Minggu, 26 Februari 2012

Ketika Babon dan Siamang bertemu..

Beberapa hari sebelum berencana menghabiskan 5 hari liburan di Jakarta, saya ngontak beberapa temen. Salah satunya, dia, seekor babon partner in crime waktu SMP.

Ceritanya nih, pas SMP itu dia aku panggil Babon dan aku dipanggil Siamang. ada temen-temen yang lain juga pada kita panggil dengan spesies monyet gitu deh, tapi pada ngga terpatri dgn baik hehe. Heran juga kenapa si @amelrisar ini mau-maunya dipanggil babon, padahal pantatnya babon kan merah. wkwkwk

Aku pernah janji ke Babon buat mampir Bintaro kalo nantinya ke Jakarta. Dan ternyata baru bisa terealisasi pas hari terakhir di Jakarta, Kamis, sebelum aku balik ke Sidoarjo hari jum'atnya. Babon, yang dari gelagatnya, pengen aku nginep kosannya, jadi ga kesampaian deh. Maaf ya Bon, disamping aku harus pulang, aku juga ga mau dianggep merusak hubungan orang.. *ga nyambung*

Singkat kata, aku ketemuan sama Babon di Blok M. Cukup lama sih, lah pas aku udah berangkat aja, si Babon baru mandi. Well, ngga heran sih. Malah biasanya ga mandi ya bon? #eh.

Setelah kita ketemu di KFC dan aku terharu baget liat si Babon pake T-SHIrT warna Baby Pink, aku diajakin ke STAN dan mampir kosannya. Pas itu udah sekitar jam 11.30. Setelah nego sama bos besar dan dengan persyaratan aku dikembalikan lagi ke tempat semula (Blok M), berhasillah aku mengantongi ijin untuk ke Bintaro. Kami ke Bintaro naik Metro Mini 71 trus lanjut naik angkot.

Sebelum naik, Babon bilang:
"Kamu disini kudu ngerasain naik metromini, Mank! Sensasinya itu lho! Supirnya ngebut-ngebut, kalo udah ngepot, penumpangnya pada bersorak!"

Sabtu, 18 Februari 2012

pertemuan di suatu perjalanan

Hey, pernahkah kamu bertemu cinta di suatu perjalanan?
Aku selalu bertemu dengannya.
Ia ada di hati seorang ibu yang menidurkan putranya.
Ia tercermin  mata pengemis-pengemis kcil yang merindukan sesuap nasi
Ia ada di luar jendela kereta,
menjelma menjadi lampu-lampu jalan yang menerangi malam.
Ia berada di jiwa-jiwa penjual makanan, di hati para tulang punggung keluarga.
Ia berada di sudut temaram hati.
Ia menjadi pelipur kesedihan.
Ia menemani hati,
mengiringi kepergian sebuah memori.
Ia menjelma menjadi sebuah rasa yang menjadi kunci dari semua rahasia.

Sebuah keikhlasan.

Kamis, 09 Februari 2012

Konferensi yang Menginspirasi!

Mungkin sebagian orang berfikiran aku kurang waras ketika mereka tau aku ke Jakarta untuk...liburan.

Yaa dimana mana gitu ya, yang namanya liburan pasti nyari kesenangan, sesuatu yang bikin pikiran fresh dan jauh dari kekacauan lalu lintas akibat terlalu banyak kendaraan bermotor semacam di Jakarta gitu deh. Lah ini, kasarannya, malah mengunjungi kepadatan kota.

But for me, this trip isn’t for shopping or see interesting place in objective view.
It is for me time, meet people, and for surprises.

Sebenernya yang bikin aku buru-buru ke Jakarta adalah acaranya Indonesian Future Leaders (IFL) yaitu National Conference Meet The Leaders yang dihelat hari Minggu tanggal 29 Januari 2012. Jadi konferensi nasional ini merupakan pembukaan ajang Parlemen Muda. Pematerinya juga menggiurkan, ada Anis Baswedan, Pak Joko Widodo, Dik Doank, Lidwini Marcella (founder of KOPHI), Leo Wokodompi (Indonesia National Comission for UNESCO, bagi yang belom tau, dia ini Leo AFI. ngetren banget pas jamanku SD hehehe), Christopher (France student yang care banget sama Indonesia!), Ayu (Indonesia Mengajar), Leonnardo Kamilius (founder Koperasi Kasih Indonesia), Pemred TEMPO, DaaiTV, dan lain-lain yang bikin aku ngerasa, ini kesempatan yang nggak boleh dilewatkan.

