissss. Aku ngepost aneh-aneh apa sih di path? Perasaan cuman foto-foto, komen-komen, lagu, visit place, dan hal-hal standart lainnya. Biasa aja. Pun twitter. Salah satu twit ku pun di respon heboh oleh temen2, padahal aku nggak lagi nge twit soal love-love an. Aku pun menangkis celotehan temen-temen dengan argumen2 tersebut.

***

Kembali ke doa rabithah, salah satu doa yang, menurutku sangat indah.
Aku mengenal doa ini di bangku kuliah, ketika kakak-kakak dan teman sebaya lelaki kerap menutup majelis, suatu rapat, atau pertemuan dengan doa ini. Waktu itu, aku tidak tahu betul lafalnya, apalagi artinya. Hanya saja, mendengar doanya saja sudah membuatku terkesima. Hingga ibu memberiku Al Qur'an baru berwarna biru, lengkap dengan tajwid, terjemahan per kata, ayat-ayat sujud, asbabun nuzul, doa, dan ayat yang disunnahkan untuk bertasbih. Di dalamnya, terselip sebuah buku kecil, tipis, bertuliskan Al Ma'surat kubra yang disusun Hasan Al Banna. Al Ma'tsurat kubra ini lengkap dengan arti dan hadist nya, mengapa Rasulullah membaca doa ini, apa arti dari ayat ini, dan sebagainya. Dan di bagian belakang, ditutup dengan doa rabithah ini. Doanya memang indah, coba searching aja di google.

Terkait merutinkan hukum membaca doa rabithah , link ini mungkin bisa menjadi referensi.

Aku memang mudah sekali trenyuh dengan lantunan doa-doa yang indah.
Bulan Desember ini, beruntungnya aku, kembali dipertemukan dengan beberapa doa terindah. Salah satu diantaranya begitu ku ingat, entah kenapa, ada doa sederhana yang sepertinya kaya makna. Begitu menarik perhatian.

Dan doa rabithah ini, menjadi pengingat.

***

"Bil," ia menghela nafas sejenak.
"Auranya berubah. Warna aura yang mudah sekali gue lihat, yang membuat gue pun tertawa konyol dan bergumam, ni orang lucu banget.."
"Bukannya warna aura itu tetap ya?"
"ya, ada yang dominan, sebagai karakter seseorang. ada pula yang kondisional, dalam keadaan tertentu. aura yang terlihat, tidak bisa menipu. atmosfir nya saja sudah beda.."





Minggu, 22 Desember 2013

Anggapan

a step

Seseorang pernah berucap, "kamu itu layaknya burung yang terbang bebas dan bisa mendarat, pergi kemana pun kamu mau," dia lantas tertahan sejenak. aku hanya mendengarkan.
"aku hanya ingin mengikatmu agar tidak lagi kemana."
sepotong suara tetiba menjawab, "tali pengikatmu bukanlah tali yang tepat."

Beberapa lainnya, berkomentar aku adalah seorang yang 'mengerikan'. Ada yang dengan sok tahu menebak aku bercita-cita menjadi wanita karir, meraih karir setinggi mungkin.
Ada lagi yang melihatku sebagai seorang yang berambisi besar.

Padahal, aku klewas klewes total.

Dan mengenai anggapan-anggapan, biarkan saja menjadi anggapan.
Karena, kata Ibu, si pemberani tidak akan larut dalam anggapan.
Ia akan membuktikan.

***

“Cinta sejati selalu menemukan jalan. Ada saja kebetulan, nasib, takdir, atau apalah sebutannya. Tapi sayangnya, orang-orang yang mengaku sedang dirundung cinta justru sebaliknya, selalu memaksakan jalan cerita, khawatir, cemas, serta berbagai perangai norak lainnya. Jika berjodoh, Tuhan sendiri yang akan memberikan jalan baiknya. Termasuk “kebetulan2″ yang menakjubkan.”

Tere Liye, novel "Kau, Aku & Sepucuk Angpau Merah"



Musim Gugur tertanggal 27 November 2013

red leaves, so lovely
Hari terakhir ku di Berlin, aku memutuskan untuk jalan-jalan sendiri ke sekitar stasiun. Rasanya nggak afdol pergi ke suatu tempat tanpa menjejak sendirian. Namun Nickita, meminta untuk turut serta. Aku pun mengiyakan. "Aku pengen menghabiskan waktu terakhir disini Bil," dia berucap.
"Nick, daun-daun ini pasti keren banget pas musim gugur,"
"iya bil, semoga aja ya kita berkesempatan balik lagi ke sini pas musim gugur!"
aku sama nickita mengepalkan kedua tangan di bawah dagu, pertanda gemes-gemes-imut.

Allah berkehendak lain.

