Kamis, 19 Juli 2012

Alam Berbahasa



pagi di Bandara Hangzhou. Hujan. Alam pun berbahasa.



Bagaimana rasanya ketika terbangun di negara yang berbeda?
Menyenangkan? Belum tentu.

Bagaimana jika terbangun di negara yang sama sekali aisng, bahasa yang selama ini dianggap bahasa alien, tempat yang asing, dan sangat sepi?
Oke, seru.

Bagaimana jika terbangun di negara yang sama sekali asing, bahasa yang selama ini dianggap bahasa alien, tempat yang asing, sangat sepi dan dengan koper hilang yg berisi persediaan dan barang” untuk 30 hari ke depan?
That’s what I face.

***

Waktu menunjukkan pukul 04.00 GMT+8 dan bandara masih sepi –sangat sepi. Yang ada Cuma aku dan ibu-ibu pengambil sampah, yang tentu saja ngga bisa bahasa inggris. Juanda pun mungkin jauh lebih ramai daripada Hangzhou International Airport jam segini.

Dalam hal seperti ini, ingin rasanya bertanya balik kepada mereka yang menganggap hal semacam ini adalah zona nyaman, atau yang menganggap, it’s an easy thing, un-necessary thing. How u can survive on this situation, Sir, Mam?

Ini bukan zona yg nyaman, sekali lagi saya katakan, bukan hal yang menyenangkan. Kalau banyak yang melihat traveling itu selalu menyenangkan, itu hanya ada di kisah mereka yang menggunakan travel agent. Itupun kalo bayarnya lebih mahal, artinya ngga menjamin juga bahwa dengan travel agent pun, perjalanan akan lebih menyenangkan karena hanya akan dibawa ke spot-spot wisata saja. Lagipula, aku juga ngga dalam rangka traveling. Kurang tepat rasanya ketika mengatakan aku hanya traveling. Lebih tepatnya ya memang student exchange. Traveling nya itu sifatnya curi-curi.

Dan yang aku alami ini, salah satu ceritanya. Lebih tepatnya, cerita yang kurang menyenangkan.

Well, baru kali ini saya merasa benar-benar sendiri secara fisik. Lah gimana engga, blas ngga ada orang.

Berkali-kali ingin rasanya mengutuki petugas air asia di surabaya, buddyku yang ngga menjemput, dan wifi yang ngga ada yang nyantol (parah ngga sih, di airport international pun wifi masih ngga bisa dipake). Tapi ya sekali lagi, mengapa harus mengutuki “kegelapan”? dia ngga tentu bisa berkurang.

Aku mencoba menyalakan terang dengan berserah pada-Nya.
Walaupun sendirian begini, aku ngga pernah merasa se-aman ini, insyaallah. Mungkin karena jilbab yang aku kenakan.

***

Pukul 04.30, wifi alhamdulillah ada yang nyantol!
Ternyata Yang Maha Kuasa, mengizinkan aku untuk ngirim email, seenggaknya ke ibu, ayah, dan buddy untuk ngasih kabar :)

2 komentar:

  1. wah lagi di china ya? dalam rangka apa ni? tetap semangat dan hati2 di kampung orang nabilla :))

    BalasHapus
  2. student exchange kak, udah 25 hari di china, akhir juli insyaallah pulang hehe
    sip kak, makasih :)

    BalasHapus