So I’m going to share The National Conference Meet The Leaders.

Acaranya di RRI pusat, sebelahnya Gedung MK. Yang ngadain kebanyakan temen-temen UI. Bahkan diluar dugaan, ternyata a man who was in charge di IFL sendiri masih mahasiswa, tapi udah bisa ngadain acara dan program yang menurut aku, impactnya gede. Acaranya dibuka oleh Ketua DPD RI, Dubes Eropa, dan Pak Anies Baswedan. Udah pada tahu sama Pak Anies Baswedan kan? Beliau yang menggagas program edukatif dan super bermanfaat yang bernama Indonesia Belajar, menantang mereka yang memiliki pekerjaan mapan dan rela kembali pulang ke Indoesia untuk mengajar di daerah pelosok di Indonesia. Prinsipnya adalah:

Setahun mengajar, seumur hidup menginspirasi.

Luar biasa, dari jangkauannya aja, program ini sudah kelihatan sekali kemana. Jangka pendeknya jelas mencerdaskan anak-anak yang berada di pelosok dan kekurangan tenaga pendidik. Jangka panjangnya, para pendidik ini diharapkan mampu memberi inspirasi kepada murid-muridnya agar suatu hari nanti, mereka menjadi generasi muda bangsa yang bermanfaat dan dapat membawa perubahan. Sebagai bukti nihye, panitia juga menghadirkan mbak Ayu yang mengajar di salah satu desa di Halmahera. Beliau salah satu pengajar muda yang cukup sukses dan smart. Beliau selalu mengajarkan kepada murid-muridnya tentang toleransi beragama. Bahwa di desa tersebut, terdapat 2 agama yang saling membenci satu sama lain. Anak-anak telah di doktrin, “agama A itu jahat, kita tidak boleh berkawan dengan mereka” begitu pula di bagian yang lain, “agama B itu jahat.”

Hal ini jelas mengancam persatuan bangsa kita. Dalam Al-Qur’an saja diperbolehkan bekerja sama dengan orang-orang yang berbeda keyakinan dengan batasan “bagimu agamamu dan bagiku agamaku”. Perlahan-lahan, usaha beliau memperoleh titik terang. Waktu menampilkan foto-foto di presentasinya, beliau juga menuturkan,

“tanpa mengikuti Indonesia Mengajar, saya tidak akan bisa menemukan senyuman dan berbagi kisah dengan mereka. Juga, saya tidak akan bertemu seseorang yang menjadi suami saya sekarang..”

Mbak Ayu menutup kalimatnya dengan tersenyum dan menoleh kepada seseorang di bangku pemateri. Di susul dengan riuh peseta konferensi. Aww, sweet! Serius deh aura bahagia itu hampir selalu terpancar oleh pasangan yang berbahagia, apalagi sudah, akan, atau sedang menjalani pernikahan di usia yang tidak lagi muda. Sekaligus memancing sebuah pertanyaan, aku kapan ya? *abaikan*

***

Menurut aku sih, ngga ada pemateri yang nggak menginspirasi. Bahkan Marshanda! Awalnya, heran juga kenapa harus nih artis sih yang diundang jadi pemateri? Ya mungkin bagi sebagian orang (termasuk saya) masih mendapati stigma Marshanda sebagai ABG-yang-mengupload video-di-youtube karena tekanan yang dia alami. Sekalipun sudah menikah, label itu masih terpatri. Tapi hari itu, Marshanda cantik deh, jilbab dan bajunya oke, yang kurang oke sih high heelsnya. Ketinggian! Jadi bikin jalannya kurang anggun. Dan hari itu juga baru aku tahu kalo Marshanda juga punya project di bidang sosial. Bagus juga nih, pantes udah jarang nongol di tipi.

Kalau penilaian pribadi sih, paling suka sama Pak Joko Widodo yang super humble plus Dik Doank. Hari itu sih pertama kalinya aku ngelihat Pak Jokowi secara langsung, biasanya sih dari twitter aja, ngelihat update-an twitternya. Ketika dipanggil, beliau jalan dengan santai, menyapa pemateri dan tamu-tamu disebelahnya, dan stand up comedy bentar.

