Rabu, 07 September 2011

Yang Tersisa di Bulan Ramadhan

Hallooo wonderful readers!
alhamdulillah banget ya sudah memasuki bulan syawal 1432 H #syahrini-isme dikit :p
mohon maaf lahir batin yaa untuk semua :) semoga kita dikaruniai berkah oleh Nya, aamiiin ya robbal alamin.

Di salah satu malam di bulan Ramadhan (lupa malam ke berapa) ada ceramah sholat tarawih yg menurutku worth it to share. penceramahnya aku juga lupa namanya siapa, hehe maaf -payah bgt-.
Judul ceramahnya "Jika Ramadhan Tahun ini adalah yang Terakhir".
horor nggak tuh?
memang tema yg serupa sering kita dengar di ceramah-ceramah yg lain, apalagi menyangkut kematian dan lain-lain. seolah-olah tema itu udah basi.

Tapi yg spesial dari ceramah ini adalah Ramadhan-nya. sebulan penuh ibadah kita dikasih pahala berkali-kali lipat, bulan yg tepat untuk mencari ridho-Nya, memohon ampunan plus nyari hidayah. penting lho.. hidayah itu kalo ngga ada kemauan untuk nyari, biasanya datang dengan teguran dari Allah. biasanya..ini hanya analisis bego-begoan dari pengalaman pribadi, orang-orang dekat, dan infotaimen. hehe.

Sang penceramah agak curhat gitu sih, tentang kematian kakaknya yang sama sekali nggak dia duga. dan akhirnya dia memosisikan diri bagaimana jika ia adalah orang yang berada di posisi kakaknya. hingga akhirnya, ia mengajak para jamaah untuk mencoba memosisikan diri menjadi orang yang meninggal di bulan ramadhan ini -atau bulan lain setelah ramadhan, yang membuat kita tidak lagi bertemu ramadhan tahun depan. cukupkah bekal kita? mampukah kita menjawab pertanyaan-pertanyaan malaikat tentang pertanggungjawaban segala sikap kita di dunia?

kalau aku ditanyain pertanyaan seperti itu 3 atau 2 tahun yg lalu, aku ngga akan se-merinding tahun ini. seperti yg sudah pernah aku post di akun twitter @NabillaDP
orientasi manusia itu seharusnya menjadi lebih baik dari sebelumnya, sehingga evaluasi sudah menjadi hal yang wajib.
yang bisa menilai apakah aku dan siapapun itu menjadi lebih baik, adalah orang-orang yang mengenal kita, selebihnya, evaluasi aja diri, tingkatkan kadar kepekaan. sedangkan dalam hal rohani, hal keagamaan, alhamdulillah ngerasa ada peningkatan. mungkin karena aku mulai dengan berjilbab, dan rasanya nggak afdol, jilbpan kok ngga memahami agamanya. dari situ, pendekatan spiritual sedikit-demi sedikit aku gali..
dari situ lah, merinding sendiri rasanya kalo denger pertanyaan yg dilontarkan oleh penceramah.
jadi kepikiran target ini itu yg belom tercapai, dan apalagi, ngerasa bekal belom cukup. huaaah..

based on that scary fact, harus memaksimalkan ibadah di hari ini. seperti kata anonim:
beribadahlah seolah kamu akan meninggal esok.
 seseorang bisa saja pede kalau bakal berumur panjang -termasuk aku, ehm, I was- tapi perlu selalu diingat bahwa nggak ada yang bisa tahu kapan kematian menjemput. peramal sekalipun..

penceramah juga mengungkit soal Seimbang Dunia dan Akhirat, memang seimbang itu penting, bukan lagi perlu. dan ada kutipan dari penceramah yg sangat aku ingat:
hidup seimbang bukan berarti menempatkan sesuatu-nya sama rata. bisa kita ibaratkan dengan membuat kopi. coba saja buat kopi dengan kopi satu sendok, gula satu sendok, air satu sendok. sama kan? dan nilai saja sendiri, bisa dinikmati nggak kopinya?
well, dalam hal menyeimbangkan hidup, memang perlu condong di satu sisi. sisi mana yang ingin di condongkan, itu tergantung pribadi masing-masing orang, dan kegetolan untuk selalu berusaha menjadi orang yang lebih baik. :)

3 komentar:

  1. pertama2 salam kenal dulu ah :D

    tiap mendengar kata kematian q jg langsung merinding brrr...rasanya dosaku masih lebih banyak ketimbang pahalaku...
    mari sama2 berusaha utk meraih surga :)

    BalasHapus
  2. salam kenal balik :D

    sipdeh aamiiin semoga aja kita diridhai oleh-Nya :)

    BalasHapus