***

Beruntung sekali, kami baru berangkat ke kampus sekitar jam 11 siang untuk perkuliahan perdana tanggal 27 November. Ada waktu untuk beristirahat lebih lama. Namun sekitar jam 8, aku memilih untuk berjalan di sekitar. Pagi ini aku terbangun dan membuka jendela kamar, udara di luar begitu dingin hingga mulutku berasap. Langit masih mendung, bahkan sinar matahari pagi terpaksa terpenjara oleh tebalnya awan abu-abu. Aku mencoba membuka jendela lebih lebar, ternyata jendela kamar nggak bisa dibuka lebar, hanya dibatasi sampe sekitar 30 derajat. Nggak asik nih, padahal mau motret pemandangan luar kamar dan menghirup dinginnya Higashi Hiroshima sampe mimisan. Tapi kenapa ya, jendela aja dibatasi untuk dapat dibuka? asumsi sementara adalah untuk menekan angka bunuh diri. maklum, angka bunuh diri di Jepang lumayan tinggi.
Beberapa menit setelahnya, aku baru tersadar ada yang berbeda di bukit kecil yang mengelilingi kota Higasi Hiroshima. Hal yang senada aku temukan pada beberapa pohon yang menjulang tepat di depan hotel. ternyata, musim gugur belum sepenuhnya usai! Warna kuning, oranye, dan merah menghiasi daun yang kian menua dan rapuh. Semangat saya membuncah, segera aku mandi, ijin sensei, dan menjejaki sepanjang jalan Saijo. Amunisi sudah siap (baca: kamera, jaket tebal). tapi bodohnya aku nggak bawa sarung tangan. akibatnya, tanganku sukses membeku.

coba bayangkan!! biasanya 21an derajat celcius (malam hari di Malang), disini harus beradu kekuatan dengan 5 derajat celcius! 

Rabu, 11 Desember 2013

Mengenai MUM

Ckckck ini apa coba, planning menghias halaman blog dengan cerita perjalanan bermakna kemarin harus diselingi postingan mengenai kampus. Musyawarah Umum Mahasiswa (MUM) Fakultas Hukum Universitas Brawijaya. MUM yang ku liat tadi (10 Desember 2013) adalah Part 2. Part 1 nya, aku kurang tau kapan, yang jelas saat aku di Jepang.

MUM memang harus aku posting, ia termasuk agenda yang mewarnai hidup. hehe.

***

MUM diselenggarakan oleh DSM, dijalankan sesuai tata tertib dan konstitusi FH UB. Keren ya, fakultas ku punya konstitusi hehe, mengenai BPM RDM (Badan Pemerintahan Mahasiswa, Republik Demokrasi Mahasiswa), begitu kalau ngga salah. Setelahnya, setauku karena edaran dan titah rektorat, lembaga eksekutif ini berganti nama jadi BEM. Setidak-tidaknya ada 2 kelompok yang ngga setuju, sehingga pembahasan nama lembaga eksekutif menjadi agenda di MUM tahun 2011.

2011 ya, bukan 2010 seperti yang banyak di twitkan teman-teman. Seingat saya, waktu itu presiden dan wapresnya Mas Faris dan Mbak Suci. Saya masih semester 2, dan waktu itu, saya menjadi staff muda dari 3 organisasi intra kampus. Saya tidak tergabung dalam lembaga ekstra kampus, hingga sekarang.

MUM 2011 berjalan seingat saya hingga 2-3 hari. Hari terakhir yang paling parah. Pembahasannya, menurutku, kadang ngga penting. Beberapa kelompok sengaja bersuara keras, bahkan berteriak. Huih. Dan yang paling parah, asap rokok mengepul di ruang ber AC, sungguh menyesakkan. AC di ruangan itu sampe berair parah dan rusak. Perdebatan kala itu, yang masih tersisa dalam ingatan, adalah mengenai kalimat majemuk bertingkat (ini sungguhan -___-), persoalan shalat di pending atau tidak, persoalan mengetok palu, persoalan memerdekakan diri dari rektorat.

Saking parahnya forum, Mba Icha, direktur FKPH kala itu sampai walk out. Masih membekas bagaimana mba Icha berteriak lantang mengutuki forum yang tidak sehat, serta keluar ruangan sembari berkata "WALK OUT" sambil menyilangkan tangan keluar tanda emosi. Kita yang masih mini-mini gini jadi ngikut, selain memang harus walk out lantaran sudah malam dan forum makin ngga sehat. Saat itu sudah larut malam, kami yang cewek-cewek pulangnya di kawal. MUM ini memakan korban, ada 2 rekan salah seorang senior saya, terpaksa rawat inap di rumah sakit.

Yang jelas, MUM 2011 adalah pelajaran besar. Mengungkap siapa dia, dio, die sesungguhnya (dalam arti jamak).

Tahun 2012, saya kebetulan diamanahkan di BEM sebagai salah satu BPH. Satu yang ada di benak adalah mempersiapkan MUM. BEM jelas menjadi sasaran hujatan banyak orang, tak peduli seberapa besar maupun kecil kontribusi yang diberikan, BEM akan tetap dihujat, dijatuhkan. Tahun kemarin, saya sudah siap-siap akan dibantai oleh golongan ini , itu, ine, tapi ternyata ngga ada MUM. eyalah yowes. hehe.

Tahun 2013 ini, MUM kembali diadakan, sangat ndadak. Aku bahkan baru denger akan ada MUM, saat berada di Jepang.