Lha kok?
Iya, aku bisa bilang beliau stand up comedy. Mbanyol mulu! Pak Jokowi bener-bener merepresentasikan orang solo deh, orang Jawa pada umumnya. Ramah, medhok, dan apa adanya. Saya termasuk yang mengiyakan curhatan beliau bahwa beliau sama sekali ngga ada potongan jadi walikota. Jujur saja, postur tubuhnya jauh daripada anggota dewan yang tegap dan berisi. Bahkan pikiran yang melintas di kepala ketika melihat beliau adalah: abdi dalem. Duh nyuwun ngapunten, Pak.. Tetapi dibalik sosok yang nggak ada potongan itu, tersimpan benih ketegasan, pengabdian, dan konsistensi dalam membawa perubahan dan perbaikan bagi masyarakat yang telah mengamanahi beliau selama dua periode.

pahlawan-nya wong Solo!


Beliau presentasi hanya bondo slide yang full foto-foto beserta caption seadanya. Tanpa teks. Tetapi dengan sukses membius para peserta konferensi tentang arti pemimpin yang sebenarnya. Beliau memaparkan dengan baik dari awal pencalonan walikota: satu tahun pertama yang dihujani demo, tahun-tahun berikutnya yang malah Pak Jokowi nya yang kangen di demo, hingga sekarang: ketika masyarakat Solo menyadari mereka memiliki seorang pemimpin yang telah menggoreskan sejarah di hati rakyatnya, tentang perubahan perekonomian, kebijakan yang pro rakyat, dan pemberdayaan masyarakat.

“Jadi pemuda jangan mall melulu yang diurus. Mall itu Cuma kepunyaan satu orang. Cobalah ke pasar tradisional. Kalau pasar tradisional diberi sentuhan sedikit, bisa cantik lho. Saya bukan anti investor. Kalau mau membangun mall, ya saya kasih izin. Satu saja cukup.”

"Leadership is action, not position."
Begitu pesan beliau.

Sementara Dik Doank, sukses menghipnotis peserta dengan gayanya yang nyentrik dan humor-humor segar. Sosok yang doyan banget dipanggil om ganteng ini sempet curhat tentang masa sekolahnya yang bodoh, tolol gara-gara nggak bisa bersahabat dengan angka. Sama seperti pemateri" sebelumnya, dik doank juga memberikan wejangan fresh. Seperti:
"kamu tau, bersekolah itu penting. kenapa? agar kamu juga tahu bahwa sekolah itu gak penting"

Itu sebagai kritik atas sistem kurikulum Indonesia yang kurang efektif. Baginya, lucu saja ketika anak nelayan yang tangkas dalam menyelam dan mencari ikan, anak gunung yang jago merawat alam, harus dinyatakan tidak lulus lantaran nilai matematika yang jeblok. Sebagai solusi, beliau mendirikan Kandank Jurank Doank, sebuah pembelajaran non-formal yang insya Allah tetap bisa mencerdaskan bangsa dan menumbuhkan akhlak.

Berkali-kali beliau mengajak peserta konferensi untuk berdoa dan sesudahnya, memberikan sebuah kata yang cukup menarik.

Cinta Allah itu abstrak, bukan struktural.

Cinta yang bisa didapat dimana saja, dengan cara yang dikehendaki olehNya, dan tidak melihat sekat-sekat duniawi buatan manusia.

Selasa, 07 Februari 2012

yang tak akan terlupakan

seorang teman, pernah bertanya kepada saya,
kapan kamu nyeritain temen-temen SMA di blogmu bi?

detik selanjutnya, saya tertegun.
mungkin karena intensitas waktu untuk bersama sudah terpangkas, jadi waktu untuk berkumpul sama temen-temen SMA jadi berkurang juga. Ya wajar saja, sudah pada kuliah, sibuk menggali potensi masing-masing, dan pencar-pencar. Waktu untuk bertemu pun, sulit sekali gathuknya. sehingga, terkadang rasa rindu yg menjalar diantara kami, harus mengendap sampai waktu yang tidak ditentukan.

So I'm going to this:

Sebagian besar orang bilang, masa remaja yang paling tidak terlupakan terjadi saat SMA.
aku termasuk yang mengamini. Dan setelah ini, saya ingin mengenalkan orang-orang yang sangat mewarnai hidup saya. mungkin juga, saya turut mewarnai hidup mereka.

I'm sure, we coloring our life each others :)

***

1. Chayu cheng Amrita Nanda / Chayu

I guess, she already knew for this 1st place. Dia pernah cerita kalo temen-temen deketnya lebih suka manggil dia "Ditta". Tapi sampe detik ini pun, aku kalo manggil anak-behel-anyaran ini ya Chayu. Alasannya, nama yg aneh tapi mudah di ingat. Dia juga cerita, nama chayu diambil dari bahasa sansekerta yg artinya penggerak.

