Kamis, 21 Juli 2011

Cuplikan Prosa

Barangkali cinta
Jika tatap matamu membuka pintu menuju jiwa
dan aku dapati rumah yang ku cari
matamu dan mataku
tersimpan dalam kelopak yang terpisah
namun bertemu dijalan setapak yang searah

Pastilah cinta
yang punya cukup daya, hasrat, kelihaian, kecerdasan, dan kebijaksanaan
untuk menghadirkan engkau, aku, ruang, waktu
dan menjembatani semua
demi memahami dirinya sendiri.

- Barangkali Cinta, Madre

Madre, sang Ibu yang menyegarkan

aku adalah orang yang menderita sepanjang waktu.
obat, ku kira adalah hal yang dapat membantu.
dan satu-satunya yang dapat menyembuhkan adalah buku

****

aku suka sekali novel-novelnya dewi lestari. menurutku dia adalah salah satu penulis terbaik di Indonesia. tidak hanya dalam kategori penulis wanita terbaik, tapi juga ketika disandingkan dengan para penulis pria lainnya.
yang aku suka dari buku-buku dee adalah sentuhannya yg khas dan membuat cerita itu hidup. sudut pandang yang ia gunakan selalu yang 'tak biasa', membuat ceritanya terkadang tak tertebak. ataupun kalau sudah dapat ditebak, selalu ada proses yang menyenangkan dalam perjalanan ceritanya.

buku terbaru Dee, nama pena dewi lestari, adalah Madre.
pertama kali tau bahwa ia akan meluncurkan buku, aku sengaja nggak mau baca sinopsis ceritanya. sama seperti ketika aku membeli Rectoverso dan Perahu Kertas yang tanpa membaca sinopsis dari website manapun, dan tentu saja dengan cepat aku langsung terkesima dengan 11 Kisah dan 11 Lagu di Rectoverso, serta perjalanan Radar Neptunusnya Kugy dan Keenan.
beda lagi ama Filosofi Kopi dan Supernova, yang aku nggak beli, tapi pinjem di perpus sekolah. dari situ, aku udah terbius ama kemampuan Dee dalam berkata-kata.

Pertama denger Madre, aku berfikir, bahasa apa tuh?
tapi aku tetep nggak mau searching. aku pengen baca langsung dan terjun di dalam lautan kata-kata Madre. beberapa hari lalu, I finally own my Madre! uuuu seneng banget, langsung deh aku baca. novel Dee kali ini hampir mirip dengan rectoverso dan filosofi kopi, yakni kumpulan cerita dan prosa. tapi menurutku lebih ke filosofi kopi ya, soalnya di Rectoverso setiap cerita selalu ada lagi dan beberapa lagi di bumbui sentuhan visual seperti gambar dan foto-foto.

Madre sendiri muncul diurutan pertama dalam kumpulan cerita.
aku ngga akan bercerita banyak, biar anda sendiri yang baca bukunya :D
yang jelas aku cukup tercengang ketika mengetahui siapa Madre sebenarnya.
dalam bahasa spanyol, Madre berarti Ibu, dan dalam cerita berjudul Madre, memang ada hubungannya antara Ibu dan....ROTI..
well, kok bisa? baca sendiri aja :p

aku suka madre, sama seperti aku suka filosofi kopi.
tetapi karyanya mbak Dee yang jadi favoritku sih tetep rectoverso yang almost perfecto!
rectoverso sendiri aku bilang hampir sempurna karena "muatannya".
ceritanya yang semuanya keren-keren, lagu dalam setiap cerita dan sentuhan visualnya.
belum ada buku se-keren itu yang pernah aku baca :)


Cover sang "Ibu"

Rabu, 20 Juli 2011

sharing foto Jogja

As I promised on the previous post,
aku mau sharing beberapa foto jepretan di jogja.
langsung aja yaa, cekidoot sampe pedot dah

 ki-ka: sista, dina, atika, aku at Borobudur

 ini hari pertama dateng, langsung jadi street walker haha, di depan gedung BNI nih

 ini pada demo tentang penetapan DIY. rame banget, malioboro penuh sesak

 this is it! I love this picture, and my camera of course :D padahal gambar ini di jepret pake kamera pocket loh ^^

 modelamatir.com

Pak RI 1 mau lewat, kasih jalan..
Guess who? :)

***
ini hak ciptanya saya semua loh, dilarang mengcopy! hehe

A Stupid Question

Dalam perjalanan balik k sidoarjo dari malang hari ini, tiba-tiba terlintas sebuah pertanyaan bodoh. Pertanyaan ababil, kalo mengutip istilah temen-temen di kampus.

