Kamis, 14 Juni 2012

Tentang Theo

the sunset seeker, tanah lot, Bali.


Aku sebenarnya sudah melakukan penolakan waktu ayah mengajak ke tanah lot. Tapi demi ayu, aku mengiyakan, biar adik sepupuku itu paham wawasan negaranya. Penolakanku bukan tanpa Sebab, setiap ke bali 3 kali dengan yang ini, aku selalu ke tanah lot. Dan yang dilihat pun selalu sama: pura yang terpisah dari daratan, pantai berkarang, dan orang-orang yang amat sangat ramai. Satu-satunya yang menjadi kelebihan yang bisa ditawarkan oleh tanah lot ini, menurutku, adalah sunset pointnya. Sudah itu saja.


Tanah lot termasuk pantai yang mainstream dan sangat ramai. Sudah dipastikan ia jadi destinasi rombongan liburan sekolah maupun liburan instansi negeri dari berbagai penjuru di negara ini. Lokasinya yang juga cukup luas, jadi salah satu faktor pendukung. jadilah rombongan 1, 2, 3 hingga aku ngga tau berapa rombongan, tumpah ruah disini. beh pusing lihatnya.

Pas sudah cape, kami memilih duduk sambil menunggu sunset. Sambil menghilangkan bete, aku ngelihatin anak-anak SD yang heboh sendiri ketemu bule. Ada 4-5 cewek SD yang memberanikan diri mengajak si bule foto, trus ngga lama, satu persatu orang nimbrung untuk ikutan foto juga. Jadilah momen yang awalnya bisa lebih eksklusif, malah gagal. Lucu juga lihatnya.

Aku mencoba mengingat apa yang membuat pandanganku teralih 180 derajat, tapi nggak bisa. Di sudut lain di tanah lot, ada keluarga kecil, bule juga, yang terlihat hangat dan bahagia. Sang Ibu yang cantik dan modis (tapi ngga lebay) sang ayah yang kayak james blunt, dan si anak yang...aku yakin banget pasti langsung diterima kalo ikutan casting bintang bebelac 3.

Mau Blue Point, mau Suluban, sama indahnya

Rasanya malu ngga sih waktu tau banyak orang luar yang terlihat lebih tahu Indonesia daripada kita? Bisa jadi mereka punya duit lebih untuk mengunjungi raja ampat atau keindahan alam lain yang masih perawan di sudut” Indonesia, atau mereka mempunyai rasa kemanusiaan yang berlimpah dan rela menghabiskan waktu untuk membantu pelestarian orang utan, komodo, dan penyu.

Aku sih, malu.
Rasanya jadi kayak asing di negeri sendiri. Jadi turis di negeri sendiri.

Pernah nih, aku menghadiri kuliah umumnya Dr. Tineke Lambooy dari Utrecht Uiversity di lantai 6 fh ub. Beliau orang Jerman lho, tapi paham dengan sistem hukum di Indonesia, khususnya tentang dinamika peraturan perundang-undangan tentang tipikor. Bahkan lebih paham daripada orang Indonesia sendiri. Waktu dia nunjukin salah satu foto, dia sempet ngasih tebakan ke audience: Ini dimana hayo?

Dan ngga ada satupun yang bisa jawab.
Dengan tersenyum dia jawab, di Rinjani, Lombok.

Ngok, katrok kabeh!
Terlihat bahwa sebagian besar orang Indonesia enggan menyisihkan sebagian uangnya untuk memperkaya wawasan nusantaranya. Ada yang lebih suka shopping, ada juga yang menganggap itu ngga penting; hanya buang-buang waktu saja orang yang sukanya jalan-jalan.

Dan the awkward moment yang kedua, aku alami di Blue Point beach, Bali, yang nama aslinya sebenernya Suluban Beach. Blue Point sendiri sebenarnya nama salah satu hotel dengan spot terbaik di pantai Suluban. Atas saran seorang teman lama, aku kesini. Katanya, blue point itu bagus banget, kamu pasti ketagihan. Aku memaksa ayah untuk mengagendakan ke blue point sebelum akhirnya kami ke dreamland dan pulang.

Dreamland. Such a Dream Land




“sunset yang indah”
begitu Bunyi bbm kak Maha, salah seorang peserta Sail Belitong 2011.
Kak Maha menyarankan untuk ke dreamland pada jam-jam sunset, ya aku estimasikan sekitar jam 5-setengah 6 WITA. Tapi apadaya, tiket pesawat yang udah kami pesan pas sekitar jam 7. Perjalanannya jelas ngga akan nutut untuk menikmati sunset sejenak.

Jadilah kami ke dreamland siang-siang, kala matahari sebagai juaranya.

Untuk masuk ke dreamland hanya perlu merogoh kocek sebesar Rp 10.000 dan parkir mobil kira-kira 15.000. Lokasinya berada di dalam pecatu resort, punyanya si Tommy Soeharto. Kalau naik mobil, dari parkiran ada angkutan penjemput dari parkiran ke dreamland. Kalau naik motor, langsung saja.

Jalan setapak menuju dreamland sih bagus-bagus aja, sudah pavingan. Ya namanya juga di dalem resort yang cukup elite. Di kiri jalan ada kubangan kecil yang warnanya hijau kotor, agak menjijikkan sebenernya. Sedangkan di kanan jalan seperti biasa banyak pedagang pernak pernik khas bali. Lebih baik nggak membeli disini ya, karena harganya mahal banget dengan kualitas yang sama seperti di pasar lain (tanah lot, sukowati, dll). Ada juga yang bilang pantai ini bernama "New Kuta Beach" atau "Pantai Kuta 2". Tapi aku tetep suka bilang dreamland. Because it's such a dream lan :)

Baru setelahnya, akan melewati “gerbang” ini:

gerbang sederhana