"So I was born to make a move..hahaha" begitu katanya. aku sih, ngga denger yaa..
Awal pertemuan kami absurd abis. Bahkan dimulai dari prasangka buruk satu sama lain.

Ceritanya, setelah upacara ospek, sisba (siswa baru) digiring ke kelas masing-masing. Detailnya udah agak lupa sih, yang jelas di pintu gerbang kecil, telingaku cukup terusik dengan suara cewek yang nyanyi ngga jelas, seolah menunjukkan kegembiraannya masuk Smanisda. Jelas berbanding terbalik sama aku yang waktu itu, masih terbius dengan doktrin: anak waru yang mbois sekolahnya di SBY dong! Setelah aku noleh, nongol-lah wajah si Chayu diantara kerumunan. Buset dah, pede banget ni anak, boro-boro kalo sepi. Lha ini rame banget, sisba pada rebutan masuk dan dia nyanyi!

Sedangkan Chayu sendiri, matanya keganggu dengan potongan rambutku yang memang berbeda dari cewek-cewek lain. Belakangan, setelah jalan kira-kira 1 semester, potongan rambutku yang waktu itu dianggap aneh, ditiru sama salah satu kakak kelas. hahahhaha so I was a trendsetter :p

Dan parahnya lagi, waktu sudah pembagian kelas, aku lihat wajah Chayu nongol di kelas X-8. aahhh surem dah sekelas sama anak ini. But I was totally wrong. Kenyataannya, kami sekelas selama 3 tahun, 2 tahun menjadi teman sebangku, dan sekarang berada di kampus yang sama dengan fakultas beda.

we are in love till now, iya gak chay? wkwkkwkwk

2. Ivory Kraska Taruna / Orry (@orryVBT2)
apakah pose ini terlihat sangar?
Apa yang terlintas dibenak ketika pertama kali denger kata Ivory?

Kalo aku sih, type bedak cewek! hahahah. Pertama kali aku denger nama Ivory, yang aku pikir adalah nama itu terlalu cewek untuk seorang cowok yang jadi pujaan beberapa adik kelas di SMA. Dan memang banyak yang bilang Orye gantenglah, mirip Afghan lah. Tapi sorry rye, aku bukan golongan mereka -.-v

Orye is very nice boy-friend. Dia seorang yang cerdas, jujur, sederhana, kemproh, anti-parlente, tukang nge-scream, konyol, 'G' (I promise him to not to spell this word. hahahha) dan pemberi nasihat yang baik. Mungkin hanya ke Orye aku berani cerita 'undercover' hehe

Sepatu North Star sukses menjadi perantara perkenalanku sama Orye. Jadi ceritanya waktu itu ada acara lanjutan MOS, salah satu games nya adalah mengumpulkan semua sepatu di tengah lapangan. Dan sepatu yang awalnya ditaruh rapi, diaduk-aduk sama panitia. Buset dah, jadi pada kecampur. Setelah itu dengan santainya Mas Agung (MC) nyuruh kita ngambil sepatu milik kita dalam waktu sekian menit. Peraturannya, kalo ada sepatu yang ketuker, harus kenalan sama yg ngambil sepatu, kalo ngga tahu namanya bakal dihukum. Silahkan dibayangkan sendiri.

Waktu itu, aku pake sepatu North Star item ukuran 40. Dengan jeli, aku nyari sepatu yang jelas-jelas aku kenali diantara gunungan sepatu. Begitu dapet, aku bawa lari dan kembali ke tampat, ngerasa aman karena nggak perlu kenalan. Buru-buru, aku pake lagi sepatuku. Tapi kok, kecil? Hadaah ternyata ketuker! Malah lebih ribet deh, mendingan kalo masih ada di tumpukan sepatu kan jelas posisinya dimana, kalo ketuker? Masa aku nanyain satu-satu sih.

Rani, sisba yg pertama kali aku kenal (dan sekarang dia jadi pramugari lho) ngasih tau kalo sepatuku dibawa Ivory. Pas aku nanya, yang mana sih anaknya? Dia bilang, yang ganteng itu lho, sambil nunjuk Orye. Gak pake lama, aku lari ke arah Orye dan langsung aku tanya, itu sepatuku ya? Sejurus kemudian, sepatu sudah berada di tangan para pemiliknya. Dan bego-nya aku ngajak Orye kenalan. Bukan apa-apa, karena aku males kalo nantinya dihukum dan ngga bisa nyebutin namanya si Orye. Pada akhirnya toh hukuman itu ditiadakan. Yaelah.