"apa iya aku cocok kuliah di fakultas hukum?"

Itu sebuah kalimat tanya yang tanpa diundang mampir begitu saja.
Aneh memang, pertanyaan bodoh yg muncul setelah aku melewati 1 tahun kuliah di fakultas hukum sebuah perguruan tinggi negeri di malang. Dan pertanyaan ini muncul ketika aku sudah membuat beberapa tulisan yg berbau hukum, berdiskusi disana-sini, dan menghasilkan nilai akademik yg lumayan. Intinya, aku sudah melewati permulaan di dunia hukum dengan cukup baik (setidaknya menurutku..ekekek)

Pertanyaan ini muncul bukan tanpa alasan.
Memang waktu masih SMA, aku berkeinginan masuk ke fisip,, jurusan HI. Alasannya, karena pengen jadi dubes, biar bisa keliling dunia. (alasan ini terdengar kayak anak SD ngga sih?) Opsi kedua adalah ilmu komunikasi, soalnya aku pengen jadi jurnalis.
Lalu ayah ngasih pandangan tentang jurusan manajemen, ekonomi pembangunan, akuntansi, hukum, dan beberapa jurusan ilmu sosial yg lain.
Untuk jurusan-jurusan yg berbau ekonomi, aku tolak mentah-mentah. Sudah jelas ngga ada bakat dan minat aku disana..
Sudah pasti kuliah di jurusan" ekonomi itu sarat dgn itung"an. Apalagi akuntansi, yg nanti kerjanya pasti berkutat dgn pembukuan. I'm not person with a high quality of it!
Pernah aku bayangin aku kerja di kantor dengan memakai rok se lutut (waktu itu aku belum berjilbab, jadi bayangannya kayak gitu), berkemeja, dan berkacamata yang tiap hari sibuk dgn laporan keuangan. Oh God..

Opsi lain adalah fakultas hukum. Ayah bilang, peluang kerja dari fakultas hukum itu lebih luas. Bisa di ranah hukum, maupun non-hukum. Setelah aku cek, emang bener sih. Trus aku pikir" lagi banyak keuntungan kalo aku belajar hukum.
Hubungan internasional aku buang sudah. Pertama, karena aku kurang yakin. Kedua, temen baik ku punya big desire untuk masuk ke jurusan itu.
Ilmu komunikasi juga aku lipat dari daftar. Soalnya, kalo menurutku kuliah di ilkom utk jadi jurnalis, aku jadi cm punya kemampuan menulis, tanpa bisa menulis bidang hukum ataupun ekonomi, atau yg lain".

tapi keinginan jadi jurnalis itu bukannya menipis, malah meninggi loh.
memang aku sendiri termasuk abru di dunia jurnalis, sejak SMA kelas 3 baru mulai terjun, dan aku suka.
Menurutku jurnalis itu seksi..hehe with no reason, it's just a statement :p
selain itu menurutku jurnalis itu mengemban amanat juga loh.
posisi jurnalis kan juga strategis, menjembatani antara pemerintah dengan masyarakat, antara sumber dan penikmat berita. Idealisme seorang jurnalis juga ngga sepatutnya digadaikan begitu saja untuk ditunggangi kepentingan politik atau organisasi tertentu..walaupun di dunia jurnalis ada yg namanya interpretative writing (aku juga baru kenal istilah ini) yang bisa membuat tulisan jadi sedikit subyektif. hal ini juga yg masih aku pelajari. jadi sebenernya agak risih juga sih lihat media yg terkesan "memihak" kelompok tertentu, yang tentu saja keuntungannya juga untuk kelompoknya sendiri. #upsnyindir #sengaja
intinya, menurutku jurnalis itu pekerjaan yg mulia sekaligus menyenangkan!

yah manusia sejauh ini hanya bisa berencana, Tuhan yg menentukan.
jadi kalau bisa berencana yg terbaik, kenapa tidak?
:)

Jumat, 15 Juli 2011

Backpacking time! first destination: Jogjakarta.

