Minggu, 07 Oktober 2012

First Impression of Chengdu


ceritanya, mau lanjutin postingan pas nyasar di China.

Setelah menempuh 33 jam perjalanan dan disambut dengan stasiun yang luar biasa megah di Chengdu East Railway Station, detik itu juga aku ngiri dan membayangkan sumpeknya stasiun di Indonesia. Chengdu East Railway Station (disingkat CERS aja kali ya) bahkan lebih bagus dan megah daripada Bandara Abd Saleh di Malang. Maklum aja sih, China memang punya Kementerian Kereta Api dan well, China negara daratan yang super-duper luas. Dengan biaya BBM yang mahal, transportasi publik yang paling gampang dijangkau kayaknya ya cuman dengan kereta api. Hampir ngga ada kota di China yang ngga bisa diakses dengan kereta api loh.

Setelah nyampe, temen-temen yang starving abis pada ngerengek minta makan. Dibayangan aku waktu itu, kami difasilitasi sedemikian rupa, at least untuk kedatangan selama beberapa hari ini lah ya, seperti halnya kepanitiaan di Indonesia yang kedatangan tamu. Semua volunteer bergegas nitipin koper di left luggage service. Nah ini juga keren banget! jadi di setiap stasiun di China pasti ada layanan left luggage servicenya. CERS ini tidak terlalu umplek-umplekan, cukup bersih dan nyaman, jadi tenang-tenang aja kalo luggage ditinggal beberapa jam, bahkan hitungan hari sekalipun. tapi yo, bayar rek!

Setelah itu kita muter, ke belakang pintu keluar dan muter lagi ke depan. Lah, kok ngga jelas gini ya? Pas aku tanya,
"hey guys where will we go now?"
"having lunch" dia bilang
"um..in restaurant?"
"yap, we're still looking for the nearest place"

oalah, berarti panitia lokalnya sendiri belom siap. belom tau ntar setelah bule-bule ini dateng mau dibawa kemana. OLALA..
pas keluar dari pintu utama CERS, pemandangannya...hanya apartemen. tinggi-tinggi. puluhan.
kotanya relatif sepi dan tenang, ngga kayak Hangzhou.
dan siang hari itu, udaranya cool, ngga panas, ngga kering, malah cenderung berkabut.

with my Buddy, Chen

suasana taman depan CERS

Sabtu, 06 Oktober 2012

Jeda

malam yang biasa saja.
tetapi tidak biasa bagi mereka yang berpasangan, katanya sih.
kataku juga, dulu. tapi itu bodoh.
juga bukan malam yang biasa.
bagi seorang istri yang di misuhi dan di maki suaminya dijalanan,
diboncengan suami, dihadapan anak.
ini serius, btw.
dan lebih daripada itu
malam ini bukan malam yang biasa, untuk yang berusaha memotong panjangnya kata
dan dengan bahasa langit yang orang awam pun tak akan sudi mendekat. muak.
tetapi sungguh, rangkaian kata yang indah
dengan suguhan pemanis disetiap frasanya
tetapi ternyata, tak bermakna.

simpel saja,
yang dibutuhkan hanyalah
jeda.