***

Minggu, 08 Desember 2013

Home, Away from Home

baru kali ini nemu handwriting boarding pass, yakni dari Sby ke Taiwan. Dikarenakan sistemnya rusak, jadilah si petugas nulis tangan. Untung yang dibegituin masih mahasiswa, kalo orang pebisnis gitu, mana terima ya?

Home, away from home.

Aku mendengar frasa itu saat melihat tayangan mengenai Hiroshima di layar kecil yang disediakan oleh China Airlines. Tayangan tersebut menyajikan keindahan Hiroshima. Mulai dari tourist attractionnya seperti Miyajima, dan shopping corner. Layaknya video traveling pada umumnya, sudut pengambilan yang indah terlihat begitu menggiurkan. Tapi biasanya yang terpampang indah di layar kaca belum tentu seperti yang sebenarnya. Haha pikiran antisipatif mulai muncul, well, intinya aku hanya tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi.

Begitulah yang biasa ku lakukan dalam perjalanan. Debar, penuh tanya, meyakini akan menjadi perjalanan yang penuh kejutan, tapi tidak ingin berekspektasi terlalu tinggi. Inginku, relung-relung jiwa ini terisi oleh sejuknya atmosfer yang memang aku alami sendiri tanpa campur tangan dari angan-angan yang berlebihan.

Sebentar, aku lagi ngomong apa ini ya?

***

Yang Datang Tiba-Tiba, Penuh Makna

Hari kamis sore, Nying-nying, seorang teman yang ngocol, agak feminim, dan kami menjadi teman seperjalanan dan satu kegiatan dalam summer school di Leipzig bulan Juli lalu. Dia mengirimku pesan singkat melalui aplikasi Line. Inti dari pesan itu adalah kami (peserta JSP) diminta bersiap – siap untuk seleksi ke jepang. Besok. (aku lupa seleksinya tanggal berapa, seingatku sekitar hari Jum'at, 25 Oktober atau 1 November)

What?!

Aku sama sekali ngga punya ide apa – apa mengenai persiapan wawancara selain mengumpulkan pengetahuan mengenai fakultas hukum, prestasinya, dan mengenai alasan tersirat aku layak diberangkatkan ke Jepang. Ternyata, begitu bu Milda datang, kami ngga hanya diminta untuk presentasi mengenai fakultas saja, tapi juga menunjukkan bentuk budaya Indonesia apa yang dikuasai. Yang ada di pikiranku tentu saja: nari. Dan satu2nya tarian yang sepertinya memiliki gerakan dasar yang masih ku ingat adalah tari pendet. Sedangkan teman – teman lain memilih untuk juga menari, entah itu nari tradisional dan kuda lumping (tradisional juga sih ya) plus nyanyi.

Saat tiba giliran nying-nying yang diseleksi, aku, nickita, inaya menunggu di luar ruangan sambil nggosip dan membicarakan acara aneh macam apa ini, seleksinya mendadak sekali. Inaya tiba – tiba bertanya, “kalo ke jepang, oleh – oleh yang khas tuh apa ya?”
Aku nyeplos aja , “dorayaki ama pamerin foto di depan gunung fuji!”
“boleh, tuh!”

***

Seleksi hanya sekitar setengah jam sebelum akhirnya bu Milda berlari kecil ke ruang PD 1 untuk berdiskusi dengan Pak Ali dan kemudian memanggil kami berempat untuk memasuki ruangan. Kami dibiarkan deg-deg.an. karena hanya satu orang yang diambil, tidak ada toleransi.

Kami berempat bergandengan tangan sambil sesekali merem-merem cantik supaya lebih dramatis. Inaya berucap singkat, “guys, siapapun dari kita nanti yang terpilih , pokoknya oleh – olehnya!”
Nying – nying lanjut bilang, “iya iya, siapapun yang kepilih entar, kita tetep berteman ya,”

Iya, sekilas memang mirip seleksi dengan sistem eliminasi yang diadakan oleh beberapa stasiun tv swasta.

“saya dan pak ali sudah memilih,” bu milda memotong kebersamaan kami dengan senyum penuh intrik. “kalian semua bagus, memiliki bahasa inggris yang memadai, namun sayang, ada satu orang dari kalian yang secara kemampuan budaya tradisionalnya lebih menonjol.” Beliau diam sebentar. Kami ikutan diam, dan lirik-lirik’an. “dan seorang itu adalah… selamat buat Nabilla!”

*kaget*

Makna Lain dari Kesabaran

Salah satu sunset terindah yg pernah ku saksikan. Higasi Hiroshima, 4 Desember 2013. Maha Besar Allah..

Sekitar 3 minggu yang lalu, aku kesal bukan main. Travel yang seharusnya menjemput jam 2 siang, baru datang jam setengah empat sore. Ingin rasanya meluapkan amarah ke si supir, namun melihat wajah sumringah si supir dan caranya meminta maaf memuatku mengubur dan melupakannya pelan-pelan. Dia memintaku untuk memaklumi keterlambatan dalam penjemputan. Dongkolnya aku adalah travel yang kali ini aku gunakan, memberikan fasilitas penjemputan pada setiap jam – jam genap (2, 4, 6, dst). Lah kalo ngga bisa memberikan pelayanan sesuai yang dijanjikan, mengapa berjanji? Makin bete ketika aku ditempatkan di depan, samping si supir.