Sebenernya kalo ngomongin Jogja udah cukup tau tentang beberapa sudut kota ini. kira-kira sejak SD, udah 5x aku kesana, entah itu sama ortu, keperluan tes dan verifikasi UGM (dan akhirnya ngga lolos -____-), dan study tour. tapi yang ini berbeda.
esensinya adalah terletak pada backpackingnya.
ya, aku kesana ama temen-temen gila di FH (sista, dina, atika). enaknya backpacking, pasti ada hal-hal yang seru dan jelas unforgettable. aku memang menghindari naik travel. soalnya enggak seru dan pasti bosen, tempat yang dikunjungin juga itu-itu aja. nggak ada seni nya. seni nyasar, seni bertanya-tanya, seni malu-maluin :D
berhubung dari kami berempat yang udah cukup sering ke Jogja hanya aku, cukuplah aku yang jadi tourguide nya mereka hehe.

 ki-ka: atika, sista(yg berjilbab biru), dina, aku :)

Ke Jogja kali ini kurang lebih memakan biaya 500ribu, itu udah termasuk nginep di mess BTN yang super murah (20 ribu semalam). kenapa murah? karena sodara dan ayahnya dina kerja di BTN hehe..dan memang itu mess nya khusus orang BTN. sebagai newbie backpacker, kami cukup boros di transport. karena kami naek bis patas SBY-Jogja. memang nyaman, enak, dapet makan, dan terjamin lah. harganya 63ribu. menurutku sih, kalo backpacker ya biasanya cari yang levelnya ekonomi lah, menghemat duit hehe. tapi aku, sista ama atika paling ngga tahan ama asap rokok, jadilah kami memilih bis patas.

So, here we go...

Hari pertama, 11 Juli 2011

Kami udah janjian kumpul di bungurasih jam 6, tepat kita dateng (aku dina sista) ada bis eka nongkrong yg ke jogja. Pas bgt! Sayang atika belom dtg. Eh dia dateng, bisnya keburu berangkat. Kami nunggu bentar kira" 15 menit dtg lagi bis eka, tp yg jurusan magelang, juga ngelewatin jogja. Akhirnya ya cus naik deh..

Sebelumnya, aku udah bilang ama sista yg tukang beser kalo bisnya ngga ada toiletnya, jadi dia jangan minum banyak-banyak. Eh ternyata yg kebelet pipis malah dina ama atika. Atika sih masih bisa stay cool, tapi dina udah gupuh dewe. Dia udah ngeluh :aduh sakit rek kalo diempet", akhirnya dia request ama pak kernet buat mampir pos bensin. Pak kernetnya hanya mengiyakan, tapi ternyata udah 4 pom bensin kita lewatin begitu aja, dina tambah ketar ketir ama megangin perutnya. Begitu pak kernetnya lewat lagi, dina request lagi, akhirnya di daerah madiun bis berhenti, aku ikut skalian juga, ngacir ama dina n atika. Pak supirnya teriak, cepetan ya! Haha, jadi kami kencing itu ditungguin, udah gitu di toilet banyak beberapa anak SMA yg teriak" ga jelas. Setelah kita kencing, eh nggak bayar, parah dah! Kami lari" dr toilet ke bis dan otomatis di liatin seisi bis, haha malu banget..begitu masuk bis dina udah ketawa" lagi, ama bilang, babah ta mene yo gak ketemu lagi. Haha..