Setelah kenal, Orye cerita kalo dia sengaja ngambil sepatuku karena ukurannya lebih besar. Yang dia pake waktu itu punya mbaknya dan ukurannya lebih kecil. Oh resek!

3. Yomi Normaningsih / Bos-Yom
jangan dicontoh.

Preman! Tapi wedi kucing. hahahah
Sekelas sama Bos-Yom sejak kelas 1, dan sama kayak Chayu, kita sekelas 3 tahun! Tapi sekarang dia kuliah di Unair. Dipanggil "BOS" ya karena tingkahnya yg udah kayak preman, mbanyol abis tapi juga alim.

Yang paling aku inget waktu pertama kali kenal BosYom, ya pas pelajarannya Pak Munarto (Muatan Lokal, waktu itu ttg Tourism), dengan bangganya Yomi memperkenalkan diri. Pas tiba sesi pertanyaan, ada pertanyaan dari mbak Ami yang agak menusuk: Mengapa anda berjilbab? Dengan santainya BosYom menjawab, ini paksaan dari ayah saya sejak saya kecil. Seisi kelas ketawa ngakak.

Walopun dia sangar, tapi sisi lembutnya juga ada lho. Salah satu buktinya, BosYom punya pacar! yang dulu sempet putus dan sekarang balikan lagi.. ciyeeeee!



4. Intania Dwi Permata / Nyak
yang cewek ye!

Julukannya sih Dewi Kuan In. Pada tau kan? Yang di Kera Sakti itu loh. Anak" kelas IPS manggil dia gitu soalnya wajahnya tipe-tipe wajah adviser di kalangan anak-anak IPS waktu itu. Tapi memang kepribadiannya demikian: seorang pendengar dan sahabat yang keibuan. Kalo curhat sama dia, pasti di dengerin dan (kalo dia mudeng) pasti dikasih saran heheheh. Aku sih pernah bilang ke Nyak, kalo namanya "bersinar banget". Coba deh artikan sendiri!

Pertama kali ketemu Intan, malah waktu MOS angkatan bawahku pas. Jadi ceritanya aku sama dia sama-sama panitia (perwakilan dari eskul. Intan dari paskib, aku dari tari). Waktu itu penjurusan IPA dan IPS belom fixed, jadi ya masih kumpul-kumpul sama temen-temen di kelas X. Intan sendiri kelas X-5 dan aku X-8. Dan pas lagi nongkrong di waktu luang, aku ngajak kenalan.
"Eh namanya siapa?"
"Intan" *sambil julurin tangan*
"Paskib ya?"
"iya!" trus dia umek sama catetannya. Nggak lama, "eh aku tinggal dulu ya.."

oke, sesingkat itu.. -______-"
Selanjutnya, kami ketemu lagi di kelas IPS 2 tercinta! Dan ketemu lagi di tahun selanjutnya di kelas yang sama! Dan ketemu lagi sampe mungkin..2 tahun ke depan di Universitas yang sama! Untung beda fakultas..ehehehhe

5. Hanny Widyanti / Hunny
hunny - me - chayu

Yak, sampe juga di sesinya miss rempong bin lebay!
hehehhe itu emang ciri khasnya Hunny, lebay abiss! Tapi dia sosok yg rame, perhatian, dan care banget sama sahabat-sahabatnya, saking perhatiannya sampe terkadang cemburu dan berujung ke permasalahan yang pada akhirnya, mendewasakan semua pihak. Ya ngga hun? :)

Kalo tahu ada temennya yang punya masalah, Hunny pasti menjadi orang yang paling berani untuk mendekatinya, sekalipun dia adalah orang yang sangat tertutup atau mungkin menutup diri untuk beberapa hal. Kalo ada permasalahan akademik, dia juga kendel banget tanya ke guru. Yah begitu deh kalo urat malu kadang udah putus. heheheh *damai Hun* Ibunya Hunny, Bu Ros, juga guru di Smanisda. Jadi kalo ada gosip hangat atau info penting (contoh, info libur mendadak karena rapat, dll) pasti cepet banget nyampenya! hehehhe

And the thing that I always remember about her,
she is a strong girl. Proud to have a friend like youuuu

6. Nur Rochmad Choiririzal / Ichal
ini orang lho!
Mr. Aktipis! Dari pertama kenal Ichal di kelas X-8, udah keliatan banget jiwa-jiwa aktivis-organisatorisnya. Masih kelas X aja udah kepilih jadi MPK. Ichal bener-bener tahu cara memanfaatkan waktu dan memaksimalkan potensinya. Dia supel banget dan temen curhat yang asik.