Dan dari gelagatnya, masih ada satu orang lagi yang belum di jemput.

“ini masih ke juanda pak?”
“Iya mbak, hmm, lewat mana ya?”

Payah banget ini si supir, pikirku. Sebagai supir travel seharusnya dia bisa dengan mudah mengetahui jalan tikus dari rumahku ke juanda, yang kebetulan dekat banget dan banyak diketahui oleh kendaraan umum. Memang ini bukan travel yang biasa ku gunakan, dan aku pun akan lebih memilih untuk pulang sendiri naik bis lalu ngangkot, jika saja aku tidak terbebani oleh koper biru gede. toh pada akhirnya, seseorang yang seharusnya dijemput di Juanda, ngga jadi naik travelnya, entah kenapa.

Perjalanan surabaya – malang ditempuh hanya dalam waktu satu setengah jam, padahal sore hari sekitar jam 4 – 7 malam adalah saat – saat rush hour, yakni dimana macet biasa menjadi macet banget nget nget.

Di tengah jalan tol, aku yang sudah jengkel nemen sampe kepala pun ikut mumet, lantaran si supir juga ngerokok dan kemudian aku tegur. Tiba-tiba saja sebongkah pemikiran jernih muncul, meredam amarah yang meluap liar.
Sabar. Sabar. Sabar.
Begitu kira – kira, satu kata yang klise yang berbisik lirih
yang sering menjadi ucapan andalan para tipe teman pendengar.
Sabar, sudah, sabar saja ya…

Bersabar, tidak selalu dikaitkan dengan menunggu. Bagiku, si “sabar” terlalu besar, terlalu mewah untuk disandingkan hanya dengan “menunggu”. Bagaimana jika kita gabungkan dengan:
Bersabar, orang lain juga perlu belajar.
Bersabar, pantaskan diri di hadapanNya.
Atau, ada redaksional lain yang lebih indah?

***

Senin, 04 November 2013

Selamat datang di kampus

tembok berlin, bagian yg menghadap Jerman Timur

Hari ini aku nyetalking facebook salah satu adik tingkat di SMA. Yang dulu jilbabnya pendek, sekarang jadi lebar di dobel. Juga salah seorang teman SMA, yang pergerakannya semasa sekolah menjadikan ia memiliki karakter dan dapat diprediksikan akan juga bergerak di organisasi yang ia tekuni sekarang.

Well..

Selamat datang di kampus,
sebenar-benarnya tempat mematangkan diri.
Yang dulunya ngga ngerokok, sekarang menghabiskan 2 bungkus sehari.
Yang dulunya ngga berjilbab, sekarang berjilbab.
Yang dulunya pendiam, sekarang ahli orasi.

Selamat datang di kampus,
tempat dimana amanah terasa begitu berat
amanah menjadi hal yang dapat dirasakan betul fitrahnya;
ia adalah beban yang paling berat, namun bisa mengantarkan menjadi harta yang paling indah;
ia betul-betul ada digenggaman, akan seperti apa rupanya, tergantung si pengemban.

Selamat datang di kampus,
tempat dimana mimpi-mimpi bisa saja disepelekan,
yang awalnya dirangkul lalu bisa saja ditinggalkan,
yang kemarin teman, sekarang menjadi lawan,
yang dari mahasiswa hingga pendidik, terkadang memiliki berbagai hal yg menarik untuk ditelisik
yang goyah, akan mudah untuk dikendalikan orang lain,
yang tidak berpegang pada pedoman hidup, akan mudah dilahap maut kasat mata,
semuanya serba bisa jadi, terkadang ini membuat kita begitu berburuk sangka, di luar kendali kita
sungguh piciknya, semoga termaafkan.

semuanya hampir serba terkotak-kotak, terbenteng, penuh tembok
tapi adanya ruangan-ruangan, adalah wajar. ia merupakan tempat aktualisasi diri,
dan kita bebas memilih.
sekali lagi, semuanya serba bisa jadi, beberapa diantaranya sangat bergantung akan kepentingan.

Selamat datang di kampus,
tempat dimana kita ditempa. layak-kah untuk menatap jenjang selanjutnya?

***

2 tahun terakhir saya merasakan sempat menjadi seorang yang picik, berpikiran sempit, tanpa terasa hati disergapi keangkuhan. begitu menyakitkan, memalukan, dan menjatuhkan.
sesudahnya saya belajar, untuk mebuka mata, hati, dan telinga lebih lebar. namun tetap menjaga ketiganya.
betapa sulit, tapi ini memang hakikatnya,
hakikat sebuah amanah.

Sabtu, 02 November 2013

Saudara

Kembali dihadapkan dalam situasi demikian, membuatku kembali mengagumi sosok yang selalu disebut-sebut dalam Al-Qur'an, yang senantiasa ada dalam untaian shalawat dalam shalat dan doa, sang Nabi dengan mukjizat Al Qur'an. Aku kembali terkagum akan kemampuan Beliau menjaga hubungan dengan Allah (Habluminallah) dan hubungan dengan sesama manusia (Habluminannas). Mengelola keduanya dengan seimbang.