Alright, perjalanan berlanjut dan sesuai dengan saran temennya dina, kita berhenti di bawah jembatan laying janti dan lanjut naik Trans Jogja. Jalan beberapa meter, ketemu deh halte TransJog. Setelah nanya ama petugas, TransJog 1A bisa mengantarkan kami langsung ke malioboro. Dari malioboro ke mess BTN, ternyata cukup jauh, yaa kurang lebih 1 km. malamnya, langsung capcus jalan ke malioboro :D


Hari kedua, 12 Juli 2011.
Pagi ini kami memutuskan untuk pulang tanggal 14 pagi saja, dengan pertimbangan kalo pulang sore tanggal 13, nyampe sby/malang nya pasti malem, and that’s not good for girls-newbie-backpacker (asli, maksa banget istilahnya). Hari kedua ini rencana ke candi-candi, yakni Borobudur dan Prambanan. Kalo ke Borobudur, jujur aku rada bosen. Hampir setiap ke Jogja selalu ke candi ini, dan interestku ama Borobudur cuman ama turis-turisnya dan posisi candi megah yang terletak diantara perbukitan. Tapi, buat sista tentu lain cerita, berhubung this is her very first time. Jadi keliatan banget excitednya! Di Borobudur, as usual, selalu mencoba ngobrol ama bule-bule. Diantara semua turis yang kami temui, kami berempat terpaku ama si Japanese Man 23 years old yang kami lupa nanyain siapa namanya. He’s so cute and soooo formal! Bayangkan, ke Borobudur yang terletak di antara perbukitan jelas-jelas pasti panas, dia pake kemeja, celana kain, dan membawa tas layaknya orang kerja. Yang teringat jelas dibenak ku adalah keringetnya yang segede-gede biji salak. Haha lebay.. ngga henti-hentinya dia kipas-kipas plus ngobrol ama guidenya. Sayangnya, dia ngga seberapa bisa bahasa Inggris. But, he’s the very first Japanese tourist that paused my eyes :p

Untuk perjalannanya, kami memulai dari malioboro, berhubung memang itu halte terdekat dari tempat kami nginep dan nyari sarapan. Dari malioboro, ternyata ngga ada TransJog yang langsung ke Jombor, jadi harus transit dulu. Ada sih, tapi nunggunya lama banget. Jadi kami naik 3A transit di PKU Muhamadiyah trus lanjut naik 2B yang turun di terminal Jombor. Dari terminal Jombor, ada 2 pilihan bis. Saya sarankan, naik aja bis yang langsung ke terminal Borobudur, ada banyak bisnya. Pokoknya ada mutiara-mutiara gitu kalo ga salah. Kalo ragu, Tanya aja ama informasi atau pedagang di situ. Pilihan lainnya adalah naik bis jurusan Jogjakarta-magelang. Sangat tidak saya sarankan, soalnya bis ini berhenti di terminal muntilan, ntar malah ribet kalo mau ke Borobudur, naik angkot lagi. Btw supir bisnya parah! Motor udah diserempetin aja tuh..haha tarifnya yaaa lumanyan lah, 10ribu rupiah. Baliknya, juga ngga ada bis yang langsung ke Prambanan. At least, kami balik ke Jombor. Dari jombor ke Prambanan juga ngga bisa langsung, harus transit 2x. pertama naik 3B (kalau ngga salah) ke condong catur, baru naik 2A (kalau ngga salah juga hehe) yang transit di Meguwo. Setelah itu naik 1A yang bisa berhenti di terminal prambanan. Awalnya, dina ama atika ogah-ogahan diajakin ke Prambanan. Dina ngga mau soalnya menghemat, sedangkan atika, dari raut wajahnya ketebak banget dia suntuk. Entah suntuk dengan hal lain atau dia capek..hehe tapi akhirnya mereka ikut juga dan ujung-ujungnya takjub juga ama keindahan prambanan. Pengalaman pribadi sih, aku baru 2x ke prambanan. Yang pertama dulu, waktu masih kelas 4 SD dan langsung jatuh cinta ama suasana disini.