Pertama kali ketemu Ichal tuh... *gak inget*
cuman sejauh ingatanku, kesan pertama ketemu Ichal, dia sosok yang ramah, sopan, dan alim. Trus stigma ini berubah drastis pas udah kenal Ichal di tingkat selanjutnya heheh becanda. Orangnya doyan mbolang dan ngebut-ngebutan. Duh suer deh horor kalo di bonceng Ichal, tapi safety nya tetep diutamakan kok hehe.

Sama seperti Chayu, dari kelas 1-3 SMA sekelas mulu sama Ichal! Kuliah juga, tapi untungnya beda jurusan. hehehe Ichal nerusin di Ilmu Politik. Manteb banget deh, aku kadang ngebayangin gimana nanti Ichal nyalon jadi anggota legislatif yang membawa semangat perubahan..wuwuwuuw.

7. Rizky Aulia Fajri / Ulik / Incho
nah!

Kalo yang ini Mr. Autis. hehehhe
Polahnya banyak banget, nggak bisa diem deh! Dikit - dikit menclok sana-sini, ngerjain orang sana-sini. Paling sering sih si Ulik ngerjain Nyak! Aku biasanya panggil Incho = ketua kelas. Ya simple soalnya dia dulu ketua kelas di kelas IPS hehe.

Ulik ini siswa import dari SMA Puri Mojokerto, tapi SMP nya di Sidoarjo. Jadi dia setahun di Puri baru deh pindah Smanisda dan langsung masuk kelas IPS. Berhubung emang berdarah sidoarjo, dia langsung akrab sama temen-temen di kelas. Ciri khasnya Ulik yang lain, cucuk nya yg panjang banget! hahahaha

Pertama ketemu Ulik ya di kelas, tapi yang memorable banget itu waktu dia sama salah satu temen sekelas, aku pergokin jalan di Cito di awal kelas XI ^^V
Sekarang dia kuliah di fakultas yang sama kayak Orye ama Chayu, Hubungan Internasional. Hebat juga bisa masuk HI, padahal sehari-harinya jadi juragan kepiting. hehehhe

***

Sebenernya masih banyaaak yang pengen di tulis disini. Tentang X-8 (Pudhel, kelas paling kompak!), tentang Shakai Kurasu, tentang Gyokuza, tentang VBT dan segala kegilaannya...

But believe me, this space cannot contain all of my Senior High Shool Stories with you all. You are unwritten, guys :)


Nanda - Petek - Orye *trio ganteng autis*
ini baru temen-temen pudhel! Kompak banget lho!
fotonya keren banget ya, diluar negri nih.
Geisha part 2


VBT dan selir







***

It’s not about who you spend the most time with. It’s about who you have the best memories with..

Minggu, 05 Februari 2012

Dari Gunung turun ke Cihampelas

Sepertinya, sebelum memulai postingan ini, saya harus jujur bahwa:

Saya, seorang mahasiswa yang tinggal di Sidoarjo, sedang mengenyam pendidikan di Malang dan belum pernah menginjakkan kaki di Bromo.

Tapi walaupun begitu, atas izin-Nya, saya diperkenankan bersentuhan dengan kaki langit Gunung yang lain, ya mana lagi kalau bukan Tangkuban Perahu. Hehe .. Sebelumnya, sempat ragu juga untuk memilih antara Kawah Putih atau Tangkuban Perahu. Karena beberapa hari sebelumnya, daerah di Indonesia diguyur hujan lebat dan angin kencang, termasuk Bandung. But, we’re so lucky.  Tangkuban Perahu dinyatakan dibuka untuk umum pada hari itu.

Untuk menjangkau Tangkuban, bisa naik angkot, tapi berhubung rute angkot di Bandung ini luar biasa ruwet untuk pemula, kami akhirnya dianter sama temen budenya sista. Rute yang diambil pun lebih singkat dan ngga lewat jalan gede. Kami lewat pegunungan, mblusuk-mblusuk dan nyasar dikit, tapi sampe juga akhirnya di Gunung Tangkuban Perahu yang bau belerang! Hawanya dingin sih, apalagi sempet diguyur hujan beberapa menit dan kabut tipis sempet turun.

Jangan nyoba-nyoba nyebur ya!

Kuda Gaul

pose!

a life.