Betapa sulitnya..

Kembali pula teringat, bahwa dalam salah satu ayat di Surat Al Baqarah, manusia diamanahkan sebagai umat penengah; selalu ada himbauan untuk tidak berlebih-lebihan. Sekalipun begitu abstrak, sulit sekali mengukur kadar, apakah aku berbuat berlebihan?

Aku memang bukan seorang yang berkecimpung dalam dakwah, juga tidak lihai dalam menyanyikan untaian kata-kata indah dengan nuansa islami. sama sekali bukan..
yang bahkan kini meraba-raba, kembali bertanya,
bagaimana konsep ukhuwah yang sesungguhnya?

bagiku, ini lebih dari sekedar siapa paham apa
siapa membantu siapa
siapa yang paling lelah
siapa yang paling banyak masalah
siapa yang seharusnya dimengerti dan seolah mendapat hak imun 

adalah tanggung jawab;
adalah kita bersama-sama saling membantu
saling memahami, saling berkomunikasi

kalau saja bisa diam, lebih baik diam. diam saja, membiarkan yang terjadi.
layaknya membiarkan air mengalir, tanpa dibendung oleh benteng-benteng untuk mengarahkan aliran air.
biarkan saja mengalir, entah kemana ia akan bermuara.

***

bukankah kita bersaudara?



Sabtu, 26 Oktober 2013

Komentar yang selalu "Ada-Ada Saja"

a traditional Street in Chengdu. So China!

"Gue habis nangis bil," katanya.
"Setelah setahunan ini ngga nangis, dan gue nangis gara-gara diomongin ama senior gue." dia sambil menyiapkan jilbab yang akan dikenakan. lalu dia bercerita.
"lah dipikir gue bersikap karna hanya alasan yang se-picik itu? sakit hati aja gitu lho, buat gue ngga seharusnya dia menyimpulkan seperti itu ke gue.."

aku tersenyum.
"aku paham,"

ya, begitulah manusia.
semuanya memiliki bakat untuk menyimpulkan singkat atas suatu hal. beberapa diantara manusia menggali fakta dan membicarakannya terlebih dahulu, beberapa tidak.

bakat yang demikian, yang menjadi pembeda antara manusia satu dengan lainnya adalah kadar, serta pengelolaannya.

***

Kamis, 03 Oktober 2013

Bukan Mesin

stranger is in da town

Aku sempat terpaku bingung, ketika melihat puluhan bahkan ratusan orang berjalan dengan cepat menuruni - menaiki eskalator ataupun tangga manual, keluar-masuk MTR di salah satu Stasiun di Guangzhou. Aku baru saja sampai di Guangzhou, sendirian, capek setelah menempuh 24 jam lebih di atas hard seat kereta, dan baterai BB yg merah dan menyulitkan komunikasi dengan Raista, adik tingkat di kampus dan kebetulan lagi ada project di Guangzhou.

Ngga lama Raista dateng. Kita harus cepet kak, ini rush hour, katanya.
ooooh pantes! orang-orang ini berjalan cepat layaknya robot, sesekali melihat jam dan terlihat terburu. yang terlihat berusia muda sibuk dengan gadget di tangan dan headset yang nempel di telinganya. jarang ada yang bercakap-cakap, hanya derap kaki mereka yang terdengar sangat dominan. 

Asing.
Kesan pertamaku, orang-orang ini tak ubahnya seperti mesin.

Sepulang dari tanah tirai bambu aku menyesali yang ku katakan. dalam kacamata seorang perempuan yang memeluk agama, tidak mengherankan aku mengibaratkan penduduk lokal sebagai mesin. seolah satu hal yang dikerjakan sudah tuntas, selesai, kembali. apalagi aku tahu, mayoritas dari mereka tidak beragama dan tidak berkeyakinan. seorang pengacara di Guangzhou pun sangat menyayangkan sikap anak muda yang memilih untuk tidak lagi belajar dan memeluk keyakinan tertentu yang telah diajarkan oleh keluarga dan lingkungannya.

aku menyesalinya, aku merasa begitu bego.
mereka manusia, tentu saja. mereka bahkan jauh lebih smart, fast, menyenangkan, dan hal-hal menarik lainnya. mereka dikaruniai sebongkah, segumpal darah yang apabila kotor, kotor pula seluruh tubuh dan nuraninya. dan apabila bersih, bersih pula tubuh dan perangai pemiliknya.

aku sekali lagi memperbaiki first impressionku.

mereka bukan mesin.

***

Sabtu, 28 September 2013

Bahasa

bluish-sky

Sejatinya, manusia memang harus melakukan perjalanan.
Setidaknya untuk membuka mata, bahwa jutaan manusia yang hidup di luar tanah tempatnya berpijak, menggunakan bahasa yang berbeda.

Misalnya saja,
saya bisa saja jengkel sama orang Mainland China lokal yang tidak fasih berbahasa Inggris dasar. Namun sebetulnya, saya pula yang salah. Mana mungkin kita memaksa orang China berbicara bahasa yang bukan bahasa tanahnya? Apa mereka mau? Dan posisinya adalah, saya sedang berpijak di China, di tanah penduduk China.