Dibandingkan Borobudur, aku lebih suka Prambanan. Memang, ukuran candinya lebih megah Borobudur, tapi menurut aku Prambanan lebih mengesankan. Selain dari bangunannya yang menjulang tinggi, aku tertarik sama nilai legendanya, yakni Bandung Bondowoso dan Roro Jonggrang. Aku masih inget betul gimana Ibu nyeritain itu semua ke aku, dan aku kroscek ama legenda yang beredar. Saying sekali, langit diselimuti awan hitam. Memang nggak hujan, tapi mendung. Dan mendung menyembunyikan sunset dari penglihatan. It means that I have to save my target :|
Sepulang dari prambanan, kami naik TransJog 1A yang langsung turun Malioboro. Kami ditraktir ama atika naik becak (as I said before, she’s tired of being a steet walker! Hahahha kidding ton). Seolah masih punya segalon tenaga, malamnya kami berniat untuk jalan-jalan di alun-alun utara dan alun-alun kidul. Kata dina, ngeliatin orang pacaran..aaakkaka. berkat saran mang Ngkus (yang jaga Mess BTN) ada persewaan sepeda onthel di sekitar jalan pasar kembang. Berangkatlah kami kesana. Eh ternyata di daerah sostrowijayan juga ada, tepatnya di hotel kartika. Mereka menyewakan motor (50tibu per 24 jam) ama sepeda (20ribu per 24 jam). 4 sepda kami kantongin dengan jaminan KTP ku. Baaah ngimpi apa coba nggowes malem-malem di jogja.. haha. Berangkatlah kami ke alun-alun utara lanjut ke alun-alun kidul. This is our very first time, FYI. Dan pulangnya, seni dari backpacking pun kami temui: NYASAR. Lebih tepatnya NYASAR JAUH. Sapa yang bikin nyasar? I guess they will point me.

Di alun-alun utara, ternyata beberapa pemuda dan orang-orang yang memakain baju khas jogja (aku kurang tau mereka abdi dalem keratin atau gimana) semacam bikin sesajen dan bawa bendera Jogjakarta. Dari gelagatnya, udah kayak lagi persiapan demo. Aku Tanya ama salah satu pemuda di sana. Dan ternyata bener. “Iya mbak, kita mau demo. Biar pak SBY nggak tenang tidurnya di istana negara situ,” pemuda itu jawab dengan santainya. Oooh aku baru tau, jadi Pak RI 1 lagi ada di Jogja dan secara otomatis, boboknya pasti di istana depan benteng vredeburg itu. Salut juga sih ama konsistensi masyarakat jogja. Dimana-mana ditempel spanduk tentang “penetapan berbasis Ijab Qobul” ada lagi “Rakyat Jogja siap tumpah darah mempertahankan Penetapan” dan yang lain “Jogjakarta siap REFERENDUM”. Nggak main-main nih ancamannya. Saying, peserta demo pada malam itu sedikit. Tapi keesokan harinya..beeeh. lanjut dulu dah.

 Sista, yg lain demo eh dia minta dipotoin -,-

 me and sista :D

Hari Ketiga, 13 Juli 2011.
Ini hari dimana kau-terbangun-dengan-pinggul-nyeri-akibat-ngontel.
Serius! Sadel sepedanya kali ya yang nggak nyaman, pinggulku sakiiit banget. Ternyata nggak aku aja, atika mengalami hal yang sama juga. Akhirnya aku putusin buat tuker sepda cewek. Dan ternyata di persewaan sepeda ngga ada stok sepeda cewek. Jadilah aku pake sepeda wimcycle yang pendek..akakak konyol, mana aku pake rok.

Selain itu, hari ini mungkin hari demo-nya Jogja. I named it, because I saw 4 demonstration on this Wednesday. Pertama, demo soal buruh, tentang kecaman terhadap UU Jaminan Sosial. Kedua, demo yang mengangkat tema sama. Ketiga, demo dari kawan-kawan UGM yang kalo ngga salah, juga mengangkat tema yg sama. Baru sekitar agak sore, demonya masyarakat Jogja yang tentu saja membicarakan soal Penetapan Keistimewaan DIY. Sang orator, yang aku rasa dialah yang menamakan dirinya Relawan Referendum, mengungkap bahwa mereka harus bertemu SBY dan membicarakan hal ini lebih lanjut.
SBY sendiri, pagi ini berangkat ke muntilan untuk menghadiri pelantikan TNI AU (dari informasi pak polisi, sih..). keberangkatan SBY diiringi oleh anak-anak SD dan SMP yang melambaikan jalan dipinggir jalan, termasuk dina, sista, atika. Aku sendiri sibuk mengabadikan :D

