Jumat, 05 Agustus 2011

Hello, BEACH!

Beberapa hari yg lalu, tepatnya tanggal 31 juli 2011, aku sekeluarga berwisata ke Papuma Beach + Watu Ulo Beach, Jember. Tumben-tumbenan ayah mau diajak jalan-jalan jauh? Soalnya kebetulan ada kerjaan di lumajang. Awalnya aku ngga mau ikutan, capek, tapi dijanjiin ama ayah mau diajak jalan. Yaudah deh capcus :D

Perjalanan dari lumajang ke jember kurang lebih memakan waktu 2 jam. ngga macet kok, jalannya mulus-mulus aja. Di jember, ada 3 pantai terkenal. Pertama, Watu Ulo. Dari namanya yang berarti batu yg berbentuk ular. Karena memang di pantai tersebut ada batu raksasa yang menyerupai kepala ular, juga, ada batu yang panjangnya kira-kira 2 m dan terlihat seperti sisik tubuh ular. Luar biasa, aku sendiri nggak tau gimana bisa terbentuk batu model kayak gini. Pantainya, menurut aku masih kalah cantik sama Papuma. Pasir di Watu Ulo berbeda dengan di Papuma, pasirnya warna hitam, ya seperti pasir pada umumnya. Tetapi ombaknya lebih besar, dan pantainya lebih landai daripada papuma. Ombak besar mungkin tercipta dari jarangnya bebatuan di pantai watu ulo. Debur ombaknya mantap sekali..cantik :)
 ini dia, batu yang kayak sisik ular
ini batu kepala ular. mirip ya?


Kedua, pantai Papuma. Aneh ya namanya? Papuma sendiri singkatan dari Pasir Putih Malikan. Lokasinya persis disebelah pantai watu Ulo, tapi kalo mau ke pantai ini, harus melewati tanjakan bukit dulu. Tiket masuknya juga beda loh, jadi kalo mau ke Watu Ulo ama Papuma, bayar sendiri-sendiri. mereka punya 2 loket  -_- kalo ngga salah, masing-masing seharga 5ribu rupiah.

Dari jalan diatas bukit, udah bisa terlihat pantai yg cantik ini dari atas. Di pantai ini banyak penginapan dari yang murah sampai yg mahal, ada yang AC dan non AC. Aku sendiri kurang tau berapa budget penginapannya sih, soalnya waktu itu ngga nginep. Nah di Papuma lebih banyak dijumpai perahu nelayan. Aku rasa fungsinya selain buat nyari ikan, juga buat nganterin pengunjung kalo mau berlayar singkat. Yang membedakan dari watu ulo, dan aku rasa daya saingnya terletak disini, adalah pasirnya yang berwarna putih. Cantiknya luar biasa. Perpaduan antara pasir putih dan birunya air laut merupakan perpaduan yang sempurna! Ombaknya lebih kecil daripada di watu ulo, karena banyak bebatuan di sekitar pantai. Kontur pantainya juga lebih curam, sehingga lebih berbahaya aku rasa. Melihat birunya air, ngga tahan rasanya kalo ngga nyemplung :D

 
     see? beautiful!
 bening sekali airnya !!

Di papuma juga banyak pepohonan, dan tentu saja membuat lebih teduh. Mungkin karena terletak di bawah bukit ya, jadi masih banyak dijumpai pepohonan dan juga monyet! Selain itu, ada beberapa warung yang menyajikan menu ikan bakar. Ikan nya ikan laut loh, langsung dari hasil tangkapan. Rugi banget kalo ngga nyoba. Makan ikan bakar di pantai, dibawah pepohonan yang rindang, walaupun ditemenin monyet, adalah hal yang so-beach. Itu ciri khas pantai.


 the starving monkey!

Di papuma juga ada semacam gazebo, spot dari atas bukit kecil untuk motret, maupun melihat pemandangan lautan yang luas dengan jelas. Kita harus jalan kaki dulu untuk nyampe ke atas bukit, cukup berat juga sih naiknya. Tapi terbayar lunas dengan panorama yang luar biasa! Sayang sekali, gazebonya banyak coretan dari pengunjung. Ternyata disebelah papuma, ada pantai juga loh. Mungkin masih jadi satu ama papuma ya, pasirnya juga putih, tapi lebih banyak batuan ditepi pantai. Ombaknya juga lebih kecil, akses masuknya, harus lewat papuma dulu.

 jalan setapak menuju gazebo atas
 the beach from the best spot. totally awesome!

Ketiga, ada pantai Puger, pantai ini bukan lokasi wisata. Ini semacam perkampungan nelayan, jadi di pantai ini menjadi pusat jual-beli hasil laut. Kata omku sih, pasar ikan disini terbesar di daerahnya. Orang lumajang aja ngambilnya juga di pasar ini. jadi, sudah bisa dipastikan gimana amisnya.. aku sekeluarga, waktu itu nggak turun, karena ngga tahan ama baunya, nyengat banget! Di dalam mobil aja udah bau banget. Tapi pantai ini terkenal karena ada gunung kapur di dekat pantai. Luar biasa besar loh. Dari jaman ayahku masih kecil, sampe sekarang, belum ada separuh gunung yg sudah dikeruk. Ciri-ciri gunung kapur, tentu saja tandus.

pantai di jember emang cantik,
lebih cantik lagi apabila pengunjung tetap menjunjung tinggi kebersihan

PAB, dulu dan sekarang

Ada yang pernah denger perpustakaan anak bangsa?