Berarti saya yang bodoh. Saya yang ngga kreatif. Sekalipun mungkin dengan ketidakmampuan mayoritas penduduk China lokal untuk berbicara bahasa Inggris menunjukkan bahwa mereka agak kudet dan bisa jadi dianggap gak gaul, tapi rasanya lebih bego lagi, saya, yang merupakan seorang pendatang, ngga paham bahasa mandarin, dan ngga menggunakan cara kreatif untuk berkomunikasi dengan mereka. Akhirnya saya menggunakan bahasa tubuh, mengeluarkan kamus, dan menggunakan cara lain untuk mempermudah komunikasi selama saya banyak berinteraksi dengan penduduk lokal, sendirian.

Tujuannya adalah: agar saya diterima sebagai seorang pendatang, seorang yang bukan penduduk asli.

seketika saya pun teringat, petuah seorang senior saya:
bahasakan lah bahasa sesuai dengan kaumnya

***

begitu pula dengan kita, teman
kita tidak mungkin kan, berbicara mengenai manajemen keuangan pada seorang balita?
atau berbicara mengenai etos kerja pada seorang bocah kelas 5 SD?

dewasakanlah lingkunganmu dengan cara yang dewasa pula.
kenali lah lingkunganmu, lalu buatlah perubahan.
kiranya seperti itu.


Selasa, 03 September 2013

Pertengahan tahun yang seperti biasanya

Pertengahan tahun yang dinamis, seperti biasa.
Yang kemudian tidak biasa adalah efek domino yang akan kita hadapi di depan. Percayalah.

Tapi sepenuhnya aku yakin, engkau, yang aku hormati, dikelilingi orang-orang yang insya Allah sengaja diutusNya, untuk memudahkan urusan-urusan.
Saling membantu dalam kebaikan.
Niatkan, katamu. Tidak akan ada yang sia-sia, selama bertujuan mengharap ridhaNya.
Seperti yakin ku, bahwa kita mampu.
Seperti janjiNya, yang biasanya engkau lantunkan dalam surat pilihan saat shalat berjamaah.

Untuk kita yang sedang melihat awan sempurna yang kini terberai
Untuk kita yang saling menyayangi atas namaNya

Mari saling menguatkan





Selasa, 20 Agustus 2013

musibah, kah?

bisakah menjelaskan?
tentang tawamu yang kian suram
tentang bicaramu yang tak lagi menderu
tentang tatapanmu yang penuh keengganan
tentang sikapmu yang mengisyaratkan ketidak-inginan

percayalah, aku berulang kali membuang yang demikian
percayalah, aku tak percaya
percayalah, aku memahami kau tidak akan mengaku salah
karena mungkin memang tidak. aku, lah..
percayalah, aku hanya ingin raga di hadapanku
bersenandung kejujuran

***

Beliau marah besar. Gemetar tubuhnya jelas terlihat. Dahinya berkeringat bahkan di ruangan dengan mesin pendingin. Wajahnya memerah.
"aku merinding hebat," ujarnya
ia lantas menghentikan aktifitas lalu lintas dalam pikirannya, dan lincah jemari di depan benda kotak hitam berlayar. "ada apa?"
Beliau berkisah.

jantungnya berdegup tanpa ia ketahui temponya. ini kebohongan lama. kebohongan konyol yang tersimpan dengan rapi bertahun-tahun. ia sekarang dihadapkan dengan kebohongan yang pernah ia endus baunya. bagaimana bisa? dusta macam apa ini? 

mengapa dia berbohong?
ia bertanya.

aku tidak peduli, beliau mengisyaratkan kebencian mendalam. aku hanya berfikir, apa yang harus ku katakan padanya?

ia, tentu saja bisa menerka. orang itu bisa murka, dengan amarah yang seumur hidup, tidak pernah ia lihat.

kebusukan dan kebohongan macam apapun, akan terungkap. jika Allah menghendakinya, jika Allah menginginkan kita berbenah, jika Allah menginginkan kita hijrah. beliau kembali bertutur.

ia, kemudian mengamini dalam hati. benar adanya, musibah adalah sebaik-baiknya ujian bagi Allah untuk menaikkan level hidup hambaNya, untuk kemudian menguatkan pundaknya, dan memantapkan hatinya. musibah adalah pendewasaan, sebenar-benarnya pendewasaan. atau bisa jadi, musibah adalah teguran. atas yang pernah dilakukan, yang tanpa pernah terevaluasi, dan tuntunan agar kemudian mengambil alur yang lebih baik di masa depan.

tapi ia tidak memahami, mengapa begitu balasannya?

ah tapi memang, seharusnya hanya kepada Allah lah manusia menaruh harap.

***

menggerutu nya aku,
tidak sepantasnya ditiru. pembelaan pribadiku, adalah wajar.
aku wajar menggerutu.
aku wajar kecewa.
kau pun, sangat wajar menaruh kekecewaan.

yang kemudian tidak aku pahami
susahkah beritikad baik meluruskan? sedemikian beratkah ucapan jujur kau haturkan?
apa yang kau sembunyikan?

hanya ingin bersama, dalam kebaikan dan kebermanfaatan.
yang mengenalkanku pada jutaan hiasan warna ukhuwah,
mengapa kemudian memberiku suguhan kudapan yang pahitnya begitu lama?

mengapa, kamu?