Rabu ini, wisata kami lanjutkan ke Benteng Vredeburg. Berkat ada rombongan dari beberapa, yap boleh diulangi, BEBERAPA murid-murid SD dan SMP yang juga mengunjungi benteng, otomatis rame banget dan mereka masuk berebutan. Dina nih yang paling bisa mengambil kesempatan. Langsung dia ajak aku, sista, ama atika ikutan nyusup diantara precil-precil ini. daaaan ketebak banget, kami masuk nggak pake tiket! Uhuy.. haha bahkan waktu masuk diorama pun juga ngga diminta tiket. Asoy banget dah..
Setelah itu, kami lanjut ke keraton, museum kereta keraton, dan Taman Sari. Keraton sendiri, awalnya aku kira kalo masuk lewat utara, yang harga tiketnya 3ribu, bisa tembus ke keratin yg utama. Ternyata tidak, sodara… jadi kalo mau ke keratin yg utama itu harus bayar lagi, sebesar 5000 rupiah untuk wisnus dan 12.500 untuk wisman. Rugi 3 rebu nih sodara…
Lanjut ke museum kereta yang mengoleksi beberapa kereta kerajaan yang unik dan well, mungkin sedikit mistis.

Terakhir, ke Taman Sari, tempat pemandian raja, ratu,d an selir-selirnya. Bagus sih, airnya dan suasananya. Tenang gitu. Sayang banget ada beberapa bagian yang penuh coretan-coretan nggak penting seperti I love you, Rini..dan lain-lain. Ada juga yang ketangkep basah ama kameraku lagi pacaran dan ‘meraba-raba’ satu sama lain. Akakakakka..
Setelah itu, kami lanjut ke malioboro buat belanja titipan ama barang-barang yang kami pengenin. Sebelumnya, udah masuk ke pasar beringharjo sih, cuman barangnya lebih mahal dan nggak bisa ditawar setengah harga. Berhubung nggak ramah kantong, kami urungkan niat deh belanja di beringharjo. Kalo soal kualitas, memang lebih bagus di beringharjo daripada di malioboro.

Berhubung pinggulku sakit dan aku tampak konyol naik sepeda kecil, aku tuker lagi sepeda ini ama sepeda tua. Seru banget, dari 3 sepeda yang aku naikin, I love the vintage bicycle! Remnya pakem, bunyi belnya juga so old. Seru !
Sesudah belanja, kami lanjut ke pabriknya bakpia, dan aku memborong bakpia rasa keju, coklat, dan kacang ijo masing-masing 1 kardus yang berisi 20 biji.
Setelah itu, kami lanjut nongkrong di malioboro bentar sambil menikmati music jalanan. asli yahud..perpaduan angklung, drum kecil dan alat music dari bamboo yang sangat easy listening. Sekitar jam 20.30, sista dan dina ngajak balik ke kosan. But I really need to spend more time in this street. Akhirnya, aku minta mereka duluan, sementara aku pengen keliling dulu sampe BTN sambil motret. Eh si atika pengen ikutan. At least, dina sista balik duluan ke kosan (I’m wide understand that they so tired and sleepy) sementara aku ama atika menyusuri jalan malioboro sampe jam setengah 10 malam. Di tengah jalan, kami berdua dihibur lagi oleh pemusik jalanan. namanya Calung Funk, menurutku mereka lebih bagus dari yg sebelumnya. Kompakan pake baju warna kuning dan mainnya rapi banget. Asik dah pokoknya..aliran lagunya macem-macem. Ada yg pop, dangdut, dan DK. Apa itu DK? Tanya aja sule :D

Last Day, 14 Juli 2011.
this is the time to say "yaaaah.." or "yeah, finally!" haha..
We have nothing to visit. Selain udah ngga ada tenaga, duit juga udah kempes..hehe. karena duit kempes, sarapannya di angkringan deh. Lumanyan, 4000 rupiah udah bisa ngeganjel perut. Selesai sarapan, capcus kami ke terminal malioboro 1 naik TransJog 3A jurusan terminal Giwangan. Dan udah tiba saatnya mengucap selamat tinggal buat Jogjakarta.
This is really very amazing trip, as a newbie backpacker like me.

by the way, karena koneksi internet yang kurang bersahabat, sharing foto ajdi ke pending. Actually I have some awesome pictures to share (memuji hasil jepretan sendiri). just wait.. :)