Pulangnya, kami pada request ke Gua Belanda dan Gua Jepang yg ada di sekitar jalan Dago. Eh ternyata mang-nya juga ngga tau jalan, resmi nyasar deh! Sampe ngantuk sendiri aku. Setelah nyasar sana-sini dan nanya orang, akhirnya nemu juga jalannya.

rute


Gua Belanda dan Gua Jepang ini sebenernya termasuk dalam satu kawasan Taman Hutan Raya Ir. H. Djuanda. Tiketnya berapa ya lupa hehe, antara 3000-8000 gitu deh seingetku. Di dalamnya ngga hanya ada Gua, tapi juga beberapa air terjun. Kalo mau keliling semuanya sih, bakalan sengkleh banget nih kaki. Dan berhubung waktunya mepet, kami cuma mampir ke Gua aja. Waktu bayar di loket bakal ditanyain, mau pake guide apa engga. Biayanya sih 75ribu, bisa ditawar.

salah satu jendela Goa Jepang

Rute pertama, kami ambil ke Gua Jepang dulu. Setelah berjalan 100 meter dari pintu masuk, kami ngelihat yang jaga di Gua Jepang ternyata cowok-cowok yg tampangnya sangar-sangar. Mereka menawarkan jadi guide, sista udah nolak. Trus ditawarin senter dengan biaya 3000, Dina ngambil. Aku sih jalan belakang sendiri. Dan waktu aku amatin, kami berempat satu-satunya pengunjung di sekitar situ. Jarak 1 km ke depan dan ke belakang ngga ada pengunjung lain. Mampus loh! Bukannya parno sih, cuman kami semua cewek dan bukan orang lokal.

Udah gitu, mereka mulai ketawa cekikian pake bahasa Sunda yg jelas aku ngga ngerti artinya. Mereka juga ngotot ngikutin dibelakang kami. Akhirnya aku cegah temen-temen di depan untuk masuk dan mengisyaratkan untuk segera ke Gua Belanda aja.

Kami fixed ga masuk Gua Jepang.
Biarin deh, daripada direcokin sama cowok-cowok sangar.

Di Gua Belanda kondisinya lebih rame. Penjaga di depannya juga menyewakan senter. Berhubung waktu itu kami ngga pake guide, akhirnya nebeng guide-nya orang lain. heheheh maklum deeh mahasiswa. Sebenernya di dalem gua juga ngga ada apa-apanya, ya sekedar terowongan aja dan ada semacam penjara bawah tanah gitu. Kadang ada kelelawar yang melintas. Kesannya sih serem aja, udaranya juga lembab (iyalah, bawah tanah!) Kata guidenya sih, gua belanda itu pernah dijadikan tempat uji nyali. Beh, ngga ada kerjaan kali yaaa..hehe.

pintu masuk Gua Belanda


suasana di dalem Gua Belanda


Waktu sudah semakin sore, saatnya nganter aku ke Cihampelas, tepatnya ke kantor X-Trans. Malam itu aku harus ke Jakarta sih. Temen-temen sempet belanja bentar di Cihampelas, setelah itu mereka capcus ngga tau kemana. Kami resmi berpisah deeeh.

Berhubung waktu itu lagi butuh banget koneksi internet, buru-buru nyari warnet deh. Sampe mblusuk-mblusuk ke rumah penduduk, akhirnya nemu warnet juga! Lumayan deh, mengisi waktu sore hari di Cihampelas, sambil menunggu petang dan waktu keberangkatan.

twilight @ Cihampelas. Macet.

Tepat pukul 19.00 saya menikmati perjalanan malam menuju Jakarta. Meninggalkan Cihampelas, Bandung, dan temen-temen yang masih liburan di Bandung sampe hari senin.

It's time to me time :)

Sabtu, 04 Februari 2012

Pemandangan lain di kota Fashion

Hari Kedua di Bandung sepatutnya disebut sebagai Hari Shopping. Aku emang bukan shopaholic –ngga tiap bulan belanja dan ngga freak sama brand-brand ternama ataupun update dengan fashion terbaru. Hanya saja, kalau memang dirasa perlu belanja, ya aku belanja. Dan kali ini, aku rasa memang perlu dengan pertimbangan: pertama, aku mau belikan pesenan adek sepupu dan Ibu. Kedua, this city just like a heaven for woman. Hehe ..

Kalo mau yang murah-murah, jangan belanja di Mall. Pergi saja ke Pasar Baru. Kondisinya sih 11-12 dengan Pasar Besar di Malang, hanya saja bedanya lebih bersih dan rapi. Pedagangnya juga kebanyakan masih muda-muda dan lebih ramah dari pada di malang. Contohnya:

Aku: Teh masa ini 35 teh? 25 bisa ya?
Mbak cakep: udah pas 35 teh, sudah murah itu (sambil senyum)
Aku: 30 deh teh?
Mbak cakep: itu sudah murah teteh (tetep senyum)

Begitulah ilustrasinya. Coba kalo di Malang atau SBY.

Aku: Mbak, masa segini 35? 25 deh?
Penjual: Gak isok mbak, regone wes pas iku.
Aku: 30 wes?
Penjual: Gak isok mbak, regone ancen sak mono. aku lho njupuk bathi yo mek sithik. Lek gak gelem yowes mbak tinggalen.
Aku: ......

Tapi pedagang di Pasar Baru banyak yang plin-plan. Waktu aku naksir rok di salah satu toko dan nanya harga, dia jawab 95, teh, paling bisa turun sampe 90 aja.
Gak minat, aku tinggal. Tapi setelah muter-muter, kok masih penasaran aja ya. Akhirnya aku balik ke toko tadi, dan iseng nanya lagi. Eeh dia bilang, ini 70 teh. Bisa ditawar.

***

Dari Pasar Besar, kita pada lanjut ke Cihampelas dan maen-maen ke Ciwalk. Oke, sebut saja saya norak, tapi mall ini keren dan cozy banget! Suasananya bukan kayak mall yang biasanya –pertokoan dempet dan indoor. Ya memang Ciwalk menyediakan arena indoor, tapi juga ada outdoornya dengan arsitektur yang menawan. Pokoknya, asik banget deh dibuat gaul (kata gaul terdengar ABG banget ya). Sebenernya aktifitas yang, menurut aku, asik dilakukan di Ciwalk adalah ngobrol sama temen, baca buku, ngerjain tugas, nulis, atau hanya leyeh-leyeh menikmati orang yang berlalu lalang. Tapi ya harus ngerogoh kocek dikit sih untuk membayar makanan di tempat yang akan dipilih. Berhubung kami turis kere, mampirnya ya ke Jco saja. Cuman habis 6000 rupiah dan bisa duduk-duduk sampe ngantuk.

Ciwalk, tempat dimana kamu bisa salto sepuasnya.

Siang itu sih, ngga seberapa menjelajah Cihampelas karena kami mengejar waktu. Sebelum jam 4 sore, harus sudah sampe di Jalan Riau biar ngga macet. Cuman sempet ke kantor X Trans aja buat ngurus travelku ke Jakarta Sabtu Malem.

Begitu sampe Jalan Riau, pemandangannya hanya rumah-rumah unik yang memiliki papan nama. Oke, sebut saja Outlet. Sebelum masuk outlet, kami makan mie kocok, sista pesen otak-otak bandeng. Pas saya tanya ke penjualnya, kenapa namanya mie kocok? Dianya jawab, “Ya soalnya bikin mie nya pake di kocok neng.” Hah? Jawabannya gak kreatif banget hehe.

13rebu!

Kalo mau belanja dengan kualitas dan pilihan model yang beragam, ya disini tempatnya. Outlet disini jauh lebih banyak dan beragam daripada yang ada di Jalan Dago. Harganya ya, beragam. Yang jelas jangan dibandingin sama di pasar, ya. Tapi menurutku sih, harga disini sepadan dengan barang yang diterima. Worth it. Kami sih pede-pede aja keluar-masuk outlet walaupun ngga beli. Hehe.. tapi pada akhirnya aku sendiri jatuh hati sama satu outfit.

***

Sewaktu jalan ke Bandung Indah Plaza, aku ngelihat ada pengemis yang tidur di perempatan trotoar. Dia masih kecil, kira-kira kelas 3 SD gitulah. Dan parahnya, dia tidur dengan cup popmie bekas sebagai tadahan uang receh yang diluncurkan oleh siapapun yang terketuk hatinya.

Ba’da maghrib, kami kembali ke Jalan Riau karena bakal dijemput disana sama Pakdhenya Sista. Otomatis, bakal ngelewatin jalan yang sama. Awalnya aku kira, si anak pengemis tadi udah bangun dan pergi. Perkiraan saya ngga salah. Anak lelaki tadi memang sudah bangun dan pergi. Tapi ‘kasur’nya dihuni oleh anak pengemis lain. Kali ini seorang gadis kecil dengan posisi cup popmie yang tidak berubah.

a child


Life is cruel, for some people who cannot choose what they want to be.