Sabtu, 22 September 2012

Ibu

Lama banget yak ngga ngepost :" *maki diri sendiri*

saya sekarang punya kesibukan baru. well, sebenernya ngga sibuk-sibuk amat --"
setelah didaulat sebagai pembawa acara dadakan oleh manteman divisi acara pk2maba fh ub, 2 minggu lalu, saya diminta jadi pembawa acara lagi di acara formal, wisuda.
hoaah, yawes accepted.

And, let me tell you what's happened today.
Gladi bersih sehari sebelum wisuda membuat aku nyadar ada salah seorang yang aku kenal di wisuda ini. Rambutnya kriwul, tingginya ngga lebih dari aku, sekarang kurusan, cerdas, cuek, simpel, tough.
Mbak Rahma.
Seorang mantan Pimpinan Redaksi lembaga pers di FH, dimana saya dulu menjadi bawahannya. Dan karena suatu beberapa hal yang atas pertimbangan hati harus diprioritaskan, saya memutuskan untuk ijin dari beliau untuk tidak bisa terus berproses disana. Bahasa Inggris beliau jos, cekatan, fokus, dan beliau juga ngambil Hukum Intern sebagai konsentrasinya.

Yang membuat aku tersenyum ketika baca susunan acara, ada namanya tertulis rapi. Beliau akan memberikan sambutan mewakili wisudawan S1.
Means? :)
Yap, beliau meraih IPK tertinggi diantara para wisudawan lain yg wisuda pada hari itu. 3,77 seingat saya. Di lembaran lain, saya menemukan lagi namanya. Sebagai mahasiswa aktifis.

Yang selalu aku ingat kalo ketemu mbak Rahma, adalah Ibunya. Beberapa bulan lalu, beliau rajin update kondisi Ibunya di fb, baik lewat status maupun foto.
Just a lil thing to show her love to her Mom. Ibunya, kala itu, disinggahi kanker. Tapi subhanallah, saya tidak tahu bagaimana persisnya, tapi entah kenapa penyakit justru membuat orang dan orang-orang terdekat menjadi lebih kuat. Sejak itu aku lihat mba Rahma bolak balik kampus-Madiun, beliau rajin"nya ngebut skripsi. Aku juga sempet datang di sempronya.

Namun, mungkin Allah berkata lain. Ibu Mba Rahma, dipanggil lebih dulu.

Beberapa bulan sesudahnya, yaitu bulan ini, aku ketemu lagi sama mba Rahma. aku kasih ucapan, dan beliau sontak berkata: "aku udah jadi maba lagi, hiks"
wah! "dimana mba? belom wisuda udah bisa ambil s2??"
"iya aku ikut tes *bla bla bla percakapan tidak bisa diingat -,-* dan alhamdulillah, aku diterima di UGM. sumpah iklimnya beda banget, kamu harus coba, kalo sempet ambil s2 dek"

sudah, percakapan lainnya ngga perlu diingat. Itu aja yang digarisbawahi. Mungkin timing yang tepat, rasanya seperti tersengat. dalam hati aku berkata, semoga..

Kembali ke wisuda, aku teringat lagi bahwa Ibu beliau sudah disisiNya. Membayangkan alangkah bahagianya beliau kalo melihat mbak Rahma dengan prestasinya yang demikian membanggakan.
Siang itu, mbak Rahma duduk di depan, paling kanan. Beliau yang akan dipanggil pertama untuk pengalungan gordon mahasiswa S1. Dandan simpel, tapi cantik. Ia terlihat berbeda. Aku sebagai pembawa acara, juga duduk depan. Dekat dengan mbak Rahma.

Di awal acara wisuda, masih nyanyi-nyanyi ngga resmi, ada salah seorang wisudawan S1 yang menyanggupi tawaran nyanyi. Dia berbisik sebentar ke kibordis, membuat kesepakatan nada dan lagu yang akan dibawakan.

"Untuk kedua orang tua saya, lagu ini saya persembahkan. Bunda."


Hatiku trenyuh, mataku tak bisa tertahan untuk tidak menoleh ke mbak Rahma.
Aku lihat ia tersenyum singkat. Rahangnya bergerak, mengeras. Sesekali ikut bersenandung. Entah mencoba menahan tangis haru, atau apapun yang dipikirkan mbak Rahma pada momen itu, aku rasa kurang lebih sama seperti yang aku dan beberapa orang rasakan kala itu. Rindu.