Bukan termasuk perpustakaan kota loh, ini perpustakan yang terletak di desa kecil, desa sukopuro di daerah Tumpang, Malang. Lokasinya lumayan jauh dari pusat kota malang, tapi perpustakaan ini punya banytak anggota dari sekitar desa, dari orang malang kota, maupun dari kota lain.

Perpustakaan Anak Bangsa (PAB) bukan perpustakaan dengan gedung mewah dan ber AC. Awalnya, kira-kira sejak tahun 2007, perpus ini bahkan ngga punya tempat yang tetap. Bayangkan saja, mas eko, pemilik perpus, harus berpindah-pindah, usung-usung barang ketika masa kontrakan sudah habis. Terakhir, hingga tahun 2010, perpustakaan mas eko berdiam di “gubuk bambu”. Aku sendiri takut membayangkan ketika ada angin kencang atau hujan deras, gimana nasibnya perpus yang hanya berdinding gedek itu? Ternyata bener, beberapa kali perpusnya bocor. Tetapi Alhamdulillah “gubuk bambu”nya ngga pernah sampe kemakan angin :D

 PAB, at 2010

Di dalam gubuk bambu itu, siapapun akan takjub dengan koleksi buku PAB. Untuk kelas perpustakaan desa, koleksi buku di PAB cukup lengkap. Sangat lengkap. Dari klipping masakan sampe literature berbahasa inggris pun ada. Darimana dapet buku sebanyak ini? ternyata tak ada satupun yang menjadi hak milik mas eko. Mungkin Koran-koran bekas atau kliping itu lah yang asli milik mas eko. Lainnya, mas eko nyari buku dengan cara door to door. Ia berusaha mendapatkan buku darimana saja, dari perpus kota, nempel iklan di radio, minta ke tetangga, dll.

Tekad dan semangatnya memang luar biasa kuat. Menurutnya, orang desa itu nggak ada yang bodoh. Mereka bisa pintar, bisa lancer berargumen, asalkan terfasilitasi, asal ada buku untuk dibaca. Nah karena sentuhan dari pemerintah daerah sangat minim, jadilah mas eko mengupayakan semua ini. mas eko sendiri nggak punya pekerjaan tetap, tapi masih bisa menghidupi PAB. Kalo ngga salah, sekitar tahun 2009, mas eko terpilih sebagai Kick Andy Heroes. Semacam program dari Kick Andy berupa penghargaan kepada orang-orang yang menjadi pahlawan di lingkungannya. Sejak itu, PAB terkenal, dan mendapat banyak sorotan, dan tentu saja, banyak kiriman buku. Aku sendiri tau PAB dan mas eko juga dari Kick Andy. Dilanjutkan dengan nyari nomernya mas eko di internet (dan Alhamdulillah ketemu), aku membuat profil singkat tentang PAB dan mas eko pada tahun 2010.

Anggota PAB sudah mencapai lebih dari 9ribu. Keanggotaannya, nggak dipungut biaya, serta nggak ada batasan untuk mengembalikan buku. Ini nih yang bikin betah. Sistemnya pake system kepercayaan aja, asalkan bukunya balik. Begitu saja, sederhana :D
Ngga takut bukunya hilang di tangan orang-orang yang nggak bertanggung jawab? Mas eko hanya berpendapat, buku itu nggak hilang, hanya berpindah tangan. Yang jelas fungsinya kan tetap sama, sebagai bacaan. Mas eko sendiri santai aja kalo ada buku yg ilang, karena ia yakin, pasti suatu saat ada gantinya.

Tahun 2011, mas eko mulai mencari tanah kosong untuk membangun rumah untuk PAB. Rumah permanen! Biayanya dari mana? Dibiayai sama Pocari Sweat + Kick Andy. Hebat sekali, lokasi PAB yang permanen diresmikan pada 25 Juli 2011 oleh Pocari Sweat, Kick Andy, plus beberapa orang dari Pemkot. Posisi perpustakaan ada dibelakang rumah. Untuk mengakses perpustakaan, harus melewati Ruang Kreasi, Ruang Komputer, dan Ruang Gamelan. Aku diundang oleh mas eko untuk acara peresmian PAB. Dan mas eko sendiri masih antusias menyambut dan menjelaskan setiap sudut ruangan.

Selesai acara, aku ikut ngumpul bentar di dalem ruangan perpus. Aku nggak sendiri, ada beberapa orang yang tentu saja, nggak aku kenal. Setelah kita ngobrol, saling mengenalkan diri, ternyata sebagian besar dari mereka adalah pemilik TBM (Taman Baca Masyarakat) di beberapa daerah. Ada yang dari sengkaling, ada yang dari Kediri, macem-macem dah. Aku sendiri ngga berbasis pada dunia perpustakaan ya, jadi ikutan nimbrung aja sih. Diantara mereka, hanya aku yang mahasiswa fakultas hukum :D ditengah diskusi, mas eko sendiri curhat kalo dia pengen “semedi” dulu setelah akhirnya, PAB punya tempat tetap. Ya, tentu saja dia kelelahan. Seorang pahlawan tentu berhak mendapat waktu istirahat atas jerih payah yang telah ia perjuangkan.

 salah satu sudut perpus
 take a picture with Andy Noya
Andy Noya on his speech
 Mas Eko Cahyono, the Heroes

PAB, now