Kamis, 15 Agustus 2013

Nothing Worth Having Comes Easy.

educate a woman, u'll educate a better generation

Postingan ini ternyata, mengalahkan keinginanku untuk melanjutkan beberapa cerita perjalanan di Jerman kemarin dan kekecewaan di awal bulan Syawal kemarin.

Habis, gemes rasanya.

***

Bermula dari kultwit sensitif dari Udz. Felix Siauw tentang Wanita.
Sebenarnya, aku ngga terlalu kaget dengan bahasa yang dipilih beliau dalam berdakwah. Karakter to the point, nyentil, dan memberikan fakta yang mampu menyadarkan pembaca dengan apa adanya. Beliau sendiri adalah seorang Mu'alaf yang kemudian memilih jalan sebagai pendakwah. Dalam beberapa kultwitnya yang pernah aku simak, beliau ngga segan memaparkan bagaimana kehidupan beliau sebelum jadi mualaf. Beliau juga termasuk udztad yg sangat rajin ngetwit, udah dua buku yg diterbitkan. Bahkan saking dianggap garis keras, beberapa teman sempat membicarakan buku itu dengan nada sebel (karena apa yang diungkap benar adanya) sekaligus mencari pembenaran dengan mengatakan ini mah opininya orang islam garis keras.

Well intinya, beliau cukup famous lah dalam dunia maya dan nyata.

Resiko penyampaian dakwah yg demikian, pun dengan latar belakang beliau, bisa jadi akan membawa dua konsekuensi. Peningkatan pemahaman target dakwah dengan drastis, atau penurunan yang juga drastis. Tapi aku lihat trennya, sepertinya naik, sih. anggep aja ini riset bego-begoan hasil dari nge-stalk mentionan yg masuk dari beberapa kultwit beliau.

Tapi, kultwit beberapa hari yg lalu, betul-betul bikin gemes.

Sebetulnya, aku sependapat banget tentang peran perempuan yg sangat strategis dalam keluarga. Perempuan jelas menjadi madrasah pertama untuk anak. Bahkan ketika calon bayi masih berada di kandungan, asupan rohani jika diridhaiNya, akan memengaruhi si calon bayi. Juga sangat sependapat, bahwa kemudian perempuan setidaknya punya kemampuan khas perempuan seperti masak, bersihin rumah, jahit, gendong bayi, cuci baju setrika, bla bla bla. Juga perempuan lah yg harus amanah menjaga harta suami nya, menjadi seorang peneduh dan berkarakter lembut, dan lain-lain, yg intinya akan sangat erat dengan hal-hal kerumah tanggaan dan fitrah perempuan yang disebutkan dalam Al Qur'an dan yang dapat kita teladani dari keseharian rumah tangga Rasulullah.

Bagiku pun, amanah tertinggi seorang perempuan adalah menjadi seorang istri dan ibu.

Tapi yang kemudian bikin rameee banget di twitter, bahkan ada seorang yg menghina beliau dengan visualisasi minion, lantaran salah satu twit berikut:

"wanita itu harus kuat, mandiri, nggak bergantung yang lain" | ya udah, itu pilihanmu, jarang lelaki yang mau wanita seserem itu hehe.. :D

Selasa, 30 Juli 2013

Bea, dan sedikit tentang jilbab kece dan syar'i

Hellooo!! Ki-Ka (nickita, nying-nying, mba desi, max, lutfy, moritz, inaya, wibke, maria, christian, patrick, bu Ika, aku, laura, bu dhiana)
Di Leipzig kemarin, aku sempet cukup deket dengan salah satu mahasiswi Univ Leipzig. Aku biasa panggil dia Bea. Bea saja, ngga usah ditambahin cukai. Kesan pertama ketemu Bea sebenernya agak ngilfilin. Hari pertama, setelah welcoming breakfast, kami langsung memulai presentasi. Kebetulan, presentator pertama dari FH UB adalah Bu Dhiana yang mengangkat mengenai property tentang kelautan. Selanjutnya, beberapa mahasiswa Leipzig yang dapat jadwal hari pertama. Untungnya, aku kebagian presentasi hari ketiga. FYI, tema besar JSP tahun ini adalah Freedom, Property, and Property Rights. Jatah presentasi dosen adalah 1 jam, sedangkan mahasiswa 45 menit. Lama oy.

Kesan ngilfilin sama Bea ini aku rasa bukan cuma aku yg merasakan, tapi juga semua delegasi FH UB. Kebetulan, Bea lagi flu selama acara JSP berlangsung, dari hari pertama sampe terakhir. Mungkin karena faktor hidung orang-orang bule yg mancung dan gede, dan mungkin juga waktu itu flu nya Bea cukup parah. Kami dikejutkan dengan suara "Srooooottttt..!!" di tengah-tengah presentasi. Aku sendiri kaget banget, kok bisa-bisanya sisi sekeras itu. Biasanya orang Indonesia kan pelan-pelan, apalagi kalo lagi di tengah acara formal dan hening, pasti milih untuk keluar saja agar ngga mengganggu. Nah ini, di los ae. Tapi aku berusaha menahan diri untuk ngga langsung noleh ke sumber suara. Aku mencoba tetep stay cool dan ngelihat sekitar. Ngga ada satupun mahasiswa Leipzig dan dosen-dosennya yang kaget dan mencoba mengingatkan si pembuat suara. Mungkin, suara sisi yang macam itu sudah wajar. Beda cerita sama ekspresi delegasi mahasiswa FHUB yg berusaha menahan tawa, ada yg nunduk-nunduk gigit bibir, ada yg ngikik, macem-macem. Salah satu dosenku aja langsung ngomongin kalo yg demikian jorok banget. hehehe.

Bea ini, adalah presentator yang juga kedapetan waktu presentasi di hari pertama. Menurutku, presentasi hari pertama totally boring dan ngantuk, mungkin karena masih terbiasa sama jam Indonesia. Tapi dari segi teknik presentasi saja, hanya satu mahasiswa Leipzig yg mempresentasikan papernya dengan bagus. Gagasannya yg bagus dan cenderung filosofis, dan setidaknya dia menggunakan visualisasi (powerpoint). Sisanya, ada mahasiswa Leipzig tinggi ganteng dan menurutku cool banget hehehe namanya Patrick, tapi kalo presentasi grogi banget. Tangannya gemeteran dan juga visualisasinya old way banget, pake OHP. Jadi dia nyiapin outline yang di fotocopy di mika gitu. Patrickpun menjelaskan tentang Property Right dalam Konstitusi Jerman. Dan memang kebanyakan mahasiswa Jerman yg presentasi di hari pertama, pembahasannya normatif. Akhirnya diskusipun lebih mengarah pada perbandingan dan bagaimana implementasi di lapangan.

Nickita sampe berbisik ke aku dan Lutfy, kalo begini aja mah ngga bakal lolos seleksi, bu Afifah pasti minta dia untuk ngasih contoh. Aku sama lutfy manggut-manggut imut.

Giliran Bea presentasi, dia tidak membawa sehelai kertaspun, apalagi visualisasi. Dia bahkan meminjam outline milik Patrick. Sebenernya presentasi Bea bakal menarik, karena akan mengungkap public goods yang ada di konstitusi Jerman. Bea ini pernah tinggal di Irlandia, jadi bahasa Inggrisnya faseh dan cenderung agak beraksen British. Means, buat aku, agak sulit untuk di cerna. Karna aku mulai boring, aku mengalihkan perhatian ke Mbak Desi ama Nying-Nying yang daritadi ketawa cekikikan karena alasan ngga jelas. Ngeliat nying-nying yg ketawa sampe mukanya merah, aku jadi geli sendiri dan ikut senyam senyum. Aku kira dia ngetawain salah satu dosen kami, ternyata dia ngetawain susu coklat yg rasanya aneh. Bz ngga penting. Aku kembali mengalihkan fokus ke diskusi.

Kira-kira masih seperempat materi, Bea agak kebingungan untuk melanjutkan. Aku sendiri daritadi bingung ni anak ngomong apaa, soalnya banyak "ehem" "mmm" nya. Anna, dosen mereka yang juga seorang person in charge dari pihak tuan rumah, request agar Bea segera menyampaikan apa yg menjadi fokus diskusinya. Nah, tiba-tiba Bea ngeblank entah kenapa. Dia nunduk, dan menjawab "I don't know.."

Mendengar jawaban seperti itupun, Anna mencoba menyemangati dengan memaparkan secara singkat kalimat dan kasus yg berkaitan dengan materinya yang kemudian meminta kepada Bea untuk melanjutkan analisis, agar Bea bisa presentasi dengan baik. Trus tiba-tiba hening sebentar. Dan tetap dengan menunduk, Bea kembali bilang, "I don't know, I just didn't prepare my presentation well.." dengan suara gemetar.

Langsung bisa ketebak, Bea mulai mewek. Resmi nangis.

Anna pun gupuh, dan meminta Bea untuk duduk dan ngga usah khawatir. Seisi ruangan ikut bingung, Bu Afifah kemudian mengambil alih dengan bertanya ke Prof. Enders (dosen tata negara Univ Leipzig) mengenai public goods dalam konstitusi jerman itu sendiri dan Bu Afifah memberikan gambaran bagaimana di Indonesia. Sementara, Bea duduk di depan dan mulai sesenggukan.

Aku berinisiatif untuk memberikan tissue, karena tempat duduk ku cukup dekat dengan tempat presentasi. Toh sebelumnya di welcoming breakfast, kami sudah berkenalan dan ngobrol ringan. Sambil ngasih tissue, aku berbisik "Don't worry, don't be sad, everything's okay". Dia berterima kasih dengan lirih. Sebagai presentator, Bea diminta untuk tetep duduk di depan sampe waktu diskusi selesai.

Ngga lama setelah aku kembali duduk, tiba-tiba, "SROOOOTTT..!!"

Fiuh, maneh.

***