***

Tepat adzan isya, aku tersentak.
Telepon dari sahabat unyu SMA, Chayu, ngga terangkat. Iyalah, aku lagi merem.
ternyata ada beberapa sms dan BBM. Dan setelah aku buka, beberapa memiliki konten yang sama.

Innalilahi wa inna ilaihi rajiun.

Ibu seorang sahabat saya, salah satu dari seorang wanita yang kuat yang pernah saya kenal, Hanny Widyanti. Ibunya, yang biasa kita panggil Mam Rus, adalah guru MuLok SMA. Petang itu, harus berpulang kepadaNya. Semua yang bernyawa pasti akan kembali padaNya..

Saya tentu saja langsung teringat sebulan lalu. Saya sedang membantu Ibu masak dan sesekali fesbukan, kebetulan Hanny lagi update status. Intinya, dia butuh 11 kantong darah B. Dari komen yg saya baca, PMI di sby dan SDA kehabisan stok darah B yang dibutuhkan Hunny. Darisitu saya tau Mam Rus masuk RS lagi dan saya langsung menghubungi Hunny. "Han, golongan darahku B."

Singkat kata, aku dan Hunny janjian habis maghrib di PMI. ditengah jalan, dia telpon aku. Karena suatu hal, tidak semua pendonor dilibatkan, perlu tes dan keadaan fisik yang benar-benar sehat untuk meminimalisir efek sehabis donor. Karena yang dibutuhkan beliau adalah darah putih. Aku kekeuh tetep ketemu Hunny. Lah tanggung udah setengah jalan. Akhirnya kita janjian di dr. Soetomo.

Aku ditemani Okky lantaran ayah ngga ngijinin keluar malam sendirian. "sampeyan iku wedok lho nduk," begitu kata belia. Begitu ketemu Hunny, aku ngga pangling. Hanya sedikit kaget. Ia jauh lebih kurus daripada  setahun lalu, terakhir aku ketemu dia. Hun, kok kamu kurusan sih? Komenku. Iya, mikir ini itu Bi.. Dia menjawab apa adanya, seperti Hunny yang aku kenal.

Aku diajak Hunny masuk kamar mam Rus, beliau sedang tidur rupanya. Aku dan Hunny beralih ke belakang ruangan, dan kamipun bercakap-cakap. Lama rasanya ngga ngobrol seperti ini, dulu SMA mah hampir tiap hari. Dia banyak bercerita. Tentang Mam Rus, tentang kuliah dan pertemanan, tentang banyak hal dah!
salah satunya dia berpesan, Bi, jangan bilang siapa-siapa ya..
pas aku tanya, mengapa, dia menjelaskan dengan panjang. yang apabila ku persingkat, simpelnya adalah:

"terkadang ketika kamu down, kamu sedang berjuang untuk suatu hal, ada kalanya kamu perlu tuli sesaat. Saringan harus dipertebal. Karena komentar orang-orang yang mendengar permukaan saja, seringkali menyakitkan. Kamu perlu tuli, untuk tetap berjuang."

Ngga lama, mam Rus bangun. Aku menghampiri. Beliau ternyata sempat lupa, pertanyaan "iki sopo" cukup jadi bukti. Atau mungkin terlalu lelah untuk mengingat. Aku menyalimi beliau dan berujar, Nabilla Bu..
Oh billa to, tambah lemu yo. Habis dari China ya kamu? Tetap seperti Mam Rus yang dulu sering bercakap-cakap di sekolah.

Beliau ngga bisa terlalu capek. Ngobrol sebentar saja udah gobyos dan harus kembali istirahat. Dan Hunny, anak bungsu di keluarganya, menurutku segala tabiatnya terkait bakti kepada Ibunya, sangat patut ditiru. Kata Hunny, ialah yang harus menjaga Ibu setelah ayahnya dipanggil Yang Kuasa.

Dan sekarang, saya yakin Allah memberikan kekuatan lebih untuk Hunny sekeluarga. Mam Rus, adalah sosok Ibu luar biasa untuk keluarganya.
Semoga tempat terindah, disiapkan oleh Allah untuknya.

***

"Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan,"Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un." Mereka itulah yang mendapatkan keberkatan yang sempurna dan rahmat dari Rabbnya, dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk". [al Baqarah/2:155-157]

Muliakan lah Ibumu, seperti ketika Rasulullah SAW berkata "ummi..ummi..ummi.."
sebagai seorang yang harus dipenuhi baktinya yang utama. Baru selanjutnya, kata "abi" terucap.

Selain untuk Ibu luar biasa di seluruh dunia,
juga untuk Ibu dan Ayah nomer satu yang juga ku cintai, seutuhnya, karenaNya..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar